
"Aaa...Aaa...Aukk..Auukk...Ampun! Ampun! Hentikan,ampun! Aaa...Aaa...Aaaaa..Auk... Ssshhhhttt....Aaaaa...!".
Tubuh Morgan, bergetar-getar ketika benda setrum listrik di arahkan ke tubuhnya.
Morgan, seperti terhipnotis oleh Camelia yang merayunya. Dia mau saja, mengikuti kemauan Camelia ketika tubuhnya di ikat menggunakan tali.
"Aaaa....Aaaa...Auuk...!". Morgan, ngos-ngosan mengatur nafasnya dan meringis kesakitan.
Camelia, menyunggingkan senyumnya dan duduk menggoda di atas meja kerjanya. "Tuan Morgan,aku bukan tipe wanita murahan. Apa lagi, tukang selingkuh dan celap-celup sana-sini. Bagaimana,kau puas dengan service ku?". Kedip mata Camelia, melepaskan ikatan di tubuh Morgan.
Morgan, tersungkur di lantai langsung karena dirinya lemas tak berdaya.
Camelia, langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa bos mereka pergi dari perusahaannya.
Melihat Morgan,di boyong anak buahnya dan menjadi pusat perhatian para staf kantor.
Anak buahnya Morgan, menggeleng kepalanya karena sang bos kalah dengan seorang wanita.
"Nona,ada seseorang yang ingin bertemu". Kata seorang wanita, sekertaris pribadinya Camelia.
"Suruh mereka masuk satu-persatu,ke dalam". Perintah Camelia,karena tau siapa yang datang.
"Baik,nona". Sekertaris pribadinya, langsung pamit ke lantai bawah.
Camelia,masuk kedalam ruang kerjanya dan duduk santai. "Baiklah, bagaimana kalian saling memburukkan sifat satu sama lain".
Cika dan Rika, tersenyum sumringah mendengar ucapan sekertaris Camelia karena di perbolehkan bertemu dengannya.
Tidak masalah mereka satu-persatu masuk kedalam,tanpa beriringan sekalipun karena ini adalah kesempatan emas.
"Awas kamu memburukkan sifat ku,demi keuntungan mu sendiri". Ancam Rika, rupanya Cika yang lebih dulu masuk.
Cika, menyunggingkan senyumnya dan mengikuti langkah kaki sekretaris Camelia masuk kedalam lift.
"Aku tidak janji, demi keluarga ku". Lirih Cika, pelan dan meremas ujung roknya.
Jantung Cika, berdegup kencang dan pintu terbuka lebar. Dia di persilahkan masuk kedalam, jantungnya hampir copot melihat Camelia duduk santai di kursi kebesarannya.
Cika, berlahan-lahan mendekati meja kerja Camelia dan duduk di hadapannya.
"Aku ke sini meminta maaf kepada mu,dan meminta bantuan kepada mu". Kata Cika,tanpa ba-bi-bu lagi.
"Oke, terus meminta bantuan apa?" Camelia,masih santai dan memandang wajah Cika sudah pucat pias.
"Aku mohon Camelia, bantulah perusahaan ayahku. Kalau tidak kau membantunya, keluarga ku akan hancur berantakan. Pasti orangtuaku akan bercerai,lalu aku terlantarkan. Cuman kamu satu-satunya harapan aku, untuk menyatukan kedua orangtuaku. Aku mohon Camelia,plis..! Apa kamu lupa, kita pernah berjanji dan melewati kenangan indah bersama". Cika,tak kuasa menahan air matanya dan membiarkan luruh.
Camelia,menghela nafas panjang dan menggeleng pelan. "Pertama aku tidak bisa membantu perusahaan ayahmu, karena kinerja mu sangat buruk. Jika aku membantu, apa kata orang lain? Aku sudah menyelidiki tentang perusahaan ayahmu, lihatlah berkas-berkas ini. Dimana ayahmu berhutang dengan jumlah besar, jaminannya adalah perusahaan. Beberapa kali kalah tender, menimbulkan dampak negatif. Aku tidak mau mengambil resiko terlalu parah,aku tidak bisa membantu. Yang kedua, kau masih bisa mengatakan bahwa aku lupa kenangan indah bersama? Lalu, bagaimana dengan mu hmmm?". Camelia, sesekali bertepuk tangan. "Tidak sadar diri". Gumamnya pelan, terkekeh geli.
Akhirnya Cika,mulai menyalahkan Rika yang sudah mempengaruhi pikirannya.
Camelia, tersenyum sumringah mendengar perkataannya. "Kau menyalahkan orang lain, tapi tidak berkaca dirimu sendiri. Cika, bukankah kamu dan Rika sama? Ayolah,kau ingin beralasan apapun agar aku luluh begitu saja. Maaf,aku tidak akan mengubah keputusan sama sekali".
"Camelia,kau benar-benar jahat tidak punya hati. Kami sedang kesusahan seperti ini, keluarga ku diambang perpisahan. Sedangkan kamu,sama sekali tidak kasian. Lalu, dimana letak hati nurani mu?" Cika, beranjak berdiri dan menatap tajam ke arah Camelia.
Prok!
Prok!
"Sayang sekali,kau datang-datang memohon kepada ku. Sekarang kau marah-marah karena tidak dapat yang kau inginkan. Duhhh... Tidak tahu malu yah,kalau aku tidak memiliki hati nurani. Memangnya kenapa, masalah buat loh?". Camelia, beranjak berdiri dari kursi dan berlahan-lahan mendekati Cika.
"Ck,sok belagu kamu!". Bentak Cika, menunjukkan jarinya tepat di hadapan Camelia.
Brakkk...
Rika, langsung masuk kedalam ruang kerja Camelia dan membanting pintu lumayan keras. Dia tak sanggup menahan dirinya, menunggu di luar dan takut jika Cika berkata macam-macam.
"Kau sombong sekali, Camelia!". Pekik Rika, berjalan cepat mendekati Camelia. "Sok berkuasa kamu,ha! Mentang-mentang kamu adalah pemimpin perusahaan ini,lalu menindas kami. Tidak punya hati kamu, Camelia!Kamu kira siapa kamu,kalau bukan warisan keluarga Malik dan Allen".
"Terserah aku lah,mau sok belagu atau mau sombong. Aku tidak perduli dengan ucapan mu itu, silahkan keluar dari kantor ini. Sekalian yah, kau lihat cctv di atas sana. Asalkan kamu tau,ini adalah siaran langsung". Camelia, tersenyum manis dan menepuk-nepuk pundak Cika.
Cika, langsung syok berat dan terduduk lemas di lantai. Dadanya naik turun mengontrol dirinya, sekarang riwayatnya benar-benar habis.
Rika, menutup mulutnya melihat siaran langsung tersebut. Awalnya dia meronta-ronta ingin masuk kedalam ruangan, sudah mencaci maki habis-habisan di luar. Belum lagi masuk kedalam, berkata tak senonoh kepada Camelia.
Cika dan Rika, bergegas meninggalkan kantor Camelia tak sanggup mendengar ocehan dari orang-orang sekitar.
Apa lagi mereka sudah berani berkata kasar terhadap Camelia. Dirinya sekarang benar-benar hancur,atas kecerobohannya sendiri.
Panggilan telepon dari orangtuanya,tak di jawabnya bahkan beberapa pesan juga.
Camelia, mengambil minuman dingin dan meminumnya. "Aahhh...seger sekali,akan aku sebarkan video kalian Kaizam. Aku tidak sabar menunggu momen Cika dan Rika, mengetahui kekasihnya cuman memanfaatkan kalian saja".
Klik...
Dengan identitas tersembunyi, Camelia sudah menyebarkan video Kaizam dan Arjun. Dimana mereka berpura-pura menjadikan mereka kekasih, cuman menghancurkan Camelia. Tidak hanya itu, Ryan dan Clara ikut-ikutan terseret juga.
Camelia, berjoget-joget kegirangan di ruang kerjanya sambil memutar musik lumayan keras. Beruntung sekali, ruang kerjanya kedap suara. "Aaahh... Perlu dirayakan ini,karena berhasil menghancurkan para musuh-musuhku".
Sedangkan di tempat lain, JJ Abrams tersenyum kecil apa yang di lakukan kekasihnya itu. "Benar-benar jahat sekali,kau menghabiskan musuh-musuh mu sayang. Tenang saja,aku akan memberikan bumbu untuk memperkuat bukti-bukti kejahatan mereka. Oh, termasuk dosen itu sudah berani manipulasi tugas kuliah tunangan ku. Tak akan aku biarkan kalian lolos,jadi santapan peliharaan ku tidak masalah". Kata JJ Abrams, bersemangat untuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Hmmmm...Apa bos kita, baik-baik saja?". Bisik anak buahnya, melihat JJ Abrams cengar-cengir sendiri.