
Hari ini, Camelia menghadiri acara pemakaman Cika yang di laksanakan di rumah ayahnya.
Matanya tertuju pada Rika dan teman-temannya tengah menghadiri pemakaman Cika.
Camelia, melepaskan kacamata hitam dan tersenyum kecil. Ketika berhadapan dengan kedua orangtuanya,Cika.
Semua orang-orang sekitar, memandang ke arah Camelia menjadi pusat perhatian. Acara pemakaman mengenakan serba hitam, selendang menutupi kepalanya.
Terlihat Camelia, menyodorkan sebuah amplop coklat berisi uang berduka atas meninggalnya Cika. Pak Eko, dengan senang hati menerima amplop coklat tersebut.
"Terimakasih,atas kehadirannya nona Camelia. Kami meminta maaf,atas sikapnya terhadap nona waktu itu". Ucap pak Eko, menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah,yang sabar atas kehilangan Cika". Camelia, kembali memasang kacamata hitamnya melirik sekilas ke arah Kaizam dan Leo.
Rika, berdiri di pojokan ruangan dan menangis kesegukan kehilangan sahabat satu-satunya.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya, Cika. Aku kira kamu ikutan mati, rupanya tidak yah". Kata Camelia, menyunggingkan senyumnya.
"Semua ini, gara-gara kamu Camel. Puas menghancurkan kehidupan kami, lihatlah aku sendirian. Kamu sungguh tega, gak punya hati". Ucap Rika, menghapus air matanya.
"Nona Camelia, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Rika,jaga ucapanmu terhadap nona Camelia!". Pak Juniarto, menegur anaknya itu.
Rika, langsung mengangguk patuh dan membuang muka ke arah lain.
"Nona Camelia,aku ingin menjual perusahaan ku dengan harga murah. Apakah nona, ingin membelinya? Atau mengelola perusahaan itu, gampang sekali nona. Begini,anda membeli perusahaan saya dan saya akan mengurusnya. Bagaimana nona,ini adalah tawaran sangat menarik?". Pak Juniarto, tersenyum sumringah karena tak sabar menunggu jawaban. Acara lelang perusahaan murah kemarin tidak laku di jual, orang lain sama sekali tidak tertarik.
Camelia,menutup mulutnya ingin tertawa. "Maaf,saya tidak berminat membeli perusahaan siapapun. Bagi saya, memiliki dua perusahaan sudah cukup. Terimakasih, atas tawarannya pak Juniarto. Saya dan lainnya,permisi". Pamit Camelia,dia melenggang pergi meninggalkan kediaman pak Eko.
Rika, memandang Camelia masuk kedalam mobil. Dia sangat iri dengan kehidupannya,tanpa ada masalah tidak seperti dirinya. "Aku bodoh sekali,kalau saja tidak mempercayai ucapan Kaizam. Kemungkinan besar, kehidupan ku malah semakin enak karena berteman dengan Camelia". Gumamnya pelan, menitikkan air matanya.
******************
Mobil mewah berhenti di halaman kediaman JJ Abrams, seorang wanita cantik turun dan sambut hangat oleh penjaga.
"Nona Camelia, Tuan tidak ada di dalam". Kata salah satu penjaga kediaman kekasihnya itu.
"Emangnya dia kemana?". Tanya Camelia,mendengus dingin karena sudah di bohongi JJ Abrams.
"Tuan JJ Abrams, berpesan untuk menunggu sebentar. Tuan,tengah menggali lubang pertambangan emas yang pertama. Ada acara syukuran di sana, berdoa untuk keselamatan para pekerja".
Mendengar ucapan penjaga kediaman JJ Abrams, Camelia tertarik untuk pergi ke sana. Tidak memperdulikan anak buahnya JJ Abrams,melarang karena takut di marahi sang bos besar.
Memerlukan perjalanan setengah jam, Camelia naik motor trail untuk bisa naik ke pegunungan tinggi.
Melewati pepohonan besar dan tinggi, hawanya sejuk dingin dan udaranya sangat segar.
"Silahkan,nona".
Camelia, melangkah semakin mendekati pertambangan emas milik kekasihnya itu. Sangat luas sekali,di penuhi beberapa lobang di atas tanah.
Benar sekali,di dekat gua lumayan besar nampak orang-orang sangat ramai. Camelia, semakin penasaran dan mendekatinya. Dia berhati-hati berjalan terdapat bebatuan,apa lagi mengenakan heels tinggi.
"Astaga! Aku lupa mengganti sendal ku". Camelia, menepuk keningnya karena lupa.
"Rrrggghhh.....!" Dari kejauhan JJ Abrams, menumpahkan satu tekok air ke tubuhnya yang bertelanjang dada. Mengibas-ngibas rambutnya yang basah, memperlihatkan postur tubuh kekar.
JJ Abrams, tersenyum manis melihat kedatangan kekasihnya yang berhati-hati berjalan.
"Hahahahha...Kenapa ke sini,sayang? Kau berpakaian ingin ke pesta dan mengenakan sendal tinggi itu. Ayolah,kau salah alamat tujuan untuk berpesta". JJ Abrams, cekikikan menahan tawanya dan mendekati Camelia.
"Aku lupa mengganti sendal ku,tenang saja aku ahli untuk menyeimbangi tubuhku ini". Camelia, langsung berpegangan di lengan kekar kekasihnya hampir saja jatuh.
"Ee...Kau hampir jatuh sayang, bukankah aku sudah bilang untuk menunggu di sana. Kau jauh-jauh menemui ku di sini, segitu kangennya sana kamu". Kedip mata JJ Abrams, ingin memeluk tubuh kekasihnya.
"Tidak! Aku tidak mau di peluk,tubuhmu sangat kotor dan basah". Camelia, langsung menghindari pelukan JJ Abrams.
"Meskipun kotor dan basah,ini adalah uang sayang. Berpegangan pada ku,aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu". JJ Abrams, memegang jemari tangan kekasihnya dan masuk kedalam terowongan penggalian emas.
Camelia, memasang wajah cemberutnya ketika JJ Abrams memasang helm melindungi kepalanya dan memberikan sebuah alat untuk menggali tanah.
"Aku serahkan kepada mu, Camelia untuk pertama kalinya menggali tambang emas ini. Silahkan, lakukan". Kedip mata JJ Abrams, ingin tertawa namun di tahan.
"JJ Abrams!" Pekik Camelia, menatap tajam ke arah sang kekasih. Dia langsung meninggalkan JJ Abrams,di dalam terowongan tambang emas. Mana mungkin bisa, dirinya harus menggali tanah dalam keadaan pakaian dress selutut dan heels tinggi.
JJ Abrams dan anak buahnya, tertawa terbahak-bahak di dalam sana.
Camelia, menghentak kakinya di luar terowongan dan menyantap makanan di meja.
"Bos, baru kali ini kami melihat seorang bidadari cantik menggali tanah. Hahahaha.. Hahahah.. sangat menghibur sekali".
"Sudahlah,ayo kita mulai bekerja". Perintah JJ Abrams,dia mulai menggali tanah untuk pertama kalinya. Barulah para pekerja lainnya, itupun di bantu oleh alat canggih.
JJ Abrams, menemui sang kekasih duduk santai di batu besar sambil menyantap pohon tebu yang manis. Kata anak buahnya JJ,agar nona Camelia tidak berkeliaran kemana-mana kalau di kasih makan aneh.JJ Abrams, menggeleng kepalanya dan mengambil handuk kecil keringat bercucuran di tubuhnya, sungguh pemandangan begitu indah di mata Camelia.
Angin berhembus kencang, suasana semakin sejuk dingin. "Terowongan tambang emas lumayan dalam,apa tidak terjadi apa-apa para pekerja?". Tanya Camelia."Tebu ini sangat manis, rupanya ini untuk membuat gula. Baru tau aku,hehehhe..."
"Resiko,tapi do'akan semoga tidak terjadi apa-apa. Aku tidak akan membiarkan pekerja ku, kenapa-kenapa sayang". JJ Abrams, mencium punggung tangan Camelia dan tersenyum manis."Kau seperti kelinci, mengunyah tebu itu".
"Mau kemana?" Tanya Camelia, melihat JJ Abrams mulai pergi ke arah hutan.
"Ke sungai,mau membersihkan diri karena kamu tidak mau di peluk". Jawab JJ Abrams,terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Yang benar saja,aku di tinggal sendirian". Gerutunya Camelia, langsung mengikuti kekasihnya menuju ke dalam hutan dan terdengar suara air terjun. "Wahhh... Sepertinya ada air terjunnya!" Pekik Camelia, langsung berlarian tidak memperdulikan dirinya tengah mengenakan heels tinggi.
"Auuk...Sayang, kau harus berhati-hati jalannya. Jangan sampai kaki mu keseleo,mana mengenakan sendal itu lagi". JJ Abrams, terkejut melihat kekasihnya sudah mendahuluinya dan menyenggol tubuhnya hampir tersungkur di tanah. "Badannya kecil,tapi dia kuat menyenggol tubuh ku dan berasa gajah yang menyenggol bukan Camelia".
Camelia, terpesona melihat pemandangan air terjun begitu deras. Airnya sangat jernih, segar dan dingin.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Camelia melepas sendalnya dan menceburkan dirinya.
Byurrrr....
"Hahahahha.... Airnya sangat dingin, segera banget. Ayo, cepetan JJ!" Teriak Camelia, berenang ke sana-kemari.
"Kenapa bajumu tidak dilepas? Nanti kedinginan,mana tidak ada baju ganti". JJ Abrams, menggeleng pelan melihat sang kekasih seperti anak kecil.
"Ha...! Maksud kamu apa, telanjang?". Tanya Camelia, melihat senyum smrik dan anggukan kekasihnya.