SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Dirampok


Jeb....


Seluruh lampu mansion padam,tepat di malam hari dan menjadi gelap gulita.


Maryam dan lainnya, kebingungan karena padam lampu. Masa iya, mansion sebesar ini akan padam tanpa ada penyebabnya.


"Kebetulan sekali ada kamu di sini, kepala pelayan kenapa lampu padam seluruh mansion? pasti ada sesuatu yang terjadi dengan aliran listriknya, cepat perbaiki sana!" Perintah Maryam, dengan amarah menggebu-gebu sudah


"Maaf,nona Camelia tidak membayar listrik bu. Kalau mau lampu hidup kembali,bu Maryam silahkan bayar listriknya". Jawab pelayan itu, dengan kepala menunduk.


"Apa! Kurang ajar sekali bu,masa kita gelap-gelapan begini sih. Mana air gak mengalir lagi,gimana bu?" Rengeknya Shima, kepalanya masih berbusa sampo.


Kepala pelayan menahan tawanya, ketika melihat Shima belum selesai mandi.


"Aaaarrgghh...Sialan,yang benar saja dia mau mengusir kita dengan cara apapun". Gerutu Maryam, menghampiri Camelia tengah berjalan dengan lilin ditangannya.


 "Camelia, kamu harus membayar listrik mansion ini. Apa kamu menyukai gelap-gelapan, bahkan tidak bisa mandi karena air tidak mau. Baru kali ini,aku menemukan seseorang yang pelit sekali". Ucap Maryam, dengan mata melotot sempurna.


"Gak perduli sama sekali,jika tidak sanggup keluarlah. Bukankah kalian yang ingin di sini,jadi bayarlah listrik tidak mau gelap". Camelia,merasa senang karena berhasil mengerjai mereka.


"Sialan,mana lilin untuk kamu Camel? Tempat tidur kami gelap gulita,cuman bermodal sintar ponsel dan baterai mau lowbat lagi". Kata Laras ,yang mendekati Camelia.


"Beli sendirilah sana, enak banget mau minta. Ck". Sahut Camelia, tersenyum smrik. "Gak modal banget sih,main minta aja. Tidak tahu malu,atau sudah miskin yah? Sampai tidak mampu membeli lilin, kasian sekali". Ejek Camelia, menyunggingkan senyumnya.


"Astaga! Kau wanita aneh, Camelia!" Teriak Laras, amarahnya sudah mendidih sejak tadi.


"Wanita pelit kamu Camelia! Semoga saja,kamu mendapatkan karma sudah memperlakukan kami seperti ini". Sahut Shima, meremas ujung piyamanya.


Namun Camelia, bodo amat dengan kesengsaraan mereka yang kegelapan malam. Dia masuk kedalam kamar,lalu menguncinya dari dalam.


Maryam, mondar-mandir di dalam kamar tak karuan pikirannya. Camelia, membuat mereka tidak betah tinggal di mansion ini.


Jordi dan Laras, segera membereskan barang-barang mereka berdua. Tak sanggup berlama-lama di sini, lebih baik di rumah Maryam yang dulu.


Camelia, tersenyum sumringah melihat kepergian dua benalu tersebut.


Bukan dua saja, tetapi tiga bersama Shima yang tersiksa lama-lama di mansion. Apa lagi, tidak ada listrik untuk mengisi daya baterai Ponselnya itu.


"Bagaimana nyonya Maryam, mau pergi juga?" Tanya Camelia, membuka pintu kamar adik neneknya itu.


"Aku akan pergi dari sini, tetapi serahkan semua barang-barang peninggalan kakakku". Ucap Maryam, mendelik tajam ke arah Camelia.


"Oke, ikuti aku". Camelia, menyetujui perkataannya itu. Barang-barang Sandra, tidak apa-apanya dan bukan haknya juga.


Pintu kamar Sandra, terbuka lebar dan memperlihatkan sebuah lemari-lemari yang di penuhi dengan tas branded, sendal yang harganya mahal, baju-baju mahal ternama,dan beberapa perhiasan juga.


Satu yang tidak diketahui Maryam, brangkas milik Sandra yang terlindung sebuah lemari tempat rahasia.


 "Hahahaha... Semuanya akan menjadi milikku". Kata Maryam, matanya berbinar-binar melihat barang berharga kakaknya dan menjadi miliknya itu.


Satu persatu Maryam, mengangkut barang tersebut ke dalam mobil miliknya.


Camelia, menggeleng pelan melihat Maryam begitu serakah merebut harta peninggalan kakaknya.


Seisi kamar Sandra, tidak ada benda berharga lagi karena habis di bawa Maryam.


Camelia, cengir kuda brangkas masih aman dan di dalamnya beberapa tumpukan uang dan berlian harganya sangat fantastis sekali.


"Hahahaha...Aku sudah memiliki keinginan ku ini, akhirnya aku bisa pergi dari mansion terkutuk itu". Maryam, meninggalkan mansion dengan perasaan senang sekali.


Perjalanan di malam hari sangat sepi, Maryam terus mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


Ciiittt...


Maryam, langsung menghentikan mobilnya ada sesuatu di depan sana.


"Sialan,kenapa aku pergi sendirian? Aaarghhh...Aku lupa dengan diriku,membawa beberapa perhiasan dan lainnya. Pasti mereka perampok untuk mengambil barang-barang ku,tidak! Aku tidak mau mereka mengambilnya, ini adalah milikku". Maryam, menggeleng pelan dan ingin mengundurkan mobilnya. Akan tetapi,di belakang sudah ada mobil menghalangi jalannya.


"Tidak! Semua ini adalah milikku,kalian tidak boleh mengambilnya!" Teriak Maryam, keadaannya sekarang terkurung tak bisa kemana-mana.


Tok...Tok..Tok...


"Buka pintunya sekarang juga! Atau kami tembak kaca mobil ini, secara paksa kami lakukan. buka pintunya sekarang juga! Buka!Buka!" Ucap perampok itu, menggedor-gedor kaca mobil. Maryam, menggeleng kepalanya dan tangannya gemeteran sudah.


"Tidak! Kalian pergi! Jangan ganggu aku, pergi! Aku tidak mau membukakan pintu mobil, pergi!" Teriak Maryam, keringat bercucuran membasahi wajahnya.


Beberapa orang menggunakan topeng mengetuk kaca mobil, membuat Maryam semakin panik dan ketakutan.


Dor!


"Aaaaaaaa....!" Teriak Maryam, menutup kedua telinganya semakin ketakutan. "Tolong! Siapapun tolong aku, tolong!".


Mereka menodongkan pistol ke arah Maryam, meminta pintu mobil di buka.


"Hahahahha....Buka pintunya! Buka sekarang juga! Buka wanita tua,hey!" Teriak perampok itu, menggedor-gedor kaca mobil.


"Tidak! Pergi kalian, pergi! Jangan ganggu aku, pergi!". Maryam, segera mengambil ponselnya di dalam tas. Tapi sayang sekali, ponselnya mati kehabisan baterai. "Aaaarrgghh...Sialan, baterainya habis. Pergi! Kalian pergi! Aku tidak mau membukakan pintu mobilnya! pergi!".


Maryam, sekuat tenaga menahan harta bendanya di rampok Mereka. Matanya terbalalak melihat salah satu dari mereka, ingin memecahkan kaca mobil.


"Tidaaaaaaakkk....!". Teriak Maryam, sekeras mungkin.


Praaaanggg....


Deg!


Maryam, menggeleng kepalanya karena para perampok berhasil memecahkan kaca mobil. Dia tak bisa berbuat apa-apa,benda untuk melawan pun tidak ada.


Kaca mobil pecah berkeping-keping, mereka bisa membuka pintu mobil Maryam.


Maryam,di seret paksa untuk keluar dari mobil. Meronta-ronta melawan mereka semua, tidak mau kehilangan barang berharganya.


"lepaskan aku! Lepas! Barang itu, milikku! Kalian tidak boleh mengambilnya! Lepas! Lepas!". Maryam, berusaha untuk melawan yang menahan lengannya.


Bughhh...


Bughhh...


Maryam,di tampar beberapa kali dan kepalanya mengeluarkan darah segar. "Aaaarrgghh... Ssshhhhttt....Tidak,jangan ambil milikku". Lirihnya pelan, meringis kesakitan di bagian kepalanya. Samar-samar melihat para perampok tengah bahagia, mendapatkan job besar.


"Tidaaaaaaakkk.....!" Maryam,berteriak keras ketika barang-barangnya di rampok habis menyisakan mobilnya.


Booooaaaammm...


Mobilnya hangus terbakar tanpa sisa, mereka sengaja membakar untuk menghilangkan jejak dan bukti-bukti.


"Tidaaaaaaakkk....! Kembalikan barang ku, kembalikaaaan...! Tidaaaaaaakkk...! Semua itu, milikku! Kembalikan barang ku, kembalikan!" Maryam, meraung-raung meminta barangnya kembali.


Beberapa kali berteriak keras meminta pertolongan, akan tetapi tidak ada yang mendengar maupun ada seseorang yang melewati jalan tersebut.


Maryam,tak sadarkan diri di tepi jalan gelap gulita dan tidak ada siapapun.