
Besok paginya, Camelia berisap-siap untuk berangkat kuliah.
Sepagi ini, mereka tengah ribut dengan satu sama lainnya. Inilah yang di inginkan Camelia, pasti mereka terus-terusan bermasalah dan akhirnya pergi dari sini.
"Camelia,kamu harus mengusir mereka dari sini. Mereka sudah membuat keributan terhadap anakku, Shima". Ucap Maryam, mendekati Camelia baru turun.
"Eee...Jangan salahkan kami, salahkan anakmu itu. Camelia, mendingan kamu usir wanita tua ini!" Marni, menunjuk-nunjuk jarinya ke arah Maryam.
"Aku tidak mau ikut campur, selesaikan masalah masing-masing. Kalau tidak tahan, silahkan keluar sendiri"Camelia, tersenyum smrik dan melenggang keluar dari mansion.
Keadaan Shima, Yuli dan Mutia acak-acakan. Rupanya mereka saling menjambak rambut,satu sama lain dan tidak mau kalah.
"Mutia,kita jalan-jalan yuk. Pamer sama teman-teman kita, pasti banyak mobil mahal di bagasi" Yuli, menyunggingkan senyumnya ke arah Shima.
"Bu,kita pilih mobil paling bagus yuk. Pasti di sini banyak mobil mahal-mahal,kita pergi juga" Shima, menarik lengan ibunya.
Mereka semua menuju ke arah bagasi mobil,mata mereka membeliak karena bagasi di rantai dan digembok.
"Apa-apa ini,bu? Masa iya, Camelia pelit sama kita" Shima, menggedor-gedor bagasi mobil tersebut.
"Hiks...Hiks....Aku malu bu,kalau seperti ini" Yulia, menangis kesegukan meratapi nasibnya yang gagal pamer.
Maryam dan Marni,meraup wajah masing-masing dan amarahnya sudah memuncak.
Sedangkan Camelia, tertawa terbahak-bahak melihat mereka melalui cctv.
"Hahahaha... Rasakan kalian, makannya jangan sok-sokan terhadap ku" Kata Camelia, menghembuskan nafas panjangnya.
Lagi-lagi mereka memesan makanan untuk sarapan pagi,semakin lama semakin boros karena serba beli.
Mengelilingi mansion,siapa tau menemukan sesuatu yang bisa di pamerkan. Lagi-lagi ruangan itu terkunci, bahkan di awasi beberapa cctv.
Yang bisa mereka lakukan adalah masuk kedalam kamar dan duduk santai di ruang tamu.
Maryam,tak bisa masuk kedalam kamar Sandra karena terkunci. Dia tidak tau,dimana letak kunci kamar tersebut. Kepala pelayan mansion, tidak tau dimana cuman Camelia yang tau.
"Sialan,aku ingin menikmati tas-tas mahal Sandra dan pamer sama teman-teman arisan. Pasti Sandra, memiliki tas branded dan perhiasan mahal-mahal. Kalau seperti ini,aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aarrrghh...Mana teman-teman arisan ku mau ke sini,masa iya aku cari pelayan baru" Maryam, mondar-mandir di depan kamar Sandra. Dia tengah memikirkan sesuatu,jangan sampai malu dengan teman-teman arisannya itu.
Maryam,membawa anaknya Shima untuk pergi berbelanja membeli makanan untuk teman-teman arisannya nanti. Sekalian membawa art nya di rumah,jangan sampai malu dengan mereka nanti.
Beberapa menyewa orang sebagai pelayan mansion,jangan sampai teman-temannya mengejek dia nanti.
"Ini semua gara-gara kamu, Camelia. Aku sudah menyewa beberapa orang sebagai pelayan, sisanya kamu yang bayar" Kata Maryam, sekaligus menyewa beberapa koki terkenal juga.
***************
Rika, sudah menjaga di parkiran mobil dengan tatapan tajam.
"Kau senang sekali, bukan? Melihat kami hancur berantakan, seperti yang kau inginkan. Puas melihat semuanya Camelia,kau sudah menyakiti perasaan orang lain" Rika, semakin mendekati Camelia.
"Jangan salahkan aku,karena siapapun yang main-main dengan ku akan tau akibatnya. Dia harus membayar kesalahannya,berkaca lah" Camelia, menyunggingkan senyumnya.
"Aku masih memiliki fotomu dan kekasih mu itu. Bagaimana jadinya,jika aku menyebarkan foto itu. Orang-orang pasti akan membicarakan mu,Camel. Kau akan merasa malu memiliki seorang kekasih,jauh lebih tua dan kaya raya. Mereka akan berpikiran aneh-aneh,kau akan di tuduh memiliki sugar daddy. Kau kira aku tidak bisa membalasnya,hmmmm.." Ucap Rika,menaikan satu alisnya.
Camelia, cekikikan menahan tawanya dan memandang wajah Rika. "Oh, silahkan kamu sebarkan foto itu. Aku tidak perduli sama sekali,yang ada kamu yang di kucilkan oleh mereka. Foto bisa di edit dengan cara apapun,serupa mungkin agar terlihat jelas nyata. Aku taonntang ucapan mu itu, lakukanlah dengan caramu sendiri" kedip mata Camelia,membuka pintu mobil dan masuk kedalam.
Dadanya naik turun mengontrol emosi, Rika tidak percaya dengan Camelia malah menantang perkataannya. "Baiklah,akan aku buktikan sendiri dan aku bisa melakukannya. Ck,aku yakin sekali Camelia. Kau sudah menyerahkan diri mu sendiri,alias melempar tubuh mu kepada pria yang jauh lebih tua darimu". Ucap Rika, menghapus air matanya dan melihat Kaizam dari kejauhan.
Kaizam, melirik sekilas ke arahnya dan pergi bersama Leo lebih dulu. Dia enggan menyapa Rika, semakin berniat untuk menjauhinya.
*****************
Deg!
Kaizam dan Leo, baru saja pulang dari kampus. Rupanya orangtuanya Kiki,juga sampai di perkarangan rumah.
Leo, langsung menarik lengan Kiki ingin berbicara sedikit menjauh dari orangtuanya. "Kiki, kamu apa-apaan sih?Bawa orangtuanya mu ke sini,ini adalah waktu yang tidak tepat".
"Kita harus merencanakan pernikahan kita, Leo. Aku gak mau loh, perutku semakin membesar dan malu di liat orang. Semakin cepat kita menikah,maka semakin bagus dan menyelamatkan nama naik keluarga ku" Kiki, sedikit meringis cengkalan tangan Leo kuat.
"Aaaarrgghh...Aku baru saja mendapatkan musibah, berharap kamu memahami keadaan kami. Mendingan yah, aborsi kandungan mu itu" Ucap Leo, semakin syok Kiki mendengar ucapan sang kekasih.
"Jangan gila, Leo!" Bentak Kiki, menepis tangan Leo dengan kasar. Dia langsung mendekati kedua orangtuanya dan masuk kedalam rumah.
Kaizam dan Leo,panik melihat mereka masuk dan menemui mommy nya. Mau tidak mau, Leo harus menghadap masalah ini.
Dwi,nampak tak menyukai kedua orangtuanya Kiki. Mereka sudah keterlaluan sekali, tidak memperdulikan musibah yang dialami mereka. "Apa kalian tidak memiliki perasaan? Anak-anakku mengalami musibah,atas kebakaran tempat usaha mereka. pikiran kami tidak karuan,kalian malah memikirkan tentang pernikahan. Astaga! Dimana pikiran kalian,ha?" Dwi, menggeleng pelan dan menoleh ke arah Leo menundukkan kepalanya.
"Kami tau,jika Leo mendapatkan musibah. Kita harus menyelesaikan rencana pernikahan ini, lama-kelamaan perut anakku semakin membesar. Kami tidak akan tinggal diam, jangan membuat malu keluarga kami. Kiki, adalah anak semata wayang kami dan harus mengadakan pesta pernikahan yang mewah dan mahar yang besar" Ucap Gito,ayah kandungnya Kiki yang tak mau kehilangan kesempatan ini.
"Benar sekali,jeng. Leo, harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Aku sudah mempercayai Leo,menjaga anak kami dan jangan merusaknya. Lihatlah, Kiki tengah hamil dan calon cucunya jeng Dwi juga" Sambil Riri, mengelus lembut punggung tangan Kiki yang menangis kesegukan.
Kaizam, memejamkan matanya sekejap. "Maaf,kami perlu waktu om, Tante, untuk membahas soal ini. Saat ini,kami memerlukan uang banyak untuk membangun usaha kami. Kalau bisa yah, acara pernikahan sederhana saja" Pinta Kaizam,mana mungkin menuruti kemauan orangtuanya Kiki.
Mampukah Leo, melewati masalahnya atau bertambah rumit?.