
Dengan sigap, Pangeran Khalied putra Pangeran Hasyeem itu menerima serangan sinar merah tersebut dengan pukulan Halilintar.
Suara yang sangat keras terdengar dan menimbulkan ledakan suara dahsyat yang memekakkan telinga akibat bertemunya dua kekuatan besar.
"Paman,....!" Seru Pangeran Arkana. " Apakah paman tidak apa - apa..?" tanya Pangeran Arkana cemas.
"Aku tidak apa - apa, Pangeran." sahut Pangeran Khalied.
"Benar, ini adalah bau iblish dan bala tentaranya, Paman..! "
Setelah mengetahui bahwa iblish yang telah membawa Kania pergi , pangeran Arkana langsung shock.
Pangeran Arkana tidak menyangka bahwa iblis juga mengincar wanitanya.
"Kurang ajar, mereka mengecohku rupanya. Ternyata kehadiran kuntilanak itu hanya untuk mengalihkan perhatianku saja dari Kania....!" kata Pangeran Arkana dengan marah.
"Ayo, kita cari Kania...! Ajak Pangeran Khalied.
"Kemana kita akan mencarinya, Paman...?" tanya Pangeran Arkana bingung.
"Kita lacak jejaknya..Aku yakin, kita pasti bisa menemukan Kania." kata Pangeran Khalied.
"Baiklah kalau begitu. Kita lacak jejaknya. Sepertinya jejaknya mengarah ke barat." kata Pangeran Arkana.
"Apa mungkin, yang menculik Kania adalah pasukan raja iblis dari Barat..?" tanya Pangeran Khalied.
"Bisa jadi, Paman... " kata Pangeran Arkana. "Jika mengikuti jejaknya, bisa jadi memang demikian adanya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan Kania berada di arah yang sebaliknya."
"Iya, memang tidak menutup kemungkinan akan hal itu.. " ucap Pangeran Khalied membenarkan ucapan Pangeran Arkana.
Keduanya segera terbang melesat menuju ke arah Barat.
Pangeran Arkana merasakan geram sekali karena merasa teoah terkecoh. Mereka sesungguhnya mengincar Kania, yang merupakan orang yang dekat dengan pangeran Arkana.
Sesampainya di daerah Barat
"Ayahku benar ternyata...." Pangeran Khalied bergumam seorang diri.
"Apa, Paman. Maksud Paman, kakek Pangeran Hasyeem...?"
Pangeran Khalied mengangguk lesu.
Pangeran Arkana masih penasaran dan kembali bertanya.
"Apa yang telah diucapkan oleh kakek, Paman...?" tanya Pangeran Arkana.
"Ayahanda Pangeran Hasyeem berkata bahwa suatu saat para iblis akan menggunakan wanita - wanita kita untuk mengalahkan kita. Karena kita akan lemah bila menyangkut tentang wanita. Apalagi bila wanita itu adalah wanita kesayangan kita." jawab Pangeran Khalied.
"Iya, kakek memang benar, Paman. Karena kakek sendiri pernah merasakan seperti itu. Kelemahan kakek adalah pada nenek ratu Asmi. Tapi kelemahan itu juga yang merupakan sumber kekuatan kakek." ucap Pangeran Arkana.
"Memang benar, kelemahan kita terhadap wanita juga merupakan sumber kekuatan kita. Mungkin itu sebabnya, ayahanda Pangeran Hasyeem memintaku untuk melepaskan Zahra." ucap Pangeran Khalied.
Wajah Pangeran Khalied menegang seusai dirinya menyebut nama Zahra. Dia berpikir mungkinkah Zahra juga mengalami nasib yang sama seperti Kania.
Pangeran Arkana bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa pamannya mendadak jadi setegang itu.
"Apa mungkin mereka juga melakukan hal yang sama terhadap Zahra..?" ucap Pangeran Khalied.
"Astaga, apa benar demikian, Paman..?" Pangeran Arkana. "Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita ke rumah Zahra. Jangan sampai terlambat, Paman..!" ucap Pangeran Arkana melesat terbang mendahului Pangeran Khalied.
"Pangeran Arkana, tunggu...!!!" Panggil Pangeran Khalied.
Pangeran Arkana Berhenti sejenak karena mendengar panggilan Sang Paman.
"Ada apa, Paman...?" tanya Pangeran Arkana.
"Sebaiknya kita bagi tugas. Kau teruskan melacak jejak Kania, dan aku akan ke rumah Zahra." kata Pangeran Khalied.
"Gunakan telepati untuk berkomunikasi. Aku akan menghubungi kamu jika aku tak menemukan Zahra." kata Pangeran Khalied lagi.
Tiba-tiba, Pangeran Arkana teringat sesuatu. Cepat - cepat dia merogoh kantong di balik bajunya.
Pangeran Khalied terheran-heran melihat benda pipih berbentuk segi empat yang kini sedang di pegang oleh Pangeran Arkana.
"Kau memiliki benda ini juga...?" tanya Pangeran Khalied.
"Iya, Paman. Kemarin, aku membeli handphone ini dengan bantuan Kania. Menurut Kania, kita bisa melacak keberadaan seseorang melalui benda ini.. " kata Pangeran Arkana.
"Aku juga tak tahu, Paman. Mungkin bibi Arryan lebih tahu. Karena dia sudah terbiasa dengan peralatan seperti ini." Kata Pangeran Arkana lagi.
"Benar juga. Sebaiknya kau segera menemui bibi Arryan. Aku yakin dia bisa membantumu." kata Pangeran Khalied.
"Jadi, aku menemui bibi Arryan dulu, dan paman menemui Zahra."
"Iya, Paman rasanya harus seperti itu. Pergilah... aku juga mau pergi menemui Zahra...!" kata Pangeran Khalied.
"Baik, Paman. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum... "
"Waalaikum salam.. " jawab Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied kemudian melesat terbang menuju ke arah rumah Zahra. Sedangkan Pangeran Arkana, kembali ke rumah sakit untuk menemui bibinya.
Sampai di rumah sakit, Pangeran Arkana segera menemui bibinya. Kebetulan sekali, bibinya itu sedang berada di rumah sakit itu bersama suaminya, Andros.
"Assalamualaikum, Bibi, Paman Andros..?" Pangeran Arkana memberi salam kepada putri Arryan dan Andros yang sedang duduk berdua.
"Waalaikum salam. Pangeran Arkana. Kemarilah... Paman rindu padamu. Betapa cepat waktu berlalu. Ternyata kau sudah sebesar ini.." kata Andros sambil memeluk Pangeran Arkana.
"Paman juga tak berubah. Tetap tampan dan keren.." balas Pangeran Arkana. Keduanya lantas tertawa bersama sambil berpelukan.
"Pangeran Arkana, ada apa kau kemari. Apakah kau masih mengejar perawat itu.?" tanya Putri Arryan kemudian.
"Namanya, Kania, Bi.. " ucap Pangeran Arkana.
"Hmm, Kania. Oh... Kania Wulandari, Maksudmu...?"
Pangeran Arkana mengangguk membenarkan tebakan bibinya.
"Wah, keponakan paman ini rupanya jatuh cinta pada seorang gadis dari kalangan manusia. Kapan - kapan, kenalkan dia pada kami, Pangeran..." kata Andros.
"Pasti, Paman... " sahut Pangeran Arkana..
Pangeran Arkana kemudian melepaskan pelukan pada pamannya dan berjalan menghampiri sang Bibi.
"Saat ini, justru karena dia aku kemari untuk menemui bibi. Aku ingin minta bantuan bibi Arryan." kata Pangeran Arkana.
Putri Arryan heran mendengar Pangeran Arkana meminta bantuan kepadanya. Apakah keponakannya itu telah membuat masalah. Tapi masalah apa..?
Tidak mungkin masalah cinta antara pangeran Arkana dan gadis dari golongan manusia itu sampai harus melibatkan dirinya.
"Bantuan, bantuan apa, Pangeran...? Aap kau membuat masalah dengan gadis itu..?" tanya Putri Arryan.
"Tidak, Bi Arryan. Ini adalah masalah yang lain lagi. Kania menghilang. Gadis itu menghilang sesaat setelah aku meninggalkannya untuk mengejar kuntilanak yang telah mencoba untuk mengganggunya..." kata Pangeran Arkana dengan nada suara yang terdengar sedih.
"APA, menghilang...? Apa maksudmu dengan menghilang. Apa dia pergi meninggalkanmu, Pangeran...? Tanya Putri Arryan lagi.
"Bukan, dia tidak pergi meninggalkan aku. Tapi, sepertinya tentara iblis telah menculiknya." kata Pangeran Arkana.
Andros dan putri Arryan Terlonjak kaget mendengar apa yang disampaikan oleh keponakannya.
Gadis yang menjadi incaran Pangeran Arkana adalah salah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit miliknya.
"Bagaimana kejadiannya, Pangeran...? Ceritakan pada kami..!" pinta Putri Arryan.
"Awalnya, aku melihat ada sesosok kuntilanak ingin mengganggunya. Lalu aku menghalau dan menyerang kuntilanak itu. Kuntilanak tersebut melarikan diri dan akupun mengejarnya.
Bahkan aku juga membakar habis rohnya karena meledekku.
Namun, saat aku kembali, aku tak menemukan Kania di kamarnya. Padahal, saat ku tinggalkan, gadis itu sedang tidur di kamarnya. " cerita pangeran Arkana.
"Bagaimana kau tahu, bahwa gadis itu di culik oleh tentara Iblis. Apa kau sudah memeriksa semua tempat di rumah sakit ini dan juga tempat - tempat lain." tanya Andros.
"Sudah Paman...! Bahkan aku sudah beberapa kali mendatangi tempat - tempat yang mungkin saja dia datangi. Aku juga sudah menggunakan ilmu Sepih Angin untuk melacaknya. Namun hasilnya nihil. Aku benar-benar tak bisa menemukan jejaknya. Aku akhirnya minta bantuan Paman Khalied untuk melacak keberadaan Kania.
Bersama paman, kami kembali ke rumah Kania. Di sana, paman Khalied berhasil menemukan jejak - jejak tentara iblis. Bukan itu saja, kami juga kembali di serang dengan pukulan jarak jauh. Untung saja, aku dan paman Khalied bisa mengelak.. " kata Pangeran Arkana.
*Lalu, apa yang membawamu kemari, Pangeran..?" Tanya Putri Arryan setelah hening beberapa saat mendengarkan pangeran Arkana bercerita.
Pangeran Arkana mengeluarkan sesuatu dari balik kantong bajunya.
"Karena ini...?" kata Pangeran Arkana sambil menyodorkan sebuah handphone ke tangan Putri Arryan.
"Aku tahu ini adalah handphone, Pangeran... Tapi mengapa kau memberikan benda ini padaku.? " tanya Putri Arryan..