Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 125 Kisah Putri Humaira ( Part 2)


Pangeran Hasyeem juga sudah bermurah hati memberi tenggat waktu untuk dirinya mengenal Putri Humaira lebih baik lagi.


Jadi Pangeran Sya'if harus berusaha lagi untuk menaklukkan hati gadis itu jika tidak, maka semua akan berakhir.


"Aku mau mengantar Zahra kembali ke rumahnya karena dia harus tidur. Ini sudah larut malam." kata Pangeran Khalied kepada saudara kembarnya Putri Humaira.


"Oh, iya. Aku selalu lupa bahwa perbedaan waktu di dunia kita dan mereka berbeda. Baiklah, Zahra senang bertemu denganmu. Jangan segan - segan untuk datang padaku jika saudaraku ini berbuat sesuatu yang menyakiti dirimu. Aku yang akan menghajarnya." kata Putri Humaira.


Zahra tersenyum mendengar ucapan Putri Humaira. " Tidak, Putri Humaira. Aku yakin, bahwa Pangeran Khalied tidak akan pernah menyakiti aku. iya, kan, kakak..?" kata Zahra sembari melirik Pangeran Khalied.


Putri Humaira memanyunkan bibirnya ke arah Pangeran Khalied. "Huhh, benarkah.... Kau tahu apa gelarnya di sini, Zahra. Penghancur hati wanita kelas satu. Dia selalu saja membuat wanita - wanita dari bangsa kami menangis karena patah hati." kata Putri Humaira.


"Aihh... kenapa kau mengumbar aib saudaramu, Wahai Putri Humaira. Aku akan menangis tujuh hari tujuh malam dan tangisku akan membanjiri taman ibunda ratu ini jika sampai Zahra berubah pikiran dan memutuskan hubungan denganku." kata Pangeran Khalied yang membuat Zahra tertawa terpingkal - pingkal.


"Huh... dasar playboy cap teri. Rayuan mautnya bikin wanita kepincut. Jika aku jadi kau, Zahra. Akan aku ikat kaki dan tangannya serta tutup saja matanya biar matanya tidak jelalatan dan kakinya tidak bergerak kelayapan lagi." kata Putri Humaira.


"Jika Zahra yang melakukan hal itu, aku rela. Dengan senang hati aku akan melakukannya. Karena setelah aku ini, aku tak akan lagi mencintai wanita manapun selama Zahra masih hidup. Kami akan selalu bersama sampai maut memisahkan." kata Pangeran Khalied dengan mantap.


"Ahh... sudahlah. Aku mual mendengar rayuan mautmu. Lebih baik aku pergi saja. Zahra, datanglah lagi lain kali. Kita akan bermain bersama. Sampai jumpa lagi, saudaraku tersayang." Putri Humaira melesat terbang meninggalkan Pangeran Khalied dan Zahra yang juga akan bersiap pulang.


"Ayo, kita pamit dulu pada ayahanda dan ibu ratu. Lalu aku antar kamu pulang ke rumahmu..!" kata Pangeran Khalied.


Zahra mengangguk dan kemudian meraih tangan Pangeran Khalied yang terulur kepadanya.


Keduanya kemudian pergi meninggalkan tempat itu untuk menemui Pangeran Hasyeem dan Asmi yang sedang duduk berduaan di taman itu.


Sepeninggal mereka, sepasang mata cantik tampak berurai air mata menyaksikan Pangeran Khalied dan Zahra yang melesat terbang meninggalkan tempat itu.


"Pangeran Khalied, mengapa kau lebih memilih wanita dari bangsa manusia itu dari pada aku yang selalu bersamamu." ratapnya penuh sesal.


Gadis itu kemudian muncul menampakkan diri sepenuhnya ketika tak ada lagi siapa pun di tempat itu.


Gadis itu sangat cantik. Kecantikannya bahkan mampu memukau mata siapa saja yang melihatnya. Hanya saja, gadis itu seperti umurnya bangsa jin, memiliki mata yang berwarna hitam dengan bintik kuning di tengah dan daun telinga berbentuk runcing. Dan satu lagi, gadis itu memiliki kulit yang bersisik seperti sisik ikan.


Dialah Armeyna. Armeyna adalah teman dan sahabat Pangeran Khalied sejak kecil. Armeyna adalah putri dari Raja Marick.


Sejak dulu, dia sering bermain ke Istana Bukit Malaikat. Dan dia bermain bersama Pangeran Khalied dan juga Pangeran Arkana di taman bunga. Kadang-kadang, taman itu penuh dengan cucu dari Ibu Ratu, jika putra putri Pangeran Allyan dan juga Pangeran Azzura datang berkunjung dalam waktu bersamaan.


Hiruk pikuk suara anak - anak dan keributan akan segera memenuhi tempat itu.


Dengan berkumpul bersama keluarga, temen - teman, akan membuat kita merasa kuat dan tentram.


Setelah membersihkan wajahnya, Armeyna lalu pergi menemui Pangeran Hasyeem dan ratu Asmi untuk pamit. pulang. Gadis itu merasa sedih karena Pangeran Khalied melupakan dirinya.


Saat bertemu dengan Pangeran Hasyeem, tak sengaja ayahanda Pangeran Khalied itu mendengar isi hati Armeyna.


Iba hatinya saat mengetahui isi hati gadis itu. Namun dia tak bisa juga menyalahkan anaknya, cinta itu tak bisa di paksakan.


Dan dia melihat cinta sebesar itu di mata putranya Pangeran Khalied untuk Zahra, gadis yang berasal dari golongan manusia.


Andaikan dia menentang percintaan itu, yang mungkin saja terjadi adalah putranya itu akan menentangnya habis - habis.


Pangeran Hasyeem menghela napas panjang. Betapa rumitnya cinta. Tak mengenal ras dan juga kedudukan bahkan juga tak mengenal kasta dan derajat.


***


Pangeran Khalied mengantarkan Zahra kembali ke rumahnya. Malam sudah menjelang pukul 12.00 saat kedua pasangan itu tiba di kamar Zahra.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." kata Pangeran Khalied. Saat ini, Zahra sudah bersiap - siap untuk tidur.


"Tapi mataku susah sekali terpejam. Padahal besok pagi aku harus mengantarkan pesanan tahu dan tempe ke rumah Bu Karyo." keluh Zahra.


Pangeran Khalied menghampiri Zahra dan mengecup dahi Zahra. Lalu membaringkan gadis itu di ranjang. Menarik selimut dan memeluk gadis itu.


"Tidurlah dalam pelukanku...!" kata Pangeran Khalied.


Zahra menurut dan menyandarkan kepalanya di dada Pangeran Khalied. Pangeran Khalied kemudian memeluk Zahra erat. Tubuh keduanya tenggelam dalam selimut yang menutupi tubuh Zahra dan Pangeran Khalied.


Zahra yang merasa nyaman langsung memejamkan matanya hingga lelap tertidur sampai pagi menjelang.


Pukul 05.00 pagi hari terdengar suara mpok Suri, ibunya Zahra membangunkan Zahra untuk sholat subuh.


Pangeran Khalied langsung membangunkan Zahra dengan cara mengecup pipi gadis itu mesra.


Cup...


"Bangunlah sayang, ibumu memanggilmu untuk sholat subuh." kata Pangeran Khalied.


Zahra menggeliat dan membuka mata. Yang pertama dilihatnya adalah wajah tampan kekasihnya itu yang sedang tersenyum manis.


"Bangunlah, sudah waktunya sholat subuh. Aku pergi dulu, jangan lupa berdoa semoga kita berjodoh. Aku ingin kau menjadi istriku. Assalamu'alaikum." ucap Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied kembali lagi mengecup gadis itu. Tapi Kali ini bagian bibir Zahra yang dia kecup. Lalu pergi menghilang tepat saat ibunya Zahra masuk ke dalam kamar gadis itu.


"Zahra, kau sudah bangun rupanya. Ayo buruan solat subuh..Lalu bantu ibu untuk mengantar pesanan tempe dan tahu ini ke rumah pelanggan kita.


Zahra pun segera bersiap untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh, gadis itu seperti biasa, mengantarkan pesanan tahu tempe ke rumah - rumah para pelanggan mereka.


***


Sementara itu, Putri Humaira kembali ke dunia manusia untuk melaksanakan tugasnya sehari - hari sebagai perawat, dengan di kawal oleh Zyftar, pengawal pribadinya.


Zyftar sendiri adalah jin yang berasal dari golongan jin muslim yang bersayap.