
Pangeran Arkana akhirnya berhasil mempersunting Kania dan menjadikan gadis pujaan hatinya itu sebagian istri.
Sebulan kemudian, Pangeran Arkana dan Kania menikah. Mereka menikah di rumah Kania, di Jogja dengan suasana yang sangat sederhana. Hanya beberapa orang keluarga dari Kania dan Seluruh keluarga Pangeran Arkana dan Keluarga Pangeran Hasyeem. Tentu saja Pangeran Khalied dan Zahra hadir dalam permintaan tersebut. Termasuk juga Putri Humaira dan suaminya
Zyftar.
Pernikahan Pangeran Arkana dan Kania itu memang sengaja dilaksanakan secara sederhana saja. Semua itu atas permintaan Kania. Dia tak ingin merepotkan keluarga budenya.
Pangeran Arkana menyetujui permintaan calon istrinya itu. Akan tetapi, Pangeran Arkana tidak sederhana dalam memberikan mahar kepada Kania. Seperti yang sudah menjadi tradisi di kerajaannya, Dia menghadiahkan Kania dengan seperangkat perhiasan emas dan intan serta uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah sebagai mahar untuk gadis itu. Benar - benar mahar yang sangat fantastik.
Kania sungguh tak menyangka bahwa Pangeran Arkana telah memberinya hadiah mahar yang sedemikian mahal. Ada rasa haru dan juga bangga di hati gadis itu ketika menyadari betapa berharganya dirinya di mata Arka.
"Arka, eh maksudnya Kak Arka. Apa kakak ingin mandi dulu..?" kata Kania. Dia agak sedikit canggung saat berada dalam satu kamar dengan pemuda itu.
Padahal tanpa sepengetahuan dia, Arka sering berada dalam kamar Kania untuk mengawasi gadis itu.
"Kamu saja duluan, Sayang. Aku ingin pergi sebentar saja. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Tunggu aku, yah. Kita akan menghabiskan malam bersama.!" kata Pangeran Arkana seraya mengedipkan sebelah matanya. Pemuda tampan Putra Pangeran Alyan itu segera menghilang dari pandangan mata. Meninggalkan Kania seorang diri yang tersipu - sipu.
Kania terhenyak ketika melihat suaminya sudah lenyap saja dari pandangan mata. Nasib......punya suami jin, pergi dan muncul secara tiba-tiba.
Tiba-tiba, Dia baru sadar, kalo sekarang adalah malam pertama. Sudah tentu dia harus melayani suaminya seperti layaknya seorang istri. Aduhhhh...... Kania jadi merinding sendiri.
Akhirnya Kania pun beranjak pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Kania melihat ada sesuatu yang tergeletak di tempat tidur. Itu sebuah gaun yang lengkap dengan perhiasannya.
"Gaun siapa ini, kenapa ada di sini..?" tanya Kania dalam hati. Heran dan bingung. Dia menebak, mungkin saja itu ulah suaminya. Tapi mana Arka..?
"Kamu mencariku, sayang..?" bisik seseorang di telinga Kania. Sepasang tangan melingkar erat di pinggangnya. Tanpa menoleh pun Kania sudah tahu, bahwa yang sedang memeluk dirinya dengan posesif itu adalah Arka.
"Apakah gaun dan perhiasan itu untukku..?" tanya Kania.
"Untuk wanita yang paling cantik di dunia ini setelah ibuku, gaun itu mewakili dirimu. Cantik dan indah." kata Pangeran Arkana.
Kania melambung tinggi mendengar pujian Pangeran Arkana. Sungguh pandai suaminya itu merayu. Membuat Kania merasa bagaikan seorang ratu saja malam ini.
"Terima kasih karena sudah mencintai aku sedemikian besar. Aku merasa sangat beruntung di cintai olehmu." kata Kania. Dia memejamkan mata ketika merasakan bibir Pangeran Arkana menyentuh lehernya.
"Aku malah merasa lebih beruntung lagi. Kau mau tau, mengapa..?"
Kania menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Karena untuk mendapatkan kamu aku harus melalui perjuangan yang keras. Kamu itu sangat mudah dicintai tetapi sangat sulit untuk diraih. Seperti bintang ini." Kata Pangeran Arkana sambil memasangkan seuntai kalung ke leher Kania. Kalung emas dengan bandul berbentuk bintang yang terbuat dari berlian. Sungguh sangat indah.
Kania menatap pantulan wajahnya di cermin. Sangat cantik. Dan kalung di leher Kania, semakin membuat gadis itu tampil mempesona.
Tring.....
Dalam sekejap mata, gaun di atas kasur itu sudah berpindah ke tubuh Kania.
"Sempurna..!" seru Pangeran Arkana.
"Apa...?" tanya Kania tak mengerti.
"Dirimu, kau begitu sempurna. Jadilah satu - satunya wanita dalam hidupku selamanya, Kania Wulandari.." kata Pangeran Arkana seraya mengulurkan tangannya ke arah Kania.
Kania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku bersedia, menjadi kekasihmu, istrimu, wanitamu dan pendamping hidupmu dalam suka maupun duka selama-lamanya sampai maut memisahkan." ucap Kania.
Pangeran Arkana menggigit sedikit tangannya sehingga tampaklah darahnya yang berwarna biru kehijauan. Kania terperangah melihat apa yang dilakukan oleh Pangeran Arkana.
"Kak Arka, tanganmu berdarah...!" seru Kania panik. Sifat aslinya sebagai perawat langsung keluar ketika melihat seseorang terluka.
Pangeran Arkana tidak menggubris kata - kata Kania. Pemuda itu malah meraih tangan Kania dan menggigitnya sehingga berdarah. Lalu yang dilakukan Pangeran Arkana adalah menyatukan tangan mereka.
Darah Kania yang berwarna merah dan darah Pangeran Arkana yang berwarna biru kehijauan menyatu.
"Lihatlah, aku mengikat dirimu dengan sumpah darah. Aku atau dirimu tak akan bisa terpisahkan lagi sampai maut memisahkan. Kita sehidup semati, sayang.." kata Pangeran Arkana.
Sesaat kemudian, Kania langsung sadar ketika merasakan sakit di tangannya.
"Aduh, tanganku, sakit..!" pekik Kania tertahan.
Pangeran Arkana segera meraih tangan Kania dan mengusapnya. Ajaib sekali, luka bekas gigitan tadi hilang tak berbekas. Kania mengusap tangannya untuk menyakinkan bahwa tadi dia tidak sedang bermimpi.
"Sayang, ayo kita pergi berbulan madu. Malam ini, aku mau meminta hakku sebagai suamimu. Apakah boleh...?" tanya Pangeran Arkana.
Dengan malu - malu, Kania menjawab pertanyaan Pangeran Arkana dengan anggukan kepala.
Pangeran Arkana segera meraih tangan Kania dan membawa gadis itu ke suatu tempat.
"Kak, kita ada dimana..?" Tanya Kania setelah mereka tiba di depan sebuah hotel.
"Kita ada di hotel. Ayo...!" kata Pangeran Arkana seraya membimbing tangan Kania memasuki hotel tersebut.
"Pesanan kamar atas nama Tuan Arkana..!" kata Pangeran Arkana kepada resepsionis hotel yang menyambut kedatangan mereka.
"Tuan Arkana, kamar suite untuk satu minggu, silahkan Tuan.." kata Resepsionis itu dengan ramah. Dia sangat terpesona dengan mata Pangeran Arkana yang berwarna kuning terang dan indah. Sangat tampan sehingga matanya tak berkedip memandang wajah Pangeran Arkana.
Pangeran Arkana menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam kepada resepsionis tersebut yang segera menggesekkan ke mesin cash.
Mata Kania terbelalak melihat semua itu. Dirinya ingat sekarang, bahwa cowok itu pernah menyerahkan sebuah kartu serupa kepadanya. Tapi dia tak ingat lagi karena telah menyimpan kartu tersebut di tempat tersembunyi. Saat itu dia takut mempergunakan uang yang tersimpan di dalam kartu tersebut karena merasa tidak berhak.
Kania semakin menyadari bahwa Arka, suaminya itu ternyata bukan pemuda biasa. Pemuda itu adalah milyader yang amat sangat bersahaja. Hal itu membuat Kania semakin mencintai Pangeran Arkana.
"Masuklah...!" kata Pangeran Arkana memecahkan lamunan Kania. Kania baru sadar ternyata mereka sudah sampai di kamar suite yang Arka pesan.
Mulut Kania terbuka lebar ketika menyaksikan keindahan kamar suite di hotel tersebut. Sangat nyaman dan serba mewah. Apalagi kamar itu sekarang dipenuhi bunga - bunga mawar yang memenuhi seluruh ruangan.
"Aku sudah tak sabar ingin ingin segera memakanmu, nyonya Arka..!" kata Pangeran Arkana. Dia yang merasakan gairahnya sudah memuncak sejak tadi tak sabar lalu menggendong Kania menuju ke tempat tidur yang sangat besar itu.
Pangeran Arkana meletakkan tubuh Kania perlahan-lahan di atas tempat tidur. Lalu dengan gerakan tangannya, pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya.
"Apakah kau suka yang gelap atau terang..?" tanya Pangeran Arkana yang kini sudah dalam keadaan setengah telanjang. Tubuhnya menindih tubuh Kania. Dengus napasnya sudah mulai tidak beraturan.
"Aku malu, Kak..!" ucap Kania.
"Kalau begitu, aku akan mematikan lampunya dan pake lampu yang redup saja." kata Pangeran Arkana. Tangannya kembali bergerak menjentikkan jarinya dan segera lampu di ruangan itu yang semula terang - benderang kini sudah berganti menjadi redup.
Sesaat kemudian, yang terdengar di kamar itu hanya rintihan Kania dan erangan Pangeran Arkana.
Saat ini, Kania sedang berbaring
di dada Pangeran Arkana yang sedang berbaring telentang di atas ranjang pengantin yang besar dan wangi bunga- bunga.
Ronde pertama sudah mereka lalui dengan permainan panas yang menguras tenaga. Kania menyerahkan keperawanannya kepada Pangeran Arkana dengan perasaan bahagia dan haru. Dia bangga bisa mempertahankan miliknya dan menyerahkan kepada suaminya.
"Kania, mau punya anak berapa..?" tanya Pangeran Arkana.
"Iihhh, kakak. Baru aja bikin anak, sudah nanya mau punya anak berapa..?" kata Kania sambil tersipu malu.
Pangeran Arkana tak tahan melihat Kania yang tersipu malu sambil menutupi wajahnya.
Maka yang terjadi kemudian, dia kembali menindih tubuh Kania dan kembali melanjutkan permainan panas mereka sampai pagi harinya. Keduanya melakukannya berulang - ulang tanpa rasa puas. Sampai akhirnya keduanya tertidur karena kelelahan.
***
Begitulah, manisnya kisah cinta yang terjadi antara dua insan yang berbeda alam. Cinta memang buta. Dia tak mengenal artinya perbedaan. Bahkan perbedaan alam sekalipun.
Kisah cinta Pangeran Khalied dan Zahra serta Pangeran Arkana dan Kania, adalah contoh nyata tentang cinta beda alam. Cinta itu ghaib tapi ada. Seperti alam jin yang ada tapi tak terlihat.
Sampai sini cerita kita Tentang Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana. Semoga semua readers aku dapat terhibur dengan novel aku ini. Sampai jumpa lagi di novel - novel aku yang lain. Semoga masih diberi umur panjang untuk menulis lagi. Salam manis buat para readers sekalian dari @Minaaida.92.