
"Awas, Pangeran. Kepala Nagini ada di bawahmu..!" seru Pangeran Khalied ketika melihat kepala Ular besar itu sekarang tepat berada di bawah mulut gua, bersiap untuk merayap naik ke tebing itu.
Pangeran Khalied melesat menyambar tubuh ular raksasa itu. Menghadiahinya dengan ilmu pukulan Halilintar. Namun tubuh ular itu seolah tak bergeming. Ular itu merambat pelan tapi pasti menuju ke tempat pangeran Arkana.
Sementara itu, di dalam gua, Zamura kembali dikejutkan oleh Kania yang kembali merasa kehausan.
Astaga, dia lupa. Sekarang sudah menjelang malam hari. Seharian ini, tentu saja Kania merasa tenang walaupun tubuhnya di totok oleh Pangeran Arkana. Karena gadis yang sudah menjadi makhluk penghisap darah itu sudah meminum darah seekor kerbau liar.
Kini, Zamura menjadi kebingungan sendiri. Mau dia apakan gadis itu, pikir Zamura.
Kania terlihat mulai gelisah. Zamura bisa melihat mata gadis itu berubah menjadi merah dan beringas menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
Sedangkan Zahra, gadis itu sudah mulai sadar dari pingsannya. Namun gadis itu tampaknya tak bisa bergerak. Atau barangkali saja, karena kondisi fisiknya yang lemah karena hampir kehabisan darah.
Dengan hati - hati, Zamura memindahkan tubuh Zahra agak menjauh dari Kania.
"Nona Zahra, maafkan aku. Tapi aku harus memindahkan dirimu ke sana." tunjuk Zamura ke sebuah ceruk kecil di dinding gua.
Zahra hanya bisa mengangguk lemah karena belum bisa banyak bergerak dan berkata-kata.
Deng sigap, tangan Zamura yang kokoh menggendong Zahra dan membawa gadis itu ke tempat yang ditunjuknya tadi.
Selesai memindahkan Zahra, Zamura bermaksud berbalik untuk melihat keadaan Kania. Namun ternyata gadis itu sudah tak ada di tempatnya.
"Nona Kania, Nona...!! " panggil Zamura.
Namun tak ada sahutan. Kania telah pergi. Sepertinya gadis itu memang telah pergi meninggalkan tempat itu.
Bergegas Zamura bergerak mencari Kania ke arah mulut gua, berpikir bahwa gadis itu akan bergerak ke sana. Namun saat dirinya tiba di mulut gua, pangeran Arkana dan Pangeran Khalied sudah berdiri di depan mulut gua.
"Pangeran, Nona Kania menghilang..!" lapor Zamura.
"Apa, .... bagaimana bisa?!" sergah pangeran Arkana gusar.
Bergegas Pangeran Arkana dan Pangeran Khalied masuk ke dalam gua. Benar saja, tak ada Kania di tempat dia meletakkan gadis itu.
Kemana perginya Kania. Jika ke mulut gua, sudah tentu dirinya akan melihat kehadiran gadis itu. Dan lagi pula, dia sudah menotok jalan darah Kania. Mustahil rasanya gadis itu bisa melepaskan diri, kecuali kalau dia sudah berubah kembali menjadi makhluk penghisap darah.
Pangeran Arkana baru menyadari jika sekarang hari sudah beranjak malam. Tentu saja, Kania pasti sudah berubah menjadi makhluk penghisap darah kembali. Jika sudah begini, kekuatan gadis itu bisa sepuluh kali lipat dari kekuatan manusia biasa.
"Bagaimana, Pangeran. Apakah benar Kania menghilang..?" tanya Pangeran Khalied.
"Sepertinya begitu, Paman." jawab Pangeran Arkana.
"Kita harus segera mencarinya. Sebelum dia menghilang jauh. Aku rasa kemungkinan dia berada di dalam gua." ujar Zamura.
Tiba-tiba, dinding gua itu terasa bergetar dan bergerak . Batu - batu yang berada di dinding dan mulut gua runtuh hingga menutup mulut gua.
"Sepertinya, Nagini bermaksud untuk mengurung kita hidup - hidup di tempat ini, Paman.." ucap Pangeran Arkana.
"Benar, sepertinya begitu. Tapi aku yakin, Insya Allah kita pasti akan menemukan jalan keluar dari mulut gua ini." ucap Pangeran Khalied.
Walaupun sebenarnya, jauh di dalam hati Pangeran Khalied meragukan akan hal itu. Tapi bukankah kita sebagai manusia wajib ikhtiar. Apalagi dirinya dan Pangeran Arkana serta Zamura adalah seorang ksatria. Pantang bagi seorang ksatria untuk menyerah sesulit apapun cobaan yang dilalui olehnya.
***
Sudah hampir semalam mereka menyusuri celah sempit di dalam perut gua. Celah sempit itu hanya bisa dilalui oleh dua orang saja. Hingga akhirnya mereka semua sampai di suatu tempat yang agak luas. Tempat itu mirip sebuah tanah lapang dengan batu yang berjejer berukuran tak teratur di depan mereka. Batu itu bahkan ada yang berukuran sangat besar.
Pangeran Khalied menoleh kepada Zahra yang masih lemah dalam pelukannya. "Apakah kau lapar..?" tanya Pangeran Khalied.
Zahra menggelengkan kepalanya." Aku hanya haus." ucapnya.
"Tapi di sini tak ada air. persediaan air ditempat minum juga sudah habis." jawab Pangeran Khalied.
Tiba-tiba, telinga Pangeran Khalied yang tajam seperti mendengar sesuatu.
"Tunggu, berhenti sebentar! " seru Pangeran Khalied. Tangannya terangkat ke atas. Dia lantas menurunkan Zahra dari gendongannya. "Sepertinya aku mendengar suara gemericik air. Tapi di mana." ucapnya. Matanya awas menyisir habis tempat itu hingga sampai ke sudut - sudut dinding gua. Berharap menemukan mata air, atau sumber air lainnya.
Pangeran Arkana dan Zamura juga berlaku yang sama. Mereka bersama - sama mencari sumber mata air tersebut. Namun tetap saja, mereka tak menemukannya.
"Apa kita salah dengar...?" ucap Pangeran Khalied dengan wajah heran. "Tapi benar, aku memang mendengar suara gemericik air. Apakah kalian juga mendengarnya..? " tanyanya kepada Pangeran Arkana dan Zamura.
"Benar, Tuanku. Kami juga mendengarnya. Memang ada suara air yang mengalir. Dan sepertinya berasal dari bawah sini." tunjuk Zamura ke sebuah batu yang berukuran paling besar.
Makhluk jin tersebut berinisiatif untuk melihat apa yang tersembunyi di balik batu besar itu.
Akhirnya Zamura melesak masuk ke dasar tanah di balik batu besar itu. Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi.
"Hamba melihat air sungai di bawah batu ini, Tuanku.. " kabarnya kepada kedua orang junjungannya itu.
" Benarkah..? Apakah ada air yang mengalir di balik batu besar ini..?"tanya Pangeran Arkana. "Air yang tak terlihat...!?" serunya tiba-tiba.
"Paman, apakah benar ini sumber air yang dikatakan Zaddak itu. Sumber air yang tak terlihat." ujar Pangeran Arkana dengan gembira.
"Barangkali saja hal itu benar. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita geser batu ini..!" perintah Pangeran Khalied kepada Pangeran Arkana dan Zamura.
llNamun, baru saja mereka hendak bergerak menggeser batu besar tersebut, tiba-tiba saja Kania muncul dan menyerang Pangeran Arkana.
Kania yang sudah sepenuhnya berubah menjadi makhluk penghisap darah itu menyerang Pangeran Arkana dengan beringas dan membabi buta.
Dirinya seolah tak mengenali lagi Pangeran Arkana. Kania benar - benar sudah berubah menjadi seperti Lamma.
"Paman, Zamura, teruslah memindahkan batu itu, aku yang akan menghadapi Kania." seru Pangeran Arkana. Setelah itu, Pangeran muda itu sudah berdiri di hadapan Kania.
"Arghhh... arghhh...! Kania kini sudah berubah menjadi makhluk mengerikan itu menggeram ketika melihat Pangeran Arkana.
" Kemarilah, Sayang. Nampaknya kau lebih suka berkencan dengan cara keras, rupanya..!" kata Pangeran Arkana sambil mengambil ancang-ancang untuk menangkap Kania.
Kania kembali menyerang Pangeran Arkana namun dengan mudah Pangeran tampan itu mengelak dari serangan Kania. Pangeran Arkana mencoba mengulur waktu agar Kania lelah dan batu besar itu dapat digeser oleh Pamannya dan Zamura.
Sementara Pangeran Arkana sibuk menghadapi Kania, Pangeran Khalied berusaha dan Zamura bekerja sama memindahkan batu besar itu agar bisa bergeser.
Namun amat sulit karena batu itu sangatlah besar. Keduanya sudah kelelahan dan hampir kehabisan tenaga.