Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 85 Talak


"Bangsat....!!! Iblish...!? maki pengawal Pangeran Khalied itu murka. "Muncul saja kalau kau berani keparat..!"tantang Zamura murka.


Sepi.. ....


Zamura tak tahu, apakah pukulannya tadi berpengaruh pada makhluk siluman jadi - jadian penunggu Hutan Alas Roban.


Namun selang beberapa saat, suasana kembali gaduh saat Sari sadar dan mendapati bahwa Zamura masih berada di kamarnya.


"Ternyata aku tidak bermimpi. Kau ternyata masih di sini. Apa yang.. . "


Belum lagi Sari menyelesaikan ucapannya, mendadak dari arah jendela kamarnya masuk seberkas bola api yang kemudian mengelilingi mereka berdua.


"Astaghfirullah, Subhanallah... Lailahaillallah.... Allahuakbar....!!!" Sari mengucap Lafal istighfar, tahmid tahlil dan takbir secara bersamaan tanpa sadar karena terkejut dan juga rasa takut yang amat sangat menguasai diri wanita itu.


Efeknya, bola api itu langsung terlempar kembali keluar.


"Bagus.... teruslah berzikir seperti itu, itu akan membantumu untuk bertahan dari serangan makhluk itu.. " kata Zamura kemudian.


"Tapi sampai kapan...? Masa aku harus selalu terjaga...?" tanya Sari setengah kesal dan juga ketakutan. Tubuh wanita hamil itu sampai bergetar karena takutnya.


"Sekarang juga, kau harus tinggalkan rumah ini...! Jika tidak, Ki Bawut sudah menandaimu, maka sekarang dia akan terus mengejarmu. Dia menginginkan dirimu dan anak ini... " Kata Zamura.


"Tapi, bagaimana dengan Hendra..? Nanti dia mencari - cariku. Lagi pula apa kata orang - orang jika aku pergi dari rumah bersama laki-laki lain..?" tanya Sari dengan lugunya.


"Astaga ibu.... Masih mikirin suami yang sudah menumbalkan kamu kepada siluman hutan alas Roban. Mikirin apakah nanti suaminya bertanya di mana istrinya. Mikirin apa kata orang-orang...?" Zamura berkata setengah kesal.


"Ibu, suamimu itu tak akan peduli jika kamu ada atau tidak. Kamu itu sudah dia tumbalkan kepada iblis. Nah... masih memikirkan juga..? Dan masalah perkataan orang - orang, bagaimana mungkin orang akan bergunjing bahwa ibu pergi dengan laki-laki lain, kan yang bisa melihat aku hanya ibu... " ucapan Zamura.


Sari melotot mendengar Zamura Memanggilnya ibu. Apa dirinya sudah terlalu tua...?


"Kenapa matamu melotot begitu...? apa aku salah...?" tanya Zamura.


"Kau tidak salah, tuan Zamura. Namun, bisakah kamu untuk tidak memanggilku Ibu. Aku belum lagi tua dan belum menjadi seorang ibu. Karena bisa jadi anakku ini tidak akan bisa melihat dunia jika kami berdua mati."


"Nah, itu ibu... eh kamu tahu..." ucap Zamura.


" Baiklah, aku akan segera pergi meninggalkan rumah ini dari pada tinggal di sini dan mati konyol menjadi tumbal. " kata Sari.


Wanita hamil itu pun segera mengemasi pakaian dan segala macam keperluannya dengan terburu-buru.


"Astaga, aku baru tahu jika ternyata wanita adalah makhluk yang sangat repot bahkan untuk mengurus keperluannya sendiri... " gerutu Zamura.


"Alangkah bagusnya jika anda membantu saya berkemas. Saya ini wanita hamil. Manalah saya kuat jika harus membawa barang - barang bawaan saya ini, Tuan Zamura.." keluh Sari.


"Hey, kau mau minggat atau mau pindah rumah...?" tanya Zamura setelah melihat barang - barang yang dibawa oleh Sari. " Bawa saja selembar dua lembar pakaianmu, mengapa harus sebanyak itu.. ? kata Zamura lagi sambil menunjuk ke arah barang bawaan Sari.


"Jika tak membawa banyak baju, aku takut nanti jika aku melahirkan, aku tak memiliki salinan baju, bagaimana? Bagaimana nanti dengan pakaian untuk bayiku..." Sahut Sari.


"Ya, sudah. Bawalah beberapa lembar sarung dan baju saja. Dan cepatlah, sebelum suamimu pulang...!" kata Zamura.


Sari akhirnya menjumput beberapa pakaian dan sarung saja lalu memasukkan semuanya ke dalam tas. Kemudian, wanita hamil itu bergegas menghampiri Zamura.


"Ayo, cepatlah.Sebentar lagi suamimu pulang.! Kita harus secepatnya meninggalkan rumahmu.


Namun baru saja Sari hendak keluar dari rumah, Sebuah suara nyaring membentak wanita hamil itu membuatnya urung untuk melangkah.


"MAU KEMANA, SARI...?"


Hendra suami Sari sudah berdiri di depan pintu. Berkacak pinggang sambil melotot.


"Aku mau pergi, Bang." jawab Sari dengan tubuh gemetar. Dia amat takut melihat suaminya ternyata sudah kembali.


Namun sebuah bisikan halus di telinganya membuat keberaniannya muncul kembali. "jangan takut, aku akan menolongmu...! " bisik suara itu. Sari tahu itu adalah suara Zamura.


Sari meronta - ronta agar terlepas dari cengkraman tangan Hendra.


" Lepaskan, Bang. Abang menyakiti Adek..!!" sentak Sari. Wanita hamil itu berusaha mati - matian melepaskan diri. Sampa akhirnya Sari berhasil juga lepas dari cengkraman tangan Hendra.


"Abang jahat, ....bang tega mau numbalin adek dan anak kita pada siluman penunggu Hutan Alas Roban. Kenapa abang berbuat seperti ini. Ingat dosa, Bang. Istighfar, atuh...!" ucap Sari mencoba menasihati dan menyadarkan Hendra.


"Alahhh, kau itu perempuan kampung. Tau apa kamu tentang semua ini. Sekarang juga kembali masuk ke kamarmu. Atau mau aku menyeretmu seperti tadi...?!" bentak Hendra.


"Tidak, Abang tidak bisa memaksa Sari untuk tinggal di rumah ini lagi. Sari tidak mau tinggal dan jadi tumbal untuk pesugihan yang Abang jalankan. Sari mau pulang saja, Bang!! " jawab Sari dengan berani.


Mendengar penolakan Sari, Hendra menjadi naik pitam.


"Dasar perempuan tak tahu diuntung. Di kasih enak, malah cari susah. Jika sampai kau berani melangkahkan kaki selangkah saja keluar dari pintu itu, maka aku akan ceraikan kamu sekarang juga..!!" ucap Hendra.


Entah dorongan dari mana, mendengar Hendra berucap seperti itu, Sari tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu. Sejurus kemudian, wanita itu sudah berada di luar rumah.


Sari berjalan menyusuri kegelapan malam tanpa takut terhadap apapun juga. Tekad wanita itu sudah bulat untuk meninggalkan suaminya yang tanpa sengaja telah menjatuhkan talak untuk dirinya.


Sebenarnya, talak yang di jatuhkan Hendra tidak sah karena Sari masih lagi dalam keadaan mengandung anak Hendra. Talak itu akan sah dan jatuh setelah anak yang ada dalam kandungan Sari lahir.


Namun bagi Sari, alasan yang utama adalah dia dan anaknya tak ingin jadi tumbal ki Bawut.


Hendra tertegun, tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan. Tanpa sengaja, dia telah menjatuhkan talak untuk Sang istri dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


Menyadari hal itu, buru - buru Hendra mengejar sang istri yang sudah semakin menjauh pergi.


"SARI, KEMBALI...!! SARI, ...!!" panggil Hendra. Keheningan malam itu dipecahkan oleh teriakan suara Hendra dan Sari


"Tidak....., Sari lebih baik memilih diceraikan Abang daripada Sari dan anak Sari dijadikan tumbal buat pesugihan Abang." jawab Sari. Wanita yang sedang hamil tua itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan Hendra yang meminta dia untuk kembali.


"Kalau kau tak mau kembali, sekalian Abang bunuh kamu dan anak kamu...!!" ancam Hendra.


"Silahkan, kalau Abang memang mau melakukannya. Lebih baik adek mati di tangan suami dari jadi tumbal, Bang.!" ucap Sari dengan berani.


"Baik, kalau itu yang kamu mau. Maka jangan salahkan Abang, bila Abang berbuat kejam. Tunggu saja, bagianmu. Dasar wanita sialan, celakalah kau...!!"


"Astaghfirullah, Kau memang sudah dirasuki syetan. Aku tak akan sudi lagi kembali kepadamu, Bang...!" ucap Sari mengusap dada dan kembali meneruskan langkahnya.


Tak ada yang mengetahui, bahwa Zamura sedang berjalan di sebelah wanita itu.


Zamura lah yang telah membawa dan menyeret Sari ke luar dari pintu rumah Hendra dan membawa wanita itu pergi menjauh dari rumah Hendra.


Gusar dan marah karena Sari tak juga mau mendengar kata - katanya. Hendra akhirnya kembali ke rumahnya.


Dengan beringas lelaki yang sudah di kuasai amarah dan nafsu syetan itu, menyambar parang panjang yang di pajang di dinding rumah sebagai hiasan dan membawanya pergi menyusul Sari.


Sari yang tidak menyadari adanya bahaya yang sedang mengintainya terus saja berjalan jauh meninggalkan rumah Hendra.


Sampai suatu ketika, Hendra berhasil menyusul Sari. Begitu dekat dengan wanita itu, dia mengayunkan parang panjang itu ke arah Ke Sari.


Sari berteriak ketakutan sambil meminta tolong kepada warga kampung.


Warga kampung yang mendengar teriakan Sari hanya bisa mengintip tanpa berani memberikan bantuan. Mereka takut melihat parang panjang yang di bawa Hendra.


Sampai suatu ketika, Hendra berhasil tiba di dekat Sari. Tanpa ragu - ragu lagi, Lelaki biadap yang sedang gelap mata itu mengayunkan parang panjang tersebut ke arah tubuh Sari.


Tak dapat lagi menghindar, karena bentuk tubuh yang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat, Sari pun kemudian hanya bisa pasrah saja.


Sambil menjerit, Sari memejamkan mata.


"Allahu akbar...! Astaghfirullah....! Allahu akbar...! ucapnya Kemudian.