Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 47 Pertarungan Dengan Nagini (Part 4)


Sementara Pangeran Arkana sibuk menghadapi Kania, Pangeran Khalied berusaha dan Zamura bekerja sama memindahkan batu besar itu agar bisa bergeser.


Untung saja, langit - langit gua itu di penuhi oleh Stakllagtit dan stalagmit yang terbuat dari batu obsidian yang memancarkan cahaya. Cahaya dari batu itulah yang membuat terang suasana di dalam gua.


Namun amat sulit karena batu itu sangatlah besar. Keduanya sudah kelelahan dan hampir kehabisan tenaga.


"Sepertinya, kita tidak bisa begini, Tuan. Harus di hadapi dengan cara yang tidak biasa." ucap Zamura. Setelah berucap demikian, tubuh Zamura berubah menjadi besar dan tinggi hingga mencapai langit - langit gua.


Mengertilah Pangeran Khalied akan arti ucapan Zamura. Kemudian, dia juga merubah wujudnya menjadi raksasa. Hingga kini, ada dua raksasa yang terdapat di dalam gua itu. Dan dengan mudahnya, batu besar itu pun dapat di geser.


Benar saja, begitu batu besar itu bergeser, terlihatlah sebuah sungai yang mengalir di bawah sana.


Melihat hal ini, Pangeran Arkana langsung berinisiatif untuk membawa Kania ke sana.


"Sayang, sepertinya kita harus mandi dulu di sungai." ucap Pangeran Arkana. Kini dia mulai menghadapi Kania dengan sungguh-sungguh. Dia ingin meringkus Kania dan membawa serta memandikan gadis yang sudah berubah menjadi monster penghisap darah itu di sungai.


Kania yang merasa kian haus semakin merasa gusar karena berkali-kali dia gagal menyerang Pangeran Arkana. Maka dengan membabi buta dia kembali menyerang Pangeran Arkana.


Pangeran Arkana membiarkan saja Kania mendapatkan dirinya. Dia tahu, seperti Lamma, Kania juga pasti memiliki kelemahan saat sedang makan.


"Pangeran...!! " ucap Zamura yang langsung beranjak hendak mencegah Kania menggigit leher Pangeran Arkana. Namun dengan isyarat tangannya, Pangeran Arkana memberitahu Zamura bahwa dia tak apa - apa.


Dengan beringas, Kania menggigit leher Pangeran Arkana dan menghisap darah di leher pemuda itu.


"Hemm, minumlah sepuasmu darahku..! Dan setelah itu kita berdua akan mandi.. " ucap Pangeran Arkana.


Pangeran Arkana memeluk Kania dan melesat terbang bersama tubuh Kania yang masih menempel di tubuhnya lalu terjun bebas ke sungai yang airnya mengalir tepat di bawah batu.


Byurrrr...,


Tubuh Pangeran Arkana dan Kania masuk ke sungai.


Tubuh keduanya bawah kuyup karena air sungai. Kania langsung menjerit berteriak dan melepaskan gigitannya di leher Pangeran Arkana.


Gadis itu seperti anak ayam yang jatuh si sungai. Panik dan gelagapan. Lalu kemudian, tubuh Kania perlahan - lahan tenggelam di sungai yang airnya hanya setinggi pinggang orang dewasa.


"Pangeran, Bagaimana...?" tanya Zamura.


"Sepertinya Kania sedang menikmati berendam di sungai, Zamura?" gurau Pangeran Arkana sambil tersenyum menatap ke atas.


"Hamba akan turun, Pangeran." ucap Zamura. Pengawal setia Pangeran Khalied itu turun dan bergabung dengan Pangeran Arkana mandi di sungai itu.


Tak mau kalah, Pangeran Khalied pun menggendong tubuh Zahra dan melesat turun ke bawah. Dia juga ingin memandikan Zahra dan mengambil air untuk persediaan air minum.


Tubuh Kania yang awalnya berbentuk setengah monster Lamma, kini perlahan - lahan berubah kembali ke wujudnya semula. Seperti Kania yang dulu, cantik dan ayu. Tidak ada lagi tanda - tanda bahwa gadis itu akan berubah wujud menjadi monster.


Sebenarnya, air yang tak terlihat tapi dapat kau rasakan adalah darah pangeran Arkana sendiri. Darah adalah air yang tak terlihat. Yang dapat kau rasakan alirannya mengalir di seluruh tubuhmu. Yang membuatmu hidup Selama - lamanya.


Tanpa di sadari, karena cinta, Pangeran Arkana rela bahkan merelakan dirinya untuk dijadikan mangsa Kania. Itulah yang membuat Kania menjadi sembuh dari kutukan Lamma.


Sedangkan, mata air sungai yang mengalir di bawah batu itu, hanya sebagai media saja. Adalah sifat alami air yang berguna untuk membersihkan semua. Demikian juga halnya dengan air sungai itu. Air sungai di dalam gua itu berfungsi untuk membersihkan semua kotoran yang melekat dalam jiwa dan raga manusia atau jin sekalian hingga bersih. Air itu suci dan mensucikan dari segala macam kekotoran dunia.


***


Pangeran Arkana segera menghampiri Kania yang rupanya memang sudah sadar dari pingsan.


"Kita ada di mana, Arka. Mengapa tubuhku basah semua..?" gadis itu melihat ke sekeliling dan kembali lagi melihat bajunya. Rasa dingin mulai menyesapi tubuhnya hingga membuat gadis itu menggigil kedinginan.


"Kau kedinginan, yah. Sini aku bantu..!"


Pangeran Arkana lalu menyentuh pakaian di tubuh Kania. Seperti biasa Pakaian itu kembali kering dan baru seperti sedia kala.


"Aku tadi sepertinya sedang bermimpi." ucap Kania lagi.


"Hmm, apa yang kau mimpikan..?" tanya Pangeran Arkana penasaran.


"Aku rasa - rasanya berubah menjadi seperti Lamma." jawab Kania.


"Oh, yah. Terus bagaimana..?" Pangeran Arkana tersenyum sambil kembali bertanya.


"Terus apanya..?"


"Iya, maksud aku, terus bagaimana kelanjutan ceritamu..?"


"Iya,...... aku menggigit Zahra." kata Kania sambil melirik kepada Zahra yang kini sedang duduk di sebelah Pangeran Khalied. "Apakah benaran aku menggigitmu, Zahra..?" tanya Kania.


Dia mencoba beranjak untuk melihat luka bekas gigitannya di leher Zahra. Namun, tak ada satupun bekas gigitannya di leher gadis itu.


"Nggak ada.. " ucap Kania heran. Berarti memang benar semua itu hanya mimpi."


"Tidak juga. Semuanya memang nyata terjadi. Kamu memang berubah menjadi monster seperti Lamma.. " ujar Pangeran Arkana.


Mata Kania membulat sempurna mendengar perkataan Pangeran Arkana. "Benarkah, jadi semuanya benar. Juga ketika aku menghisap darah di leher kamu itu juga benar..?" tanya Kania dengan penasaran.


Dia heran, kalau pun semua itu benar, mengapa Zahra dan juga Arkana tidak meninggalkan bekas pun.


"Itu karena memang luka di tubuh aku tak berbekas dan akan menutup dengan sendirinya. Sedangkan Zahra, Pangeran Khalied sudah menutupnya. Lagi pula, air sungai itu juga sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka dan melarutkan semua kutukan di tubuhmu dan Zahra.." jelas Pangeran Arkana.


Zahra yang sejak tadi duduk di sebelah Pangeran Khalied langsung menoleh. "Tapi kenapa kau menghisap darahku, Khalied." tanya Zahra . Karena seingat Zahra, Khalied menghisap habis darahnya dan memuntahkannya kembali.


"Aku melakukannya karena aku tak ingin kau berubah menjadi seperti Kania." jawab Pangeran Khalied. "Dan lagi pula, yang kuhisap itu adalah darahmu yang sudah tercemar racun bukan darah segar." ucap Pangeran Khalied lagi.


"Oh, begitu kah..? Tapi kamu seperti seorang pangeran vampire saat menghisap darahku.. " olok Zahra. Dia bergerak menjauh saat melihat pemuda itu kini sudah melotot ke arahnya.


"Benarkah, kalau begitu aku akan menggigitmu lagi.. " balas Pangeran Khalied sambil berlari mengejar Zahra.


Zahra berlari menjauh dari kejaran Pangeran Khalied. Hatinya puas karena bisa mengolok-olok Pangeran tampan berkumis tipis itu. Sementara Kania, Pangeran Arkana dan Zamura hanya menjadi penonton setia sambil tak lupa pula melempar tawa ketika Pangeran Khalied yang meleset menangkap Zahra.


Tanpa mereka sadari, sesuatu yang sangat besar sedang bergerak pelan mendekati mereka. Merayap menyusuri sungai hingga sampai memenuhi badan sungai.


"Arka, apakah itu...? tanya Kania. Telunjuknya mengarah ke sungai yang kini sudah di penuhi sesuatu yang berwarna hitam legam dan panjang. Benda itu kini bergerak naik ke atas hingga terlihatlah wujudnya yang asli.


" Nagini..!!