
"syarat ...?" kening Pangeran Khalied bersatu. "Baiklah, apa syaratnya...?" tanya Pangeran Khalied kemudian.
"Aku mau kamu mengajakku ke rumahmu, Kak. Bagaimana.. apakah kakak mau mengajak aku ke rumah kakak..?"
"Oke, deal...! Ayo kita berangkat...!" kata Pangeran Khalied.
Dia segera menyambar tangan Zahra dan kemudian membawa gadis itu pergi ke istananya di Bukit Malaikat.
Pangeran Khalied dan Zahra tiba di depan gerbang istana Bukit Malaikat.
"Kita ada di mana, Kak..?" tanya Zahra. Gadis itu tampaklah kebingungan saat menyadari dimana dia berada.
"Kita ada di depan pintu gerbang masuk istana Bukit Malaikat.." jawab Pangeran Khalied.
"Hah, istana....? Istana siapa, Kak..?" tanya Zahra lagi. "Tapi, aku mau kita ke rumahmu. Bukan ke istana ini, Aku hanya ingin tahu di mana rumahmu, Kak." kata Gadis itu.
"Iya, nanti aku akan membawamu ke rumahku. Kita masuk dahulu ke dalam. Rumahku ada di balik pintu gerbang ini, di dalam sana..!" kata Pangeran Khalied.
"Oh, begitu..! " kata Zahra sambil tersenyum malu - malu.
"Ayo, kita masuk..!" ajak Pangeran Khalied sambil menggandeng tangan Zahra.
Zahra terlihat salah tingkah saat di gandeng Pangeran Khalied. Pipinya bersemu merah semerah buah tomat yang baru di petik. Jantungnya berdegup kencang seperti bedug subuh yang dipukul.
Zahra melirik ke arah gerbang Istana. Tampak olehnya beberapa penjaga pintu gerbang yang sedang berjaga - jaga di sana.
Wujud mereka seperti seekor beast. Makhluk tinggi besar dan mengerikan itu terlihat menundukkan kepala ketika melihat siapa yang datang. Mereka segera membungkuk seraya menyapa Pangeran Khalied.
"Pangeran Khalied, Silahkan masuk..!" kata mereka dengan hormat.
"Jadi semua itu benar. Kak Khalied adalah seorang pangeran..!" Mata Zahra melebar setelah mendengar dan menyaksikan sendiri bahwa Khalied adalah seorang Pangeran.
Pangeran Khalied hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan Zahra. Pemuda itu kemudian berkata kepada Zahra. "Apakah ada perbedaan jika aku ini adalah Pangeran atau bukan? Apakah kau masih mau berteman dengan aku jika aku mengatakan siapa aku saat itu.. " kata Pangeran Khalied mengemukakan alasan mengapa dia tak menjelaskan siapa dia sebenarnya kepada Zahra.
Zahra agak sedikit takut melihat para penjaga itu. Pangeran Khalied menyadari bahwa Zahra takut melihat penjaga pintu gerbang yang menyeramkan tersebut.
"Jangan dilihat jika takut. Mereka adalah pengawal kerajaan yang menjaga istana ini." kata Pangeran Khalied lagi.
Setelah berjalan beberapa saat, tibalah keduanya di depan istana Bukit Malaikat.
Mulut Zahra ternganga ketika melihat betapa indahnya istana yang ada di depan matanya saat ini.
"Kak, istana ini indah sekali. Istana siapa ini..?" tanya Zahra kemudian. Dia penasaran siapa pemilik istana yang indah ini.
"Istana ini adalah istana milik Pangeran Hasyeem." jawab Pangeran Khalied.
"Pangeran Hasyeem...??" tanya Zahra semakin heran.
"Iya, Pangeran Hasyeem. Dia adalah ayahku. Dan kita berdua sedang berada di rumahku." kata Pangeran Khalied menjelaskan sesuatu kepada Zahra.
.
Kini Zahra benar-benar terkejut bukan kepalang. Dia sedang berada di istana Pangeran Khalied rupanya.
"Kak, aku mau pulang... Aku takut, kak. Bagaimana nanti jika ada ayah dan ibu kakak..? " katanya kemudian
"Mengapa mesti pulang...!" sebuah suara kembali terdengar.
Pangeran Khalied dan Zahra berbalik dan melihat seorang laki-laki yang sedang menatap ke arah mereka.
"Ayah...!?" kata Pangeran Khalied .
"Hah...??? "