
"Dan apakah permohonan itu, Pangeran Khalied?" Tanya Pangeran Hasyeem.
"Ayahanda, Tolong, nikahkan kami berdua..!!" kata Pangeran Khalied langsung kepada Ayahandanya.
Zahra sangat gugup dan juga cemas ketika Pangeran Khalied mengutarakan maksudnya tersebut kepada Pangeran Hasyeem. Dia takut, Penguasa Bukit Malaikat itu tidak akan merestui ide gila - gilaan Pangeran Khalied. Apakah ayahanda Pangeran Khalied itu akan marah mendengar Puteranya itu akan menikah dengan dirinya.
"Kak Khalied, aku takut..." bisiknya pada Pangeran Khalied.
"Tenanglah, Zahra. Jika ayahku menolak keinginan kita, maka aku yang akan menghadapinya. Kita akan menikah, walaupun kedua orang tua kita tidak menyetujuinya." jawab Pangeran Khalied.
Mendengar jawaban Pangeran Khalied, Zahra semakin cemas. Bagaimana ini. Apakah yang terjadi...
Apakah Pangeran Hasyeem akan menolak dirinya..
Pangeran Hasyeem tersenyum ketika mendengar bisik - bisik dari Pangeran Khalied kepada Zahra. Dan juga kecemasan Zahra.
Pangeran yang masih saja berwajah tampan itu melirik ke arah permaisurinya yang duduk di sebelahnya
"Bagaimana, Ratuku.. Apakah kita harus mengabulkan permohonan mereka..?" Pangeran Hasyeem bertanya kepada Asmi.
Ratu Asmi menatap keduanya dengan tatapan tajam dan berwibawa. Lalu wanita yang masih saja kelihatan muda dan cantik itu berucap.
"Apakah kamu sudah siap untuk menikah dan berumah tangga, Wahai putra Pangeran Hasyeem...? tanya Asmi.
"Insya Allah..! Hamba siap, Ibunda ratu..!" jawab Pangeran Khalied.
"Lantas, bagaimana dengan kau sendiri, Zahra. Apakah kau juga sudah siap..?" tanya Asmi kepada gadis berambut panjang tersebut.
Sejenak Zahra terdiam mendengar pertanyaan wanita utama di istana Bukit Malaikat itu.
Apakah dia siap..? Menikah dengan Khalied adalah hal yang dia impikan. Pemuda tampan itu telah menjadikan wanita pemilik rambut panjang itu merasakan dilema yang sangat. Dia tak ingin kehilangan Khalied, tapi juga tak ingin membohongi ibunya.
"Insya Allah, saya siap ibunda ratu." kata Zahra.
Meskipun dengan pandangan ragu, tapi Zahra mengatakan kesanggupannya untuk menikah dengan Pangeran Khalied. Semua itu dia lakukan lakukan demi cintanya kepada Khalied.
Asmi tersenyum melihat ada kabut keraguan di mata Zahra. Dia tahu, bagaimana rasanya dilema yang dialami oleh gadis itu. Demi cinta kita kadang mengesampingkan logika dan akal sehat.
"Sebenarnya, ada sebuah masalah. Zahra tak bisa menikah jika tampa wali. Dia akan menikah dengan wali hakim atau walinya sendiri. Jika dia ingin menikah dengan wali hakim, maka ibunya pun sebenarnya harus mengetahui hal ini. Nah... Pangeran Khalied, sudahkah engkau meminta izin kepada ibunya Zahra..?" tanya Asmi.
Pangeran Khalied terdiam oleh pertanyaan ratu Asmi. Lalu kemudian menatap Zahra kekasihnya. "Belum, ibunda Ratu. Ananda belum meminta izin dari ibunda Zahra. Karena ananda takut beliau tak merestui hubungan kami.." jawab Pangeran Khalied.
"Bagaimana kau tahu, jika ibunda Zahra tak merestui hubungan kalian. Kau saja belum bertanya, Pangeran Khalied.." kata Pangeran Hasyeem.
Pangeran Khalied terdiam ketika menyadari ucapan ayahandanya benar adanya. Dia saja belum pernah sekalipun berbicara kepada ibunya Zahra bahwa dia berniat untuk meminang putrinya.
Jadi mengapa dia harus mengambil kesimpulan sendiri jika hal yang seharusnya dia lakukan sejak dulu belum dia lakukan saat ini. Pangeran Khalied akhirnya menyadari kesalahannya.
Pangeran Khalied memandangi kekasihnya dengan mesra sambil berkata. "Sepertinya aku harus bertemu ibumu dan meminta izinnya untuk meminang dirimu. Karena aku sudah tak bisa lagi dipisahkan darimu. Kau sudah mengambil semua hatiku dan seluruh jiwaku.." kata Pangeran Khalied.
Zahra tersipu malu mendengar ucapan puitis Pangeran Khalied.
"Kak, jangan merayuku di sini. Apakah kamu tak malu didengar oleh ayahanda dan ibunda Ratu..?" bisiknya sambil mencubit tangan Pangeran Khalied.
"Begini saja, aku akan meminta tolong kepada Pakde Ardi untuk menjadi pendamping kita nanti saat meminang Zahra." kata Ratu Asmi.
"Benar sekali, kenapa juga aku tidak sampai berpikiran ke sana, ya. Kan ada Pakde Ardi." kata Pangeran Khalied dalam hati.. Dia melupakan sebuah kenyataan bahwa dia masih memiliki keluarga lain yang juga manusia. Keluarga Pakdenya itu semua berasal dari ras manusia.. "
"Jadi, Pangeran Khalied, kapan kamu ingin kami melamar Zahra untuk kamu.?" tanya Pangeran Hasyeem
Pangeran Khalied tersenyum sambil memandang Zahra.
"Sayang, apakah kamu bisa menyampaikan kepada ibumu bahwa aku ingin bicara dengan beliau tentang masalah kita. Aku ingin melamarmu." kata Pangeran Khalied.
"Kakak beneran ingin melamar Zahra?" tanya Zahra setengah tak percaya.
"Tentu saja, sayang. Apakah kau tidak ingin menikah denganku.? " goda Pangeran Khalied.
"Kak Khalied sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya...?" kata Zahra lagi. Pangeran Khalied tertawa kecil mendengar Gerutuan Zahra.
"Aku tak tahu jawabannya, Zahra. Tapi yang jelas hati ini bahagia" Kata Pangeran Khalied