
"Hahaiii.... rupanya ada dua sejoli yang sedang di mabok cinta.... " sebuah suara mengagetkan kedua sejoli itu.
"Lari, Kak. Itu adalah Bluma...!!" seru Zahra kepada Pangeran Khalied.
Bukannya lari, Pangeran Khalied malah menghunus pedangnya.
"Mengapa harus lari, aku tak pernah berlari dari musuhku...!" ucap Pangeran Khalied dengan lantangnya.
Dia berbalik dan bersiap untuk menghadapi musuhnya. Namun kemudian Pangeran muda itu menjadi tertegun untuk sesaat.
Di belakang mereka berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Namun daun telinga wanita itu berbentuk runcing seperti daun. Menandakan bahwa wanita itu adalah seorang peri.
Perempuan lagi...? Huh, lagi - lagi aku harus berhadapan dengan makhluk berlebel hawa lagi, ucap Pangeran Khalied dalam hati.
Demikian juga yang terjadi dengan Pangeran Arkana. Walaupun mereka berasal dari dunia jin dan sudah hidup di dunia jin puluhan tahun. Namun mereka belum pernah bertemu bangsa peri. Mereka hanya mendengar tentang kisahnya saja dari kakek dan juga ayahnya.
Kini, di depan mata mereka berdiri seorang peri yang sangat cantik. Kecantikan peri Bluma mampu menyihir kedua pangeran itu.
"Hey, betapa beruntungnya aku kali ini! Ternyata aku kedatangan para pangeran dari keturunan raja Haizzar." seru wanita itu sambil tersenyum genit dan mendekati Pangeran Khalied juga Pangeran Arkana.
Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana merasa heran sekaligus takjub. Mengetahui bahwa makhluk cantik itu mengenal kakek mereka. Membuat otak mereka bertanya - tanya, apa yang dilakukan oleh kakek Haizzar di tempat ini dulunya. Mengapa kakek merahasiakan cerita ini dari mereka.
Keduanya dibuat terpana dan mabuk kepayang oleh kecantikan Bluma yang sangat memukau dan mempesona.
"Kau mengenal kakekku..?" tanya Pangeran Arkana dengan tatapan heran. Wanita cantik itu makin melebarkan senyum. Pangeran Arkana makin terpesona.
"Hahaha, tentu saja, aku mengenal kakekmu, karena dia pernah juga sampai ke dimensi ini." Jawab peri yang bernama Bluma itu.
Kini, jarak antara Bluma dan kedua pangeran itu tinggal beberapa langkah lagi.
Pangeran Khalied tak berkedip dan terus menatap Bluma dengan pandangan takjub. Baru kali ini dilihatnya seorang wanita yang sangat cantik seperti Bluma.
Zahra dan Kania menatap ke arah pangeran Khalied dan Pangeran Arkana dengan pandangan cemas. Kedua Pangeran itu rupanya kini sedang masuk dalam jebakan perangkap cinta yang di pasang oleh Peri genit yang bernama Bluma.
"Kak, Kak Khalied... sadarlah. Kamu jangan terperangkap oleh racun cinta dari wanita itu." ucap Zahra. Namun Pangeran Khalied seperti tak bergeming. Tatapan matanya terus saja tertuju pada Bluma.
Zahra makin mencemaskan keadaan Pangeran Khalied. Dia juga cemas jika sampai kedua pemuda itu terjerat perangkap Bluma. Maka sudah dapat di pastikan, dia dan Kania akan menjadi penduduk tetap Di dimensi ke empat ini.
Zahra melirik ke arah kekasih hatinya itu. Di lihatnya Bluma berusaha untuk merayu kedua Pangeran tersebut.
"Bagaimana ini, Kania. Mengapa kedua orang itu tidak merespon kata - kata kita...?" tanya Zahra kepada Kania.
"Entahlah, Zahra. Sepertinya mereka terkena sihir Bluma. Kau lihat saja, mata Khalied dan Arka seperti tak mau lepas dari Bluma." ucap Kania.
Mendengar penjelasan Kania, Zahra makin merasa takut. Karena memang sejatinya Bluma adalah seorang peri yang sangat jahat.
Berlindung dibalik wajah cantik dan senyuman manis yang menawan, sebenarnya Bluma merupakan sesosok peri yang suka sekali menyakiti dan menyiksa ruh - ruh yang ada di pulau Eddena itu.
Hal itu dia ketahui dari cerita para ruh - ruh itu. Mereka menceritakan pada Zahra, makanan kegemaran Bluma adalah daging dan darah para perjaka yang masih suci.
Untuk itulah, semua orang yang terdampar di tempat ini, jika dia masih perjaka,maka alamat akan menjadi mangsa empuk Bluma.
Bukan itu saja, Bluma juga amat gemar menyiksa ruh - ruh yang berani mencampuri urusan peri itu.
"Hati - hati, Kak." ucap gadis itu mengingatkan Khalied. "Dia tak secantik parasnya."bisik Zahra di telinga Khalied.
Bluma hanya tersenyum mendengar kalimat yang dibisikkan Zahra kepada Khalied. Walaupun berjarak beberapa meter, namun dia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh gadis itu.
Dan tanpa di duga, Bluma tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Zahra.
"Kau mau mencoba mempengaruhi mereka, gadis kecil...!" ucap Bluma seraya menyentak rambut Zahra hingga membuat kepala gadis itu terdongak le atas. Lalu kukunya yang panjang dan runcing itu sudah mencekik leher Zahra.
Mata Zahra mendelik hampir keluar karena cekikan Bluma yang teramat kuat. Zahra berjuang keras untuk melepaskan tangan Bluma dari lehernya.
"Akh.... le... pas... kan... a..ku.!!" kata Zahra sambil menarik tangan Bluma yang mencengkram di lehernya.
"Jangan pernah berani mencampuri urusan Bluma, mengerti kau, gadis kecil..?!!" ancam Bluma.
"Kha..lied...., tol.. tolong a.. ku..!" Zahra berseru dengan sisa - sisa kekuatan yang ada untuk meminta pertolongan kepada Khalied.
Saat mendengar suara Zahra meminta tolong, Pangeran Khalied langsung tersadar dari keterpesonaannya terhadap Bluma.
Pangeran Khalied langsung bergerak ke belakang Zahra dengan pedang terhunus. Dilihatnya Zahra semakin kesulitan untuk bernapas. Wajah gadis itu membiru. Tangan Zahra menggapai - gapai untuk meminta pertolongannya.
Trashhhh.....
Satu tebasan dan putuslah tangan Bluma yang sedang mencekik leher Zahra. Tangan itu kemudian jatuh ke tanah, dengan darah yang berceceran di mana - mana.
Zahra pun terbebas dari cekikan tangan Bluma. Sedangkan Bluma menjadi kaget bukan kepalang. Tangannya terputus oleh tebasan pedang pangeran Khalied.
Peri cantik itu tak menduga bahwa sihirnya sudah terpatahkan oleh gadis itu. Rupanya Dia terlalu menganggap enteng gadis itu.
Akibatnya, Pangeran Khalied menjadi tersadar dan segera bertindak di saat - saat kritis.
Bluma yang tangannya telah terpotong merasa marah dan kesal terhadap Zahra. Dia juga merasa kesal kepada pangeran Khalied yang amat sulit untuk dia taklukan.
"Uhhh.... uhuuhkkk...... ahhh... leganya" ucap Zahra.
Gadis itu menarik napas panjang dan menghirup sebanyak-banyaknya udara agar dia bisa kembali bernafas lega.
Pangeran Khalied menyarungkan kembali pedangnya dan bergegas menghampiri Zahra. Dia ingin memeriksa dan memastikan bahwa Zahra baik - baik saja.
"Kau tidak apa - apa.?" tanya Pangeran Khalied sambil memeluk Zahra. Zahra menggangguk karena belum lagi mampu untuk berbicara. Lehernya masih sakit akibat cekikan Bluma di lehernya tadi.
Sementara itu, Bluma yang tangannya terputus oleh tebasan pedang Pangeran Khalied semakin bertambah kesal saat melihat kemesraan kedua sejoli yang berbeda asal penciptaan itu.
"Hah.... kau sama saja dengan ayahmu. Suka terhadap ras manusia. Padahal mereka adalah makhluk yang lemah." ejek Bluma.
Setelah itu dia menjulurkan tangannya yang tinggal separuh itu ke arah pergelangan tangannya yang masih tergeletak di tanah.
Aneh bin ajaib. Tangan itu bergerak dengan sendirinya. Tiba-tiba saja, pergelangan tangan itu kembali utuh dan bersambung kembali hanya dalam satu kedipan mata.
"Kau lihat sendiri..! Pedangmu hanya mampu untuk melukaiku, tapi tak akan bisa untuk membunuhku." ejek Bluma pada Pangeran Khalied.
Sementara itu dari kejauhan, dua sepasang mata terus saja memperhatikan apa yang terjadi.
"Hemm, sepertinya, Bluma menemukan mangsa barunya. Dia belum tahu saja kehebatan kedua pemuda itu." ucap Charon.
"Apa maksudnya itu, nona. Mengapa kau mengatakan Bluma menemukan mangsa baru lagi..?" tanya Zamura kepada Charon.
"Apakah kedua tuanmu itu masih perjaka...?" Charon kini balik bertanya pada Zamura.
Mengertilah Zamura apa maksud dari perkataan Charon tadi. Rupanya, Bluma adalah makhluk yang suka sama perjaka.
"Aku rasa Tuanku masih perjaka. Karena walaupun banyak Dayang istana yang bersedia untuk dijadikan selir, namun sama seperti ayahnya, dia tak menghendaki adanya penomoran istri ataupun poligami model klasik seperti itu. Pangeran Hasyeem menjadikan Ratu Asmi sebagai satu - satunya istri dan ratu di istananya. Walaupun sebagai raja, dia diperbolehkan untuk melakukannya."
"Aku salut pada Pangeran Hasyeem. Cinta bisa membuat dia kuat dan sekaligus lemah. Kelemahan adalah kekuatan. Itu sebabnya raja iblis Baal mengincar ratu Asmi. Karena dia tahu, kelemahan Pangeran Hasyeem adalah ratunya. Dia sangat mencintai ratunya tersebut."
"Raja iblis mengincar ratu Asmi..? Darimana nona Charon mengetahui akan berita itu...?" tanya Zamura.
"Hahaha, gurauanmu sangatlah tidak lucu, Zamura. Seluruh dimensi ini sudah tahu, akan maksud dan tujuan putra dari pangeran Hasyeem itu berada di tempat ini." ucap Charon pada Zamura.
Zamura terdiam saat mendengar kata - kata makhluk jelmaan putri duyung tersebut.
"Sudahlah, kau tak perlu khawatir. Sebentar lagi dia akan menemukan apa yang dia cari. Dan kalian semua akan kembali lagi ke dunia kalian masing - masing." ucap Charon seraya bergerak pergi meninggalkan Zamura
"Nona Charon, bagaimana cara kami supaya bisa mengalahkan Bluma....?" tanya Zamura.
"Hmmm, mengapa makhluk bumi selalu saja lambat dalam berpikirnya." ucap wanita itu. "Baiklah, coba kau pikirkan kembali. Makhluk di sana itu seorang wanita atau Pria..?" tanya Charon.
"Entahlah, menurut para peri yang bertelah bercerita, bahwa Bluma itu adalah seorang perempuan." jawab Zamura.
"Terus apa kelemahan perempuan, Zamura ..?" tanya Charon.
"Basah, Nona. Perempuan amat takut basah dan juga dengan benda berwujud cair itu. Nona." kata Zamura.
Memanglah benar, tak hanya takut dengan benda berwujud cair itu, namun mereka kemungkinan juga takut dengan yang lain.
"Nah, katakan itu kepada tuanmu tentang hal itu. kepada pangeran Khalied, Tuanmu!! " ucap charon seraya pergi meninggalkan Zamura yang masih sibuk bertanya - tanya.