
Putri Humaira baru saja selesai bertugas malam ini. Putri yang berhati lembut dan penyayang itu kini sedang bersiap - siap untuk kembali.
Putri Humaira selalu kembali pulang ke bukit Malaikat tak peduli mau jam berapapun dia selesai bertugas.
Karena dia tak pernah bisa jauh - jauh dari ibunya. Sejak kecil, putri Humaira memang tak pernah bisa lepas dari Asmi. Meninggalkan ibunya sama ibaratnya seperti burung menanggalkan sayapnya. Jika burung tak punya sayap, lantas bagaimana caranya burung bisa terbang.
Untuk itulah, Pangeran Hasyeem kemudian memerintahkan kepada Zyftar, jin yang bersayap dan dapat terbang secepat angin itu untuk mengawal dan menjaga putrinya.
"Zyftar, malam apa ini? " tanya Putri Humaira.
"Malam Jum'at, Putri..!" jawab Zyftar.
"Hmm, pantas saja. Aku seperti mencium aroma kematian. Tapi aku tak melihat adanya roh baru yang melintas atau pun datang. Lantas dari mana datangnya aroma kematian ini...?" tanya Putri Humaira.
Baru saja putri Humaira berkata seperti itu, tiba-tiba saja mobil ambulan rumah sakit tiba di tempat ini datang dan membawa mayat seseorang.
Putri Humaira yang hendak meninggalkan rumah sakit tertegun sejenak ketika sampai di depan pintu. Pandangan matanya tertuju pada sosok ruh seorang gadis kecil yang berjalan lesu dan tertunduk sedih. Roh itu sepertinya sedang menangis.
Namun disaat yang bersamaan, dari arah lain, sesosok makhluk lain yang berwujud manusia akan tetapi memiliki tanduk di kepala sedang bergerak ke arah ruh tersebut.
Itu iblish...! kata Putri Humaira dalam hati. Sepertinya iblish itu hendak menangkap ruh anak gadis tersebut.
Ruh anak gadis itu belum menyadari akan ada bahaya yang sedang mengintainya.
Begitu iblish itu hendak menyergap ruh anak gadis itu, secepat kilat Putri Humaira menyambar anak gadis itu. Dan melayang kembali ke tempatnya semula.
"Tuan Putri Humaira, apa yang terjadi..?" tanya Zyftar yang kaget akan gerakan Tuan Putrinya yang tak terduga.
Namun belum sempat dia menjawab, sekonyong-konyong, Putri Humaira dan gadis itu di serang oleh iblish yang tadi hendak menyerang anak gadis itu.
Secepat kilat Zyftar menarik putri Humaira yang masih menggendong gadis kecil itu dan melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Ketiganya kemudian muncul di suatu tempat.
"Apa yang terjadi...? Mengapa Iblish itu menyerang Tuan Putri..?" tanya Zyftar setelah memastikan bahwa iblish itu tak bisa mengejarnya.
"Entahlah, aku juga tak tahu, Zyftar. Tapi hal itu terjadi, setelah aku menyelamatkan ruh gadis kecil ini dari incaran iblish tadi." Jawab Putri Humaira.
"Maksud Tuan Putri gadis kecil ini adalah incaran iblish yang mengejar kita tadi..?" tanya Zyftar heran.
Apa maksudnya iblish itu ingin menangkap ruh gadis kecil ini, pikir Zyftar. Apakah gadis kecil ini tumbal atau memang sengaja diambil untuk sebagai mangsa.
Tiba-tiba, tubuh gadis kecil itu mengeluarkan cahaya terang. Sangat terang hingga tempat itu menjadi terang benderang seperti siang hari.
"Ruh perawan suci...!" seru Zyftar tertahan sambil menutup matanya yang silau oleh cahaya yang dikeluarkan tubuh gadis kecil itu.
Memang makhluk seperti dirinya agak peka terhadap cahaya yang sangat terang. Itu lantaran mata mereka yang tidak seperti mata kebanyakan makhluk lainnya.
Makhluk seperti Zyftar memiliki mata yang sangat terang dan berwarna merah terang. Namun karena dia juga sebangsa jin, maka bintik kuning di tengah masih jelas terlihat.
"Apa, ruh perawan suci...? Ruh apakah itu, Zyftar? " tanya Putri Humaira yang penasaran. Tangannya masih memegang tangan ruh gadis itu.
"Ruh perawan suci adalah ruh anak gadis yang belum tersentuh dan masih suci. Biasanya kematian mereka di sebabkan oleh sakit atau bisa juga sebab lain." kata Zyftar.
"Lantas mengapa iblish mengejar ruh gadis itu, Zyftar..?" tanya Putri Humaira.
"Ruh perawan suci bisa mendatangkan keabadian."
"Benarkah,..? Jadi itu sebabnya, iblish menginginkan ruh gadis itu untuk keabadian. Tapi bukankah mereka abadi..?"
"Bukan hanya keabadian, kekuatan dan kekuasaan. Semua elemen itu adalah yang diinginkan oleh semua makhluk."
"Gadis kecil yang malang. Aku yakin, kematian anak gadis ini pasti bukan kematian biasa." kata Zyftar lagi.
"Hmm.... sepertinya begitu." kata Putri Humaira.
"Aku rasa bukan hanya satu iblish itu saja yang menginginkan ruh gadis itu.. " kata Zyftar lagi.
"Maksud kamu...?" Tanya Putri Humaira.
"Tuan Putri, AWAS...!! "
Belum lagi Zyftar menjawab pertanyaan Putri Humaira, sekelebat bayangan hitam datang menyerang Putri Humaira dan gadis itu.
"Aghhjh....!!" Gadis itu dan juga Putri Humaira terpental dari beberapa depa dari tempat mereka berasal.
"Putri Humaira...!! " Seru Zyftar.
Bayangan hitam itu terus memburu Putri Humaira yang masih memegang ruh gadis itu. Membuat Zyftar mati - matian harus membela keduanya.
Bayangan hitam itu kemudian berubah wujud menjadi sesosok iblish. Kini ada dua iblish yang berdiri di hadapan keduanya.
"Tuan Putri, tampaknya kita tidak bisa pulang dalam keadaan tepat waktu.." kata Zyftar.
"Aku bakalan akan mendapat marah ayahku, Zyftar..!" kata Putri Humaira. Gadis itu kemudian mencabut pedang dari balik bajunya.
"Baiklah, aku yang akan bertanggung jawab. Aku sedang ingin membunuh iblish saat ini..!" kata Zyftar lagi.
Jin bermata merah itu kemudian mengulurkan tangannya. Dari tangannya, keluar sebuah senjata. Pedang Halilintar...!
"Zyftar, bagaimana bisa kau mendapatkan pedang Halilintar milik ayahku..?" tanya Putri Humaira terheran-heran.
"Pedang Halilintar di beri amanat untuk menjaga dirimu sama seperti aku. Sehingga kapan saja aku membutuhkan pedang Halilintar untuk menghadapi musuh - musuhku, pedang tersebut akan muncul dengan sendirinya." kata Zyftar.
" Zyftar, awas di belakangmu..!!! " seru Putri Humaira.