
Kapal, bagaimana kapal itu bisa ada di sini. Kapal milik siapakah itu. Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana sibuk mencari tahu, kapal milik siapa itu. Mengapa mereka mengambil Kania dan Zahra secara paksa.
Tengah sibuk memikirkan Zahra dan Kania yang di bawa oleh kapal misterius, lewatlah seorang wanita tua yang berjalan terseok-seok di pinggir pantai. Rupanya nenek itu sedang memungut kerang - kerang yang ada di sepanjang pinggir pantai itu.
Pangeran Khalied langsung menghampiri nenek tersebut dan kemudian bertanya.
"Nek, bolehkah saya bertanya, apakah nenek pernah melihat ada kapal yang datang ke tempat ini? "
"Anak muda, kapal apa yang kau maksudkan. Aku tak pernah melihat kapal di tempat ini... " ujar Nenek tua itu.
"Bagaimana mungkin nenek tak pernah melihat kapal. Bukankah yang membentang di hadapan kita ini adalah lautan..?" tanya Zamura heran.
Nenek tua itu memandang sejenak ke arah ketiga orang itu. Kemudian dia tiba-tiba mengacungkan satu jarinya ke atas dengan di sertai satu anggukan. "Aku baru ingat ingat sekarang. Apakah yang kau maksud itu kapal pengangkut jiwa...?" tanya Sang nenek.
"APA..., Nek. Kapal Pengangkut Jiwa..? Kapal apa itu..? Siapa yang memiliki kapal yang begitu menyeramkan." tanya Pangeran Arkana.
Mereka bertiga di buat melongo dan takjub mendengar perkataan dari nenek tua itu. Apa ada kapal pengangkut jiwa?
Halawww, di mana - mana, kapal itu di buat untuk mengangkut barang dan penumpang, bukan jiwa. ( Sebenarnya tak salah, jiwa juga adalah barang. Karena jiwa adalah kata benda.hehehe, barang berharga, keleeesss)
"Iya, kemungkinan kapal yang kau lihat pada saat itu adalah kapal pengangkut jiwa. Kapal itu adalah kapal milik Charon." kata Nenek itu.
"Charon..? Siapa Charon, Nek..?" tanya Pangeran Khalied lagi. Dia ingin tahu mengenai Charon karena Zahra dsn Kania kini berada di kapal milik Charon.
"Charon adalah penguasa lautan ini. Dialah pemilik kapal pengangkut jiwa - jiwa yang sendiri dan kesepian. Charon akan membawa semua jiwa - jiwa itu ke suatu tempat. Jika aku tak salah, tempat itu adalah Eddena." kata Nenek tua itu. Kemudian nenek tua itu kembali melanjutkan aktivitasnya, meninggalkan ketiga pemuda tadi.
" Terima kasih, ya Nek.." ucap Pangeran Khalied. Namun sepertinya nenek tua itu tak mendengar karena asyik kembali dengan kegiatannya, yaitu memungut kerang - kerang di pantai ini.
"Hmm, Charon, Eddena...? Mengapa aku merasa bahwa kita akan ke sana?" ucap Pangeran Khalied sambil tersenyum samar.
Misi dan tugas mereka saja belum selesai. Mereka juga belum lagi menemukan petunjuk dan tanda - tanda akan keberadaan pedang Mata Malaikat yang mereka cari selama ini. Kini Pangeran Khalied sudah memutuskan untuk pergi ke Eddena, tempat peristirahatan para ruh orang yang sudah mati. Hanya demi seorang wanita saja. Sungguh Zamura seperti tak habis pikir.
"Lantas bagaimana dengan misi kita, Tuan..?" Zamura mencoba untuk mengingatkan Pangeran Khalied.
"Aku tak akan lupa misi dan tujuan awal kita ke tempat ini, Zamura. Namun aku juga tak bisa membiarkan Zahra dan Kania berada dalam bahaya. Kita le tempat ini berlima. Maka harus pulang juga berlima. Baik itu dalam keadaan hidup atau mati.. " ucap Pangeran Khalied tegas. Tak terbantahkan.
Zamura dan Pangeran Arkana terdiam mendengar ucapan Pangeran Khalied. Memang benar adanya, ucapan Pangeran Khalied itu. Bahwasannya, mereka berlima, sudah ditakdirkan untuk berada di tempat ini. Sehingga, apapun yang terjadi, mereka harusnya selalu bersama. Pun demikian juga, bila saatnya mereka harus kembali lagi ke alam jin atau pun ke alam manusia, mereka juga harus selalu bersama.
"Tuanku, sepertinya kita kedatangan tamu... " lapor Zamura kepada Pangeran Khalied. Pengawalnya itu menunjuk ke arah lautan yang airnya tiba - tiba saja bergejolak ribut dengan ombak yang sangat tinggi.
Kedua Pangeran itu segera menoleh ke arah yang di tunjuk Zamura. Pangeran Arkana sudah bersiap untuk mencabut pedang miliknya, namun keburu di tahan oleh Pangeran Khalied.
"Jangan gegabah..! Kita bisa kehilangan Zahra dan Kania untuk selamanya jika kita bertindak tanpa dipikirkan lebih dahulu." ucap Pangeran Khalied.
"Tapi , Paman. Mereka jelas - jelas membawa Kania dan Zahra.Berarti mereka bermaksud untuk menangkap Kania dan Zahra..!."
"Memang benar. Akan tetapi, jika kita tidak ikut bersama mereka, lantas bagaimana caranya kita dapat bertemu Zahra dan Kania...?" tanya Pangeran Khalied .
"Pangeran Arkana, menyarungkan kembali pedang ke dalam sarungnya dan kemudian bersiap - siap untuk menanti kejutan di detik-detik berikutnya.
Kapal besar yang konon katanya milik Charon itu kini sudah mulai merapat ke tepi. Kapal itu kini semakin nyata terlihat bentuknya karena posisinya yang sangat dekat Ketiga manusia jin itu.
Kapal tersebut berbentuk seperti kapal biasa. Hanya saja, penumpang kapal itu dan awaknya saja yang aneh. Mereka semua adalah ruh. Isi dari penumpang kapal Charon semuanya adalah ruh orang - orang yang mati namun tidak lagi di urus oleh keluarga atau di lupakan atau ruh orang yang terbuang.
"Aku baru tahu, ternyata ada juga kapal yang isinya ruh manusia. Sangat aneh sekali..?" ucap Zamura.
"Mengapa kau sebut aneh. Memang dimensi empat tempat semua keanehan terjadi. Tempat ini adalah tempat orang mati dan para roh yang penasaran. Lantas di mana anehnya..?"