
Malam kembali hadir menyelimuti suasana di tempat itu. Tidak seperti malam kemarin, cahaya bulan malam ini terlihat lebih bersinar. Karena malam ini langit tampaknya cerah. Secerah wajah Zahra yang malam ini tampak gembira.
Dari kejauhan, terlihat gadis itu berjalan seorang diri sambil menggendong sebuah baskom besar yang isinya telah kosong.
Binar kegembiraan terlukis jelas di wajahnya walaupun ada kelelahan yang membias.
Dia berjalan riang menelusuri jalanan yang sepi. Tujuan hanya satu, pulang. Dia tak sabar ingin segera sampai ke rumah. Karena di rumah, ibunya sedang menanti kedatangannya sambil terbaring sakit.
Malam ini semua dagangan kue bulannya habis terjual. Dan dia mendapatkan sedikit untung dari sana. Ditambah lagi, hari ini dia juga mendapatkan upah dari hasil mencuci pakaian tetangganya. Berarti, besok dia
dan ibunya, bisa makan dan juga memiliki sedikit uang untuk membelikan obat di warung untuk ibunya.
Zahra terus saja berjalan sambil pikirannya berjalan ke mana-mana. Dia tak menyadari bahwa sejak tadi dia diikuti oleh Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied selalu mengikuti Zahra kemanapun gadis itu pergi, karena dia tahu, apa yang akan terjadi dengan gadis itu selanjutnya.
Sedang asyik mengkhayal tentang nasibnya, Zahra tidak menyadari dari arah yang berlawanan berjalan lima orang pemuda berandalan. Meraka adalah preman kampung yang merupakan anak buah si Codet.
Melihat Zahra yang sedang berjalan seorang diri di malam hari dan suasana yang kebetulan juga sedang sepi, timbul niat jahat di hati para preman itu. Mereka langsung menghampiri Zahra.
"Hei, Manis..! Mau kemana, heh?! " tanya salah seorang preman yang wajahnya tampak menyeramkan karena terdapat luka sabetan senjata di pipinya.
Zahra mendongak dan melihat di depannya ada lima orang preman yang sudah mengelilingi dirinya.
"Mau apa kalian, pergi... jangan ganggu aku...!" bentak Zahra. Gadis itu memberanikan diri untuk melawan ke-lima Preman itu.
"Hahaha, galak juga ternyata. Tapi tak apa, makin galak makin gemasin...!!" kata preman yang satunya.
Preman yang berwajah menyeramkan tadi kemudian menarik tangan Zahra secara paksa.
"Auuwww...Lepaskan aku..! Apa mau kalian?! " bentak Zahra. Dia berusaha untuk membebaskan diri dari cengkraman tangan pemuda itu.
Sepasang mata berwarna kuning Pangeran Khalied langsung berubah menjadi merah.
"Hehehe, kami maunya kamu menemani kami, Manis.. " jawab pemuda itu yang langsung disambut gelak tawa oleh keempat orang temannya.
"Cuih,.... Jangan macam - macam, atau aku akan berteriak biar orang - orang berdatangan dan mengeroyok kalian semuanya.! " ancam Zahra sambil terus berusaha untuk melepaskan diri.
"Berteriak saja sesukamu, Manis. Tak akan ada yang mendengar. Tempat ini sepi dan jauh dari keramaian, hahaha.. " jawab temannya yang lain.
Kelima preman itu kemudian menyeret Zahra menuju ke semak-semak yang letaknya tak jauh dari sana.
"Tolong...... tolong........! " Zahra berteriak sekuat tenaga.
Namun, tak seorangpun yang mendengar teriakan gadis itu karena tempat itu memang daerah tersebut sangat sepi dan jarang dilalui orang.
Zahra masih terus memberontak dan memberikan perlawanan kepada ke lima preman tersebut.
Hingga suatu ketika, salah seorang dari mereka berhasil merobek baju yang dipakai Zahra.
Melihat kemulusan dan kemolekan tubuh Zahra, mereka semakin gelap mata dan beringas.
Salah seorang dari mereka kemudian mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh ke semak-semak. Zahra menangis gemetar ketakutan.
Pangeran Khalied yang menyaksikan ulah kelima preman itu menjadi marah.
"Kurang ajar...., kalian akan menerima kemarahanku karena berani menyentuh gadisku.. !" geram Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied langsung menampakkan wujudnya dan berdiri tepat di belakang mereka.
" LEPASKAN GADIS ITU.....!!!" Bentak Pangeran Khalied.
Serentak kelima preman itu menoleh ke arah suara bentakan tadi.
Seorang pemuda tampan berpakaian serba hitam dan berambut panjang, sedang berdiri tak jauh di belakang mereka.
Matanya yang berwarna merah kini sedang menatap kelima preman itu dengan sorot mata yang mengandung kemarahan.
Untuk sejenak, kelima orang preman itu terpana dan takjub melihat sosok Pangeran Khalied.
Kesempatan baik itu tidak disia - siakan oleh Zahra. Dengan sisa - sisa tenaganya, gadis itu bangkit dan berlari ke belakang Pangeran Khalied.
"Tuan, tolong saya, tuan....! Mereka ingin berbuat jahat padaku.."
"Tetaplah berdirilah di belakangku, maka kau akan aman...! " ujar Pangeran Khalied kepada Zahra.
Kelima pemuda itu langsung tersadar dan melihat bahwa Zahra sudah berdiri di belakang Pemuda aneh tersebut.
"Serahkan Gadis itu. Dia milik kami. Kami yang lebih dahulu mendapatkannya." bentak salah seorang dari mereka.
"Bagaimana jika aku tak mau..!" jawab Pangeran Khalied dengan sikap menantang.
"Maka kami tak segan - segan untuk merusak wajah tampanmu itu."bentak mereka lagi.
"Oh, ya..! Tunjukkan padaku bagaimana caranya kalian ingin merusak wajahku."
Pangeran Khalied melesat melayang terbang mendekati kelima pemuda itu.
Alangkah terkejutnya kelima preman tersebut. Baru kali ini mereka melihat ada manusia yang bisa terbang. Jangan - jangan pemuda itu bukan manusia, pikir mereka.
Dan mereka semakin terkejut saat berhadapan dengan Pangeran Khalied secara langsung.
Mata Pangeran Khalied yang menyala merah dan sepasang taring panjang di kedua sudut bibirnya membuat nyali mereka langsung hilang.
" SET... SET... SETAN.... "
Pangeran Khalied berpaling ke arah Zahra. Gadis itu diam tak bergeming di tempatnya dengan tubuh gemetar.
Zahra menatap lurus ke arah Pemuda di depannya. Sepertinya Zahra pernah melihat wajah pemuda itu.
Zahra langsung menutup mulutnya. Astaga.... itu adalah pemuda yang dilihatnya semalam dalam mimpinya.
"Apa kamu tidak takut padaku?" Tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.
Gadis itu hanya menggeleng sambil menundukkan kepalanya. Walaupun aneh, namun Zahra tidak merasa takut saat melihat wujud Pangeran Khalied.
Dia hanya merasa malu dengan keadaan dirinya. Pakaian yang dia pakai tidak mampu menutupi tubuhnya dengan baik karena sudah dirobek paksa oleh preman tadi.
Pangeran Khalied yang melihat kondisi Zahra akhirnya faham. Pangeran tampan itu bergerak mendekati Zahra.
"Permisi, maaf...! " kata Pangeran Khalied. Dia lalu menyentuh ujung baju Zahra.
Ajaib sekali..!!
Baju Zahra yang semula robek compang-camping berubah baru seperti semula dengan model sama.
Zahra menjadi heran dan takjub. Bagaimana bisa pemuda itu melakukannya, pikirnya.
Namun, gadis itu juga merasa sangat bersyukur karena kini pakaiannya sudah berganti dengan yang baru.
"Alhamdulillah, aku jadinya tak usah pusing memikirkan buat beli baju baru. Dan uangnya masih bisa aku tabung, kata Zahra dalam hati.
Uang.....
Tiba-tiba saja Zahra panik. Uangnya hilang......
Uang hasil penjualan kue bulan dan upah mencuci miliknya lenyap. Padahal uang itu akan dia belikan makanan dan obat untuk ibunya.
"Kamu mencari ini.. " Tanya Pangeran Khalied. Dia menyerahkan sebuah tas plastik kecil yang berisi uang kepada Zahra.
Bukan main senang hati Zahra karena berhasil mendapatkan kembali uangnya..Dia pun mengucapkan Terima kasih kepada Pangeran Khalied karena sudah menemukan uangnya.
"Terima kasih, Tuan. Atas pertolongan Anda.." ucapnya Zahra lag
"Tak masalah. Aku hanya kebetulan lewat saja. Dan melihat ada sekelompok orang yang ingin berbuat kejahatan. Sekarang pulanglah, hari sudah larut malam."
"Baik, tuan. Terima kasih. " Kata Zahra itu kemudian berlalu pergi dari hadapan Pangeran Khalied.
" Tunggu, .... "
Zahra menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Pangeran Khalied.
" Iya, Tuan.Ada yang bisa saya lakukan, Tuan? " tanya Zahra kepada tuan Penolongnya itu
"Jangan panggil aku tuan. Namaku Khalied. Siapa namamu? " kata Pangeran Khalied memperkenalkan diri.
" Nama saya Zahra, Tuan.." jawab Zahra.
Pangeran Khalied berjalan mendekati Zahra dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil ke tangan gadis itu.
"Ambillah ini. Di dalamnya berisi dua buah pil. Berikan kepada ibumu. Insya Allah, ibumu akan sembuh." kata Pangeran Khalied.
Mata Zahra terbelalak kaget. Dia heran bagaimana mungkin pemuda yang tak dikenalnya itu bisa tahu jika saat ini ibunya sedang terbaring sakit.
"Tuan.. eh...maksudku, Khalied. Bagaimana bisa...? Maksudnya...." Zahra tergagap tak bisa berucap lagi. Dia sungguh terharu dan tak menyangka tuan penolongnya itu juga mau menolong ibunya.
"Sudahlah, mari saya antar kamu pulang..!" tukas Pangeran Khalied.
Zahra pun akhirnya menurut saja. Dia pikir tentunya akan lebih aman jika bersama pemuda itu. Walaupun pemuda itu agak sedikit aneh, tapi Dia yakin bahwa pemuda itu orang baik.
Dalam sekejap, Zahra sudah berada di depan gubuk kecil yang merupakan rumah tempat tinggalnya bersama sangat ibu.
"Kita sudah sampai. Aku rasa ibumu pasti sudah menunggumu. Selamat malam. Ini untukmu... "
Pangeran Khalied menyerahkan sebuah bungkusan yang berisi makanan, lantas kemudian menghilang begitu saja dari hadapan Zahra.
"Jadi namanya Khalied...." Zahra bergumam sendiri dalam hati.
Dia sudah selesai menyuapi ibunya dan kemudian meminumkan obat pemberian pemuda itu. Setelah itu dia juga memakan makanan sisa ibunya.
Zahra kembali membayangkan wajah Khalied.
"Bagaimana bisa aku berjumpa dengannya setelah malam harinya aku bermimpi tentang pemuda itu." benak Zahra sibuk bertanya.
Khalied, sepertinya akh pernah mendengar nama itu. Tapi di mana, yah, pikir Zahra lagi.
Zahra heran, mengapa dia memimpikan pemuda itu semalam. Padahal, mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
Dan pemuda itu ternyata memang benar - benar ada. Pemuda dengan warna mata yang aneh. Kuning pucat dengan bintik coklat di tengah.
"Apakah Khalied itu manusia seperti diriku..?" tanya Zahra dalam hati.
"Tapi dia terbang dan memiliki taring. Mana ada manusia yang memiliki taring dan bisa terbang, Zahra.." kata hati Zahra.
"Berarti dia bukan manusia," pikir Zahra lagi. " Lalu Khalied itu makhluk seperti apa...?" tanya Zahra lagi.
Sementara itu, tanpa Zahra ketahui, Pangeran Khalied memperhatikan terus segala gerak gerik Zahra yang sedang melamun membayangkan dirinya. Pangeran Khalied tersenyum sendiri. Hatinya bahagia mengetahui bahwa Zahra sedang memikirkan dirinya.