Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 132 Keberatan Pangeran Sa'if


"Tidak, pernikahan ini tidak sah! Karena aku menyatakan keberatan atas pernikahan ini." seru Pangeran Sa'if yang tiba-tiba muncul di tempat itu.


Maka gegerlah semua hadirin yang ada di pesta tersebut.


"Pangeran Sa'if, tolong jelaskan apa maksud dari ucapanmu itu, mengapa kamu keberatan atas pernikahan ini..?" tanya Penghulu yang telah menikahkan Zyftar dan Putri Humaira.


"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran Hasyeem. Hamba datang kemari karena ingin menuntut keadilan. Putri Humaira adalah masih lagi kekasih hamba. Tapi mengapa Tuanku bisa menikahkan Putri Humaira dengan Zyftar. Hamba menuntut kejelasan dari semua ini, mengapa Anda mengambil keputusan sepihak saja. Sungguh hamba amat kecewa, karena Pangeran Hasyeem yang terkenal bijaksana, telah berbuat Dholim dan tidak adil terhadap hamba." kata Pangeran Sa'if.


Terdengar bisik - bisik di belakang. Mereka menyesalkan tindakan Pangeran Sa'if yang berani terang - terangan mengecam tindakan Pangeran Hasyeem yang menikahkan Putrinya dengan Zyftar padahal sudah jelas bahwa Putri Humaira adalah tunangannya.


Pangeran Hasyeem tersenyum penuh arti. Dia tidak marah atas kata - kata Pangeran Sa'if. Ayahanda Putri Humaira itu bangkit dan kemudian. berjalan mendekati. Pangeran Sa'if.


Kemudian dengan tenang dia menjabat tangan Pangeran Sa'if dan menatap mata elang Pemuda itu. Sehingga kemudian tergambarlah di mata Pangeran Hasyeem apa yang tidak dilihat oleh mata biasa dari kaum jin dan manusia.


"Ayah.....!" seorang gadis kecil yang cantik berlari menyongsong Pangeran Sa'if. Di samping nya berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu berjalan di samping Pangeran Sa'if.


"Bunda, aku ingin bersama ayah hari ini. Bolehkan, Bunda.. ?"


"Mariam, mengapa kau selalu merengek dan meminta Ayahmu untuk selalu menemanimu. Ayahmu tak bisa, sayang." kata wanita itu dengan lemah lembut.


"Sudahlah, Zaena. Dia masih kecil dan belum mengerti. Aku akan menemani kalian di sini. Masih ada waktu untuk menemanimu dan maryam, sebelum bertemu Putri Humaira. Ayahku meminta aku untuk bertemu Putri Humaira. Kau tentu sudah tahu akan hal itu kan, Zaena..!" kata Pangeran Sa'if.


Wanita yang bernama Zaena itu mengangguk dan kemudian berkata. "Pergilah, Pangeran...! Kami tidak apa - apa...!" kata Zaena.


Gambaran tadi menghilang setelah Pangeran Hasyeem melepas tangan Pangeran Sa'if.


"Apakah kamu tega meninggalkan istri dan Putrimu demi memenuhi keinginan ayahmu yang memintamu untuk menikah dengan putriku. Dan lagi pula, apakah memang benar kamu mencintai putriku. Jika kamu memang masih mencintai istri dan putrimu, maka kamu mesti berbesar hati untuk menerima pernikahan ini." kata Pangeran Hasyeem.


Pangeran Sa'if tertunduk sedih ketika mendengar ucapan Pangeran Hasyeem. Memang tak akan bisa mengelabui mata seorang Pangeran Hasyeem. Penguasa Bukit Malaikat itu memiliki kemampuan yang tak di miliki oleh kebanyakan makhluk di negeri ini yaitu bisa melihat sesuatu yang telah terjadi dengan lawan bicaranya di masa lalu.


"Tapi baiklah, Pangeran Sa'if. Aku tak ingin di katakan sebagai pemimpin yang tak adil. Selama ini, aku sudah memberikan kesempatan kepadamu untuk menundukkan hati putriku. Akan tetapi, kau tidak bisa melakukannya karena mungkin kau memang tidak berniat melakukannya. Aku tahu bagaimana rasanya di posisi itu. Untuk itulah, aku memberimu kesempatan terakhir. Kau dan Zyftar. Selesaikan masalah kalian di arena ." kata Pangeran Hasyeem.


Terperanjatlah wajah semua yang hadir di pesta itu. Tak terkecuali Pangeran Sa'if dan kedua mempelai.


"Ayahanda, mengapa harus seperti itu. Aku yang memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku memilih menikah dengan Zyftar, dan Pangeran Sa'if tidak bisa memaksakan keinginannya. Seharusnya Pangeran Sa'if berlapang dada menerima keputusanku ini. Karena ini adalah hidupku." kata Putri Humaira dengan lantangnya. Wajah Putri itu di penuhi dengan kemarahan. Dia tidak terima akan keputusan ayahandanya Pangeran Hasyeem untuk memerintahkan Zyftar duel dengan pangeran Sa'if.


"Tuan, Putri. Bersabarlah... Duduklah dahulu, dan jangan marah kepada Ayahanda Tuanku Pangeran Hasyeem. Ayahanda Pangeran Hasyeem benar, ini masalah kehormatan dan harga diri pangeran Sa'if. Maka biarlah kami berdua menyelesaikan masalah ini di arena. Karena hanya itu cara yang bisa kami lakukan demi menyelamatkan Pangeran Sa'if."


Pangeran Hasyeem tersenyum kecil melihat betapa Zyftar berhasil melunakkan amarah Putri Humaira dengan kata - kata lembutnya. Hal itu bukti bahwa Zyftar memiliki kesabaran dan amat menjunjung tinggi kehormatan orang lain. Pemuda itu menunjukkan tanda - tanda kesatria sejati. Jarang sekali seorang Abdi memiliki sikap seperti itu. Juga kharisma yang dimiliki Zyftar terpancar dengan jelas.


Akhirnya amarah Putri Humaira pun reda setelah mendengar penjelasan Zyftar.


Semua yang hadir pun menjadi deg - degan dan merasa penasaran ingin menyaksikan duel antara Zyftar dan Pangeran Sa'if.


Pangeran Sa'if yakin, pasti Pangeran Hasyeem lebih mengetahui apa yang tidak bisa dia lihat dalam diri pengawal Putri Humaira tersebut.


Kedua pemuda itu kemudian melesat terbang menuju alun - alun istana.


"Apakah kamu sudah siap, Zyftar..?" tanya Pangeran Hasyeem.


"Hamba siap, Tuanku. Silahkan Pangeran Sa'if memulai terlebih dahulu!" kata Zyftar.


Tanpa ragu - ragu, Pangeran Sa'if kemudian menyerang Zyftar dengan segenap kemampuannya. Dia mengerahkan seluruh kepandaiannya dalam ilmu olah kanuragan dan juga kemampuan bela dirinya yang dia miliki.


Di awal ini, pertarungan berjalan seimbang. Karena Zyftar tak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Pemuda itu hanya mengelak dan menghindari atau mematahkan serangan pangeran Sa'if.


"Zyftar, mengapa kau bertarung seperti wanita. Apakah kau merasa segan padaku...?" tanya Pangeran Sa'if.


Zyftar tak menjawab pertanyaan Pangeran Sa'if. Memang sebenarnya, pemuda itu merasa segan bertarung dengan Pangeran Sa'if.


"Ayo, Zyftar. Layani aku..! Aku akan menyerang kamu dengan sepenuh hati, apakah kamu ingin mengecewakan Putri Humaira..?" kata Pangeran Sa'if lagi.


"Baiklah, Pangeran Sa'if. Maafkan hamba sebelumnya... " kata Zyftar.


Pemuda itu pun akhirnya bertarung dengan Pangeran Sa'if dan segera mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi Pangeran Sa'if.


Kini pertarungan antara keduanya benar-benar sangat seru. Masing-masing pihak mengeluarkan jurus andalan masing-masing. Bahkan kini, keduanya sudah menggunakan senjata.


Pedang Pangeran Sa'if menyambar - nyambar di atas tubuh Zyftar yang mengeluarkan cahaya putih. Sinar kemilau dari pangeran Sa'if juga bergerak. Jika dilihat, seperti dua buah sinar yang saling berkejaran - kejaran.


Hingga suatu ketika, Pedang Zyftar kemudian berhasil melukai lengan Pangeran Sa'if.


Zyftar menghentikan serangannya dan segera menghampiri Pangeran Sa'if.


"Pangeran Sa'if, maafkan hamba. Hamba tak sengaja melukai anda." kata Zyftar.


"Tak apa - apa, Zyftar. Aku mengakui kekalahanku. Kamu memang hebat dan pantas mendapatkan Putri Humaira. Maafkan aku yang sempat mengacaukan acara pernikahan kalian. Kini aku serahkan Putri Humaira kepadamu dengan ikhlas. Selamat berbahagia. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian." kata Pangeran Sa'if kepada Zyftar.


"Sama - sama, Pangeran. Maafkan juga atas kelancangan hamba, Pangeran Sa'if.." Kata Zyftar lagi. Kedua pemuda itu saling berpelukan.


Semua yang melihat hal itu merasa terharu dan juga bangga. Kedua pemuda yang hebat.., pikir mereka. Mereka pun akhirnya bertepuk tangan dan memberi hormat pada keduanya.


"Hidup Pangeran Sa'if, Hidup Zyftar..!! " seru mereka beramai-ramai.


Keduanya melesat menuju istana Bukit Malaikat. Acara pernikahan tersebut dilanjutkan kembali. Kali ini, Pangeran Sa'if turut serta di dalamnya mendampingi Zyftar yang hari ini wajahnya tampak sangat bahagia sekali.