
Tak dapat lagi menghindar, karena bentuk tubuh yang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat, Sari pun kemudian hanya bisa pasrah saja
Sambil menjerit Sari memejamkan matanya dan berseru.
"Allahu akbar...! Astaghfirullah....! Allahu akbar...! ucapnya Kemudian.
Dia sudah pasrah jika memang ajal menjemput dan mati di tangan suami. Biar saja asalkan jangan mati menjadi tumbal.
Namun yang terjadi kemudian membuat Sari membelalakkan mata dan tidak mempercayai penglihatannya sendiri.
Hendra yang kalap karena marah dan juga kesal karena Sari tak mau menggubris perkataannya hendak menyerang Sari dengan parang Panjang yang dia peroleh dari rumahnya.
Saat dia ingin mengayunkan parang itu ke tubuh istrinya, mendadak saja dia merasakan parang yang dia pegang terasa panas seperti memegang besi yang membara.
Sontak Hendra melemparkan padangnya dan urung untuk menyerang Sari.
Bukan itu saja, sebuah keanehan terjadi. Parang panjang yang dilempar Hendra kini sudah terbang melayang dengan sendirinya dan berbalik menyerang lelaki itu.
Tentu saja Hendra kaget bukan main. Dia nyaris terkena sabetan parang miliknya sendiri andai saja dia tak berkelit untuk menghindar. Mengapa parang itu bisa melayang dan menyerang dirinya sendiri, pikir Hendra.
Memang Hendra tak bisa melihat keberadaan Zamura. Karena jin itu tak menginginkan Zamura untuk melihat wujud dan penampakan dirinya.
Berbeda halnya dengan Sari. Karena Zamura menginginkan Sari melihat dirinya, maka wanita itu bisa melihat keberadaan dirinya. Sejak tadi, Sari memang selalu bersama Zamura.
Jika dilihat dengan mata biasa, akanlah terasa aneh sebuah parang melayang dengan sendirinya mengejar orang.
Tapi dalam penglihatan Sari, dia melihat parang tadi dipegang oleh Zamura dan kemudian lelaki itu balik menyerang Hendra.
Sari terpekik ngeri ketika parang panjang itu akhirnya berhasil memakan darah tuannya sendiri.Hendra terluka..!!
Parang panjang yang dipakai oleh Hendra untuk menyerang Sari terus saja mengejar lelaki itu. Meskipun parang itu sudah berhasil melukai Hendra.
Beberapa kali sabetan parang mengenai tubuh lelaki itu. Hendra merasa kewalahan menghadapi serangan Parang melayang itu sampai akhirnya lelaki itu terkapar bermandikan darah karena tubuhnya penuh dengan sabetan parang.
Di saat - saat yang genting seperti itu seberkas sinar biru melesat terbang ke arah parang tersebut.
Sinar tersebut menghantam parang yang dipegang oleh Zamura. Sehingga parang itu terlempar dan jatuh ke tanah.
Zamura yang tadinya fokus terhadap Hendra tak menyadari bahwa ada serangan yang datangnya tiba - tiba
Lelaki jelmaan jin yang sedang memegang parang itu tampak sama sekali tidak terkejut dengan serangan itu.
Pengawal pribadi Pangeran Khalied itu malah tersenyum mengejek dan mencemooh.
"Hah, akhirnya kau menampakkan juga wujud aslimu...!! kata Zamura kepada Penunggu hutan Alas.
"Terkutuklah kamu wahai siluman busuk. Kau mau melindungi dia, coba saja...!" tantang Zamura kemudian.
"Cuih.... rupanya kau adalah jin yang sok usil dan suka mencampuri urusan orang lain."
Sinar biru itu kemudian merubah wujudnya menjadi sosok lelaki berbadan kekar berambut panjang. Wajahnya ditumbuhi Cambang yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Pantas saja orang - orang memanggilnya ki Bawut. Rupanya selain buruk rupa, wajahnya juga di penuhi oleh Cambang panjang yang membuat wajahnya kian menyeramkan.
"Benar, aku adalah ki Bawut. Akulah penguasa Hutan alas Roban. Kau sangat berani dan lancang menyiksa Abdiku. "
"Aku tak peduli... Dia yang lebih dahulu untuk menyerangku.
Setelah berucap demikian, Zamura kembali menarik parang yang tadi sudah jatuh dan kembali lagi menyerang Hendra.
"Manusia seperti dia bagus dimusnahkan saja di dunia ini karena membuat kerusakan saja." ucapnya Zamura.
Ki Bawut marah mendengar perkataan Zamura.
"Dasar Jin keparat...! Sombong sekali, rupanya abdi istana bukit Malaikat ini belum melihat kemampuanku..!! " kata Ki BAWUT.
Lelaki itu kemudian kembali merubah dirinya menjadi sinar biru dan kembali menyerang Zamura.
Zamura yang berniat menyerang Hendra terus saja menyerang mengayunkan parangnya ke arah Zamura, dan Ki Bawut yang menghalang - halangi Zamura.
Zamura tersenyum licik dan tertawa penuh kemenangan ketika mengayunkan parangnya.
Tanpa di duga, Zamura mengalihkan serangan parangnya ke arah sinar yang masih terus mengejar Zamura saat Lelaki itu bergerak hendak menyerang Hendra...
mendapat serangan yang tak terduga, sinar biru itu tak bisa mengelak lagi. Parang yang sudah Zamura mantrai dengan bacaan - bacaan surah pendek dan lafal Asmaul Husna yang mulia membabat sinar biru itu tanpa ampun.
"Allahu akbar...!!! " pekik Zamura sambil mengayunkan parang panjang itu berkali-kali ke arah sinar biru itu.
"Mampuslah kau musuh Allah yang dilaknat. Kekallah kau di neraka bersama pengikut - pengikutmu.!!!" seru Zamura lantang.
Sinar biru itu terpecah di udara dan jatuh menyentuh tanah dan terbakar. Bersama itu pula, tercium bau busuk an hanyir darah tapi bukan dari darah Hendra.
Rupanya iblis hanya Alas Roban itu menemui ajalnya di tangan Zamura..
Sementara itu, karena kaget dan ketakutan yang tak terkira, Sari untuk yang kedua kalinya sukses kembali pingsan.
Terpaksa, Zamura akhirnya kembali menolong Sari. Lelaki itu pun membopong dan menggendong Sari meninggalkan tempat tersebut.
Hari sudah menjelang pagi. Zamura takut keberadaan dirinya akan diketahui oleh orang yang bisa melihat penampakan makhluk halus.
***
"Zamura, dari mana saja dirimu.??" tanya seseorang. Zamura menoleh dan mendapati Pangeran Arkana sedang berada di tempatnya.
"Aku dari alam dunia. Sepertinya aku terpisah dengan kalian." kata Zamura.
"Lantas siapa wanita ini? " tanya Pangeran Arkana.
" Ketika aku sedang berjalan menuju ke alam jin. Tanpa sengaja aku bertemu dengan sekelompok orang yang mengabdi pada Penguasa Hutan Alas Roban. Wanita ini adalah istri dari salah seorang yang mengabdi pada siluman itu." kata Zamura
"lantas mengapa wanita ini kau bawa kemari...? " tanya Pangeran Arkana lagi.
Zamura bingung harus menjawab apa.