Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 37 Cemburu...


"Jika kau benar adalah roh Zahra, maka masuklah kamu ke dalam cepu ini..!" perintah Pangeran Khalied kepada Cahaya itu.


Ajaib sekali, Cahaya itu mematuhi perintah pangeran Khalied dan masuk ke dalam cepu tersebut.


Pangeran Khalied bergegas untuk meninggalkan tempat itu bersama - sama roh Zahra sebelum semua penghuni neraka di tempat itu berdatangan karena mengetahui kebinasaan iblish pohon.


Tak lama setelah kepergian Pangeran Khalied, kastil tua itu bergetar hebat hingga getarannya meruntuhkan bangunan itu hingga menjadi rata dengan tanah. Bukan itu saja, tanah di tempat itu terbelah menjadi dua dan menenggelamkan kastil tua itu ke dalam tanah sehingga tempat itu sekarang menjadi rata dengan tanah.


Namun, keajaiban terjadi. Di bekas reruntuhan kastil tua itu berdiri kembali sebuah kastil yang sama. Kastil tua itu kembali muncul di tempat itu berdiri kokoh dan angkuh menyimbolkan keangkuhan bagi pemiliknya. Itulah neraka, abadi tak terjamah oleh kehancuran. Pun demikian juga dengan penghuninya, Iblish Pohon dan Barrad yang hidup kembali dari kebinasaan. Akan tetapi, Iblish pohon kini terkurung selamanya di dalam kastil tua bersama Barrad sampai akhir Zaman.


Neraka dan iblish akan hidup abadi sampai akhir Zaman sesuai dengan janji Allah. Patut lah kesombongan merajai di hati para iblish, karena mereka terhindar dari kebinasaan, walaupun nerekalah tempat abadi mereka. Tetapi mereka tidaklah binasa.


Semoga kita sebagai manusia, makhluk Allah yang di anugrahkan kesempurnaan oleh-Nya dijauhkan dari segala sifat sombong. Karena sejatinya yang berhak atas semua kesombongan itu hanyalah Allah semata.


Iblish yang membanggakan diri dengan kesombongannya, nyata - nyata binasa oleh kesombongan mereka sendiri dan tempat kembali mereka adalah neraka yang abadi.


Pangeran Khalied kini sudah kembali lagi ke dimensi ke empat bersama - sama dengan Mei Fang yang berada di dalam tubuh Zahra.


Tubuh Zahra yang di tempati roh Mei Fang kini dibaringkan di atas tanah.


Mei Fang menatap pemuda yang telah membebaskan dirinya dari cengkraman Iblish Pohon itu dengan syahdu.


Sebenarnya, jika boleh memilih, dia ingin selamanya berada dalam tubuh ini. Tubuh yang dicintai oleh pemuda itu dengan segenap jiwa dan raganya sampai harus rela memasuki neraka sekalipun demi untuk bisa bersama.


Namun sayangnya, itu tak bisa dia lakukan. Karena pemuda itu hanya mencintai Zahra, gadis itu. Dan lagi pula, sudah saatnya dia kembali untuk bereinkarnasi kembali ke alam dunia. Semoga di kehidupan berikutnya, dia lebih beruntung. Bisa kembali bertemu dengan pemuda itu. Dan barangkali saja, pemuda itu bisa menjadi kekasihnya. Mei Fang sungguh berharap hal itu dapat terwujud. Karena Mei Fang sudah jatuh hati pada pemuda itu karena keteguhan dan kesetiaannya kepada wanitanya.


"Adakah yang ingin kau katakan..? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu..." tanya Pangeran Khalied. Aneh, dia seperti mendengar isi hati Zahra.


Tapi dia sadar, bahwa itu bukanlah Zahra. Karena Mei Fang lah yang berada di tubuh Zahra. Dan itu berarti yang berbicara dalam hati itu adalah Mei Fang. Dia bisa membaca isi hati dan pikiran Zahra karena bukan roh gadis itu yang berada dalam tubuh di depannya ini melainkan roh Mei Fang.


Pangeran Khalied mengeluarkan cupu Manik Emas dari balik bajunya dan membuka tutupnya.


Mei Fang yang melihat hal itu tahu bahwa sudah saatnya dia pergi. Gadis itu pun berkata kepada pangeran Khalied.


"Tuan, tugas saya sudah selesai. Kini saya hendak pamit untuk reinkarnasi kembali. Waktu saya sudah sampai. Kita berpisah sampai di sini. Jika berjodoh, dalam kehidupan saya berikutnya, saya akan kembali lagi untuk membalas budi baik tuan. Semoga yang Maha Kuasa kembali mempertemukan kita. Selamat tinggal, tuan."


Roh Mei Fang melesat keluar melewati ubun - ubun Zahra dan kini sudah berdiri di sebelah tubuh Zahra. Gadis itu memandang sejenak ke arah tubuh yang sempat beberapa saat dia tinggali dan merasakan bagaimana hati yang dibakar cinta dari si empunya tubuh namun terasa sulit untuk mengutarakan isi hati karena terhalang oleh gengsi.


"Selamat tinggal, Zahra. Aku tahu kau mencintainya. Semoga kau dan dia bisa bersama. Jangan ragu untuk mencintai, karena cinta itu tak mengenal istilah perbedaan. Berbahagialah, dia mencintaimu tanpa syarat dan tanpa batas."


Selesai berkata demikian, roh Mei Fang melesat pergi meninggalkan tempat itu. Menuju ke jalan Reinkarnasi. Pengembaraannya sudah mencapai titik akhir. Kini saatnya bagi dia untuk terlahir kembali.


Jalan reinkarnasi yang membentang di hadapan. Membawa nya menuju ke pintu kelahiran untuk menuju ke dunia. Terlahir sebagai manusia kembali.


Tak berapa lama berselang, tampak tubuh Zahra mulai bergerak. Perlahan - lahan, Zahra membuka matanya. Zahra sudah siuman.


Hal pertama yang dilihat oleh Zahra adalah wajah Pangeran Khalied yang sedang duduk dalam diam sambil memejamkan matanya.


Rupanya pemuda itu sedang bersemedi untuk mengumpulkan kembali kekuatannya. Karena di tiga pertempurannya yang terakhir, Pemuda itu sempat terluka karena beberapa pukulan dari Iblish pohon dan juga Barrad.


Zahra memandang wajah tampan sang pangeran dalam diam. Hatinya berdesir aneh saat mengingat perkataan pemilik wajah itu yang mengatakan kepada Iblish pohon bahwa Zahra hanya miliknya. Melihat perjuangan pemuda itu untuk mendapatkan dirinya kembali meskipun harus melewati gerbang neraka sekalipun.


Ada perasaan takut di hatinya jika pemuda itu berpindah ke lain hati. Terlebih terakhir kali, seorang gadis yang tak dikenal telah memintanya untuk menikah. Akankah hati Khalied tetap setia padanya..?


"Kau sudah sadar rupanya...! Berdirilah, kita akan kembali melanjutkan perjalanan ini..!" suara pangeran Khalied membuyarkan Zahra dari lamunannya sesaat.


Pemuda itu terlihat sudah berdiri dan bersiap - siap untuk untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Zahra segera bangun dari tidur dan tiba-tiba saja gadis itu langsung memeluk Pangeran Khalied dari belakang. "Aku takut, jangan tinggalkan aku.... !" bisiknya.


Pangeran Khalied berbalik dan menatap Zahra tepat di manik - manik matanya. "Apa yang kau takutkan. Aku akan selalu ada untuk menjaga dan melindungimu. Kau sudah melihat sendiri, bahkan ke neraka sekalipun rela aku lalui demi untuk menyelamatkan dirimu.. " jawabnya.


"Bukan itu maksudku, Khalied. Aku...aku merasa takut jika ...." Zahra menunduk tak kuasa membalas tatapan mata Pangeran Khalied. Dia merasa malu dan gundah.


Pangeran Khalied sudah bisa menebak kelanjutan dari perkataan Zahra.Gadis itu tak ingin kehilangan cinta dari dirinya. Dirinya tak buta dan bodoh. Dia bisa melihat dengan jelas tatapan Zahra yang penuh dengan cemburu saat mendengar Mei Fang memintanya untuk menikahi Mei Fang. Apalagi saat gadis itu memeluk dirinya, dia melihat semua itu. Dan dia bahagia bahwa akhirnya dapat mengetahui isi hati gadis itu.


"Aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan menunggu sampai hatimu siap dan suka rela untuk menerima cintaku." ucap pemuda itu seraya menggengam tangan Zahra dengan hangat.


"Terus bagaimana dengan Mei Fang...?"


tanya Zahra secara tiba-tiba. Dia teringat dengan gadis itu.


"Kenapa dengan Mei Fang..? " Pangeran Khalied balik bertanya.


"Bukankah dia yang meminta untuk dinikahi olehmu. ? "


"Lantas,...? " tanya Pangeran Khalied.


"Iya, aku hanya ingin tahu, bagaimana keadaan dirinya saat ini..? " saat Zahra.


"Dia baik - baik saja. ! " jawab Pangeran Khalied singkat.


Zahra tak puas dengan jawaban Pangeran Khalied. Dia kemudian kembali bertanya. "Apakah ketika pada saat aku tak sadarkan diri, kalian jadi menikah..? " tanya Zahra.


Astaga... jadi itu yang ada dalam pikiran gadis di hadapannya itu. Rupanya ada cemburu di hati Zahra kepada Mei Fang. Akhirnya, keusilan di hati Pangeran itu seketika hadir. Dia tak menjawab, melainkan hanya melempar senyum penuh misteri kepada Zahra.