
Usai menikah, Zyftar dan Putri Humaira kemudian menjalani hukuman dengan tinggal di dunia manusia selama Dua belas periode bulan atau dua belas tahun.
Putri Aryyan meminta kepada Putri Humaira dan Zyftar untuk menetap dan menempati salah satu rumahnya. Karena ketika tinggal di dunia manusia, mereka harus memiliki rumah untuk mereka tinggali. Apa lagi mereka memiliki seorang 'anak'.
Namun Putri Humaira menolak secara halus permintaan kakaknya itu.
"Terima kasih, Kanda Putri Aryyan. Tapi aku menyerahkan masalah ini kepada suamiku. Biarlah Zyftar saja yang menentukan di mana kami harus tinggal dan menetap. Aku menghormati dia sebagai suamiku. Imam dalam keluarga kami." kata Putri Humaira kepada Putri Aryyan.
Putri Aryyan kagum terhadap kepatuhan dan kedewasaan adiknya. Meskipun adiknya adalah seorang Putri dan Zyftar hanyalah seorang abdi pengawal, akan tetapi dia tetap hormat kepada suaminya.
"Baiklah, Dinda Putri Humaira. Aku pun menghormati keputusanmu. Tapi jika kau dan Zyftar membutuhkan sesuatu janganlah sungkan datang kepadaku atau Andros. Janganlah merasa terbuang. Kami adalah saudara kamu." kata Putri Aryyan.
Putri Humaira menganggukkan kepala. Keduanya saling berpelukan sebelum berpisah. Putri Humaira mengikuti Zyftar, suaminya yang akan membawa dia dan Balqis untuk membina sebuah keluarga baru di dunia manusia.
"Putri, sekarang kita tinggal di dunia manusia, maka kita harus mengikuti tata cara hidup manusia. Apakah kau keberatan jika aku yang memimpin dalam keluarga kita.?" tanya Zyftar.
"Mengapa pula aku harus keberatan. kau laki-laki, Zyftar. Maka kau yang menjadi pemimpin dalam rumah tangga ini. Tak peduli meskipun aku seorang putri. Itu hanya gelar dan jabatan di dunia. Tapi di hadapan Allah aku memiliki gelar yang lain yaitu sebagai istrimu. Maka mulai kini, hilangkan panggilan putri itu untukku, dan panggil aku selayaknya kamu memanggil istrimu dan aku akan memanggil kamu selayaknya seorang istri memanggil suaminya." kata Putri Humaira.
"Papa, kita akan tinggal di mana?" tanya Balqis tiba-tiba. Rupanya gadis kecil itu bingung karena sejak tadi mereka hanya berjalan saja.
"Balqis ikut ke rumah kita yang baru. Kita akan tinggal di tempat baru. Balqis mau...?" tanya Zyftar kepada gadis kecil itu.
"Mau, Pah... Balqis mau ikut, papa.." jawab gadis kecil itu." Tapi sama mama, kan...?" tanya gadis kecil itu lagi.
"iya, tentu saja sama mama. Kita bertiga akan tinggal di rumah itu. Papa, mama, dan Balqis." kata Zyftar.
Setelah lama berjalan, akhirnya mereka tiba di suatu tempat. Di sebuah tempat yang sangat indah. Tempat itu bernama Kampung Sendang.
"Wah, tempat ini indah sekali. Bolehkah aku meminta kita tinggal di tempat ini, Kanda Zyftar..?" tanya Putri Humaira.
Ada keterkejutan di wajah Zyftar ketika mendengar putri Humaira memanggilnya dengan panggilan kanda. Diam - diam Zyftar tersenyum sendiri. Di dalam hati, dia merasa sangat bahagia mendapat panggilan spesial seperti itu.
"Jika Dinda Humaira suka, maka aku pun juga suka. Karena aku selalu menyukai apa yang dinda sukai." kata Zyftar.
"Terima kasih, Kanda. Kamu memang suami yang sungguh pengertian.." kata Putri Humaira.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita mesti merubah diri. Aku tak ingin mereka lari saat melihatku...." kata Zyftar. Pemuda itu kemudian merubah wujud menjadi seorang pemuda biasa. Tanpa mata merah dan kulit yang putih seperti kapas dan juga tanpa sayap.
"Apakah seperti ini sudah cocok, Dinda Humaira..?" tanya Zyftar.
"Tampil dalam wujud apapun, kau selalu terlihat tampan. Asal jangan berwujud ular besar itu." kata Putri Humaira.
"Hahaha, kamu bisa saja, Dinda. Ayo kita pergi menemui kepala desa di rumahnya." ajak Zyftar.
Ketiganya lantas bergerak ke rumah kepala Desa.
"Walaikum salam...!" terdengar sahutan dari dalam rumah.
Saat keluar, kepala desa itu terperangah ketika melihat seorang pemuda yang sangat tampan, berdiri di depan rumahnya.
"Permisi, Pak...!" kata Zyftar santun.
"Iya, ada apa yah, nak..?" kata kepala desa itu.
"Perkenalkan, namaku Zyftar. Dan yang berdiri di sana itu adalah, Humaira dan Balqis. Mereka adalah istri dan anakku, Pak.." kaya Zyftar lagi.
" Ohh, Aku adalah kepala desa di sini. Kalian bisa memanggilku Pak Amri. Ngomong - ngomong, apakah kalian berdua benar-benar pasangan suami istri.? Tanya Pak penghulu kepada keduanya.
"Benar, sekali. Dan istriku yang cantik ini ingin sekali memiliki rumah di tempat ini, karena Menurutnya pemandangan di tempat ini sangat indah. Apakah bapak bersedia membantu...?" tanya Zyftar.
"Oh, tentu saja. Kebetulan sekali, ada sebuah rumah yang dijual oleh pemiliknya dengan harga murah. Jika kalian berminat maka aku bisa mengantarkan kalian ke tempat itu. " kata Pak kepala desa.
"Tentu saja kami berminat." kata Zyftar lagi.
"Kalau begitu, ikuti saya..!" kata Kepala Desa Kampung Sendang.
"Dinda Humaira, ayo kita ikut sama Bapak ini. Beliau akan mengantarkan kita untuk melihat sebuah rumah. Kita akan membeli sebuah rumah di desa ini.." ajak Zyftar kepada Putri Humaira.
Sambil menggendong Balqis, Zyftar kemudian menggandeng tangan Putri Humaira mengikuti langkah Pak Amri menuju ke tempat yang dituju.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah tempat. Tempat itu sangat indah. Terletak di pinggir jalan. Dengan latar belakang sebuah sungai kecil yang mana di seberang sungai itu membentang sawah - sawah penduduk yang luas. Pemandangan yang benar - benar indah.
"Nah, kita sudah sampai, Anak Muda. Itu dia rumahnya." tunjuk Pak Amri ke sebuah rumah kecil yang berada persis di depan mereka.
"Bukan main, sangat pas sekali dengan keinginan kami...!" kata Zyftar. Mata tajamnya menangkap sekelebat bayangan hitam tinggi besar bergerak keluar dari dalam rumah. Kemudian kembali lagi masuk ke dalam rumah.
Putri Humaira yang juga melihat bayangan itu, kemudian memberi isyarat kepada Zyftar untuk bersiap - siap. Siapa tahu bayangan itu mengejar mereka.
"Baiklah, kami ambil rumah ini, Pak!" kata Zyftar.
Setelah menawar dan mendapatkan kesepakatan harga, Zyftar akhirnya berhasil juga mendapatkan rumah itu. Zyftar langsung membayar harga rumah tersebut sesuai harga yang telah disepakati. Pak Amri kemudian menyerahkan kunci rumah tersebut kepada Zyftar. Lelaki tu kemudian berlalu pergi meninggalkan pasangan tersebut dan putrinya.
"Ayo, dinda. Kita masuk ke rumah kita..?" Zyftar mengulurkan sebelah tangannya dan mengajak Putri Humaira untuk melihat rumah tersebut. Sebelah tangan Zyftar yang lain masih menggendong Balqis.
Putri Humaira tersenyum riang menyambut uluran tangan Zyftar. Keduanya melangkah ringan memasuki rumah tersebut.
Namun baru saja keduanya menapakkan kaki teras rumah tersebut, sebuah bentakan keras menyapa keduanya. "PERGI KALIAN DARI TEMPAT INI SECEPATNYA KALAU MASIH INGIN HIDUP..!"