
Putri Humaira tersenyum riang menyambut uluran tangan Zyftar. Keduanya melangkah ringan memasuki rumah tersebut.
Namun baru saja keduanya menapakkan kaki teras rumah tersebut, sebuah bentakan keras menyapa keduanya. "PERGI KALIAN DARI TEMPAT INI SECEPATNYA KALAU MASIH INGIN HIDUP..!"
keduanya saling pandang. Mereka sebenarnya sudah tahu, makhluk seperti apa yang kini sedang bersemayam di tempat yang akan menjadi rumah mereka. Dialah jin ifrit. Jin Ifrit merupakan bangsa setan yang suka mengganggu dan mencelakai manusia.
Ifrit merupakan setan yang berasal dari golongan bangsa jin yang sangat jahat dan durhaka. Ia juga suka menyesatkan dan mengganggu manusia yang beribadah. Mereka juga suka sekali menggangu dan mencelakai manusia.
Makhluk itu tak boleh berada di sana, pikir Zyftar. Ini rumahku sekarang. Tempat istri dan anakku tinggal. Aku harus mengusir makhluk itu dari sini. Ini dunia manusia, bukan dunia jin. Anaknya juga adalah manusia, walaupun istrinya adalah separuh jin dan separuh manusia.
"Dinda Humaira, kau gendong dulu Putri kita. Biar aku yang menghadapi jin Ifrit itu..!" kata Zyftar.
"Baik, Kanda. Hati-hati, jin ifrit penuh tipu daya." kata Putri Humaira mengingatkan Zyftar.
Zyftar tersenyum mendapat peringatan dari sang istri. Dia tahu, Putri Humaira bukan meremehkan dirinya. hanya saja Putri Humaira mengingatkan dirinya karena wanita itu mengkhawatirkan dirinya.
"Menyingkirlah ke tempat yang aman bersama Putri kita, Sayang. Aku mengkhawatirkan Balqis, karena Putri kita itu masih kecil." kata Zyftar sambil mencium dahi Balqis yang sedang tampaknya sudah mulai mengantuk.
"Iyaa, aku mengerti, Kanda.." kata Putri Humaira. Wanita cantik itu beranjak keluar seraya menggendong Balqis. Putri Humaira membawa Balqis menyingkir ke luar dari rumah tersebut.
Tinggallah Zyftar kini seorang diri di depan rumah tersebut. Pemuda itu kemudian kembali ke wujud aslinya, yaitu bersayap dan tubuh berwarna putih seperti kapas. Pemuda itu pun melesat terbang memasuki rumah yang kini sudah menjadi hak miliknya. Rumah yang di dalamnya berisi Jin Ifrit yang sedang bersemayam menguasai rumah tersebut.
"Hahahaha.... rupanya kau pun berasal dari penciptaan yang sama denganku. Pantas saja kamu bernyali besar." kata Jin ifrit tersebut begitu melihat siapa yang datang.
"Walaupun berasal dari unsur penciptaan yang sama, tapi sesembahan kita berbeda" kata Zyftar kemudian.
"Hahh, sombong sekali. Kau hanya pemuda kemarin sore. Aku jadi ingin menjajal habis kemampuan kamu, Anak Muda.." kata jin ifrit dengan sombongnya.
"Silahkan saja..! Aku tidak takut kepadamu. Wahai Ifrit yang dilaknat Allah. Takutku hanya pada murka Tuhanku. Karena murka-Nya, kaummu terusir dari Jannah-Nya." jawab Zyftar.
"Cuih.. Tuhan-mu telah sangat murka kepada kami karena tidak mau sujud kepada manusia, yaitu adam. Lantas mengapa dia tidak murka kepada manusia yang tidak mau sujud kepada-Nya. Sungguh, suatu ketidakadilan yang nyata dari Tuhanmu kepada junjungan kami. Sehingga kami pun akan dengan senang hati untuk menyesatkan lebih banyak manusia agar semakin banyak kerusakan di muka bumi ini sebagai bukti nyata bahwa Tuhanmu Yelah salah memiliki seorang adam sebagai abdinya. Kerena sesungguhnya mereka lebih ingkar dan durhaka kepada Tuhannya." kata Iblish.
"Untuk itulah aku diciptakan. Aku adalah penumpas makhluk seperti dirimu." kata Zyftar. Setelah itu, dia mencabut pedang Halilintar yang secara tak terduga telah hadir di pinggang pemuda itu.
Pangeran Hasyeem rupanya masih kembali mengutus pedang Halilintar miliknya untuk mengikuti Sang putra mahkota Azzylum.
Pedang Halilintar kembali menjadi pasangan Zyftar dan tidak mau meninggalkan Zyftar.
Padahal Zyftar sedang dihukum. Itu pertanda bahwa pedang Halilintar tahu lebih baik dari Pangeran Hasyeem tentang siapa Zyftar sebenarnya. Sehingga di saat - saat genting seperti ini, pedang itu munculnya dan membantu pemuda itu.
Zyftar kemudian membacakan ayat kursi dan meniupkannya dari pangkal pedangnya sampai ke ujung pedang. Seketika, pedang Halilintar mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Cahaya itu sangat menyilaukan mata bagi Jin Ifrit yang sejak tadi sudah berusaha untuk menyerang Zyftar.
Zyftar kembali mengumandangkan ayat kursi sambil mengayunkan pedang Halilintar ke arah Jin Ifrit.
"Allahu Akbar..!!" Zyftar berseru ketika pedang Halilintar beradu kekuatan dengan Jin ifrit. Tercium bau seperti benda terbakar. Itulah bau Jin ifrit yang hangus terbakar oleh pedang Halilintar milik Pangeran Hasyeem yang sudah di lumuri bacaan ayat kursi.
Dengan terbakarnya Jin ifrit, maka lenyaplah sudah pengaruh buruk yang dikeluarkan oleh aura jahat dari Jin itu. Kini rumah itu dipenuhi oleh cahaya yang terang benderang yang hanya bisa di lihat oleh makhluk gaib dan setengah manusia seperti Putri Humaira.
Putri Humaira melihat dan menyaksikan semua itu dari luar rumah. Dia tahu, cahaya itu menandakan bahwa Zyftar sudah berhasil mengalahkan Jin ifrit tersebut.
"Mama, itu cahaya apa...?" tanya Balqis yang tiba-tiba saja sudah terbangun. Gadis kecil yang baru berumur sekitar empat tahun itu menunjuk ke arah rumah mereka.
"Yang mana, Balqis..?" tanya Putri Humaira merasakan keheranan. Apakah Balqis bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
"Itu, Mah. Yang ada di dalam rumah itu..!" seru Balqis , gadis kecil itu.
Apakah Balqis memiliki kekuatan juga...? Tanya Putri Humaira dalam hati.
"Iya, sayang. Itu papa kamu. Mungkin dia mau menyalakan lampu."
"Ohh.... gitu ya, mah." kata Gadis kecil itu.
Kemudian Zyftar keluar dari dalam rumah. Pemuda itu kini sudah berubah wujudnya kembali seperti Zyftar. Pemuda bersahaja tanpa sayap.
"Dinda Humaira. Ayo kita masuk. Hari sudah hampir menjelang malam. Tak baik putri kita berada di luar rumah pada waktu senja hari." kata Zyftar kemudian.
Putri Humaira tersenyum bahagia ketika melihat Balqis makan dengan lahap makanan yang dia sajikan untuk pertama kalinya sebagai seorang istri dan seorang ibu.
"Mah, aku suka yang ini." kata Balqis seraya menunjuk pada ayam goreng yang ada di depannya. Malam ini, Dia membuatkan nasi goreng untuk mereka semua.
Zyftar memenuhi semua kebutuhan mereka tanpa perlu Putri Humaira memintanya.
Ketika tadi untuk pertama kalinya wanita itu berjalan ke dapur, semua apa yang dia butuhkan sudah tersedia di sana.
"*Semuanya ada di sini. Aku harap kamu suka, Putri Humaira.."
Zyftar*
Putri Humaira tersenyum senang mendapati dirinya diam - diam diperhatikan oleh Zyftar.
Dapur itu penuh oleh barang - barang yang di butuhkan oleh manusia pada umumnya. Mulai dari kompor untuk memasak, hingga sampai gelas dan sendok pun tersedia. Aneka peralatan elektronik, mulai dari Kulkas hingga Penanak nasi.
Dan semua kebutuhan pangan untuk makanan manusia pun tersedia di sana. Mulai dari beras hingga minyak goreng. Mulai dari daging sampai telur, ikan dan ayam tersedia di dalam kulkas dua pintu. Mulai dari sayuran hingga aneka buah - buahan. Semua lengkap dan tersedia.
"Papa, ....tidak makan, yah...?" tanya Balqis tiba-tiba. Gadis kecil itu sejak tadi memang tidak melihat papanya menyentuh makanan yang disajikan di hadapan mereka.
"Papa sudah makan tadi. Sekarang tinggal Balqis dan mama saja yang masih belum makan." kata Zyftar. Pemuda itu diam - diam mengambil makanan dan menyuapkan ke mulut Putri Humaira.
"Di istana, kamu selalu di layani oleh para dayang istana. Maka di sini hanya ada aku yang akan melayanimu, Putri." bisik Zyftar.
Putri Humaira menerima suapan itu dengan wajah yang bersemu merah. Akan tetapi hatinya senang dan berbunga-bunga. Ini adalah kali pertama dia disuapin oleh Zyftar.
Malam sudah semakin beranjak larut. Balqis sudah lama tertidur dalam pelukan Zyftar.
Rupanya gadis kecil itu senangnya jika dipeluk dan di elus dulu punggungnya. Barulah dia dapat tidur dengan nyenyak.
"Apakah dia sudah tertidur..?" tanya Putri Humaira.
"Putri kita sudah tertidur lelap sejak tadi." kata Zyftar.
"Kalau begitu, letakkan saja dia di kamarnya." perintah Putri Humaira.
Zyftar kemudian meletakkan Balqis ke atas tempat tidur di kamar gadis itu.
Setelah memberikan doa perlindungan kepada Balqis, barulah kemudian Zyftar keluar dari kamar putrinya itu.
"Dinda Humaira, Dinda belum tidur...?" tanya Zyftar ketika mendapati Putri Humaira masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Entahlah, tapi mataku tak bisa terpejam sejak tadi. Aku tak bisa tidur.." kata Putri Humaira.
Zyftar segera mendekati Putri Humaira.
"Maafkan aku. Bolehkah aku duduk di sini...?" Zyftar menunjuk tempat di sebelah Putri Humaira.
"Duduklah.. Kanda tak perlu merasa sungkan. Aku istrimu, Kanda. Bukan. lagi sebagai Putri Pangeran Hasyeem." kata Putri Humaira.
Zyftar kemudian duduk di sebelah Putri Humaira. Lama keduanya saling berdiam diri.
Zyftar memberanikan diri meraih tangan Putri Humaira dan menciumnya.
"Selamat datang dalam kehidupanku, Putri Humaira. Maaf, jika kamu merasa kurang nyaman. Tak ada dayang - dayang. Tak ada emban pengasuh dan tak ada lagi kemewahan istana seperti biasanya. Sekarang tuan Putri hanya tinggal di rumah sederhana ini saja. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha untuk selalu membuat kamu merasa nyaman dan merasa bahagia. Tegurlah aku, jika saja aku melakukan kesalahan. Dan maafkanlah aku jika tanpa sengaja aku telah menyakiti hatimu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk membuat kalian merasa nyaman dan bahagia. Karena kalian adalah milikku yang paling berharga sekarang ini." kata Zyftar.
Putri Humaira merasa terharu dengan ucapan Zyftar. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di bahu Zyftar. Namun Zyftar meraih tubuh Putri Humaira sehingga kini tubuh putri itu berada dalam pelukannya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu." kata Zyftar.
Putri Humaira membaringkan tubuhnya dalam posisi dipeluk oleh Zyftar. Putri Humaira yang merasa nyaman tertidur nyenyak dalam pelukan Zyftar sampai pagi hari menjelang.