
Malam sudah semakin larut. Hanya kesunyian saja yang masih betah terjaga. Malam ini, sinar bulan hanya sedikit saja yang menerangi bumi. Cahayanya remang-remang sampai ke tempat ini.
Di suatu tempat yang agak tersembunyi, jauh dari keramaian dan juga manusia, seorang pemuda sedang duduk seorang diri. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Karena berkali - kali, matanya yang berwarna kuning terang dengan bintik coklat terang di tengah, memandang ke suatu arah saja, yaitu arah depan tempat dia berada saat ini.
Pembaca yang budiman sudah tentu dapat menebak siapa pemuda itu. Iya, pemuda adalah Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied harus menelan kekecewaan. Karena orang yang dia harapkan dan dia tunggu - tunggu tak juga kunjung menampakkan batang hidungnya. Sementara hari hampir menjelang pagi.
Pemuda itu pun berlalu dengan hati kecewa. Dia tidak bertemu dengan orang yang ingin dia temui.
Akhirnya, pemuda itu melesat terbang ke suatu tempat. Tempat yang biasa pernah dia datangi pada suatu masa di waktu yang berbeda.
Matanya menatap lurus ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Terlihat cahaya temaram dari dalam rumah itu. Cahaya kekuningan dari bola lampu listrik mungkin saja berasal dari lampu kecil. Karena cahaya listrik yang terpancar sangat suram.
Dengan mudahnya, pemuda itu menerobos masuk menembus dinding rumah yang terbuat dari bambu yang di anyam.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun, tengah terbaring lemah di atas dipan tua. Di samping wanita tua itu duduklah seorang gadis belia dengan paras cantik dan lugu.
Jantung pangeran Khalied berdetak kencang. Dia mengenali Itu wajah itu. Gadis itu adalah Zahra. Gadis yang dia cari - cari keberadaannya.
Hati Pangeran Khalied merasa gembira bukan kepalang. Senang akhirnya bisa melihat gadisnya itu lagi. Walaupun Zahra tidak melihat kehadirannya, namun dia berharap Zahra bisa mengingat akan bayangan dirinya.
Pangeran Khalied berjalan mendekati Zahra dan duduk di dekat gadis itu. Menatap lekat - lekat kepada gadis yang menjadi buah kerinduan di hatinya itu.
Betapa ingin Pangeran Khalied memeluk wanita itu. Dirinya benar - benar merindukan gadis itu.
Zahra,... Pangeran Khalied bergumam membisikkan nama Zahra
Zahra sedang duduk di sisi dipan itu merasa mendengar seseorang menyebutkan namanya. Gadis duduk sambil memijat kaki ibunya. Dia melakukannya, seolah-olah tak peduli oleh rasa kantuk yang datang menyerang. Gadis itu terus saja memijat kaki ibunya agar sang ibu merasa nyaman dan bisa tertidur nyenyak.
Tanpa terasa, gadis itu pun ikut pula tertidur. Zahra tertidur sangat lelap sekali, sehingga sampai bermimpi.
Dalam mimpinya, Zahra bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki mata yang sangat aneh. Mata yang tidak seorang pun manusia di bumi ini yang memilikinya.
Pemuda itu hanya menatap ke arah Zahra tanpa berucap sepatah kata pun juga. Lalu tiba-tiba, sebuah lubang hitam menyedot tubuh mereka berdua hingga pemuda itu dan Zahra terbawa ke suatu negeri.
Sebuah negeri yang sangat aneh. Negeri itu mataharinya selalu tertutup awan hitam sehingga selalu gelap.
Akan tetapi kemudian, mereka di serang oleh sesosok ular yang sangat besar.. Saking besarnya ular itu sehingga mampu membentuk sebuah gunung ketika melingkar.
Zahra terbangun ketika merasakan tangannya disentuh oleh seseorang. Ternyata itu adalah tangannya ibunya.
"Zahra, bangunlah,...!" lirih suara ibunya membangunkan Zahra dari tidurnya.
"Ibu,..!?" Zahra tersentak kaget ketika bangun. "Aduhhh..... syukur alhamdulillah, ternyata cuma mimpi." kata Zahra dalam hati.
Tapi kenapa mimpi itu seperti nyata sekali.?" tanya Zahra dalam hati. Ihhh....seram.., Zahra bergidik dalam hati.
"Uhuk...uhuk...Kamu kenapa, nduk.. ? " tanya ibunya sambil terbatuk - batuk.
Zahra menatap ibunya dengan pandangan cemas.
Sudah beberapa hari ini, ibunya terbaring di tempat tidur karena sakit. Zahra tak tahu, harus bagaimana mengobati ibunya. Dia tak memiliki uang untuk membayar biaya perobatan ibunya.
Jangankan untuk berobat, buat makan sehari hari saja, mereka mesti berhutang dulu.
"Tidak apa - apa, buk. Zahra hanya bermimpi buruk." jawab Zahra.
"Makanya, sebelum tidur jangan lupa baca doa dulu. Agar tidak di ganggu oleh setan." nasehat ibu Zahra.
"Iya, Buk.... "
"Ya...sudah, sana, sholat subuh dulu...ahuk.. ahuk.. ahuk..ini sudah siang, entar habis waktunya..!"
Tanpa membantah lagi, Zahra segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Zahra tak menyadari, bahwa semua yang dia lakukan tak luput dari perhatian sepasang pemuda dengan warna mata yang aneh. Pemuda yang semalam hadir dalam mimpinya.
Pemuda itu terus saja mengikuti gadis pemilik bola mata bundar itu kemanapun gadis itu bergerak.
***