
"Apakah kamu bersedia jika aku memintamu untuk melupakan gadis itu..? "
Bagai di sambar petir rasanya jiwa Pangeran Khalied mendengar permintaan ayahnya itu.
Bagaimana bisa ayahnya meminta dia untuk melupakan Zahra. Gadis yang bahkan sudah menjadi belahan jiwa Pangeran Khalied. Itu adalah suatu permintaan yang rasanya amat mustahil untuk dia turuti.
Dengan berani, putra bungsu Pangeran Hasyeem itu menatap ayahandanya seraya berkata, "Ayahanda, katakan padaku, bagaimana rasanya dulu saat kakek meminta ayah untuk melupakan ibunda ratu..." tanya Pangeran Khalied .
Pangeran Hasyeem terperangah mendengar pertanyaan putranya. Pangeran Hasyeem mengakui bahwa putranya itu sungguh cerdas.
Pangeran Hasyeem manggut - manggut mendengar pertanyaan Pangeran Khalied. Pangeran Hasyeem kemudian tersenyum seraya menepuk bahu Pangeran Khalied.
"Aku sudah menduga, pasti kamu akan melontarkan pertanyaan seperti itu, Pangeran." ucapnya kemudian.
Kening Pangeran Khalied berkerut ketika mendengar ucapan ayahandanya. Apa maksud dari perkataan ayahandanya itu..?
Apakah ayahnya itu sedang bermaksud untuk menguji hatinya, tanya Pangeran Khalied dalam hati.
Namun agaknya Pangeran Khalied tak perlu untuk menyembunyikan isi hati dan pikirannya. Ayahandanya sudah barang tentu mengetahui dengan baik apa saja tentang isi hati dan pikirannya.
"Maafkan atas kelancangan ananda, ayahanda. Jawaban ananda mungkin akan membuat ayahanda kecewa. Tapi aku tak bisa memenuhi permintaan ayahanda karena aku sangat mencintai Zahra." jawab Pangeran Khalied dengan tegas.
Pangeran Hasyeem kini balas menatap ke arah Pangeran Khalied. Kedua ayah dan anak itu kini saling berhadapan.
Ayah Pangeran Khalied itu tidak marah atau gusar saat mendapati bahwa putranya telah berani menentang keinginannya.
Malah sebaliknya, Pangeran Hasyeem merangkul putranya itu dan memeluknya.
"Aku tahu, bahwa kau sangat mencintai gadis itu. Karena alasan itulah, maka aku memintamu untuk melupakan gadis itu, Pangeran. Apa kau lupa, kita sedang menghadapi peperangan dengan raja iblish dan sekutunya."
"Pangeran Khalied, kau lupa satu hal, jika sampai raja Iblis tahu akan hal itu, maka bisa di pastikan bahwa kekasihmu itu akan dijadikan sebagai senjata untuk mengalahkan dirimu. Meskipun kamu memiliki pedang Mata Malaikat, tetap saja, kau tak akan mampu untuk melindungi gadis itu." ucap Pangeran Hasyeem.
Pangeran Khalied terperanjat mendengar penjelasan ayahandanya. Pahamlah dia kemana maksud dan tujuan ayahandanya itu meminta dia melupakan Zahra.
Bukan lantaran ayahandanya tidak menyukai gadis pilihannya itu, akan tetapi karena ayahnya itu tak ingin gadis itu menjadi incaran raja Iblis dan dijadikan senjata untuk mengalahkan dirinya atau pun ayahnya.
"Aku paham akan maksud ayahanda meminta aku untuk melupakan Zahra. Tapi aku tak bisa menjamin apakah aku akan mampu untuk melakukannya. Melupakan gadis itu dari pikiranku sama seperti membunuhku secara perlahan, Ayahanda." ucap Pangeran Khalied.
Pangeran Hasyeem menepuk bahu Pangeran Khalied seolah-olah memberi kekuatan kepada putranya tersebut untuk tegar dalam menghadapi cobaan hidup dan cinta.
"Bersabarlah, semoga ada jalan untuk kalian berjodoh. Semoga saja, peperangan ini mendapat pertolongan dari Allah.. " doa Pangeran Hasyeem.
Pangeran Khalied tak menanggapi ucapan ayahnya itu. Dengan lesu, Pangeran Khalied kembali lagi ke Bukit Malaikat, dimana kekasihnya sedang menanti dirinya.
"Kak, Kakak dari mana...? Aku mencari - cari kakak. " tanya Zahra. Gadis itu sejak tadi memang mencari - cari keberadaan sosok Pangeran Khalied di istana itu.
"Aku pergi menemui ayahku." jawab Pangeran Khalied seraya memeluk tubuh mungil Zahra ke dalam Pelukannya.
"Kak, aku malu. Kakak memelukku di hadapan mereka. Aku jadi malu.." ucap gadis itu.
Pangeran Khalied terkekeh - kekeh mendengar gerutuan Zahra. Dia mengerti bahwa Gadis itu sedang cemas menanti dirinya.
"Apakah kau ingin kembali lagi ke alam manusia...!" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.
"Tentu saja. aku sudah sangat sangat keluarganya, khususnya ibuku.. " jawab Zahra.
Pangeran Khalied tertegun saat mendengar ucapannya Zahra tersebut. Rupanya Zahra masih saja lupa bahwa ibunya telah wafat.