Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 29 Buto Ijo (Part 2)


"Apa yang terjadi...?" tanya Pangeran Arkana kepada Zaddak.


"Ada serangan Buto ijo, Pangeran..!" jawab Zaddak.


Pangeran Arkana dan Kania saling pandang.


"Apa, buto Ijo...??! " tanya Kania tak percaya.


"Benar sekali, Nona Kania. Buto Ijo adalah raksasa yang bertubuh sangat besar dan berwarna hijau."


Pangeran Arkana menatap Zaddak dengan heran.


Benarkah ada buto Ijo di negeri ini..? Bagaimana mungkin...


Kembali tempat itu bergetar hebat. Kania sampai berpegangan di lengan Pangeran Arkana karena tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. Sangking hebatnya getaran yang ditimbulkan kali ini, beberapa dinding batu yang memagari tempat tersebut bahkan ada yang sampai retak.


Zamura melesat cepat mendatangi Pangeran Arkana. Tugas dia melindungi tuannya jika tuannya itu dalam bahaya.


"Tuanku, hamba ingin tahu, sebesar apa makhluk yang bernama buto Ijo itu hingga mampu menyebabkan getaran sedemikian rupa..? "


"Melihat getarannya, pastilah itu sesuatu yang teramat besar, Zamura. Bagaimana jika kau dan aku mencoba mencari tahu ke atas sana.. "


"Sepertinya ide yang bagus, tuanku.. "


Pangeran Arkana dan Zamura melesat naik ke atas puncak menara untuk melihat apa yang terjadi.


Benar saja, dari atas puncak menara, di antara kegelapan tempat itu, mereka berdua bisa melihat sesosok makhluk bertubuh tinggi dan sangat besar sedang berjalan ke arah mereka. Makhluk itu sepertinya sedang marah. Dia mengamuk membabi buta dan menghancurkan segalanya apa yang ada di dekatnya.


Karena suasana tidak seterang di alam dunia, maka warna hijau seperti yang dikatakan Zaddak tidak terlalu bisa terlihat. Makhluk itu lebih terlihat seperti monster raksasa yang sedang bergerak dan mengamuk membabi buto.


"Makhluk itu sepertinya sedang mengamuk, Tuanku. Apakah perlu kita mendatanginya..? " tanya Zamura.


"Pangeran, Raksasa buto Ijo itu mengamuk atau marah karena merasa lapar. Sebentar lagi, dia akan sampai kemari. Dia akan mengambil apa saja yang bisa di makan. Bahkan anak - anak kami sudah berapa kali menjadi santapan buto Ijo.. " kata Zaddak dengan sedih.


"Astaga... mengapa kalian tidak melakukan perlawanan...?? " Tanya Kania kesal.


"Kami sudah melakukan perlawanan. Namun raksasa itu terlalu kuat. Banyak di antara kami yang sudah menjadi korban keganasan monster itu. Sekarang, lebih baik kita bersembunyi, sebelum raksasa itu sampai ke tempat ini." kata Zaddak.


Semua anak - anak dan keluarganya sudah bersembunyi di tempat yang aman, yaitu gua kecil dimana tempat ramalan Zaggart berada. Tempat itu lah satu - satunya tempat yang paling aman bagi mereka.


Pangeran Arkana menatap Kania dan juga Zamura. Gadis itu sepertinya sangat kesal.


"Bagaimana, apakah kita ikut juga bersembunyi ataukah kita melawan dan


"Aku rasa itu bukan ide yang buruk, Tuan. Terlebih, Kania juga sedang terluka." kata Zamura.


"Apa kau bilang, Zamura. Enak saja kondisiku kau jadikan alasan untuk sembunyi dari makhluk jelek itu. Tidak... aku tidak akan bersembunyi. Lebih baik aku melawan saja walaupun sampai titik darah terakhir."bentak Kania tanpa rasa takut.


Zamura terdiam karena kaget mendengar bentakan Kania. Demikian juga dengan Pangeran Arkana. Gadis ini, mengapa sekarang menjadi berani.


"Kania, bagaimana dengan luka di punggung kamu. Zamura benar, jika kamu masih terluka, maka mustahil bagi kita untuk bertarung."


Memang benar, luka di punggung gadis itu sudah sembuh. Bahkan yang mencengangkan, tak ada segorespun bekasnya di tubuh Kania. Punggung gadis itu mulus seperti sedia kala.


Mata Pangeran Arkana melotot melihat tubuh bagian atas gadis itu yang tak tertutup sehelai benang pun.


"Zamura, palingkan wajahmu sekarang juga..!" bentak Pangeran Arkana kesal karena jin yang satu itu tak segera memalingkan wajah atau menutup matanya saat melihat 'pemandangan' indah dari tujuh Kania.


Alih-alih memalingkan wajah, Zamura malah menghilang dari hadapan Kania dan Pangeran Arkana. Begitu pula halnya dengan Pangeran Arkana. Pemuda itu menghilang secepat kilat karena tidak ingin membuat Kania semakin malu.


Tinggal Kania seorang diri di tempat itu. Dia lalu merobek sisa - sisa kain di tubuhnya untuk di jadikan penutup sekwilda (Sekitar wilayah dada) agar bagian itu tertutupi.


Kini tubuh gadis itu sudah tertutup kembali walaupun tidak sepenuhnya. Namun masih lumayan dari pada tidak sama sekali, pikir Kania.


"Arka... Arka...! Zamura..! Kalian dimana..? " panggil gadis itu.


"Arka....!" tidak ada sahutan. Kania memandang ke sekeliling tempat itu. Sepi.... tempat itu sepi sekali.


Astaga, baru dia sadari, bahwa tidak ada orang lain lagi di tempat ini selain dirinya karena semuanya bersembunyi lantaran takut dengan buto Ijo.


"Mengapa tadi aku membuka perbanku. Setidaknya, aku masih punya teman. Kini, Arka dan Zamura juga pergi. Nasib... nasib... " keluhnya sedih.


Tanpa dia sadari, sesosok makhluk sedang mengawasi dirinya dari kejauhan. Mata makhluk itu tak berkedip menatap dirinya dengan pandangan berbinar. Mata makhluk itu tak hentinya mengawasi setiap gerak geriknya kemanapun dirinya bergerak.


Air liur makhluk itu sampai menetes ketika melihat betapa lunaknya daging itu. Sungguh - sungguh santapan yang sangat lezat, pikirnya.


Dengan sekali lompatan, makhluk itu telah berdiri di tempat yang tak jauh dari Kania. Gerakan yang dia lakukan membuat tempat itu kembali bergetar hebat. Kania terjatuh karena tidak mampu mengimbangi tubuhnya.


Sekarang, makhluk itu sudah berdiri persis di hadapannya. Menatap dengan penuh minat terhadap Kania yang merupakan daging segar baginya.


"HAHAHAHAA, HAHAHAA... rupanya ada santapan lezat di tempat ini. Sudah lama aku tak makan daging manusia...!" kata Si Buto Ijo.


"Astaghfirullah haladzzim,-apa itu..? tanya Kania seraya mendongak ke atas. Dia melihat ke atas dan mendapati sesosok makhluk tinggi besar dan berwajah sungguh mengerikan. Makhluk itu entah berwarna hijau atau hijau kehitaman. Liur makhluk itu berjatuhan dari mulutnya yang terbuka lebar.


" BU - BU - BUTO IJO...!!" jerit Kania sekuat - kuatnya sambil berlari kencang tak tentu arah.


"Arka....! Zamura...! Tolongggg.... ada buto ijo...!!! " teriaknya lagi.


Dirinya terus berlari dan berlari mencoba untuk menghindar dari kejaran buto Ijo yang sangat bernafsu sekali untuk menangkapnya.


Mirip ceritaTimun Emas dan Buto Ijo di Negeri Dongeng. Di mana yang menjadi Timun Emas nya adalah dirinya.


Beberapa kali, tangan besar buto Ijo hampir berhasil menangkap Kania. Hingga suatu ketika...


"Sttt..Kania, sebelah sini...!!" sebuah tangan berhasil menarik tangan Kania dan membawa gadis itu ke sebuah tempat yang tersembunyi.


"Arka....!!! Kamu dari mana. Aku sudah bilang, jangan tinggalkan aku..! " sungut gadis itu kesal.


"Sttt... pelan - pelan. Telinga makhluk itu sangat tajam. Dia bisa mendengar apapun yang kita bicarakan."