Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 45


Nagini kemudian mengejar pangeran Khalied dan Zamura.


Pangeran Khalied mengeluarkan ilmu Halilintar dan menggabungkannya dengan ilmu mata Malaikat milik Pangeran Arkana untuk menghadapi Nagini, makhluk ular penunggu Sumber mata air tak terlihat itu.


"Zamura, kau jaga kedua gadis itu. Biar aku dan Pangeran Arkana yang akan menghadapi ular raksasa itu..!" perintah pangeran Khalied pada Zamura.


"Baik, Tuanku." jawab Zamura. Kedua gadis dari golongan manusia itu kini berada di bawah pengawasan Zamura. Keduanya di bawa masuk oleh Zamura ke dalam celah lubang di sela - sela tebing batu itu. Zahra masih belum sadarkan diri. Sedangkan Kania, gadis itu masih dalam keadaan sadar, hanya saja tubuhnya dalam keadaan tertotok. Sehingga amat sulit baginya untuk melakukan pergerakan.


Memanglah, Pangeran Arkana tidak menghendaki terjadi masalah yang tidak diinginkan selama dia bertarung melawan Nagini.


"Bagus..sepertinya celah ini aman dan tersembunyi dari incaran ular itu. Sepertinya Kania dan Zahra akan aman di sana..!"


Memang benar, celah kecil yang terlihat di antara tebing - tebing terjal gunung Tengkorak adalah merupakan sebuah gua. Gua itu memang memiliki mulut yang sempit, akan tetapi bagian dalam gua itu sangat panjang dan memiliki percabangan di ujungnya. Ujung gua itu terpisah menjadi tiga.


"Aku rasa tempat ini aman dari makhluk itu. Aku bisa mengawasi keduanya dari mulut Gua sambil melihat keadaan di luar sana." pikir Zamura.


Sementara itu, di luar gua kedua pangeran dari Negeri jin itu sedang terlibat pertarungan yang seru dan dahsyat. Sudah puluhan kali petir dan juga Halilintar menyambar - nyambar tubuh Nagini.


Memang untuk menghadapi makhluk melata bertubuh besar dan panjang itu. keduanya terlihat m saling bahu membahu untuk bisa mengalahkan Nagini.


Pangeran Khalied mengeluarkan jurus Ilmu pedang Halilintar dan Pangeran Arkana mengeluarkan ilmu mata Malaikat.


Pukulan demi pukulan masih terus dilancarkan kepada Nagini. Namun ular itu seolah-olah bergeming. Tetap diam sambil terus mengawasi ketiganya dalam diam. Berkali-kali pula pedang Pangeran Khalied berhasil menebas tubuh Nagini, namun tampaknya tubuh Nagini begitu sulit untuk di lukai. Tubuh Nagini seolah olah kebal terhadap senjata.


"Paman, sepertinya kita tidak bisa menghadapinya dengan ilmu itu. percuma juga jika kita melukainya jika pada akhirnya tubuh Nagini akan kembali utuh seperti sedia kala." jawab Pangeran Arkana.


"Kalau begitu, kau pikirkan bagaimana caranya agar Nagini dapat kita kalahkan. Cepatlah, pikirkan sesuatu karena kita hampir kehabisan waktu..!" desak Pangeran Khalied lagi.


"Aku sedang memikirkan hal itu, paman. Bagaimana caranya kita dapat mengalahkan ular itu dan keluar hidup - hidup dari tempat ini." tukas Pangeran Arkana.


"Berpikirlah, aku rasa kita sudah mulai kehabisan tenaga jika terus - terus seperti ini. Sebentar lagi hari akan berganti malam. Akan semakin sulit bagi kita untuk melihat pergerakan Nagini karena dalam gelap, ular itu makin leluasa bergerak.Lagi pula ular itu tidak bodoh, dia pasti sudah mengenal dengan baik daerah ini." ujar Pangeran Khalied.


Pangeran Arkana terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba saja pemuda itu mendapat ide.


"Paman, ayo ikuti aku. Aku punya sebuah rencana." ujar Pangeran Arkana seraya melesat pergi ke arah celah di pinggir tebing di mana terdapat Zamura yang berdiri mengambang di depan mulut gua.


"Zamura, masuklah ke dalam gua. Kau jaga kedua gadis itu. Aku punya rencana..! " seru Pangeran Arkana.


Cepat Zamura masuk ke dalam gua kembali dan segera dia berjaga-jaga sambil matanya tak henti mengawasi kedua tuannya dan juga kedua gadis itu. Dia belum tahu, apa rencana Pangeran Arkana. Namun dia yakin, rencana itu pasti berhasil.


Nagini terlihat merayap di dasar lembah kaki Gunung Tengkorak. Tubuhnya yang berwarna hitam legam terlihat seperti sebuah batang kayu raksasa yang bergerak membelah lembah itu.


"Awas, Pangeran. Kepala Nagini ada di bawahmu..!" seru Pangeran Khalied ketika melihat kepala Ular besar itu sekarang tepat berada di bawah mulut gua, bersiap untuk merayap naik ke tebing itu