Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 128 Kisah Balqis ( Part 3 )


Sekali lagi Zyftar kemudian bergerak ke arah Dukun tersebut dan tanpa terduga kembali pemuda jin itu mengayunkan pedang halilintar ke arah dukun itu.


Crasss.....


Kepala dukun itu pun terpisah sudah dari badannya.


Tapi itu hanya sesaat saja. Tubuh dukun itu masih hidup dan berjalan. Sedangkan kepalanya yang jatuh terguling di lantai, tertawa terbahak - bahak, seolah - olah mentertawakan Zyftar.


"Ha.. ha...ha... ha...ha..ha... kau tak akan bisa membunuh kami, Jin Keparat..! Karena kami semua kekal. Tak bisa mati..!!" kata dukun itu.


Tubuh kedua orang tua gadis itu juga sudah kembali lagi seperti sedia kala. Tak ada sama sekali terlihat bekas luka yang membekas di tubuh mereka.


"Hmm, rawa rontek.. ilmu yang kalian pelajari adalah ilmu hitam. Kalian semua sudah terjerumus ke dalam ajaran sesat. Dan semua ini karena dirimu..!" tunjuk Zyftar ke dukun tersebut.


"Kau lah yang bertanggung jawab atas semua kesesatan ini. Maka dari itu, maka kau harus si musnahkan terlebih dahulu..!" kata Zyftar lagi.


Kali ini, pemuda jin itu menggoreskan ujung pedang Halilintar miliknya ke tanah sebelum kemudian mengayunkan ke tubuh kedua orang tua gadis kecil itu. "Aku sudah kehabisan waktu untuk semua ini. Aku hanya perlu darah kalian saja..!" kata Zyftar.


Tubuh Zyftar tergetar hebat dan terpental ketika pedangnya beradu dengan tenaga dalam keduanya.


"Hah, aku kira kau sedemikian tangguhnya, anak muda." Ternyata kamu tak lebih dari hanya sekedar omong kosong belaka..!" kata Dukun itu.


"Sombong sekali kau manusia yang dilaknat Allah..! Kau pikir ilmu kamu itu sungguh hebat...?" kata Zyftar.


"Hah, bukan sombong, tapi ini kenyataan. Kalau Tak percaya, kau boleh menjajalnya sekarang..!" kata dukun itu seraya menyodorkan anggota tangannya yang lain.


"Allahu Akbar..!!'


Zyftar kembali mengayunkan pedang Halilintar dan kali ini tepat mengenai tubuh kedua orang tua gadis itu.


Zyftar tersenyum sinis, dia ingin. melihat sampai sejauh mana kesombongan manusia - manusia yang takabur itu.


Tubuh keduanya terbelah dua di udara dan sebelum jatuh ke bumi, dia menangkapnya dan kemudian memisahkannya masing-masing menjadi dua bagian. Lalu menggantung tubuh keduanya di udara. Yang terjadi kemudian adalah tubuh kedua orang tua gadis itu terbakar oleh pedang Halilintar.


Terdengar suara jeritan pilu dan menyayat hati dari potongan - potongan tubuh tersebut. Rupanya, potongan tubuh keduanya belum lagi mati sehingga ketika terbakar mereka menjerit - jerit karena merasa kesakitan.


Kemudian, hanya sejurus saja dan dalam sekelebatan mata saja, sebuah cahaya putih berkelebat dan tau - tau terpotonglah tubuh dukun tersebut menjadi empat bagian.


Dengan gerakan yang melebihi kilat, Zyftar menyambar empat bagian tubuh dukun yang konon katanya sakti tersebut di udara dan kembali menggantungkannya di udara.


Sama dengan yang terjadi dengan tubuh orang tua gadis kecil itu. Tubuh dukun itu pun perlahan-lahan terbakar oleh sengatan cahaya Halilintar dari pedang Halilintar milik Pangeran Hadyeem. Dukun itu berangkat ke akhirat menyusul kedua orang tua gadis kecil itu.


Pemuda itu tersenyum samar sambil memegang sebuah tabung kecil yang berisi darah kedua orang tua gadis kecil itu. Setelah menebas kedua orang tua gadis kecil itu, dia sempat menadahkan tabung tersebut ke tubuh kedua orang tua gadis tersebut untuk mengambil darahnya.


Dengan ringan dan tanpa ekspresi, dia kemudian pergi meninggalkan tempat itu untuk menemui Putri Humaira dan ruh gadis kecil itu yang masih setia menunggu kedatangan Zyftar di tempat tadi.


"Tapi sekarang sudah hampir pagi, Zyftar. Apakah kita masih sempat...?' tanya Putri Humaira ragu.


" Insya Allah, kita masih sempat." kata Zyftar. "Maafkan hamba, tuan Putri.." Pemuda itu sekali lagi memegang jemari Putri Humaira untuk mengajaknya terbang.


"Iya, tak apa - apa, Zyftar..!" kata Putri Humaira.


Sebenarnya di dalam hati Putri Humaira, bukan seperti itu yang terjadi. Jantung Putri Humaira berdetak kencang. Pipi Putri itu diam - diam merona merah. Getaran akibat sentuhan tangan Zyftar menembus sampai ke hati Putri Pangeran Hasyeem itu.


Sejak pertama kali Zyftar memegang tangannya, jantung Putri Humaira berdetak kencang. Entah mengapa, dia merasa sangat gugup ketika kulit tangan Zyftar bersentuhan dengan kulit tangannya.


Hal yang tidak pernah dia rasakan ketika bersama dengan Pangeran Sya'if. Jika dengan Pangeran yang terkenal santun itu, Putri Humaira merasa segan dan selalu merasa canggung karena takut dan serba salah dalam bersikap dan bertutur kata.


Maka dengan Zyftar dia merasa santai dan biasa saja. Sikap Zyftar yang selalu hormat dan melindungi, membuat Putri Humaira merasa tak pernah merasa khawatir dan takut terhadap apapun.


Dalam sekejap, mereka tiba di rumah sakit. Ketiganya bergegas pergi ke kamar jenazah untuk mendapatkan jasad gadis kecil itu.


Setelah menemukan jasad gadis kecil itu, Zyftar langsung membawa jasad tersebut ke lantai atas rumah sakit. Dia membutuhkan ruang terbuka untuk menghimpun kekuatan alam dari ke empat elemen mata angin utama dan empat elemen kekuatan alam.


Jasad Balqis, gadis kecil yang tewas di bunuh oleh kedua orang tuanya sebagai tumbal untuk ilmu kebal dan kekayaan itu dibaringkan di atas lantai dengan posisi kepala menghadap kiblat.


Zyftar kemudian mengeluarkan pedang Halilintar sekali lagi dan mengacungkan ke atas menuju langit seraya berseru.


"Aku meminjam kekuatan dari empat penguasa mata angin, aku meminjam kekuatan dari empat penguasa elemen alam. Aku, atas seizin Allah, yang menguasai hayat dan maut dari seluruh makhluknya, yang menguasai seluruh ruh dari semua makhluknya, untuk menghidupkan kembali jasad yang bernama Balqis binti Hamzah bin Juhair. "


Zyftar terus - menerus mengucapkan perkataan tersebut. Yang terjadi adalah langit subuh yang kelam dan hitam semakin berwarna hitam karena tertutup awan. Petir berkali-kali menyambar di angkasa. Suasana begitu mencekam dan menakutkan bagi siapa saja yang melihat dan mengalaminya.


Tiba-tiba, seberkas cahaya menyambar pedang Halilintar tersebut. Tubuh Zyftar bergetar hebat karena menahan kekuatan empat elemen alamda empat elemen mata angin yang masuk secara bersamaan di tubuhnya.


Hingga akhirnya, pedang itu terlepas dari pegangan Zyftar dan bergerak menuju ke jasad Balqis.


Pedang Halilintar tersebut menggantung tepat di atas kepala Balqis. Sinarnya masuk melalui ubun - ubun gadis itu.


Perlahan - lahan, tubuh gadis itu bergerak. Gadis itu membuka mata dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tuan penolongnya, yaitu Zyftar.


Gadis kecil itu memandang wajah Zyftar dan juga Putri Humaira tanpa sedikitpun merasa takut..


"Mama..! Papa... !!" seru gadis kecil itu kemudian.


Putri Humaira dan Zyftar serentak saling pandang.


Mama, papa...???


Siapa yang dipanggil gadis kecil itu dengan panggilan mama dan papa..? pikir keduanya heran.