Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 143 Karma Yang Tertinggal


Saat Ular tersebut hendak menyemburkan sesuatu dari mulutnya ke tubuh Kania, Pangeran Arkana dengan sigap menyambar dan menangkap ular tersebut seperti gerakan elang yang menyambar Cobra. Pangeran Arkana melemparkan ular tersebut jauh - jauh.


"Enyahlah dari tempat ini siluman ular busuk.. !" usir Pangeran arkana.


Akan tetapi semua jauh dari perkiraan Pangeran Arkana. Ular itu kembali lagi mendekati Kania. Kali ini dengan gerakan tak terduga, ular berwarna putih itu langsung melilit Kania.


Kania tak mengerti mengapa tiba - tiba saja dia merasakan sesak di dadanya. Padahal sebelumnya, gadis itu merasa. baik - baik saja.


"Aduh...! kenapa sakitnya semakin terasa..?" Kania menekan dadanya yang kini seperti akan meledak. Jantung dan paru-parunya seperti menelan literan air.


Kania jatuh tersungkur karena tak kuat menahan sakit.


Secara tak kasat mata, ular tersebut melilit tubuhnya sehingga gadis itu merasakan sesak di dada.


Sambil memegangi dadanya, Kania berusaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya agar dia dapat bernafas dengan kembali secara teratur.


Melihat Kania yang dililit oleh siluman ular putih, Pangeran Arkana turun tangan membantu gadis itu.


Dengan sekali sentak, tubuh ular itu terlepas dari tubuh Kania. Dengan geram, pangeran Arkana membawa tubuh siluman ular itu terbang ke angkasa.


Di angkasa, pangeran arkana menggerakkan pedangnya dan menebas tubuh ular itu hingga terpotong menjadi beberapa bagian lantas menebarkan ke empat penjuru mata angin utama.


"Aku penasaran, mengapa siluman ular putih tiba-tiba ada di rumah sakit ini, yah..?" tanya Pangeran Arkana heran.


Baru kali ini dia melihat penampakan Siluman ular putih di rumah sakit milik bibinya ini.


"Kania, kamu tidak apa-apa..?" tanya Pangeran Arkana cemas.


Semenjak kematian kedua orangtuanya, Kania mengetahui siapa jati diri Arka. Dan dia juga tahu, seperti apa karakter Arkana.


Pemuda pemilik mata yang indah itu adalah makhluk yang tidak bisa terlihat oleh mata manusia biasa kecuali jika Arka mengizinkannya.


Dia tahu dengan pasti, bahwa yang telah menyelamatkan dirinya. adalah pemuda itu.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjaga dan melindungi dirimu, Kania.." itu adalah janji yang di ucapkan oleh Pangeran Arkana sesaat setelah penguburan jasad kedua orang tuanya Kania.


"Tunggu dulu, apakah kamu ingat apa yang pernah budemu katakan sebelum kamu kembali lagi ke mari..?"


"Yang mana, Arka...?" tanya Kania dengan ekspresi wajah bingung.


"Budemu mengatakan jika kematian ayah dan ibumu itu adalah bukan murni kecelakaan, Mereka jadi tumbal dari perjanjian yang telah mereka lakukan dengan Genderowo penghuni hutan Tarik ." kata Pangeran Arkana.


"Lantas, apa sangkut pautnya hal itu dengan semua ini, Arka..?" tanya Kania..


"Tentu saja, ada.. kamu sebagaimana yang kamu ketahui, bahwa ayah dan ibumu sudah tiada. Maka kewajiban itu harus kamu yang menanggungnya" kata Pangeran Arkana.


Mulut Kania terbelalak sangking tak percayanya. Mengapa harus dirinya yang menanggung kewajiban orang tuanya.


Jadi, apakah aku mesti harus menikah dengan genderuwo itu...? Bukankah pada malam itu kakak sudah berhasil mengusir genderuwa itu.. ? Kenapa sekarang mahkluk itu kembali bisa lagi..?".tanya Kania.


"Biarkan aku bertanya dulu. Apakah kau sering bermimpi aneh di datangi oleh seorang lelaki."


"Benar sekali, bagaimana kamu bisa tahu, Arka. .?! Tanya Kania heran.