
Pangeran....cepat bawa kembali ibu ratu. Berbahaya jika sampai ibu ratu berada di tempat ini....!" seru Pangeran Hasyeem.
Iblis Baal, Melihat ke arah Ratu Asmi. Wajahnya langsung berseri gembira setelah tahu siapa yang datang menyusul. Wajah Raja iblis itu tersenyum licik..
"Sepertinya pertunjukan utama sudah hampir tiba..."
Raja iblis menyeringai menampakkan semua giginya yang runcing. Dia tahu sekarang, apa yang menjadi titik lemah seorang pangeran Hasyeem.
Wanita itu.... wanita yang di cintai oleh Pangeran Hasyeem. Dan Wanita itu berasal dari kalangan Manusia. Tentunya wanita itu sangat spesial.
Segera, Pangeran Khalied membawa kembali ibunya ke istana. Akan tetapi, rupanya istana kini sudah bukan lagi tempat yang aman. Apalagi terdengar kabar bahwa Putri Ambika dan kedua Putranya Fatan dan Zatan telah gugur.
Seluruh keluarga istana berduka. Ratu Asmi sampai tak bisa lagi bersuara karena sangat terpukul akan berita duka tersebut.
Tentara iblis sudah mulai berdatangan dan menerobos masuk ke istana. Mereka membunuh siapa saja yang mereka jumpai di dalam istana.
Pasukan Ammar bergerak menuju ke Istana. Sedangkan pasukan raja Haizzar mempertahankan sambil membendung serangan musuh.
Para Sekutu Pangeran Hasyeem baik dari Kerajaan jin atau pun siluman yang ada di sekitar Kerajaan istana Bukit Malaikat semakin banyak berdatangan.
Pasukan siluman Harimau dan Kerajaan Pasir Awan merupakan Kerajaan yang terdekat dengan Bukit Malaikat. Mereka sudah tiba terlebih dahulu.
Menyusul Pasukan dari Raja Marick dan juga Kerajaan - Kerajaan lainnya yang merupakan Sekutu Pangeran Hasyeem. Mereka semua datang membantu.
Keadaan kini imbang. Jumlah pasukan Raja Iblis dengan jumlah pasukan Pangeran Hasyeem sama banyaknya. Pertempuran besar kini terjadi di istana Bukit Malaikat.
***
Putri Humaira dan Zyfhar kini sudah berada di depan istana. Keduanya tampak sedang terdesak dan sedikit kerepotan menghalau serangan tentara iblis yang mencoba menerobos memasuki ke istana.
Pangeran Khalied dan Ratu Asmi melihat Putri Humaira dalam bahaya. Ratu Asmi cemas melihat keadaan Putri Humaira dan Zyfthar yang semakin terdesak karena jumlah tentara Iblis yang mengepung mereka semakin banyak.
Segera saja Ratu Asmi memerintahkan kepada Pangeran Khalied agar segera membantu Putri Humaira.
"Pangeran Khalied, cepatlah kau bantu Putri Humaira..!!"
Pangeran Khalied bingung mendengar titah ibundanya. Dia tak bisa begitu saja meninggalkan ibundanya seorang diri. Akhirnya dia memanggil Ki Anom dan berkata.
"Ki Anom, tolong lindungi ibu Ratu Asmi dan Zahra dulu. Aku hendak pergi menolong Putri Humaira..!" Perintah Pangeran Khalied kepada Ki Anom.
"Baik, Pangeran Khalied." jawab Ki Anom. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tegap dan perkasa itu segera berdiri di dekat Ibunda Ratu Asmi dan Zahra.
Ratu Asmi juga tak tinggal diam. Dia segera mencabut pedangnya dan kini bergerak lincah menerjang musuh yang ingin mendekati dirinya.
"Zahra, ambil tombak itu...!" tunjuk ratu Asmi saat melihat ada tombak dari salah satu prajurit yang tewas di medan pertempuran.
Zahra segera mengambil tombak yang tertancap di tanah dan langsung menggunakannya untuk membunuh tentara Iblis yang hendak menyerangnya.
"Iya... bagus. Gunakan itu sebagai senjatamu..!" kata Ratu Asmi kepada Zahra.
"Baik, Ibu Ratu..!" ucap Zahra sambil kembali lagi mengayunkan tombaknya. Bahkan, saat matanya melihat pedang yang tergeletak di tanah, dia segera memungutnya dan menggunakannya bersama - sama dengan tombaknya.
Pangeran Khalied datang membantu putri Humaira dan Zyfhar. Dengan sekali libas, tentara iblis jatuh bergelimpangan dan kemudian musnah oleh pedang Mata Malaikat miliknya.
Raja iblis yang mengawasi Ratu Asmi dari kejauhan melihat bahwa Ratu Asmi kini sedang tidak bersama Pangeran Khalied.
Dia segera memerintahkan kepada para tentaranya untuk mengepung dan menangkap Ratu Asmi.
Pangeran Hasyeem yang mengetahui keinginan Raja Iblis Baal menjadi cemas..
Dengan ilmu telepati, Pangeran Hasyeem menghubungi Pangeran Khalied segera meminta Pangeran Khalied agar lebih hati -hati dan Waspada dalam menjaga Ratu Asmi.
"Pangeran Khalied, Raja Iblis mengincar ibundamu, Waspadalah.. Jangan biarkan ibundamu sendiri.! " ucap Pangeran Hasyeem.
"Astaga.... Maafkan aku, Ayahanda. Aku lalai dalam menjaga ibunda. Ibundaku memerintahkan aku untuk menolong ibu Putri Humaira yang sedang dalam bahaya... " jawab Pangeran Khalied.
"Tuanku, Ibu ratu dalam bahaya.Kami sedang dikepung oleh tentara Iblis..." kata Ki Anom pada Pangeran Hasyeem melalui ilmu telepati jarak jauh.
Pangeran Hasyeem cepat melesat terbang ke istana untuk melihat keadaan Asmi. Melihat Pangeran Hasyeem terbang melesat ke istana, maka Raja Iblis Baal pun ikut terbang mengejar Pangeran Hasyeem.
Sementara itu, Putri Humaira yang lolos dari kepungan tentara Iblis, segera mendatangi Ibundanya.
Di sisi lain juga terlihat Andros dan Putri Aryyan bersama anak - anaknya yang masih remaja juga tengah bertempur mati-matian menghadapi keganasan pasukan Raja Iblis Baal yang tak mengenal ampun.
"Putri Arryan,... bawa ibumu keluar dari istana ini sekarang. Katakan ini perintah ayah...!" kata Pangeran Hasyeem kepada Putri Arryan.
"Baik, Ayahanda... ananda akan segera menemui dan membawa ibunda keluar dari tempat ini... " ucap Putri Arryan.
"Andros, kamu lindungi anak - anak. Aku ingin melihat keadaan ibuku.. "
" Pergilah, putri. Aku bisa mengatasi ini semua.. " kata Pangeran Andros.
Putri Arryan pun terbang mendekati istana yang kini sudah di penuhi oleh mayat-mayat prajurit baik prajurit musuh maupun prajurit mereka. Dia melihat ada Putri Humaira yang berada di dekat Ibundanya.
"Putri Humaira, pesan Ayahanda, kita harus mengeluarkan ibunda Ratu dari tempat ini ke tempat yang aman...!" kata Putri Arryan kepada adiknya.
"Baik, kanda Putri Arryan. Sebaiknya memang kita harus membawa ibunda Ratu keluar dari istana ini secepatnya...!"
Putri Humaira Lalu mendekati ibundanya. "Ibu Ratu, tentara Iblis sudah menguasai istana. Jumlah mereka juga semakin banyak..!" kata Putri Humaira. "Kita harus segera pergi dari sini. Bunda harus keluar dari istana ini secepatnya. Sekarang juga kita harus meninggalkan tempat ini. Itu pesan ayahandaku, Ibu Ratu.. "
"Tapi aku tak bisa meninggalkan Ayahmu, Humaira. Apapun yang terjadi, aku harus tetap bersama ayahmu. Aku tak peduli, jika harus mati, maka kami akan mati bersama.... " kata Asmi.
Ditangannya masih mengenggam sebilah pedang yang kini sudah berlumuran darah musuh.
"Tapi, ibu Ratu.. " ucapan Putri Humaira terhenti saat dilihatnya Ayah melesat terbang ke arah mereka.
"Dinda Asmi, sayang, pergilah... aku mohon. Ini demi keselamatan kamu. Aku berjanji selesai perang ini aku akan menjemput kamu...! " Kata Pangeran Hasyeem kepada kekasih sekaligus istri tercintanya.
"Tapi, Pangeran... !" Asmi tak jadi meneruskan perkataannya karena kemunculan sosok mengerikan di hadapannya, Raja Iblis.
"Hem, lagi ada bangsa manusia. Aku mencium bau manusia pada wanita ini. Sama dengan wanita tadi. Wanita yang meminum air keabadian. Rupanya para wanita disini adalah wanita - wanita abadi. Aku menjadi sangat tertarik. Baru kali ini aku mengalami pertempuran yang didalamnya diikuti oleh wanita pemilik keabadian... " kata Raja Iblis sambil tertawa mengerikan..
Mulutnya terbuka lebar dan tampaklah semburan api dari mulut Raja Iblis. Hampir saja semburan api itu mengenai Asmi yang kini sudah berdiri di samping Pangeran Hasyeem. Putri Humaira yang berada di dekatnya seketika beringsut menjauhi kobaran api dari mulut Raja Iblis.
"Asmi sayang, pergilah sekarang juga. Biar aku yang menghadapi Iblis ini..?" ucap Pangeran Hasyeem pada Asmi.
" Putri Humaira, cepat bawa ibu Ratu pergi dari sini. Selamatkan ibu Ratu sekarang juga....? "
" Baik, ayah.... "
"Tidak, Pangeran. Kau suamiku. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku sementara dia berjuang mati - matian demi bangsa dan rakyatku. Biarlah... jika memang ajal sampai di sini, kita mati bersama, Pangeran.. " kata Asmi sambil berlinang air mata.