Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 127 Kisah Balqis ( Part 2 )


"Pedang Halilintar di beri amanat untuk menjaga dirimu sama seperti aku. Sehingga kapan saja aku membutuhkan pedang Halilintar untuk menghadapi musuh - musuhku, pedang tersebut akan muncul dengan sendirinya." kata Zyftar.


" Zyftar, awas di belakangmu..!!! " seru Putri Humaira.


Kedua Iblish itu menyerang kedua pasangan yang berbeda jenis itu dari arah depan dan belakang.


Zyftar tak tinggal diam, sambil mulutnya mengucap lafal Takbir dan Tasbih, pemuda jin bermata merah itu bergerak mengayunkan pedang Halilintar milik Tuannya, Pangeran Hasyeem ke arah iblish yang menyerang mereka.


Duarrrrr.....


Srecthhhhhh....


Pedang Halilintar merobek salah satu sayap iblish itu. Jerit kesakitan terdengar bersamaan dengan tumbangnya iblish yang lainnya karena Pedang Halilintar menusuk tepat di jantung iblish itu.


"Hah, sudah ku bilang, aku sedang ingin membunuh iblish karena moodku sedang tidak baik..!!" kata Zyftar sambil kembali mengayunkan pedang Halilintar ke arah iblish yang satunya.


Pemuda itu mengamuk dan membantai habis semua iblish itu hanya dalam sekejap saja. Tubuh iblish - iblish itu terbakar habis kemudian lenyap tak berbekas.


Tinggallah mereka bertiga di tempat itu. Putri Humaira masih terpana oleh pertarungan yang terjadi di depannya. Baru kali ini dia melihat Zyftar bertarung seperti itu.


Zyftar membunuh kedua iblish itu dengan tanpa belas kasih. Dia seperti melihat sisi lain Zyftar. Sisi liar seorang pembunuh. Karena selama ini yang dia tahu, Zyftar adalah sosok jin yang santun, pendiam dan tak banyak bicara serta sangat setia terhadap majikannya.


Namun, dia tak pernah menduga bahwa ternyata Zyftar mampu membantai semua iblish - iblish itu bahkan hanya dengan sekali gebrakan.


"Tuan Putri, kita harus kembali lagi ke rumah sakit..!" kata Zyftar.


"Ke rumah sakit..? Untuk apa..?" tanya Putri Humaira heran.


"Kita harus menemukan jasad gadis kecil ini." kata Zyftar lagi. "Cepatlah, sebelum fajar..! karena gadis ini belum lagi mati dalam pengertian mati yang sebenarnya. Artinya, ruh itu dipaksa keluar oleh suatu kekuatan..!" kata Zyftar menjelaskan.


"Kalau begitu, ayo tunggu apa lagi." kata Putri Humaira.


Keduanya kemudian membawa kembali ruh gadis kecil itu ke rumah sakit. Tempat di mana mereka menemukan ruh gadis kecil itu untuk yang pertama kali.


Sesampainya di rumah sakit, Putri Humaira bergegas bergerak ke rumah jenasah. Dia ingin mencari jasad gadis kecil itu.


Setelah beberapa saat mencari, Putri Humaira akhirnya menemukan jasad gadis kecil itu. Tersimpan di dalam salah satu box jenazah.


"Zyftar, kita menemukannya...!" Putri Humaira berseru gembira ketika berhasil menemukan jenazah gadis kecil itu.


"Gadis kecil yang malang...!" kata Zyftar ketika melihat keadaan jenazahnya.


Di bagian leher gadis kecil itu terdapat bekas cekikikan dan juga gantungan tali.


"Cepatlah, Zyftar..!! Kita harus cepat menghidupkan gadis kecil ini." seru Putri Humaira.


"Tapi kita ada sedikit masalah, Yuan Putri.." kata Zyftar.


"Hah, masalah..? Masalah apa lagi, Zyftar..?" keluh Putri Humaira kesal.


"Kita membutuhkan sedikit darah dari orang yang telah menghabisi nyawa gadis ini.." kata Zyftar.


"Apa..? Bagaimana kita tahu, siapa orang yang telah menghabisi nyawa gadis ini..?" tanya Putri Humaira gusar.


Zyftar tersenyum melihat kegusaran hati Junjungannya itu. Dia tahu, bahwa Putri Humaira kesal dan marah karena merasa iba akan nasib gadis kecil itu..


Putri Humaira memang wanita yang memiliki hati yang lembut dan penyayang.


Zyftar lalu menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan kiri gadis itu dan kemudian mulai membaca cerita gadis itu di masa lalu. Masa sebelum kematiannya.


Berkali-kali, mulut pemuda dengan mata semerah darah itu berucap istighfar.


Setelah beberapa menit kemudian, Zyftar melepas tangan gadis kecil itu dan menghela nafas sambil menatap putri Humaira


Putri Humaira menjadi semakin penasaran. Dia tahu, pasti yang dilihat Xyftar amatlah mengerikan.


"Katakan padaku, Zyftar. Apa yang kau lihat. Siapa pembunuh gadis kecil itu. Kita akan ke sana dan mengambil darahnya...!? " kata Putri humaira dengan garangnya.


"Sabarlah, Tuan Putri. Kita tak bisa langsung mendatangi orang yang membunuh gadis kecil ini. Karena kita sekarang tak tahu dimana kedua orang tua gadis kecil ini.. " kata Zyftar.


"Astaghfirullah.... malang sekali gadis kecil ini. Dia dibunuh oleh orang tuanya sendiri.. " kata Putri Humaira.


Dia menatap jenazah gadis kecil itu dengan berlinang air mata. Sungguh dia tak menyangka ada orang tua yang begitu tega membunuh darah dagingnya sendiri.


"Ayo, Zyftar..! Kita harus segera menemukan keduanya dan menyeret mereka kemari untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka..! geram Putri cantik itu.


"Tuan Putri, cobalah untuk mencoba berkomunikasi dengan gadis itu. Tanyakan di mana kedua orang tuanya tinggal." kata Zyftar kemudian.


"Iya, kau benar, Zyftar. Baiklah, akan aku coba untuk bertanya kepada ruh gadis itu... " kata Putri Humaira.


"Adik kecil, bolehkah kakak bertanya, siapa namamu..?" tanya Putri Humaira.


Gadis itu menatap Putri Humaira. Kemudian dia berucap lirih, suaranya hampir tak kedengeran tersapu angin.


"Ba...l....qi...s... "


"Balqis....? Nama kamu, Balqis...?" tanya Putri Humaira lagi.


Ruh gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Balqis. Sekarang katakan padaku, dimana bapak dan ibu kandung kamu. Maukah kamu mengantarkan kami untuk menemui mereka.. " tanya Putri Humaira.


"Gadis kecil itu menganggukkan kepala. Dia menjulurkan tangannya ke arah Putri Humaira. Putri Humaira menyambut uluran tangan gadis kecil itu.


" Zyftar, pegang tanganku..!! Perintah Putri Humaira.


"Baik, Tuan Putri. Maafkan atas kelancangan saya..." kata Pemuda jin itu. Dengan tangan gemetar dia meraih tangan halus Putri Humaira.


Kembali lagi tubuh gadis kecil mengeluarkan cahaya terang. Kemudian, dalam sekejap Putri Humaira dan Zyftar sudah berada di suatu tempat.


"Sepertinya, kita berada di rumah gadis kecil ini... " kata Zyftar kepada Putri Humaira.


Pemuda jin yang gagah itu perlahan melepaskan pegangan tangannya dari Putri Humaira dan kemudian berjalan memasuki rumah dengan cara menembus dinding.


"Zyftar, tunggu...!"


Namun Zyftar berbalik dan memberikan isyarat agar Putri Humaira dan gadis kecil itu tinggal saja di sana.


"Tinggallah kalian di sana. Aku saja yang akan masuk. Aku hanya butuh darah kedua orang tuanya." kata Zyftar


Zyftar kemudian masuk kembali ke dalam rumah gadis kecil itu. Di dalam sana, ke dua orang tua gadis kecil itu tampak sedang melakukan suatu ritual.


Keduanya memegang sebuah boneka yang sangat mirip wajahnya dengan gadis kecil itu.


Pahamlah Zyftar rupanya kedua orang tua gadis kecil itu adalah pemuja ilmu Hitam. Mereka berdua adalah penganut sebuah sekte ajaran sesat. Yang mana dalam ajaran tersebut, biasanya mereka mengorbankan anak perempuan mereka yang terakhir untuk di berikan kepada sesembahan mereka yaitu Yaama, Dewa kematian.


"Biadab... kalian adalah manusia - manusia laknat yang telah menjadi pengabdi setan. Yang kalian sembah itu adalah setan yang berwujud patung. Kalian benar-benar sesat..!" kata Zyftar dengan marah.


"Hah, siapa kamu..! Mengapa kamu mencampuri urusan kami.?" tanya lelaki yang memakai pakaian hitam. Tampaknya lelaki itu adalah dukun yang menjadi guru bagi kedua orang tua gadis kecil itu.


"Tentu saja menjadi urusanku karena kau sudah membawa kesesatan dan kemungkaran di atas muka bumi ini." kata Zyftar.


"Tahu apa kau dengan semua itu. Tak ada hubungannya dengan dirimu. Kau urus saja urusanmu sendiri. Jangan suka memcampuri urusan orang lain. Terlebih lagi, kita berbeda alam..!!" kata lelaki itu.


"Iya, benar...! Urus saja urusan kamu..! Jangan campuri urusan kami..!!" kata suami istri tersebut.


"Menjadi urusanku karena kalian sudah mengorbankan sebuah nyawa. Kini bersiaplah karena aku ingin sekali mencincang tubuhmu dengan pedangku..!" kata Zyftar.


Selesai berkata demikian, Zyftar langsung mengayunkan pedangnya menebas tubuh kedua orang tua gadis kecil itu.


"Aku membutuhkan darah kalian untuk menghidupkan kembali gadis kecil yang kalian bunuh." kata Zyftar.


Sekali lagi Zyftar kemudian bergerak ke arah Dukun tersebut dan tanpa terduga kembali pemuda jin itu mengayunkan pedang halilintar ke arah dukun itu.


Crasss.....


Kepala dukun itu pun terpisah sudah dari badannya.