Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 139 Menikahlah Dengan ku Zahra..


Putri Humaira dan Zyftar hidup bahagia bersama Balqis. Mereka membina sebuah keluarga yang utuh. Walaupun berasal dari golongan yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukanlah penghalang bagi ketiganya untuk menyatu. Bahkan meskipun hidup dalam pengasingan dan menjalani masa hukuman, keduanya tetap merasa bahagia.


Hal itulah yang membuat pangeran Khalied seperti mendapat pencerahan. Ayahandanya, Pangeran Hasyeem menikahi seorang wanita dari bangsa manusia. Jadi ada kemungkinan dia dan Zahra pun bisa menikah.


Akan tetapi andaikan saja Zahra bersedia menikah dengannya, apakah ibunya Zahra bersedia memiliki seorang menantu yang berasal dari golongan bangsa jin. Bangsa yang tak terlihat...


Bagaimana caranya dia akan melamar sang kekasih hati.. ?


"Kak.. apa yang sedang kamu pikirkan..?" tanya Zahra. Dia melihat Khalied seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apakah kakak memikirkan seseorang..?" tanya gadis itu lagi. Saat ini keduanya sedang berada di dalam kamar Zahra.


Pangeran Khalied menatap kekasih hatinya dengan tatapan mata yang sangat tajam, jauh memukau masuk menuju sanubari gadis itu.


Dia tahu, kecemburuan Zahra tak akan bisa lenyap di hati gadis itu terhadap


Mei Fang. Meskipun ribuan kata cinta, terucap untuk gadisnya itu.


Wanita, kata ayahandanya seperti itu. Mampu menahan ribuan rasa sakit dan juga penderitaan. tapi tak akan mampu menahan sebuah kecemburuan.


"Tidak... " jawab Khalied. Dia meraih tubuh Zahra dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Biar aku katakan sesuatu kepadamu, wahai wanita yang menjadi pujaan hatiku. Aku hanya mencintai dan selalu memikirkan satu orang wanita saja, yaitu seorang wanita yang membuat mataku selalu merindukan sosoknya saja yang ingin kulihat. Yang membuat hatiku selalu berdebar bila menyebut namanya, yang selalu hadir menjelma dalam mimpiku. Itulah wanita yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anak - anakku kelak. Wanita itulah yang saat ini sedang kupeluk dengan erat." bisik pangeran Khalied.


Dia takut suaranya akan terdengar oleh ibunya Zahra jika dia bersuara lebih besar lagi.


Zahra menjadi terharu mendengar kata - kata Khalied. Kata - kata pemuda itu sungguh menyentuh hatinya. Ternyata pangeran Khalied amat begitu mencintai dirinya.


Akan tetapi tetap saja keraguan itu hadir menerpa hati dan perasaan Zahra. Bagaimana caranya dia dan Khalied dapat bersama.


Cinta saja ternyata tidaklah cukup bagi mereka. Jika Zahra dapat menerima jati diri Khalied, akankah ibunya memiliki pikiran dan hati yang sama dengan dirinya.


Dapatkah ibunya itu menerima seorang menantu yang bukan manusia melainkan seorang jin. Bagaimana tanggapan masyarakat sekitarnya jika saja mereka tahu, bahwa calon suaminya itu berasal dari golongan jin.


"Kini, kau yang termenung, sayang. Apakah kamu juga sedang memikirkan seseorang..?" kini gantian Pangeran Khalied yang bertanya.


Walaupun dia sudah tahu, siapa yang ada di pikiran kekasihnya, akan tetapi tetap saja, jawaban gadis itu menjadi tanda tanya untuknya.


"Aku sedang memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kita, Kak." jawab Zahra jujur.


Di balikkannya wajah Zahra sehingga kini mereka saling berhadapan.


"Apakah kamu ingin agar aku segera meminang dirimu untuk aku jadikan sebagai istri." tanya pangeran Khalied.


"Siapa yang tak ingin, Kak. Impianku adalah menikah denganmu. Tapi... " Zahra menggantung ucapannya karena ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"*Tapi kamu ragu karena aku berasal dari golongan jin sedangkan dirimu dari golongan manusia, bukan..?" kata Khalied.


Zahra terkejut karena Khalied bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menyakinkan dirimu, kita bisa bersama tanpa memikirkan semua omong kosong ini. Aku hanya ingin kepastian tentang hatimu, apakah kau benar - benar mencintai diriku atau tidak. Jika benar-benar kau mencintai diriku,. maka menikahlah denganku. Jika tidak, maka hanya sampai di sini saja kisah kita. Karena percuma di teruskan jika kau tidak mencintaiku." Tegas pangeran Khalied.


Zahra terperanjat ketika Khalied memberinya ultimatum demikian. Sanggupkah dia menikah dengan Khalied. Lantas bagaimana dengan ibunya.


"Kita bisa menikah diam - diam dulu. Hanya di hadapan penghulu dan ayahandaku saja. Itu sudah lebih dari. sah untuk kita berdua. Maka aku akan bisa menjaga dirimu dan ibumu dengan lebih leluasa. Kamu mau, kan..?" pinta Pangeran Khalied penuh harap.


Pangeran Khalied menatap Zahra sungguh - sungguh. Dia berharap gadis itu mau mempertimbangkan ucapannya. Dia ingin menjaga Zahra dan ibunya. Dia juga sudah tidak bisa berlama-lama menahan semua ini. Dia takut khilaf dengan Zahra.


Demikian juga halnya dengan Zahra. Batin gadis itu berperang hebat. Dirinya memikirkan kata - kata Khalied. Menikah diam - diam dengan Khalied tanpa sepengetahuan ibunya. Apakah boleh..?


Tapi dia juga tak ingin kehilangan Khalied. Dia sangat mencintai pemuda itu. Rasa cinta di hatinya untuk pemuda itu semakin hari semakin besar saja. Rasanya akan sulit bagi Zahra untuk melupakan Khalied. Karena baginya, Khalied sudah menjadi nyawanya. Setiap tarikan napasnya, dia selalu menyebut nama itu saja setelah nama Allah dalam hidupnya.


Akhirnya Zahra pun mengangguk tanda mau menerima usulan Pangeran Khalied. "Baik, aku bersedia untuk menikah diam - diam saja tanpa sepengetahuan ibuku." kata Zahra.


Bukan main senangnya rasa hati Khalied mendengar ucapan Zahra. Dia kembali memeluk Zahra karena merasa gembira bukan kepalang.


Pangeran Khalied tanpa berkata-kata lagi langsung berdiri dan mengajak kekasihnya itu menemui ayahandanya Pangeran Hasyeem. Tujuannya adalah untuk meminta kepada ayahandanya itu agar segera menikahkan mereka berdua.


Sesampainya di istana Bukit Malaikat, Pangeran Khalied dan Zahra segera menemui Pangeran Hasyeem yang saat itu sedang duduk di singgasana kerajaannya bersama sang ibunda, ratu Asmi.


"Pangeran Khalied, ada apakah kau datang menemuiku..?" tanya Pangeran Hasyeem.. Meskipun sejatinya, dia sudah tahu akan maksud kedatangan putra bungsunya itu ke istana nya ini..


"Ayahandanya Pangeran Hasyeem dan ibunda ratu asmi. Sebelumnya hamba ingin meminta Maaf, karena sudah mungkin saja sudah menggangu ketenangan Kalian. Tapi kedatangan kami berdua kemari adalah karena kami punya satu permohonan."


"Dan apakah permohonan itu, Pangeran Khalied?" Tanya Pangeran Hasyeem.


"Ayahanda, Tolong, nikahkan kami berdua..!!" kata Pangeran Khalied langsung kepada Ayahandanya.