Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 136 Kisah Di Awal Pagi


"Tidurlah, aku akan menjagamu." kata Zyftar.


Putri Humaira membaringkan tubuhnya dalam posisi dipeluk oleh Zyftar. Putri Humaira yang merasa nyaman tertidur nyenyak dalam pelukan Zyftar sampai pagi hari menjelang.


Zyftar membangunkan Putri Humaira ketika waktu shalat subuh tiba.


"Sayang, Putri Humaira.. Bangunlah. Waktunya sholat subuh. Apakah ingin ikut sholat subuh bersamaku atau ingin sholat sendiri...?"


Putri Humaira mengeliat dan membuka matanya.


Zyftar memandang mata yang terbuka itu dengan tatapan kagum. "Putri Humaira sungguh cantik sekali." kata Zyftar dalam hati.


"Aku akan solat subuh bersamamu. Tunggulah sebentar dulu. Aku ingin membersihkan diri dan mengambil air wudhu." kata Putri Humaira. Putri Humaira segera mengambil pakaian ganti yang tersimpan di lemari dan kemudian bergegas hendak melangkah ke kamar mandi.


Namun, Zyftar keburu menahannya.


"Tunggu, Dinda. Kita sama - sama saja. Aku juga belum berwudhu." kata Zyftar.


Putri Humaira pun menganggukkan kepala dan menunggu Zyftar yang mengambil pakaian sholat.


Keduanya kemudian masuk ke kamar mandi bersamaan. Putri Humaira membuka pakaian yang melekat di tubuhnya sehingga tampak oleh Zyftar keindahan dan kemolekan tubuh Putri Humaira yang selama ini selalu tertutupi oleh pakaian panjang yang selalu melekat di tubuhnya.


Setelah membuka seluruh Pakaian yang melekat di tubuhnya, Putri Humaira kemudian mandi dan segera mengambil wudu. Setelah itu, Putri Humaira kembali mengenakan pakaian. Kali ini dia mengenakan pakaian yang bersih dan baru. an membersihkan diri.


Sementara Zyftar hanya berdiam diri dan terpaku menatap tak berkedip terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Putri Humaira. Setelah sadar, pemuda itu menundukkan wajahnya karena merasa malu.


Zyftar lantas buru - buru membersihkan dirinya dan mengganti pakaian lalu segera mengambil air wudhu.


Keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Zyftar sebagai imamnya.


Selesai sholat subuh, tiba-tiba Putri Humaira berkata. "Kanda Zyftar, mengapa kanda tidak mengambil hak kanda atas diriku." tanya Wanita itu.


Zyftar tertegun mendengar ucapan Putri Humaira. Dia merasa bingung dan salah tingkah ketika ditanya seperti itu oleh Putri Humaira.


Jujur saja, dia juga lelaki normal. Tadi saja di kamar mandi, saat melihat kemolekan tubuh Putri Humaira, jiwa kelelakiannya langsung memberontak ingin menuntaskan hasratnya. Akan tetapi, sekian tenaga dia menahannya karena takut Putri Humaira akan marah atau menjadi takut terhadapnya.


"Apakah kamu mengizinkannya jika aku meminta hakku...?" tanya Zyftar ragu.


Putri Humaira tertawa kecil sehingga menampakkan deretan gigi - giginya yang rapi dan indah. Zyftar sampai terpesona menatap wajah Putri Humaira.


Tanpa berkata lagi, Zyftar menangkap tubuh Putri Humaira dan langsung memeluk wanita itu.


Sebenarnya, Zyftar takut melakukannya. Tubuhnya sampai bergetar karena gugup.


Lama Zyftar memeluk wanita yang selama ini selalu dia kagumi. Merasakan lembutnya kulit tubuh itu dan keharuman yang terpancar dari tubuh Putri Humaira.


Perlahan - lahan Zyftar menarik kerudung wanita itu sehingga terbukalah mahkota yang selalu tersembunyi itu di hadapan Zyftar. Sebenarnya tadi pun dia sempat melihat keindahan mahkota Putri Humaira itu. Akan tetapi hanya sekilas saja karena Putri Humaira buru - buru menutupinya dengan kain.


Aroma manis dan wangi segera menguar dari rambut panjang dan lebat dari wanita itu. Keharuman rambut wanita itu saja mampu membangkitkan gairah dalam diri Zyftar.


Dia kemudian mengangkat dan menggendong Putri Humaira ke tempat tidur. Merebahkan tubuh istrinya itu di sana.


Zyftar kemudian mematikan lampu kamar mereka. Kemudian perlahan - lahan Zyftar menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh Putri Humaira. Terakhir dia juga menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.


Zyftar menatap tak berkedip ke arah tubuh yang bersinar dalam kegelapan kamar mereka. Tubuh itu begitu indah dan sempurna. Seperti tubuh seorang bidadari.


Tak tahan menatap keindahan itu, dengan tubuh gemetar karena gairah, Zyftar mengalahkan rasa takut dan sungkannya lalu mendekati tubuh yang sudah dalam posisi telentang dan menantang jiwa kelelakiannya.


Dengan lembut Zyftar memberikan sentuhan demi sentuhan di tubuh itu. Sehingga menghadirkan ******* yang sangat merdu di telinga Zyftar. Suara ******* Putri Humaira semakin membakar gairah Zyftar.


Akhirnya terjadilah apa yang sebenarnya harus terjadi. Zyftar 'memasuki' tubuh Putri Humaira dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Dia bahagia karena akhirnya dia memiliki wanita idaman hatinya itu seutuhnya.


Berkali-kali baik Zyftar maupun Putri Humaira mendapatkan pelepasannya. Meskipun pada awalnya senjata Zyftar sedikit kesulitan menembus segel Putri Humaira yang masih utuh belum tersentuh.


Sepasang pengantin baru itu baru berhenti melakukan semua itu ketika matahari sudah bersinar terang.


"Dinda, aku sebenarnya masih ingin melakukan semua itu bersamamu, tapi


sepertinya Putri kita sudah bangun." kata Zyftar sambil mengecup bibir istrinya.


"Mama.... mah..!" terdengar panggilan Balqis dari arah luar kamar.


Putri Humaira tersenyum seraya bangkit dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya. " Nanti malam, masih banyak waktu, kanda. Aku milikmu sekarang.." kata Putri Humaira sambil mengecup bibir Zyftar yang berwarna merah seperti darah.


"Iya, sayang. Sebentar mama bukakan pintunya..." sahut Putri Humaira dari dalam kamar.


Zyftar yang bahagia karena mendapatkan ciuman dari


Putri Humaira untuk yang pertama kalinya, langsung memeluk Putri Humaira dari belakang. "Terima kasih atas ciumannya, dinda sayang.." bisik Zyftar.


"Papa, Mama...! Kalian lagi ngapain. Kenapa lama sekali membuka pintunya..?? " kata Balqis.


Zyftar dan Putri Humaira tak


bisa menjawab.


???????


***


Pangeran Khaleid termenung seorang diri usai dari rumah saudara kembarnya Putri Humaira.


Pangeran itu mendapat tugas dari ayahandanya pangeran Hasyeem untuk mengawasi saudara itu dan melaporkan keadaan saudaranya kepada ayahandanya.


Sejauh yang dia lihat dan amati, Zyftar adalah suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya. Dia selalu memastikan bahwa Putri Humaira dan balqis anaknya selalu dalam keadaan nyaman dan aman.


Tiba-tiba saja, pemuda itu jadi merindukan kekasihnya. Pangeran Khaleid merindukan Zahra.


Tak tahan menanggung rindu terhadap Zahra, Pangeran Khaleid pun melesat terbang ke rumah Zahra. Sesampainya di sana, Pangeran Khaleid tidak langsung menemui gadis itu. Dia sengaja tidak langsung muncul dan menampakkan diri di depan Zahra. dia hanya duduk dan mengawasi saja gerak gerik gadis itu.


.


"Kenapa aku merasa seperti ada yang mengawasi diriku sejak tadi. Apakah Kak Khaleid ada di sekitar tempat ini..?" kata Zahra dalam hati.


Pangeran Khaleid mendengar apa yang diucapkan oleh Zahra. Dia tersenyum menyadari bahwa Zahra rupanya merasa bahwa sedang di awasi olehnya.


"Kak, apakah itu kau...?" tanya Zahra akhirnya.


Sepi....


Tak ade jawaban. Zahra heran karena biasanya Pangeran Khaleid langsung muncul di hadapannya.


Tiba-tiba, Pangeran Khaleid memiliki ide untuk menguji Zahra. Apakah gadis itu merasa takut melihat wujud dirinya atau tidak...?".


kemudian yang terjadi, adalah Pangeran Khaleid muncul dengan wujud dirinya yang sebenarnya.


"Astaghfirullah azdim...! Ya Allah, ya Khaliq. Subhanallah....! Lahaula wala quwata illa billah..ya Allah...," karena latah maka berserulah Zahra dengan berbagai bahasa zikir. Hal ini membuat Pangeran Khaleid merasa geli sendiri dalam hati.


Tak kuat menahan geli di hatinya karena melihat ekspresi wajah Zahra yang lucu, maka keluarlah tawa keras Pangeran Khaleid. Pangeran Khaleid tertawa terbahak-bahak karena merasa Zahra sangat lucu.


Berbanding terbalik dengan Zahra. Gadis itu sangat kaget dan ketakutan ketika muncul di hadapannya Sesosok makhluk mirip seperti seekor beast. Hingga tanpa sadar dia berucap kata istighfar. Akan tetapi, makhluk itu bukannya menghilang dan ngacir ketika mendengar asma Allah , akan tetapi makhluk itu malah menyeringai mengerikan dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


Tentu saja hal ini membuat Zahra semakin ketakutan. Makhluk itu menyeringai dan kemudian tertawa terbahak-bahak bagi Zahra amatlah sangat mengerikan sehingga yang terjadi kemudian adalah Zahra pingsan dengan gemilang.


Zahra pingsan... Pangeran Khaleid panik...!!


Seketika itu juga, Pangeran Khaleid yang berwujud beast langsung berubah kembali ke wujudnya semula.


"Zahra...!" seru Pangeran Khaleid. Dia mendekati Zahra dan mencoba untuk menyadarkan kekasihnya itu dari pingsan.


Zahra tersadar kembali ketika Pangeran Khaleid membuka aliran jalan darah gadis itu dengan cara menotok nadinya.


Begitu Zahra sadar dan melihat Pangeran Khaleid di dekatnya, gadis itu langsung saja memeluk Pangeran Khaleid dan menangis ketakutan.


"Kak Khaleid, Zahra takut...!" Kata Zahra di antara isak tangisnya. Tubuh gadis itu sampai gemetar saking takutnya.


"Tidak ada, sayang...Hanya ada aku di sini.!" bujuk Pangeran Khaleid.


"Tapi aku tadi melihatnya, Kak. Di sana tadi berdiri mahkluk tinggi besar seperti beast tadi. Aku sangat takut..!" tunjuk Zahra ke arah tempat tadi Pangeran Khaleid muncul.


"Sayang, kamu jangan takut. Tak ada mahkluk mengerikan di sini. Itu hanya aku saja...!" kata Pangeran Khaleid lagi.


"Tapi, aku tadi benar-benar me... " Ucapan Zahra terputus. Dia menatap wajah Pangeran Khaleid heran.


"Apa tadi kata kakak...?" tanya Gadis itu.


"Aku katakan tak ada makhluk mengerikan di sini, itu hanya aku... " Pangeran Khaleid mengulangi lagi ucapannya.


Zahra menutup mulutnya yang kini sudah menganga dan membulat sempurna.


"Apakah makhluk tadi jelmaan dari Kak Khaleid...?" tanya Zahra penasaran.


Pangeran yang berwajah tampan itu langsung mengangguk mengiyakan.


Zahra sukses kembali pingsan...


Pangeran Khaleid kembali panik. Aduh.... bagaimana ini. Zahra rupanya sangat shock karena baru kali ini gadis itu melihat wujud asli dari Pangeran Khaleid. Kenapa berbanding terbalik saat berada di dimensi empat, pikirnya.