
"Arka, apakah itu...? tanya Kania. Telunjuknya mengarah ke sungai yang kini sudah di penuhi sesuatu yang berwarna hitam legam dan panjang. Benda itu kini bergerak naik ke atas hingga terlihatlah wujudnya yang asli.
" Nagini..!!
Sontak saja, kelima orang tersebut melompat secepat kilat untuk menghindari semburan bisa yang Nagini semburkan ke arah kelima makhluk pendatang di dimensi ke empat itu.
"Astaga...!! Bagaimana caranya ular itu sampai kemari..?" tanya Pangeran Khalied kesal. Baru saja dia bersenang-senang sejenak, kini sudah datang lagi ular pengganggu ini, pikirnya. Segera saja dia menghunus pedangnya karena geram
Namun secara tak sengaja, kristal arwah, pusaka yang pernah diberikan oleh Kalla, siluman rubah itu ikut keluar bersama dengan pedang yang tercabut dari sarungnya.
Kristal Arwah itu melenting ke atas dan kemudian berpendar - pendar di udara. Benda itu mengeluarkan cahaya terang yang sangat menyilaukan mata.
"Ular Sialan..!!" bentak Pangeran Khalied
murka karena kesenangannya terganggu. "Zahra, menyingkir ke tempat yang aman. Bisa ular itu sangat berbahaya."
Namun bukannya menyingkir, Zahra malah sibuk memperhatikan Kristal arwah tersebut dengan pandangan takjub. "Wah, benda apakah itu..? Indah sekali..!" seru Zahra yang sangat terpesona dengan keindahan dari Kristal arwah yang terus saja memancarkan cahaya.
"Ini adalah Kristal arwah." jawab Pangeran Khalied." Benda ini adalah pusaka pemberian Kalla pada saat dia kalah bertarung melawanku saat di Gunung Hantu dan Gunung Siluman." lanjutnya.
"Cantik sekali. Bolehkah aku memilikinya..?" tanya Zahra. Dia tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Kristal Arwah. Kristal sangat indah dan begitu di cari - cari.
"Akh, dasar wanita. Tak bisa melihat barang perhiasan.! Kau boleh memilikinya. Namun sekarang, aku minta kalian berdua menyingkirlah dari tempat ini.
Zahra dan Kania kemudian menyingkir ke tempat yang agak terlindung dari serangan ular itu. Sementara Pangeran Arkana dan Zamura siap sedia dengan pedang masing-masing
"Sepertinya Nagini takut akan kehadiran benda itu, Paman..!!" kata Pangeran Arkana saat melihat Nagini yang mundur saat melihat Kristal arwah.
Memang ucapan Pangeran Arkana benar. Saat melihat kemunculan Kristal arwah yang mengeluarkan cahaya terang yang sangat menyilaukan mata, mendadak Nagini mundur ke belakang dan menurunkan tubuhnya.
Ular raksasa itu tampaknya takut dengan kemunculan cahaya terang atau juga kemunculan dari Kristal arwah. Yang manapun dari kedua hal tadi, nyatanya telah mampu untuk membuat ular raksasa itu kemudian menyelam lagi ke dasar sungai dan pergi begitu saja dari tempat itu.
"Ular raksasa itu pergi, Tuanku!!" seru Zamura yang melihat bahwa Nagini pergi menjauh meninggalkan mereka semua.
"Apakah dia takut terhadap Kristal arwah. Apa yang menyebabkan Nagini takut terhadap Kristal Arwah... " tanya Pangeran Khalied dalam hati. Dia ingin mencari tahu, apa kehebatan dari Pusaka Kristal Arwah sampai makhluk semengerikan Nagini takut terhadap Kristal arwah itu.
"Sudahlah, yang penting ular itu tidak mengganggu kita lagi. Dan kita bisa bebas untuk melanjutkan perjalanan kita." ucap Pangeran Arkana.
"Anda benar, tuan. Tapi yang jadi masalah bagaimana caranya kita keluar dari tempat ini." tanya Zamura.
Mereka saling pandang. Mereka seolah baru sadar akan satu hal, Nagini..!!
Iya, Nagini. Ular itu muncul di hadapan mereka dari dalam sungai. Itu artinya, jika berjalan mengikuti akur sungai ke bawah, akan membawa mereka ke hilir dan jika beruntung, sungai itu pasti akan membawa mereka keluar dari tempat ini.
"Sebaiknya kita bergerak ke hilir sungai lewat darat saja. Aku yakin kita akan sampai ke suatu tempat..!"
"Aku setuju dengan usulan itu. Sebaiknya kita menyusuri sungai ini lewat pinggir. Kita tidak tahu, apakah ular raksasa itu masih mengikuti kita atau tidak. ? ucap Pangeran Khalied lagi.
Akhirnya kelima makhluk yang berasal dari dua dunia itu berjalan menyusuri tepi sungai meninggalkan tempat tersebut.
"Kita sudah jauh berjalan, tapi kita belum menemukan tanda - tanda jalan keluar dari tempat ini. Sungai ini panjang sekali, Tuanku.. " ucap Zamura.
Dia kasihan melihat gadis itu. Mereka sudah berjalan jauh menyusuri sungai untuk mencari jalan keluar.
Demikian juga halnya dengan Zahra. Sebelas dua belas dengan Kania, gadis itu juga terlihat sangat lelah. Berkali-kali dia mengambil istirahat dan duduk.
Kedua Pangeran itu saling pandang. Melihat kepada kedua gadis itu dengan pandangan penuh makna.
"Zahra, kamu cape, yah." tanya Pangeran Khalied saat melihat Zahra kembali mengambil duduk dan beristirahat..
Zahra hanya mengangguk tanpa berucap. Dia sudah sangat lelah.
"Apa kamu nggak keberatan jika kugendong..?" tanya Pangeran Khalied.
Wajah Zahra bersemu merah mendengar tawaran Pangeran Khalied. Menatap wajah tampan dengan kumis tipis itu sambil membayangkan berada dalam gendongan. Hmmm, pastilah amat menyenangkan, pikir Zahra.
"Entahlah, apa masih jauh perjalanan kita..? " Zahra balik bertanya, antara mau dan malu.
"Aku tak tahu, di mana hilir sungai ini. Jadi untuk menghemat waktu, kita keluar pakai cara kami.. " jawab Pangeran Khalied.
"Cara kalian...? Cara apa..? Bagaimana..? " tanya Kania tak mengerti.
Kedua Pangeran muda itu saling pandang. Lalu tanpa bicara lag, keduanya lantas memegang tangan masing-masing gadis itu dan memeluknya. Setelah itu, keduanya melesat terbang melewati tempat itu terus menyusuri tepi sungai. Di belakangnya menyusul Zamura, sang Pangawal Pangeran Khalied.
Mereka semua terus melesat terbang menuju keluar hingga akhirnya mereka tiba di ujung mulut gua.
Zahra dan Kania tercengang saat mereka keluar dari mulut gua. Pemandangan di luar gua sungguh menakjubkan.Sejauh mata memandang, hanya lautan saja yang terlihat. Awan yang berwarna kelabu sewarna dengan dengan warna lautnya yang bukan lagi biru, tapi berwarna kelabu. Karena sejatinya, air tak berwarna. Warna laut yang biru karena langit di atasnya berwarna biru. Maka jika warna awannya kelabu, maka warna lautnya pun berwarna kelabu.
Zahra dan Kania merasa senang karena bisa keluar dari dalam gua.Apalagi pemandangannya sangat indah.
"Khalied, indah sekali pemandangan di tempat ini. Bisakah kita beristirahat di sini saja." pinta Zahra.
"Apapun itu, untuk Tuan Putriku yang cantik.. "ucap Pangeran Khalied.
Zahra tersipu malu karena pujian yang dilontarkan oleh Pangeran Khalied. Memang, Pangeran muda itu terkenal pandai sekali merayu wanita.
Sebelum mengenal Zahra, sudah banyak gadis yang harus patah hati karena rayuan maut sang Pangeran. Mereka jatuh cinta kepada Pangeran, namun ternyata sang Pangeran tidak mencintai mereka. Sehingga cinta mereka hanya bertepuk sebelah tangan.
Kedua sejoli itu memadu kasih bersama. Bunga - bunga bermekaran di hati kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Disaksikan oleh deru ombak di lautan yang airnya berwarna kelabu. Cinta Pangeran Khalied kepada Zahra tidaklah berwarna kelabu.
Zahra tersenyum manis saat Pangeran Khalied dalam diam mencium lembut pucuk kepala gadis itu. Ketika itu Zahra sedang bersandar di dada kokoh sang Pangeran. Hatinya bahagia. Cinta yang begitu besar dari seorang Pangeran Khalied, dapatlah dia rasakan getarnya. Indahnya cinta Pangeran Khalied menyentuh hati Zahra. Menghadirkan rasa yang sama di hati Zahra.
Kania yang melihat kebersamaan Pangeran Khalied dan Zahra merasa iri. Betapa bahagianya mereka, pikir Kania. Andai saja, cinta sesederhana itu baginya.
Banyak yang dia pikirkan. Pangeran Arkana, Kania tidak menampik, bahwa kehadiran pemuda itu, secara pasti telah mengisi ruang di hatinya.
Namun besarnya keraguan di hati Kania akan masa depan hubungan mereka membuat gadis itu merasa takut untuk menerima cinta Pangeran Arkana.
Siang berganti malam. Mereka berlima menghabiskan malam di pantai itu sampai pagi menjelang. Zahra pulas tertidur di dalam pelukan Pangeran Khalied yang memeluknya sepanjang malam hingga pagi menjelang.