Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 28 Buto Ijo (Part 1)


"Zamura, apakah benar pamanku itu datang kemari bersama seseorang..?" Pangeran Arkana mengulang pertanyaan Zaddak.


"Sepertinya demikian, Tuanku.." jawab Zamura.


Pangeran Arkana dan Zaddak saling pandang.


Kini mereka berdua mulai goyah. Benarkah mereka yang semua yang terpilih sesuai ramalan itu... ?


****


****


Pangeran Arkana menatap Kania yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri. Luka di punggung gadis itu sudah dibersihkan dan dibaluri dengan semacam rempah - rempah yang berfungi sebagai anti biotik alami dan penghilang rasa sakit sekaligus berfungsi sebagai penyembuh luka. Lalu luka itu di tutupi dengan kulit kayu.


"Pangeran, luka di punggung temanmu itu menyebabkan dia terkena kutukan Lamma, wanita itu akan berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti Lamma kecuali jika anda berhasil menghilangkan kutukannya. waktu anda kurang lebih satu bulan dari sekarang untuk menemukan penawar kutukan itu atau anda terpaksa harus membunuhnya. Jika tidak, maka akan banyak korban yang berjatuhan kembali.."


Pangeran Arkana tertegun mendengar perkataan Zaddak. Sama seperti perkataan Lamma bahwa dia harus membunuh Kania jika gadis itu telah berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti Lamma.


Akan tetapi, pertanyaannya, sanggupkah dia melakukannya. Membunuh Gadis yang teramat sangat dia cintai. Akh.... tidak, aku tidak sanggup untuk melakukannya, kata Pangeran Arkana dalam hati.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Pangeran. Memang berat untuk melakukan hal itu. Namun, jika sampai hal itu terjadi, aku harap kamu bisa berpikiran bijak." Kata Zaddak.


"Kau benar, Zaddak. Aku rasa sulit sekali rasanya untuk melakukannya jika saja aku sampai pada saatnya dimana aku terpaksa harus membunuhnya." jawab Pangeran Arkana seraya menatap Kania. Wajah cantik itu terlihat pucat. Aku tak bisa...!! Aku tak mampu melakukannya. Bathin Pangeran muda itu berperang.


"Aku rasa aku tak bisa melakukannya. Jadi sebaiknya memang aku harus bergegas menemukan penawarnya. Dan waktuku juga tidak banyak lagi" ucap Pangeran itu seperti pada dirinya sendiri.


"Zaddak, apakah Aku boleh meminta pertolonganmu...?" tanya Pangeran Arkana.


"Apapun itu, Pangeran. Aku tak keberatan.." jawab Zaddak.


"Aku berniat untuk menitipkan Kania di sini. Karena aku ingin mencari air penawar seperti yang pernah Lamma ucapkan. Apakah kau keberatan dengan hal itu.?"


"Sama sekali tidak. Dengan senang hati kami akan menjaga teman anda itu, Pangeran.. " jawab Zaddak.


Tiba-tiba, salah seorang dari penjaga dengan tergopoh - gopoh datang menghampiri Zaddak. Dia membisikkan sesuatu di telinga Zaddak lalu kemudian pergi lagi.


"Sepertinya teman Anda sudah bangun, Pangeran.. " kata Zaddak kemudian. "Baru saja pengawalku mengatakan bahwa teman wanita Pangeran sudah sadar dari pingsannya."


Mendengar akan hal itu, hati Pangeran Arkana menjadi senang. "Kalau begitu, saya akan kesana untuk melihatnya.. " kata Pangeran tampan itu.


Zaddak dan Pangeran Arkana segera pergi ke tempat dimana Kania di baringkan. Gadis itu masih berada di sana, di dalam peti mati yang berbentuk sakrofagus itu. Matanya nanar menatap sekelilingnya.


Saat matanya menangkap sosok Pangeran Arkana yang berjalan beriringan dengan Zaddak, gadis cantik itu langsung berdiri dan melompati peti mati kemudian di hadapan Pangeran Arkana.


Tentu saja, Pangeran Arkana dan Zaddakkaget bukan kepalang. Bukankah gadis itu sedang terluka...? Lantas bagaimana bisa gerakannya secepat dan seringan seperti tadi. Seperti tidak pernah terjadi apa - apa dengan gadis itu.


"Arka, awas..! Ada manusia harimau si belakangmu!!" serunya seraya kemudian bergerak melewati Pangeran Arkana dan tahu - tahu, gadis itu sudah membekuk tubuh Zaddak yang tak bisa berkutik karena serangan gadis itu yang tak terduga.


"Kania, lepaskan dia. Dia bersamaku.. !" seru Pangeran Arkana kepada gadis itu.


"Hah, Apa? Melepaskan makhluk ini..? Ta- tapi bukankah dia manusia harimau. Mereka adalah makhluk yang berbahaya...!" kata Kania lagi.


"Tidak...! mereka sama sekali bukan musuh. Mereka adalah temanku.!" kata Pangeran Arkana.


Walaupun terlihat ragu, namum Kania akhirnya melepaskan juga Zaddak. Gadis itu kemudian berjalan menghampiri Pangeran Arkana. Kania Mengambil tempat duduk di sebelah Pangeran Arkana


"Bagaimana keadaanmu. Apakah lukamu masih terasa sakit...?" tanya Pangeran Arkana. Matanya diam - diam mengawasi seluruh tubuh dan juga gerak - gerik gadis di sampingnya itu dengan seksama.


Pangeran Arkana yang mendengar hal itu merasa lega. Dia sudah menduga yang tidak - tidak mengenai gadis itu. Kini, ternyata dugaannya itu tak terbukti. Kania memang lah sehat walafiat lantaran obat yang diberikan oleh Zaddak.


"Lantas, bagaimanakah dengan nasib Lamma, apakah kamu sudah berhasil membunuh makhluk itu...?" tanya gadis itu setelah mengambil tempat duduk di sebelah Pangeran Arkana.


Pangeran Arkana diam. Dirinya tak menjawab pertanyaan Kania. Pikiran pemuda tampan itu bingung untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Lagi pula, perubahan pada Kania belum terjadi. Gadis itu sekarang masih sama dengan Kania nya yang dia kenal. Hanya sedikit lebih agresif.


Sementara itu Zaddak mohon diri untuk melihat dan mengontrol suasana di sekitar tempat itu. Pemimpin manusia harimau itu mengajak Zamura ikut serta agar pengawal Pribadi Pangeran Khalied itu bisa membantunya memberi masukan tentang seni pertahanan dan juga sedikit ilmu bela diri.


"Arka, kamu belum menjawab pertanyaanku, apakah kamu berhasil membunuh makhluk itu..?"


"Iya, aku berhasil membunuh makhluk itu.. " jawab Pangeran Arkana.


Mata Kania berbinar saat mendengar Pangeran Arkana berhasil membunuh Lamma. Tanpa malu - malu, gadis itu menghadiahi Pangeran Arkana dengan pelukan.


Tentu saja Pangeran Arkana kaget bukan kepalang. Walaupun dirinya tak menampik bahwa hatinya berbunga - bunga mendapat perlakuan seperti ini.


Tapi ini bukanlah Kania nya. Kania yang dia kenal tidak seagresif ini. Pangeran Arkana menduga pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu.


"Arka, bagaimana kamu bisa mengenal mereka...? " tanya Kania seraya menunjuk ke arah Zaddak dan juga makhluk manusia harimau lainnya.


"Mereka itu ternyata adalah keluargaku. Mereka masih ada kaitan hubungan keluarga denganku karena Zaddak adalah sepupu bibi Ambika, istri dari Paman Azzurra...!" jelas Pangeran Arkana.


"Paman Azzurra,... bibi Ambika? Siapa lagi mereka...? " tanya Kania.


"Paman Azzurra adalah adik ayahku. Sedangkan bibi Ambika adalah istri dari paman Azzurra. Bibi Ambika adalah jelmaan Siluman Harimau Putih."


"Wah, menarik sekali keluargamu. Aku sebenarnya masih bingung, mengapa keberadaanmu bisa ku lihat. Sedangkan kamu adalah makhluk jin. Keberadaan makhluk jin kan, tidak bisa terlihat oleh bangsa manusia...?"


"Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum aku katakan kepadamu, ibuku berasal dari golongan manusia.. "


Mata Kania sukses terbelalak kaget saat mendengar Pangeran Arkana menyebutkan bahwa ibunya adalah bangsa manusia. Bagaimana bisa manusia menikah dengan bangsa jin.


"Arka, ibumu.... benarkah ibumu itu berasal dari golongan manusia..?" tanya Kania seolah - olah belum yakin akan pendengarannya.


"Itulah kenyataan yang sesungguhnya. Bukan hanya ibuku saja yang berasal berasal dari golongan manusia. Akan tetapi, nenekku juga. Nenekku juga menikahi kakekku yang asli berasal dari golongan jin. Jika kamu masih kurang yakin akan ceritaku, maka jika nanti kita berhasil keluar dari tempat ini, aku berjanji akan memperkenalkan dirimu dengan ibuku dan juga nenekku. Mereka adalah wanita yang sangat cantik." kata Pangeran Arkana.


Tiba-tiba saja, mereka berdua di kejutkan oleh suara gaduh yang arahnya berasal dari luar.


Pangeran Arkana dan Kania segera berlari keluar menuju ruang terbuka yang terletak di tengah - tengah lapangan terbuka. Mereka melihat para prajurit sudah siap siaga dengan senjata terhunus. Sepertinya mereka sedang menantikan sesuatu.


Beberapa prajurit pilihan sudah siap sedia di ujung puncak menara yang tinggi. Tugas mereka memantau keadaan di sekitar tempat itu.


Di sekeliling tempat itu di kelilingi semacam tembok batu yang sangat tinggi hingga membentuk semacam benteng pertahanan. Entah, apa yang mereka takutkan. Yang jelas, tembok itu seperti berusaha untuk menahan mereka dari sesuatu yang sangat besar.


"Apa yang terjadi...?" tanya Pangeran Arkana kepada Zaddak.


"Ada serangan Buto ijo, Pangeran..!" jawab Zaddak


???


Instagram@Minaaida_92, Facebook_Minaaida