Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 90 Nayyara


Pengawal pribadi Pangeran Khalied itu segera bergerak mendekati Sari dan menyentuh pundak Wanita itu untuk membangunkannya.


Sari tersentak bangun dari tidur dan menjumpai Zamura sudah berada di dekatnya. Posisi tubuh mereka begitu dekat.


"Tuan Zamura..."


Zamura tergagap mendengar namanya disebut oleh Sari. Dia pun menoleh dan tatapannya bertemu langsung dengan tatapan mata Sari yang teduh.


Jantung Zamura berdetak kencang sekali. Maklum saja, dia belum pernah berdekatan sedekat ini dengan seorang wanita. Mungkin itulah sebabnya dia terlihat grogi.


"Iya, maaf kalau aku membangunkan kamu. Aku hanya bermaksud untuk memperbaiki posisi tidur kamu agar nyaman." kata Zamura kemudian.


"Aku tertidur, ya..? Mungkin karena pengaruh obat bius..." guman Sari sambil melirik bayinya yang juga tertidur lelap di sebelahnya.


"Dia sangat cantik..." puji Zamura untuk bayi Sari.


Sari tersenyum mendengar pujian Zamura. Wanita itu menatap Zamura dan berkata.


"Terima kasih, Tuan Zamura, atas apa yang sudah anda lakukan terhadap aku dan Putriku ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan anda."


"Sudahlah, aku hanya kebetulan saja melihat suatu kebathilan dan mencegahnya. Aku senang akhirnya kau dan bayimu selamat. Semoga saja tak ada lagi yang akan menggangu hidupmu dan Putrimu, Sari." ucap Pemuda bertubuh gagah dan kekar itu.


Hening sesaat setelah Zamura berucap demikian. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Tuan Zamura, bolehkah saya meminta sesuatu...?" tanya Sari kemudian.


Zamura langsung mengangkat wajah dan berkata.


"Apa yang kau inginkan..?"


Sari memandang wajah Zamura yang tampan. Jin yang ada di hadapannya ini wujudnya tampak sungguh menawan. Menggetarkan hati setiap wanita yang menatapnya.


"Bolehkah saya melihat wujud aslimu, tuan Zamura..?" pinta Sari.


Zamura tertegun mendengar permintaan Sari yang agak ganjil.


"Apa maksudmu ingin melihat wujud asliku. Apakah kau tidak merasa takut nantinya...?" tanya Zamura kepada Sari.


Sari menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku berjanji, Insya Allah aku tidak akan merasa takut, Tuan Zamura.. " kata Sari.


"Baiklah, jika itu keinginanmu... " ucap Zamura.


Setelah berucap demikian, Perlahan - lahan wujud Zamura pun menghilang dari pandangan Sari. Sebagai gantinya, di hadapan Sari berdiri sesosok makhluk tinggi besar berwarna hitam legam seperti gorila raksasa dan berwajah seperti beast.


Astaghfirullah,.... ucap Sari dalam hati. Namun wanita itu tak bergerak ataupun berucap sesuatu. Dia hanya menatap sosok Zamura dengan pandangan datar.


"Apakah kau merasa takut...?" tanya Zamura ketika melihat tak ada pergerakan atau ekspresi di wajah Sari.


Sari menggeleng lemah.


"Jujur saja, saya hanya merasa sedikit terkejut. Saya belum pernah melihat wujud makhluk seperti anda. Saya pikir wujud anda seperti Alien dengan ekor panjang dan telinga yang lancip." ucap Sari sambil tersenyum.


"Hahaha, aku tak menyukai wujud seperti itu. Maaf mengecewakan kamu... " ucap Zamura.


Kemudian pemuda keturunan jin itu berubah wujud kembali seperti semula.


Zamura kemudian melihat bayi Sari membuka matanya. Kemudian dia mendatangi bayi mungil itu. Zamura mengangkat dan menggendong bayi Sari. Menimang bayi mungil yang cantik itu dalam pelukannya.


"Berilah nama untuknya...!" kata Sari.


"Hah, apa...?" Zamura kaget mendengar ucapan Sari.


"Iya, saya meminta anda untuk memberikan nama untuk putriku ini.." jelas Sari.


Wanita yang baru saja melahirkan itu mencoba untuk bangkit berdiri. Melihat hal itu, Zamura bergegas meletakkan bayi mungil itu kembali dan buru - buru melesat mendekati Sari.


"Hati-hati, ...! Apa yang ingin kau lakukan..? tanya Zamura. Tanpa sadar, tangannya sudah memegang kedua pundak Sari.


Sari tergagap saat menyadari bahwa betapa tubuhnya dan tubuh Zamura berjarak hanya beberapa sentimeter saja.


Sari dapat mencium harum tubuh lelaki itu. Apakah semua tubuh mahkluk jin itu berbau harum.


"Tadinya aku ingin mendekati kalian. Tapi aku tak bisa bergerak. rasanya kedua kakiku lemas dan tak bisa di gerakan." kata Sari.


"Apakah kau ingin ke kamar kecil..?" tanya Zamura lagi.


"Iya, tapi aku tak bisa berjalan.." jawab Sari. "Dapatkah kau memapahku ke sana..?"


Memang, sejak tadi Zamura memperlihatkan dirinya kepada semua yang ada di ruang itu karena dia tak ingin Sari di katakan gila karena berbicara sendiri. Hanya pada saat dia berubah wujud saja maka orang - orang tak bisa melihat penampakan dirinya kecuali Sari.


Zamura menurunkan Sari di kamar kecil dan kemudian menutup pintu. Membiarkan Sari di dalam menuntaskan hajatnya.


Setelah selesai, kembali Zamura menggendong Tubuh Sari menuju ke tempatnya semula.


"Terima kasih, tuan." ucap Sari.


"Tidak usah menyebutku dengan sebutan Tuan, cukup Zamura saja. Seperti yang lainnya memanggilku."


kata Zamura.


"Kau belum melakukannya." kata Sari lagi ketika melihat pemuda itu beranjak ingin pergi.


Langkah Zamura terhenti, lalu berbalik menatap Sari.


"Melakukan apa?" tanya Zamura menghampiri Sari.


Sari menatap Zamura. Mencari tahu apakah pemuda itu lupa dengan yang dia pinta tadi.


"Aku memintamu untuk memberi nama pada putriku." kata Sari kemudian.


Zamura tersenyum mendengar itu. "Apakah benar-benar kamu memberi kehormatan itu kepadaku." tanya Zamura lagi.


Sari mengangguk mantap. "Kau berhak karena kau yang menyelamatkan hidupnya." ucap Sari sambil menyerahkan bayinya ke dalam gendongan Zamura.


Hening sejenak. Zamura seperti sedang mengingat - ingat sesuatu. Dia sedang memikirkan sebuah nama yang sesuai untuk putri Sari.


Sejurus kemudian, dia menatap bayi mungil yang berada dalam gendongannya itu dengan penuh rasa sayang.


"Baiklah, engkau putri kecilku. Aku beri nama engkau dengan nama Nayyara, yang artinya bersinar. Biar kelak hidupnya akan selalu bersinar dan dipenuhi cahaya keimanan." ucap Zamura.


Kemudian diciumnya bayi Nayyara dengan penuh kasih sayang.


Sari sangat terharu hingga sampai menitikkan air mata. Mengapa makhluk jin yang baru saja dikenalnya, rela berkorban begitu besar untuk membela nyawanya dan bayinya.


Justru manusia yang dia jadikan suami bahkan tega hendak menjadikan dirinya dan juga bayi yang dikandungnya sebagai tumbal demi untuk harta dan kedudukan.


"Terima kasih, Zamura. Kebaikanmu akan selalu aku ingat. Datanglah dan tengoklah putrimu. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu." ucap Sari masih dengan air mata yang berlinang.


Zamura mengangguk dan menyerahkan bayi Nayyara kembali ke gendongan Sari. Kemudian pemuda itu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit itu untuk bertemu kembali dengan tuannya.


Sementara itu, di sudut rumah sakit yang lain, seseorang sejak tadi memandang ke suatu tempat. Menatap dengan ragu, pada sebuah ruangan yang lalu lalang di lewati orang.


Pangeran Arkana tahu, di dalam sana ada Kania. Namun dia malu untuk menemui wanita itu secara langsung. Apalagi di dalam sana ada banyak orang.


Tak lucu jika kemudian dia mengajak Kania berbicara dan dilihat oleh orang lain. Tentunya akan terasa ganjil jika kemudian Kania terlihat seperti orang yang berbicara seorang diri.


Tak lama kemudian, gadis yang ditunggu - tunggunya sejak tadi muncul juga. Rupanya Kania ingin pulang karena sudah pergantian shift.


"Kania...!" panggil Pangeran Arkana saat gadis itu melewati tempat itu.


Pangeran Arkana berlari cepat mendatangi Kania.


"Arka...! Sejak kapan kau ada di sana...?" tanya Kania ketika melihat Pangeran Arkana.


"Sejak tadi Malam..??!! jawab Pangeran Arkana.


"HAH, Astaghfirullah.... kenapa tak menelponku, sih....?" ucap Kania.


Pangeran Arkana garuk - garuk kepala yang tak gatal. Dia lupa satu hal, kalau hidup di dunia manusia, dia harus berkenalan yang namanya Telepon.


???


???


??


Aduh, gimana ini, sudah di kasih lampu hijau. Pangeran Arkana harusnya menelpon, jangan menunggu, atuh Pangeran. 😁😁😁


Perlu saran ini, Pangeran harus punya nomor telepon. Biar bisa menelpon sang pujaan hati. Jangan diam - diam menanti.....


Oke, readers setia Mina. Jangan lupa like dan Vote. Salam manis selalu. Semoga sehat semua.. 🙏🙏🙏