Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 74 Pertemuan Kembali


"Itu adalah sebuah pintu..!" ucap Pangeran Arkana..


Ternyata, pedang mata Malaikat merupakan sebuah kunci untuk membuka sebuah pintu menuju ke dunia.


Pedang mata Malaikat telah membuka pintu bagi mereka semua untuk kembali ke dunia.


"Anda telah berhasil membuka pintu ke dunia, Tuan." kata Zaddak sambil menunduk hendak mencium tangan Pangeran Khalied.


Namun Pangeran Khalied menolak. "Zaddak, apa yang kamu lakukan..?" tanya Pangeran Khalied.


"Hamba ingin berterima kasih, karena anda telah menyelamatkan nyawa saya. Saya sangat berhutang budi pada anda, Tuan." ucap tetua dari klan Manusia Harimau itu.


"Sudahlah, tak perlu seperti ini. Kewajiban setiap makhluk untuk menolong sesama jika dia mampu untuk melakukannya. Dan aku menolongmu, karena memang sudah kewajiban aku untuk melakukannya."


Lelaki itu terharu mendengar kata - kata Pangeran Khalied. Pemuda itu memang benar - benar hebat. Tak salah Pangeran Hasyeem mengutus putranya tersebut untuk mencari pedang mata Malaikat. Karena sejatinya, pedang itulah yang menemukan pemiliknya, bukan Pangeran Khalied yang menemukannya.


Nagini tentu sudah tahu, bahwa dia dan Pangeran Khalied bukanlah bertemu secara sengaja. Tapi memang takdir. Maka dari itu, Naginilah yang mendatangi Pangeran Khalied. Dia tahu, kematiannya ada di tangan Pemuda itu. Sebab dengan kematiannya, maka sempurna wujudnya kembali menjadi pedang mata Malaikat.


Zaddak memeluk Pangeran Khalied dengan penuh perasaan haru. setelah itu dia memeluk Pangeran Arkana.


"Sampaikan salamku kepada saudaraku Ambika. Kami akan datang berkunjung ke sana. karena pintu dunia kini sudah terbuka." ucap Zaddak kepada Pangeran Arkana.


"Baiklah, Tuan. Akan aku sampaikan pesanmu kepada bibi Ambika." jawab Pangeran Arkana.


"Apakah kau tidak ingin ikut dengan kami saat ini, Tuan Zaddak..?" tanya Pangeran Khalied.


"Sesungguhnya, ingin sekali aku ikut ke dunia kalian. Namun sepertinya aku memiliki tugas yang harus aku selesaikan di sini." ucap Zaddak.


Pangeran Khalied menganggukkan kepala tanda paham akan maksud dari perkataan manusia Harimau itu.


Tentu saja, Zaddak harus tetap berada di sana untuk meluruskan kesalahan fahaman yang terjadi antara suku Wedda dan klan Manusia Harimau.


Perdamaian belum selesai. Masih ada beberapa masalah lagi yang harus di segera di luruskan agar kesalahan fahaman tidak terus berlanjut.


Sebab, jika terus berlanjut, maka tidak mustahil akan kembali terjadi peperangan dan pertumpahan darah.


"Kak, kita pulang sekarang..' kata Zahra yang sudah tidak sabar lagi untuk bertemu ibunya.


Untuk sesaat, rupanya gadis itu lupa bahwa sang ibu sudah tiada.


Kania pun demikian adanya. Gadis itu sudah tak sabar ingin cepat kembali ke alam manusia.


Entah sudah berapa lama dia berada di tempat ini. Dan dia tak tahu, bagaimana keadaan ayah dan ibunya juga rekan kerjanya. Tentunya mereka semua mencari - cari keberadaannya.


"Tuan, Terima kasih karena sudah berbaik hati menerima kami semua di tempat kamu dengan hati terbuka. Saya mengucapkan selamat tinggal, semoga kita berjumpa kembali.. " ucap Pangeran Khalied seraya menggandeng tangan kekasihnya dan membuka pintu dan kemudian memasukinya.


Demikian juga halnya dengan Pangeran Arkana dan Kania serta Zamura. Mereka memasuki pintu tersebut dan kemudian menghilang masuk ke dimensi lain yaitu dimensi di mana alam manusia dan jin hidup berdampingan tanpa saling melihat.


Pangeran Khalied memeluk erat tubuh Zahra saat memasuki dimensi alam manusia. Kedua sejoli itu seakan tidak ingin terpisahkan. Takut jika nanti sampai di alam dunia, akan berpisah.


"Sepertinya aku mengenal tempat ini.. " guman Pangeran Khalied seperti pada diri sendiri.


Saat ini, mereka berdua sudah berada di alam dunia. Pangeran Khalied mengetahui akan hal itu karena melihat warna langit yang berwarna biru.


Sedangkan Zahra, gadis itu bingung karena tidak mengenal tempat itu.


"Kak Khalied, kita ada di mana..?" tanya Zahra dengan bingung.


Dia tak mengenal tempat itu. Tempat itu amat indah dan permai. Penuh dengan bunga - bunga yang indah dan juga ada sungai.


Pangeran Khalied melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke suatu arah. Peelingnya mengatakan sesuatu. Jika ini sesuai dugaannya, maka pasti dia akan menemukan orang itu di sana.


"Ibu ratu...!" panggil Pangeran Khalied kepada seorang wanita cantik yang sedang duduk termenung seorang diri sambil memegangi tasbih.


Wanita itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Itu seperti suara putraku Pangeran Khalied, pikirnya.


"Pangeran Khalied, benarkah itu kamu. Atau ayahmu yang sedang menggoda diriku...??" tanya wanita itu dengan tatapan ragu.


"Ibu ratu, ini aku, putramu Pangeran Khalied... " kata Pangeran Khalied seraya membungkuk dan mencium tangan ibundanya dengan takjim.


Tangis Asmi meledak setelah yakin bahwa yang berdiri di hadapannya adalah benar - benar putranya, Pangeran Khalied.


"Ibunda... Khalied sangat merindukan ibunda ratu." ucap Sang Putera.


"Jadi kau hanya merindukan Ibundamu saja, Pangeran Khalied...?" tanya sebuah suara.


"Ayahanda...!!" seru Pangeran Khalied. Pemuda itu kemudian menghambur kepelukan ayahnya yang bertubuh sama dengan dirinya.


"Putraku....!! Kau sudah kembali. Ayah senang kau kembali dengan selamat. Tapi mengapa Pangeran Arkana dan Zamura tidak terlihat bersamamu...? Apakah kalian tidak bertemu...?" tanya Pangeran Hasyeem bertubi-tubi.


"Astaga... aku melupakan mereka. Padahal, kami tadi bersama..!" ucap Pangeran Khalied.


Dia baru sadar, bahwa Zamura dan Pangeran Arkana tidak bersamanya.


"Tunggu dulu, apa yang kamu maksud dengan kami, Pangeran Khalied..?" apakah kalian bersama - sama dengan Zamura juga Pangeran Arkana..?"


"Tentu saja kami bersama - sama, Ayahanda." Jawab Pangeran Khalied.


"Lantas, kemana sekarang keponakan kamu itu berada, juga pengawal pribadi kamu, Pangeran Khalied...?" kali ini Asmi yang bertanya.


Pangeran Khalied bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Sepertinya aku tahu, dia ada di mana..?" jawab Pangeran Khalied.


"Hmmm, aku mencium aroma manusia di tempat ini.. " ucap Pangeran Hasyeem tiba-tiba.


Pangeran Khalied terperanjat mendengar kata - kata ayahnya. Dia langsung ingat akan Zahra yang dia tinggal di bagian lain taman ini.


"Apa maksud kanda, apa kau lupa, istrimu seorang manusia...?" tanya Asmi dengan wajah keheranan.


"Maksudku, manusia lain selain dirimu, Sayang.." jawab Pangeran Hasyeem.


"Benarkah...?" ucap Asmi seraya menatap penuh tanda tanya kepada sang putra.


"Maafkan aku, aku lupa memberitahu ayahanda dan ibunda ratu, aku kesini bersama seorang teman.. " aku Pangeran Khalied.


"Teman, manusia....?" tanya Asmi dan Pangeran Hasyeem bersamaan.


Pangeran Khalied tidak menjawab melainkan melesat pergi meninggalkan ayah dan ibunya.


Tentu saja tingkah aneh dan tidak biasa Pangeran Khalied itu menimbulkan tanda tanya di hati Pangeran Hasyeem dan juga Asmi.


Sementara itu, Zahra yang di tinggal sendiri di taman itu mulai kebingungan. Dia mencari - cari Sang Pangeran ke berbagai sudut di taman itu.


Gadis itu bahkan memanggil - manggil nama Pangeran Khalied.


"Kak, Kakak... kak Khalied... kamu di mana. Kak Khalied, aku takut...!" serunya sambil menangis.


Gadis itu mulai ketakutan karena tak juga kunjung menemukan kekasihnya. Dia duduk sambil menangis di pinggir sungai.


"Zahra...!" sapa Pangeran Khalied.


Zahra menoleh ketika mendengar suara kekasihnya memanggil namanya.


"Kak, Khalied...?" serunya kegirangan. Zahra menghambur ke pelukan Pangeran Khalied sambil menangis sesegukan.


"Kenapa menangis...?" tanya Pangeran Khalied.


"Aku takut, kak..!" jawab Zahra. Pangeran Khalied terkekeh mendengar jawaban kekasihnya.


"Gitu aja, nangis..." ledek pangeran Khalied pada Zahra.


Zahra merajuk mendengar pangeran Khalied meledeknya.


"Habisnya kakak meninggalkan aku sendiri di tempat ini. Aku takut, Kak..!" jawab Zahra kesal.


"Hmm, pantas saja kau meninggalkan kami, Pangeran Khalied. Ternyata di sini ada bunga yang sangat Cantik... " sindir seseorang. Yang Tak lain adalah Sang Ayah, Pangeran Hasyeem.


"Ayahanda,...!" seru pangeran Khalied tertahan. Segera dia melepaskan pelukannya pada Zahra.


"Siapa gadis ini, Pangeran Khalied..?" tanya Ayahandanya..