Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 106 Menemukan Cinta Yang Hilang.


Khalied tersenyum bahagia, walaupun dia kehilangan sesuatu... tapi bersatunya sebuah keluarga adalah yang utama.


***


Pada sekuel waktu yang terhenti, dikisahkan bahwa Zahra tewas di tangan Raja Iblis. Kematian Zahra tersebut sebenarnya menimbulkan kedukaan di hati Pangeran Khalied.


Namun kemudian Pangeran Khalied menyadari, dia telah memutar waktu kembali pada masa sebelum dia mengenal gadis itu. Itu artinya, dia masih memiliki harapan bahwa ada kemungkinan dia akan bertemu kembali dengan Zahra.


***


Suasana hari ini sangat cerah. Semua putra dan Putri kakaknya Pangeran Azzurra datang berkunjung ke Bukit Malaikat.


Pangeran Khalied tersenyum bahagia karena dapat melihat kembali senyum kedua keponakannya Pangeran Zatan dan Fatan. Teringat olehnya, kematian tragis kedua keponakannya itu dalam perang besar yang terjadi di Bukit Malaikat pada dimensi waktu yang lainnya. Perih menusuk di hati bila ingat akan hal itu.


"Pangeran Khalied, mau kemana...?" tanya Putri Humaira.


"Aku ingin bermain - main dengan keponakan - keponakan aku dulu. Entah mengapa, aku merindukan mereka semua..." ucap Pangeran Khalied sambil melesat terbang menghampiri para keponakannya yang sedang sibuk mempersiapkan keperluan berburu.


"Tunggu aku, Pangeran Khalied. Aku mau ikut..!" Seru Putri Humaira. Putri Humaira langsung melesat terbang menghampiri Pangeran Khalied yang berhenti sejenak karena panggilannya.


"Ada apa, Putri Humaira...?" tanya Pangeran Khalied kemudian.


"Tidak, ada...! Aku hanya mau kamu menungguku. Ayo kita ke sana.. " tunjuk putri Humaira lagi dengan santainya.


"Astaga, ku kira ada hal yang penting sekali.. " Sungut Pangeran kesal.


"Pangeran Khalied, yang memanggilmu adalah adik perempuanmu. Mengapa marah...?" Ujar Putri Humaira dengan mata melotot ke arah Pangeran Khalied.


"Mengapa kamu tidak minta tunangan kamu Pangeran Sya'if untuk menemanimu. Aku tak tahan dengan kecerewetan kamu, Putri Humaira..?! " kata Pangeran Khalied lagi.


Putri Humaira sebenarnya sudah ditunangkan dengan Pangeran Sya'if putra Pangeran Hammed. Tapi sepertinya, Putri Humaira tidak terlalu menyukai Pangeran Sya'if.


Padahal, wajah Pangeran Sya'if sangat tampan. Dan lagi pula, Pangeran Sya'if amat sopan dan terpelajar.


Mata Putri Humaira makinmelotot mendengar nama Pangeran Sya'if di sebut.


"Jangan sebut orang lain yang tidak ada di sini dan berhentilah memintaku untuk meminta bantuan pada orang lain padahal aku sendiri saja masih mampu untuk melakukannya."


Pangeran Khalied tercengang oleh kata - kata mutiara Putri.


Benarkan.... apa yang dia katakan, Putri Humaira memang cerewet sekali.


Tanpa berucap lagi, Pangeran Khalied dan Putri Humaira segera meleset terbang menghampiri para keponakannya.


Dari kejauhan, terlihat ketiga pasang putra dan putri Pangeran Azzura. Mereka tampaknya sudah bergabung dengan semua saudara - saudara mereka yang lain.


Pangeran Arkana dan Pangeran Haizzar sudah memimpin di depan. Di belakangnya, para sepupu dan juga keluarganya mengikuti pangeran itu dengan tertib. Mereka tampak kompak dan rukun.


"Dinda Arras, ayo berangkat. Hari sudah mulai siang..!" Kata Pangeran Arkana kepada sepupunya itu.


"Dinda sudah siap, kanda. Ayo kita berangkat sekarang. Sepertinya hewan buruan di hutan ini sudah tak sabar ingin di buru....! " Canda Pangeran Arras.


" Hiaaa...... Ayo dinda, kita pergi. Seru Putri Zalika kepada kedua adiknya yaitu Pangeran Aldyan dan Putri Laila.


"HEI, TUNGGU.......!" Pangeran Khalied berseru menahan kepergian para keponakannya.


Serentak, mereka semua berhenti dan menoleh. Di belakang mereka muncul sosok Pangeran Khaleid dan Putri Humaira.


"Paman, ...bibi? Ada apa datang menyusul kemari? " tanya Pangeran Arkana.


"Tentu saja untuk mengawasi dan mendampingi kalian! " kata Pangeran Khaleid sambil Bersungut-sungut.


"Benarkah...? Wah.... asyik dong..! Senang sekali kalau paman Khalied juga ikut bergabung." kata Pangeran Arkana.


"Huh, tapi kencanku gagal gara-gara kalian." lanjutnya lagi. Sebenarnya pangeran Khalied tidak bersungguh -sungguh mengatakannya.


"Apakah kanda memang ada kencan dengan seseorang? " tanya Putri Humaira yang heran dengan Saudara kembarnya yang hanya beda lima menit kelahiran saja itu.


Pangeran Khaleid terdiam mendengar pertanyaan Putri Humaira. Tiba-tiba saja dia teringat Zahra.


"Paman, bibi, ayo.... Cepatlah, kita sudah hampir kesiangan. " ajak Pangeran Zatan dan Fatan yang berada paling belakang.


Keduanya yang ditugasi untuk mengawal semua saudara - saudaranya di barisan belakang.


"Baiklah, ayo kita berangkat...!" kata Pangeran Khalied yang langsung saja bergabung dengan rombongan itu.


Rombongan itupun akhirnya berangkat menuju ke Hutan Larangan. Tempat tujuan berburu mereka.


Hari sudah menjelang siang. Rombongan itu sudah memasuki Hutan Larangan. Mereka kemudian membagi rombongan itu ke dalam tiga kelompok kecil. Ketiga kelompok itu berpencar untuk mendapatkan hewan buruan.


Tanpa terasa hari sudah semakin siang. Waktu pun tanpa terasa berlalu. Tanpa disadari, matahari sudah mulai condong ke Barat. Pertanda hari sudah sore.


Pangeran Khalied segera memanggil semua keponakannya untuk berkumpul.


"Putri Zalika, kumpulan semua saudaramu. Kita pulang sekarang. Hari sudah menjelang sore." kata Pangeran Khalied.


Putri Zalika segera memanggil semua saudara - saudaranya untuk berkumpul di tempatnya. Tak butuh waktu lama, semuanya datang dan berkumpul di sana lengkap dengan hewan buruan masing-masing.


"Hah, tampaknya hasil buruan kita kali ini lumayan juga, Kanda.." kata Pangeran Aras kepada Pangeran Arkana.


"Benar sekali... tapi kenapa paman tidak memperoleh hewan buruan. Apa paman tidak berburu...?" tanya Pangeran Arkana heran.


"Bagaimana dia mau mendapatkan hewan buruan, sejak tadi dia hanya duduk - duduk saja. Tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya semula. Persis seperti Nyi Blorong yang sedang bertapa..!" ejek Putri Humaira.


"Ahh, diamlah, putri Humaira..Aku sedang menikmati kesendirianku yang sunyi sambil menikmati pemandangan alam karunia Ilahi." ucap Pangeran Khalied lagi.


Semua yang mendengar tertawa geli. Paman mereka itu sekarang berubah menjadi melankolis dan sensitif. Apa yang terjadi...


Tba-tiba mereka di kejutkan oleh suara teriakan yang datang dari arah depan. Bergegas mereka semua mendatangi asal datangnya suara teriakan tersebut.


Jarak beberapa meter dari mereka, seorang gadis dan seorang pemuda sedang berhadapan dengan seekor Harimau loreng besar yang berusaha untuk menghadang keduanya.


Harimau tersebut secara perlahan-lahan mendekati kedua manusia yang tampaknya sangat ketakutan. Keduanya berdiri di sudut semak- semak berduri dengan tubuh gemetar.


Gadis itu menangis sambil berteriak minta tolong. Sedangkan pemuda itu berusaha mengusir harimau tersebut dengan ranting besar yang tak sengaja dia temukan.


"Kasihan sekali mereka, kanda. Ayo kita tolong. Jika tidak, mereka akan jadi santapan makan siang harimau tersebut. " kata Pangeran Fatan kepada Pangeran Arkana.


"Tunggu dulu, kamu tidak lihat. Harimau itu bukan bermaksud untuk menyerang mereka. Tetapi sebenarnya dia mencoba untuk menghalau mereka dari sesuatu." kata Pangeran Arkana.


"Apa maksud kanda? " tanya kedua adiknya Fatan dan Zatan tak mengerti.


"Lihatlah di sana..! " tunjuknya pada sesosok makhluk tinggi besar hitam dengan kedua taring besar di sudut bibirnya sedang tertidur tak jauh dari mereka.


"Astaga.... kenapa mereka tidak menyadari hal itu? " tanya Pangeran Arras.


Itu adalah jin ifrit.... Rupanya harimau itu ingin memberi peringatan agar keduanya tidak sampai berlalu melewati tempat itu karena di sana ada jin Ifrit sedang tidur.


"Ayo, kita menampakkan diri di depan mereka." kata Pangeran Arkana. Semuanya mengangguk setuju. kesemuanya kemudian menampakkan wujud ke bentuk manusia agar bisa terlihat oleh kedua pasang anak manusia tersebut.


"Menyingkirlah, belang. Biar kami ambil alih tugasmu...!" kata Putri Malika kepada harimau tersebut. Dengan patuh harimau itu kemudian pergi meninggalkan rombongan kecil tersebut.


"Hai, kalian sudah aman. Harimau itu sudah pergi...!" Putri Zalika berkata kepada kedua pasangan muda mudi itu.


" Terima kasih, atas pertolongan kalian. Kami tersesat dari rombongan dan tiba-tiba saja bertemu harimau itu. Dia hendak menerkam kami.." kata Pemuda tersebut.


"Sama-sama, tapi sebenarnya harimau tadi tidak berniat begitu. Harimau itu bermaksud menahan kalian agar tidak ke sana" tunjuk putri Zalika.


"Benarkah, tapi apa sebabnya... ?" ucap Pemuda itu.


"Sudahlah, aku jelaskan juga tak ada gunanya. Karena kalian tak melihat apa yang bisa kami lihat.. " ucapmya kemudian.


Akhirnya, kedua anak manusia itu pun pergi, setelah berulang kali mengucapkan terima kasih kepada semua penolong mereka.


***