Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 79


"Zahra, kita berada di dimensi empat sudah lebih satu purnama. Tapi mengapa saat kita kembali, semuanya masih sama. Waktu kembali lagi berulang pada saat aku selesai bertarung melawan si Codet"


Setelah Pangeran Khalied berucap demikian, sadarlah Zahra bahwa yang aneh bukan mereka tapi waktu...


Benar juga. Zahra baru menyadari bahwa saat mereka berada di dimensi ke empat saja sudah lebih satu purnama. Namun, mengapa saat dia kembali bersama Pangeran Khalied ke rumah Zahra, mereka menjumpai kenyataan bahwa Zahra dan Pangeran Khalied hanya pergi beberapa saat saja.


Ternyata, apa yang mereka alami selama beberapa minggu di dimensi ke empat, hanya memerlukan beberapa jam saja di dunia manusia.


Bukan hanya Pangeran Khalied dan Zahra saja yang mengalami kejadian aneh tersebut, tetapi Kania dan Juga Pangeran Arkana.


Kania dan Pangeran Arkana tiba kembali di tempat semula yaitu di rumah sakit tempat Kania bekerja.


"Kania, kamu dari mana saja.? tanya Kak Leti, teman sejawat Kania.


" Aku, ...aku dari..." Kania tergagap tak mampu menjawab pertanyaan Kak Leti.


"Aku kira kamu sudah pulang. Ternyata masih ada di sini." kata Kak Leti kemudian.


Kania menatap mata Pangeran Arkana heran. Mengapa Kak Leti seolah-olah tidak melihat keberadaan Arka, yah..? pikir Kania dalam hati. Dan satu lagi, tadi Kak Leti bilang aku kira kamu sudah pulang. Apa artinya itu,...? Kania sibuk bertanya dalam hati.


Kania mencoba mengingat -ingat urutan kejadian yang terjadi. Mundur kembali beberapa minggu yang Lalu.


Terakhir saat itu dia pulang agak larut karena menggantikan sementara tugas kak Leti. Anak Kak Leti sakit.


Astaga....


Iya, benar. Saat terakhir bertemu Kak Leti, wanita itu memberi dia nasi goreng buatannya sebagai hadiah karena telah berbaik hati mau menggantikan dia sementara dia sibuk mengurus anaknya yang sakit.


Setelah itu, dia pamit untuk pulang sementara Kak Leti kembali bertugas.


Kania ingat, saat pulang itulah dia bertemu dengan Arka. Pemuda aneh yang pernah menolongnya.


Arka, pemuda itu mengaku ingin mengenal dirinya. Bukan hanya itu, pemuda itu juga membawanya ke...puncak menara Eiffel di Paris.


Wajah Kania terlihat heran bercampur senang. Dia heran karena jika Kak Leti, saja masih di sini, itu artinya dia belum pergi terlalu lama meninggalkan rumah sakit ini. Dia pergi bukan beberapa minggu tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja.


Astga.... Kania hampir saja bersorak girang saking senangnya.


"Ada apa, apa yang telah terjadi..? " tanya Pangeran Arkana tak mengerti.


"Arka, ... Arka... ternyata aku tidak meninggalkan tempat ini. itu berarti aku tidak akan di pecat." ucap Kania dengan riang.


Bukan tanpa sebab dia bertingkah seperti itu. Selama ini yang dia takutkan adalah dia bakalan dipecat dari pekerjaannya sebagai perawat karena pergi begitu lama tanpa kabar selama lebih dari satu purnama.


Itu sama artinya,dia tidak membolos kerja dan tidak bakalan di pecat. Kania kini dapat bernafas dengan lega merasa bebas dari masalah.


"Maksudnya...?" tanya Pangeran Arkana.


"Kita masih ada di hari dan tanggal yang sama dengan hari dan tanggal dimana kita terakhir kali meninggalkan tempat ini." ucap Kania dengan riang.


Kini giliran Pangeran Arkana terkesima mendengar ucapan Kania. "Benarkah,.?" tanyanya dengan heran.


"Benar, Arka...!" seru Kania lagi.


Meskipun terdengar aneh namun Pangeran Arkana ikut senang melihat Kania akhirnya bisa tertawa gembira.


***


Zahra memang masih lagi sangat terguncang dengan kematian ibunya. Namun dia masih juga bingung mengapa bisa ada di dunia ini, perbedaan waktu dan juga masa yang bergerak terlalu cepat atau pun lambat.


"Sayang, sepertinya waktu bergerak cepat di dimensi ke empat. Namun di dunia ini, waktu berjalan lambat." ucap Pangeran Khalied.


"Benar juga, Kak. Berbagai peristiwa sudah kita alami di dimensi ke empat. Namun, ternyata waktu tidak merubah keadaan sedikitpun." ucap Zahra.


" seandainya saja waktu bisa diputar kembali. Apa yang kau inginkan..?" tanya Pangeran Khalied.


"Aku ingin agar aku dikembalikan ke waktu sebelum ibuku meninggal dunia., kak. Aku ingin menolong ibuku."


jawab Zahra.


Terlihat, Pak Sobirin, Ketua RT di tempat tinggal Zahra datang menghampiri gadis itu.


Pandangan matanya menatap lurus ke arah Zahra. Kasihan sekali, gadis ini. Sudah di tinggal mati ayahnya, kini ibunya juga menyusul, ucap Pak RT dalam hati.


Merasakan iba akan nasib Zahra yang yatim piatu, membuat Pak RT itu berniat untuk menjadikan Zahra menantu.


"Kalau kau membutuhkan bantuan, jangan ragu datanglah ke rumah. Pintu rumah Bapak selalu terbuka untuk semua warga." ucap Pak RT lagi.


Zahra mengangguk seraya menatap ke arah jenazah ibunya yang kini sedang dipersiapkan untuk di mandikan.


"Terima kasih, Pak." ucap Zahra.


" Kalau begitu, Bapak akan mengurus pemakaman ibumu dulu.." ucap Pak RT seraya berjalan keluar.


Zahra tak menjawab, dirinya hanya menggangguk mengiyakan.


Sepeninggal Pak RT, Zahra dengan di bantu beberapa orang warga segera memandikan dan mengkafani jenazah ibunya.


Segera setelah itu, warga beramai-ramai membawa jenazah ibunya Zahra ke mesjid untuk di sholati.


Setelah di solatkan, kemudian jenazah Mpok Suri, ibunya Zahra di makamkan di tanah pemakaman umum milik warga.


Selama proses itu, Pangeran Khalied selalu menemani dan mendampingi kekasihnya.


Hanya saja wajah Pangeran Khalied nampak masam dan gusar. Perubahan itu dilihat oleh Zahra.


"Kak Khalied, kenapa. .? Wajah kakak sepertinya marah. Apa Zahra ada berbuat salah sama kakak....? " tanya Zahra.


"Aku bukan marah padamu. Tapi pada Ketua RT kamu itu.!" tunjuk Pangeran Khalied kepada Pak Sobirin yang berjalan di depan Zahra.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah pemakaman ibunya Zahra.


"Kok bisa begitu..?".


"Lelaki itu merasa iba kepadamu dan dia berniat ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. Jelas saja aku marah. Menurutmu aku harus bagaimana..? Senang, gembira...?? " jawab Pangeran Khalied dengan ketus.


Astaga... rupanya Pangeran Khalied sedang cemburu. Wah, manisnya kak Khalied kalau lagi cemburu, pikir Zahra.


Tapi dari mana kak Khalied tahu bahwa Pak Sobirin berniat untuk menjodohkan putranya dengan Zahra.


"Dari mana kakak tahu, kalau Pak Sobirin ingin menjodohkan aku dengan salah satu putranya..? bisik Zahra penasaran.


"Aku memiliki kelebihan dapat membaca isi hati dan pikiran seseorang." jawab Pangeran Khalied.


Mulut Zahra mayun seketika


Zahra tak menduga bahwa pemuda yang sedang berdiri di hadapannya benar-benar bisa membaca isi hati dan pikiran seseorang. Lalu kemudian dia pun bertanya...


"Apakah kakak mengetahui apa isi pikiranku saat ini...?" tanya Zahra lagi.


"Sayangnya, kau adalah pengecualian. Aku sama sekali tak bisa membaca isi hati dan pikiranmu." ucap Pangeran Khalied dengan jujur.


????



Pangeran Khalied


pang



Pangeran Arkana



Pangeran Hasyeem Sekarang


Nah itulah kira kira Visual dari Pangeran kita yang tampan - tampan.