
Melihat itu, Zamura bergerak cepat membantu Pangeran Khalied. Namun pemuda itu juga ditahan oleh anak buah Iblis Merah yang lain.
Tubuh Zahra sudah akan menyentuh bumi ketika tiba-tiba tubuh gadis itu berhenti tepat beberapa senti meter di atas ujung tombak anak buah iblis Merah.
"Subhanallah,....! Alhamdulillah...!" Zahra selamat...!"
Putri Humaira berseru seraya bergerak cepat menyambar tubuh Zahra dan membawanya turun ke bawah.
"Hah, apa yang terjadi...?" iblis Merah bertanya dengan murka. "Mengapa gadis itu bisa selamat dan tidak jatuh ke bumi.."
Allah menurunkan keselamatan atas diri Zahra melalui tangan Pangeran Khalied. Detik-detik terakhir Zahra meluncur ke bawah, Pangeran Khalied memerintahkan kepada Pedang Mata Malaikat untuk menyelamatkan Zahra.
Pedang Mata Malaikat yang memang memiliki jiwa itu bergerak cepat dengan sendirinya menahan tubuh Zahra hingga tubuh gadis itu tidak sampai ke bawah dan bertemu dengan ujung tombak dan senjata anak buah Iblis Merah.
Iblis Merah sungguh-sungguh tak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Dia tak sempat lagi bergerak untuk menahan putri Humaira yang lebih dahulu melesat terbang menyambar tubuh Zahra.
"Tangkap putri Pangeran Hasyeem itu dan juga gadis itu...!" Perintah iblis Merah kepada anak buahnya dengan marah.
Segera anak buah iblis Merah mengejar Putri Humaira yang bergerak cepat menjauhi tempat itu sambil membawa tubuh Zahra yang masih terkulai lemah karena pengaruh totokan iblis Merah.
"Tampaknya Zahra tak berdaya karena totokan anak buah iblis Merah. Aku harus segera membebaskan Zahra Zahra dari totokan itu." kata Putri Humaira dalam hati.
Tangannya bergerak cepat membuka aliran jalan darah di tubuh Zahra agar wanita itu terbebas dari pengaruh totokan. Akhirnya Zahra terbebas juga dari totokan anak buah Iblis Merah. Kini gadis itu bisa bergerak leluasa.
Sementara itu, anak buah Iblis Merah berhasil mengejar Zahra dan Putri Humaira. Mereka kemudian mengepung Zahra dan Putri Humaira yang berada tak jauh dari halaman istana Bukit Malaikat.
Zyfhar, sang Pengawal pribadi putri Humaira yang melihat Tuan putrinya berada dalam bahaya, langsung bergerak melindungi Putri Humaira dan juga Zahra.
Pengawal pribadi Putri Humaira yang memiliki sayap itu membabat habis semua anak buah Iblis Merah yang memburu Putri Humaira.
Bahkan tak hanya Zyfhar saja, yang membantu Putri Humaira, Pangeran Azzura yang datang bersama Putri Ambika beserta putra putri mereka, turut pula membantu Zyfhar. Keadaan kini berbalik. Anak buah iblis Merah habis di bantai oleh Zyfhar bersama - sama dengan Pangeran Azzura dan keluarganya.
Melihat itu, Iblis Merah semakin murka. Dia bermaksud untuk mendatangi Putri Humaira dan Zahra. Namun, niatnya rupanya telah di baca oleh Pangeran Khalied.
Crass...... Crass...... Dada Iblis Merah tertembus Pedang Mata Malaikat yang kini rupanya sudah digunakan oleh Pangeran Khalied.
"Kau....., kau memiliki pedang Mata Malaikat...? Aghrrrhhhh....sial..!!" erang iblis Merah kesakitan.
Tusukan pedang Mata Malaikat bagai besi panas dari neraka. Pedang itu seolah membakar habis seluruh isi tubuh Iblis Merah. Sakitnya sungguh luar biasa. Hingga Iblis Merah melolong kesakitan. Iblis itu sekarat dengan rasa sakit yang tak terkatakan.
"Kau salah memilih lawan, Iblis Merah. Sekarang matilah membusuk di neraka Jahannam terkutuk selama - lamanya.!" kutuk Pangeran Khalied geram.
Pangeran jin yang sudah murka itu kemudian menusukkan pedang Mata Malaikat ke tubuh Iblis Merah berkali-kali sampai Iblis itu jatuh tersungkur ke tanah.
Matilah Iblis Merah dalam keadaan yang amat memilukan. Tubuh Iblis Merah hangus terbakar dan menjadi abu.
Bersamaan dengan tewasnya Iblis Merah, maka makhluk - makhluk jelmaan yang keluar dari tubuh Iblis Merah juga ikut musnah. Seluruh anak buah Iblis Merah hilang lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Pangeran Khalied tersenyum penuh kemenangan karena Iblis Merah sudah binasa. Perlahan-lahan, wujud Pangeran tampan itu kembali lagi ke wujud aslinya. Bukan lagi berwujud seorang Beast seperti tadi, pada saat murka dan bertarung dengan Iblis Merah. Mata itu juga sudah kembali seperti semula. Tidak lagi berwarna hitam.
Pangeran Khalied mengedarkan pandangan ke arah sekelilingnya. mencari - cari keberadaan sosok Zahra.
Hati pangeran itu merasa lega saat melihat kekasihnya sedang bersama saudara kembarnya.
Pangeran Khalied memandang ke arah Zahra yang kini juga tengah memandang ke arah pangeran Khalied. Dia terharu dan bahagia, karena masih bisa menatap wajah kekasihnya.
Zahra pun demikian. Hati gadis itu diliputi kebahagiaan dan juga penuh rasa syukur. Kekasihnya Pangeran Khalied berhasil mengalahkan dan membinasakan Iblis Merah yang jahat dan kejam.
Namun rupanya kegembiraan pangeran Khalied hanya sesaat saja. Baru saja pangeran tampan itu menarik napas lega, dari arah Utara benteng kerajaan Istana Bukit Malaikat, terjadi kerusuhan dan juga huru hara.
Raja iblis Baal Al Zubab berhasil menembus salah satu benteng pertahanan di utara istana Bukit Malaikat.
Raja Iblis itu menerobos paksa pagar ghaib yang menutupi benteng Utara istana Bukit Malaikat yang saat itu penjagaannya lemah akibat serbuan Iblis Merah.
Raja iblis yang berhasil masuk langsung melibas semua pasukan Panglima Ammar yang berada di gardu sebelah utara dan membinasakan mereka semua tanpa ampun.
Mendengar kabar ini, Pangeran Hasyeem dan beserta Pangeran Alyan langsung bergerak menuju ke arah Utara. Sedangkan Pangeran Azzura dan Putri Humaira berjaga di pintu gerbang utama.
"Pangeran Khalied, mana ayahanda dan kakakmu Pangeran Alyan...?" tanya Bunda Ratu Asmi yang datang menyusul keluar istana.
"Bunda Ratu, ayahanda ada di gerbang utara bersama Kakanda Pangeran Alyan. Raja Iblis Baal Al Zubab berhasil masuk lewat gerbang Utara, Ibunda." kata Pangeran Khalied.
"Masya Allah, Pangeran. Apa yang terjadi dengan ayahandamu...?" tanya Ratu Asmi cemas. Wajah Ratu Asmi di dera kecemasan dan kekhawatiran akan nasib suaminya, Pangeran Hasyeem.
"Ananda rasa pasti kini ayahanda dan Kakanda Pangeran Alyan sedang membendung habis - habisan serangan raja iblis Baal, Bunda. " jelas Pangeran Khalied.
"Kalau begitu, antarkan bunda kesana sekarang juga, Pangeran Khalied..!" perintah Ratu Asmi.
Tentu saja pangeran Khalied amat sangat terkejut mendengar perintah ibundanya.
"Bunda Ratu, ananda rasa sebaiknya bunda jangan kesana. Karena di sana amat berbahaya... " ujar Pangeran Khalied.
"Bagaimana bisa, aku membiarkan ayahandamu berjuang sendiri. Aku istrinya, maka aku harus mendampingi ayahmu..!! Apalagi yang dihadapinya adalah raja Iblis Baal Al Zubab...!" kata Ratu Asmi lagi.
Ratu cantik itu gusar karena tak mau keinginannya ditentang oleh Pangeran Khalied.
Zahra memandang wajah kekasihnya. "Kak, sebaiknya kakak turuti saja keinginan ibunda Ratu." bisik Zahra.
"Tapi, ..... ayahandaku pasti akan marah besar jika sampai ibu Ratu turun ke medan perang. Dia tak ingin ibu Ratu sampai ikut serta.Karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika sampai ibu Ratu turun ke medan Pertempuran.." sahut Pangeran Khalied.
"Pangeran Khalied, jika kau tak mau mengantarkan ibundamu ini, maka aku akan pergi seorang diri ke sana..!" ucap Ratu Asmi kemudian.
Pangeran Khalied tak bisa berkutik dan membantah ibundanya. Dengan berat hati, dia pun mengantarkan Ratu Asmi ke gerbang Utara.