
Kesempatan itu tak di sia - siakan oleh Pangeran Khalied yang menjelma kembali menjadi manusia dan menebaskan pedangnya tepat di wajah Iblis pohon.
Mata blis pohon terbeliak tak percaya. Pedang Pangeran Khalied berhasil melukainya.
Belum lagi hilang rasa kaget Iblis pohon karena pedang Pangeran Khalied yang berhasil melukainya.
Crass....
Kembali pedang pangeran Khalied menebas wajah Iblis pohon untuk kedua kalinya. Namun kali ini tepat mengenai kedua mata Iblis itu.
Lengkingan kesakitan dari Iblis pohon yang kehilangan penglihatannya akibat luka tebasan pedang Pangeran Khalied di matanya terdengar begitu menyeramkan. Rupanya, kelemahan iblis pohon terletak pada bagian matanya. Mata iblis pohon serupa pusat pengendali bagi semua. Mata itu juga merupakan sumber kekuatan iblis pohon.
Pangeran Khalied tanpa sengaja berhasil menebas mata Sang Iblis yang merupakan inti dari kekuatannya. Iblis pohon pun terpaksa mengakui kekalahannya.
"Pangeran Khalied.... Aku mengaku kalah. Namun kau juga tidak bisa mendapatkan roh gadis itu. Rohnya akan aku bawa pergi bersamaku ke neraka...!"
Selesai berkata demikian, Iblis pohon lenyap tak meninggalkan jejak bersama roh Zahra. Sedangkan tubuh Zahra masih berada di sana. Tubuh yang kehilangan roh itu tergeletak begitu di tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Sedangkan Mei Fang, Iblis pohon menepati janjinya. Dia membebaskan roh Mei Fang. Dan sebagai gantinya, dia mengambil roh Zahra untuk dia bawa ke neraka.
Roh Mei Fang merasa senang karena Pangeran Khalied yang telah berhasil membebaskan dirinya dari cengkraman Iblis pohon.
Namun gadis itu turut merasa sedih karena dirinya, Pangeran Khalied telah kehilangan wanita yang dicintai olehnya.
Pangeran Khalied duduk terpekur di depan jasad Zahra. Dia sangat sedih karena kembali merasa gagal menyelamatkan wanita itu. Wanita yang teramat sangat dia cintai. Walaupun Zahra telah menolak menerima dirinya, namun cinta Pangeran Khalied tidak padam begitu saja. Dirinya masih berharap Zahra berubah pikiran dan mau menerima keadaan dirinya apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
"Zahra..! Aku harus mendapatkan kembali gadis itu meski harus ke neraka sekalipun." desisnya marah dengan mata berkilat hitam. Itu adalah mata iblisnya Pangeran Khalied yang sudah kehilangan sisi manusianya.
"Tuan, Terima kasih karena sudah membebaskan diriku. Untuk membalas hutang budi ini, maka aku bersedia untuk mengantarkan tuan ke neraka untuk merebut gadis itu..!
Pangeran Khalied menoleh ke arah Mei Fang. Matanya menatap tajam ke arah Mei Fang.
"Benarkah ..? Apakah kamu bisa membawaku ke tempat itu. Jika demikian, ayo kita segera pergi ke Neraka. Agar aku bisa membawa pulang kembali roh Zahra ke dalam tubuhnya. Aku akan sangat berterima kasih padamu, Nona Mei Fang" kata Pangeran Khalied.
"Benar sekali, Tuan. Saya melakukan ini untuk membalas budi baik tuan kepada saya. Saya bersedia untuk menjadi penunjuk jalan bagi tuan untuk sampai ke neraka. Namun sayangnya, saya ada sedikit masalah, Tuan.." ucap Mei Fang.
"Masalah... masalah apa, Nona Mei Fang..?"
"Tubuh saya tak bisa menembus alam neraka karena saya tak mempunyai wadal, tuan." kata Mei Fang. ( Wadal itu adalah tubuh kasar. yaitu berupa jasad atau tubuh kita yang berbentuk jasmani secara utuh).
Pangeran Khalied tertegun mendengar penuturan Mei Fang. Untuk sesaat, pangeran muda itu berpikir keras bagaimana caranya agar tubuh Mei Fang mendapatkan wadalnya.
Tiba-tiba saja, pandangan matanya tertuju pada tubuh Zahra. Tubuh Zahra adalah wadal yang tepat untuk membawa Roh Mei Fang bersamanya ke neraka.
"Aku tahu dimana kamu bisa memperoleh wadal." kata Pangeran Khalied.
"Benarkah, tapi tubuh siapa yang akan kujadikan wadal, tuan? " tanya Mei Fang dengan bingung.
"Zahra.. tubuh Zahra adalah wadal yang sesuai denganmu. Sekarang tunggu apa lagi..? Masuklah kamu ke tubuh itu!! " perintah Pangeran Khalied.
Mei Fang akhirnya menuruti perintah Pangeran Khalied. Tubuhnya perlahan-lahan memasuki tubuh Zahra hingga yang kini terbujur kaku.
Tak lama kemudian tubuh Zahra mulai terlihat bergerak - gerak. Tubuh Zahra itu hidup kembali.
"Sekarang, mari kita pergi ke neraka..!" Ajak Pangeran Khalied dengan tidak sabarnya
"Baiklah, Tuan. Namun sebelumnya, kita harus ke tempat tinggal Iblis Pohon dulu. Karena pintu atau pun jalan masuk ke neraka adalah sebatang pohon yang terletak di tengah - tengah Hutan Bambu."
"Kalau begitu, cepatlah.! Kita hampir kehabisan waktu."
"Lewat sini, Tuan..!" kata Mei Fang seraya tangannya memberi isyarat kepada Sang pangeran untuk mengikutinya.
Pangeran Khalied dan Mei Fang akhirnya tiba di hutan bambu. Di hutan Bambu itu memang tumbuh sebatang pohon oak yang sangat besar dan rindang. Mungkin umur pohon itu sudah ribuan tahun. Karena batangnya saja demikian besarnya hingga di perlukah beberapa lengan orang dewasa untuk bisa mengelilingi pohon itu saking besarnya. Di tengah - tengah pohon terdapat sebuah lubang yang sangat besar mirip seperti sebuah gua. Dan ke sanalah tujuan kedua orang itu.
Mei Fang kemudian merentangkan kedua belah tangannya ke arah lubang pohon itu. Secara ajaib, lubang besar itu menjelma menjadi sebuah jalan menuju ke pintu gerbang menuju ke mulut pintu neraka. Namun jalan itu di batasi oleh sungai yang airnya berwarna merah semerah darah dan bergolak seperti air mendidih.
"Ini adalah mulut Gerbang Neraka, Tuan!" tunjuk Mei Fang ke arah pintu gerbang tersebut. "Untuk menuju ke Pintu gerbang itu, kita harus menyeberangi sungai ini."
"Lantas bagaimana cara kita menyeberangi sungai ini. Apa kita mesti terbang ke sana."
"Sepertinya begitu, Tuan." jawab Mei Fang." Tapi berjanjilah padaku, Tuan, jika sudah di dalam sana, Tuan jangan pernah berbicara atau mengeluarkan suara.." kata Mei Fang lagi.
"Mengapa aku tidak boleh bicara..?"
Mei Fang menatap pangeran Khalied lalu berkata, "Karena orang mati tidak bicara, Tuan."
"Baiklah, aku berjanji tidak akan bicara."ucap Pangeran Khalied.
Tubuh pangeran Khalied melesat di udara terbang melewati sungai darah itu sambil membawa tubuh Zahra yang berisi roh Mei Fang.
Tanpa melalui rintangan yang berarti, Pangeran Khalied dan Mei Fang akhirnya sampai juga di gerbang pintu neraka.
Namun saat akan memasuki pintu neraka, mereka berdua di cegat oleh penjara neraka yang berwajah garang dengan suara yang menyeramkan.
Penjaga itu menanyakan izin masuk ke tempat itu. Mei Fang memperlihatkan tanda di tangannya seperti tanda segel berbentuk segitiga terbalik.
Penjaga itu tak lagi bertanya dan mempersilahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka kemudian mengikuti iringan yang berjalan menuju ke suatu tempat. Iringan itu berjalan lambat melewati jalanan yang berada di pinggir tebing yang sisi kanan dan kirinya hanyalah berupa jurang yang gelap dan dalamnya tak bertepi.
Tanah di tempat itu kering dan tandus bagai tak pernah tersiram hujan. Tak ada pepohonan. Juga tak ada tanaman. yang ada hanya bebatuan cadas yang terjal dan curam.
Keduanya sampai di suatu tempat yang mirip seperti sebuah kastil tua. Kastil itu tinggi menjulang dengan puluhan anak tangga yang berderet berjajar mulai dari tanah. Mei Fang berhenti persis di depan anak tangga pertama. Lalu berbalik menatap Pangeran Khalied.
"Tuan, tugasku mengantar tuan hanya sampai di sini saja. Selebihnya, tuan bisa masuk sendiri ke dalam. Jika nanti tuan bertemu dengan banyak guci yang berbaris di atas sebuah altar, pilihlah satu yang paling sederhana." kata Mei Fang. Selesai berkata demikian, Mei Fang beringsut menjauhi anak tangga untuk memberi jalan pada Pangeran Khalied.
"Baiklah, aku pergi dulu..! Terima kasih atas semuanya." kata Pangeran Khalied. Agak canggung rasanya mengucapkan kata itu, namun dia sadar bahwa wanita itu bukan Zahra.
Pangeran Khalied kemudian berjalan memasuki kastil itu dengan perlahan-lahan. Dia berjalan sambil memperhatikan sekeliling tempat itu.
Tempat itu aneh dan mengerikan. Banyak sekali mayat dan tengkorak manusia berserakan di mana-mana. Bau amis darah bercampur bau busuk yang memualkan perut amat menusuk hidung. Baunya bahkan sampai ke luar kastil . Tempat apakah ini, tanya Pangeran Khalied dalam hati.
"Selamat datang, Pangeran Khalied. Putra Pangeran Hasyeem, Cucu Alyan Haizzar.. Sungguh suatu kehormatan bertemu dirimu di sini. Gerangan apakah yang membawamu hingga sampai di istanaku ini. Perkenalkan, namaku adalah Zyabban. Aku adalah penguasa kastil tua ini."
"Aku sedang mencari Iblis Pohon..!" jawab Pangeran Khalied.