
Masih di dimensi ke empat. Minggu ke empat.
Pagi yang kelabu. Karena author mau bilang cerah, tapi nggak ada matahari. Langit masih sama seperti hari - hari yang kemarin, warna kelabu, tertutup mendung.
Semua sudah bangun dan membuka mata. Hanya tinggal Zahra seorang. Rupanya gadis itu masih lelap. Entah karena lelah, atau juga merasa nyaman dalam pelukan Pangeran Khalied.
Kania dan Pangeran Arkana sedang berjalan menikmati pagi. Sebenarnya, maksud Pangeran Arkana adalah mencari - cari kapal atau perahu yang bisa mereka jadikan alat untuk menyeberangi lautan. Atau kembali melalui cara cepat ala mereka, yaitu terbang melewati lautan yang luas. Namun, sudah jauh mereka berjalan, tak ada juga tanda - tanda mereka akan menemukan keberadaan perahu ataupun kapalkapal di sekitar tempat itu.
" Bodohnya, aku. Bagaimana mungkin aku bisa berharap bahwa aku akan menemukan perahu di sekitar tempat ini. Batang pepohonan saja hampir tidak ada, bagaimana bisa orang membuat sebuah perahu..?" ucap Pangeran Arkana pada diri sendiri.
"Kau kenapa, Arka. Mengapa kau terlihat begitu kesal..? " tanya Kania. Gadis itu heran karena melihat wajah kesal Pangeran Arkana. Terlihat lucu sekaligus menggemaskan.
"Aku tak menemukan kapal, bagaimana kita akan berlayar ke seberang..?" jawab Pangeran Arkana.
Kania terdiam mendengar jawaban Pangeran Arkana. Dia baru menyadari bahwa mereka tak mungkin selamanya berada di tempat ini. Menyeberangi lautan adalah hal yang pasti akan mereka lakukan.
Dan memang yang jadi masalah saat ini adalah mereka memerlukan sebuah kapal untuk menyeberangi lautan yang amat luas ini. Namun mereka tak menemukan satupun perahu yang bisa mereka tumpangi untuk menyeberangi lautan itu.
"Ayo kita kembali..!" ajak Pangeran Arkana.
"Ayo..! Mungkin saja Zahra sudah bangun." ucap Kania.
Pangeran Arkana meraih tangan Kania dan membawa gadis itu terbang melesat meninggalkan tempat itu menuju ke tempat mereka semula berada.
Zahra membuka matanya saat ia merasa bahwa ada seorang yang sedang mengawasi dirinya. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Pangeran Khalied yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Sangat cantik.... " guman Pangeran Khalied.
"Ih, Khalied...!! " Zahra jadi salah tingkah dengan perkataan dan juga sikap Pangeran Khalied. Dia pun bergegas bangun dan bergegas membenahi diri. Malu rasanya, dirinya baru bangun tidur sudah dilihat oleh Khalied.
Pangeran Khalied tertawa melihat tingkah lucu Zahra. Gadis itu sungguh lucu. Selama mereka jadian, tingkahnya ada ada saja. Kadang mayun sendiri, kadang marah - marah tak jelas. Dasar cewek, ucap Pangeran Khalied dalam hati.
Di saat yang sama, Pangeran Arkana dan Kania baru saja tiba di tempat itu. Mereka melihat Zahra yang berjalan keluar dari dalam mulut gua menuju ke bibir pantai.
"Zahra, tunggu..!!" Kania berlari menghampiri Zahra yang sedang menunggunya. "Kamu mau kemana?" tanya Kania setibanya dia di hadapan Zahra.
"Tidak kemana - mana. Aku hanya sedang bosan saja." jawab Zahra.
Sementara Pangeran Arkana berjalan mendekati Pangeran Khalied yang sedang berdiri di luar gua mengawasi Zahra yang sepertinya hendak bermain - main di bibir Pantai.
Pangeran Khalied berteriak memperingati Zahra agar jangan terlalu jauh dari dirinya.
"Zahra, Kania, jangan jauh - jauh. Disini banyak bahaya yang... "
Belum selesai pangeran Khalied berucap, tiba-tiba saja lautan yang tadinya itu tenang mendadak bergelombang. Angin pun bertiup sangat kencang dan kabut yang datang secara tiba-tiba yang muncul dari lautan.
"Zahra , Kania..!" Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana berlari cepat menerobos ke dalam kabut yang menyelimuti Zahra dan Kania. Zamura yang melihat itu ikut masuk mengejar Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana.
Kabut yang datang menyelimuti kelimanya semakin tebal. Namun angin yang datang bersama kabut itu sudah tak ada.
"Zahra...!! " Teriak Pangeran Khalied.
"Kania...!!" Pangeran Arkana juga sibuk memanggil - manggil Kania.
"Arka..! Suara Kania yang memanggil Pangeran Arkana. " Aku takut. Aku tak bisa melihatmu. Kabutnya tebal sekali...!
"Khalied.. kaukah itu...?" Zahra bersuara.
"Zahra...! Kamu di mana?"
"Tuanku... mengapa kabut ini begitu tebal. Awas jangan sampai terseret ombak..!! " Zamura mengingatkan.
Perlahan-lahan, kabut itu mulai beranjak meninggalkan mereka. Kabut yang terlihat sudah tidak sepekat pada saat awal tadi.
Kini kelima orang tadi sudah bisa melihat apa saja yang ada di depan mereka. Namun ada yang aneh, mereka bukan lagi berlima, namun hanya bertiga.
" Tuanku, anda tidak apa - apa..?" Zamura melihat Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana yang terlihat seperti sedang mencari - cari seseorang.
"Aku tidak menemukan Zahra dan juga Kania..!" kata Pangeran Arkana.
Benar saja, kedua gadis itu sudah tidak ada di sana.
"KANIA...!" Pangeran Arkana terus saja berkeliling menyisir tempat itu. Namun, Kania tidak juga dia temukan.
Kemana perginya kedua gadis itu. Keduanya lenyap bersama lenyapnya kabut yang menyelimuti mereka tadi.
Kini, tinggallah ketika makhluk jin itu yang ada di sana. Kedua gadis dari golongan manusia yang menyertai mereka sudah tak ada lagi.
Pangeran Arkana dan Pangeran Khalied gusar bukan kepalang. Dia marah dan melampiaskan kemarahannya dengan berteriak-teriak memanggil nama Zahra.
Bukan itu saja, Pangeran tampan itu juga mengeluarkan pukulan halilintarnya hingga hancurlah karang - karang terjal dan bergemuruhlah lautan.
Lautan yang tadinya tenang kembali setelah kedatangan kabut dan angin tadi, kini kembali lagi bergemuruh dan bergelora oleh pukulan halilintarnya Pangeran Khalied.
"ZAHRA..!!"
****
***
Kita tinggalkan dulu para pangeran dari negeri jin dan Zamura yang sedang kebingungan mencari Zahra dan Kania yang hilang di telan kabut misterius yang membawa kedua anak manusia itu di depan mata kedua pangeran dari negeri jin itu.
Sekarang kita beralih ke Bukit Malaikat. Jika di dimensi ke empat, para Pangeran dan kedua gadis itu sudah menjalani kehidupan selamat empat minggu, maka di negeri jin, waktu berjalan terasa lambat.
Ini sudah hari ke empat sejak kepergian Pangeran Arkana dan Pangeran Khalied serta Zamura.
Nampak di istana, semua pengawal yang berjaga-jaga dengan ketat si sekeliling istana. Mereka berlalu lalang bergantian menjaga keamanan istana.
Pangeran Hasyeem dan Ki Anom serta Ammar dan Pangeran Alyan bahu membahu membentengi sekeliling istana dengan pagar ghaib. Sedangkan Asmi mengajak semua wanita di istana untuk berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah. Tak lupa pula mereka melantunkan salawat dan juga zikir kepada Allah agar mereka di beri perlindungan dan juga keselamatan oleh Allah SWT dari godaan iblis laknatullah.
Terlihat Putri Humairah datang menemui ibundanya. Putri Humairah yang diantara oleh Zyfhar, pengawal pribadinya yang ditugaskan oleh ayahnya untuk selalu mengawal sang Putri kemanapun pergi.
"Assalamu'alaikum, bunda." sapa Putri Humairah sambil duduk bersimpuh mencium tangan ibundanya yang sedang duduk memimpin doa.
"Waalaikum salam, Putri Humairah. Duduk di sini sebentar. Kita berdoa bersama." ucap Asmi mengajak putrinya itu untuk berdoa bersama.
"Baik, bunda." jawab Putri Humairah sambil mengambil tempat duduk di sebelah ibundanya.
Mereka berdoa bersama sampai acara berdoa selesai. Barulah kemudian Putri Humairah pamit mohon diri. Dia hendak kembali ke tempat kakaknya, Putri Arryan.
"Bunda, aku pamit dulu." ucap Putri Humairah.
" Hendak kemanakah, kau Putriku..?" tanya Asmi.
"Ke rumah Kak Arryan, Bunda. Tugas sudah menanti. Ananda mohon pamit.!" jawab Putri Humairah.
Putri Humairah adalah seorang bidan. Dia bekerja di rumah sakit milik putri Arryan setelah lulus dari akademi kebidanan. Walaupun Asmi tinggal di dunia jin, namun Putri Arryan tinggal di dunia manusia.
Putri Arryan mendirikan dua rumah sakit dan Satu balai pengobatan yang terletak di desa terpencil yaitu desa Wentira. Bersama Andros, Putri Arryan selalu berusaha untuk membantu orang - orang yang membutuhkan bantuan mereka.
"Baiklah, tapi bagaimana kamu akan ke sana. Pintu gerbang telah di tutup."
"Aku bisa pergi diantar oleh Zyfhar. Dia akan mengantarku sampai ke rumah Kak Arryan." jawab putri Humairah.
"Kalau begitu, pergilah." kata Asmi sambil berdiri dan berjalan mengantarkan putrinya itu sampai ke pintu. "Zyfhar, tolong jaga Putriku. Aku bebankan tanggungjawab ini kepadamu..! " ucap Asmi kepada Zyfhar.
"Baik, ibu Ratu. Perkataan ibu ratu adalah titah yang akan hamba junjung tinggi. Permisi, hamba mohon pamit." ucap Zyfhar sambil mencium tangan Ratu Asmi dan kemudian pergi mengantar Putri Humairah ke tempat Putri Arryan.
Zyfhar adalah jin yang memiliki sayap. Dia bisa terbang dan menghilang. Dia juga memiliki kesaktian yang pilih tanding. Maka dari itulah, Pangeran Hasyeem memilih Zyfhar sebagai pengawal Putri Humairah.
"Zyfhar, apa yang terjadi. Mengapa kamu mengurungkan niat untuk masuk kesana.? " tanya Putri Humairah saat mereka hendak memasuki rumah sakit.
"Maafkan saya, Putri. Tapi di sana ada beberapa tentara iblis yang berkeliaran di dekat pintu masuk. Rupanya meraka sudah mencium keberadaan keturunan pangeran Hasyeem di tempat ini. Saya sarankan, lebih baik tuan putri mencari jalan lain."
"Bagaimana jika kita masuk lewat pintu belakang saja? " tanya Putri Humairah.
"Baiklah, mari saya antar, putri."
Namun baru saja Putri Humairah dan Zyfhar melangkah hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja salah satu tentara iblis itu ada yang melihat mereka. Kemudian, tentara iblis itu serentak menoleh ke arah putri Humairah dan Zyfhar.
"Celaka, mereka melihat kita, tuan putri..!!" kata Zyfhar sambil melihat ke arah Putri Humairah. "Maafkan saya, putri." Selesai berkata seperti itu, Zyfhar lalu menyambar tangan Putri Humairah dan membawanya terbang lalu menghilang dari tempat itu.