
Namun, baru saja Zahra hendak beranjak pergi, tiba-tiba pintu kamar Ibu Amalia terbuka lebar.
seorang wanita berjalan keluar dari dalam kamar.
"Ibu Amalia...!" seru Zahra kaget.
Gadis itu mengucek mata tak percaya akan penglihatannya. Benarkah ibu Amalia bisa berjalan...!
Sejak kapan ibu Amalia bisa berjalan...?
"Bu,....Ini benaran ..? Ibu sudah bisa berjalan.. ? " tanya Zahra yang benar-benar kaget melihat Ibu Amalia. Kemarin wanita itu di vonis lumpuh oleh Dokter. Akan tetapi kini wanita itu ternyata bisa berjalan normal.
"Wah, Alhamdulillah ya, Bu. Pastinya Pak Bahar gembira sekali karena sekarang ibu sudah bisa bergerak ke sana ke mari tanpa bantuan kursi roda lagi." ucap Zahra yang tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Ibu Amalia diam tak berucap atau menanggapi ucapan Zahra. Pandangan mata wanita itu seolah-olah kosong dan hanya memandang ke satu titik saja. Wajahnya juga terlihat sangat pucat.
"Apakah ibu membutuhkan sesuatu..?" tanya Zahra kepada ibu Amalia saat melihat mata wanita itu bergerak ke sana kemari melihat ke sekeliling.
Wanita itu berhenti melihat ke sekeliling. Kini pandangan matanya fokus menatap Zahra.
Mendengar pertanyaan dari Zahra, wanita itu seperti tertegun.
Dia memang menyukai gadis itu. Gadis yang lugu dan sangat lurus hatinya. Aura positif terpancar jelas di wajah gadis itu. Membuat siapa saja yang melihatnya akan tertarik dan langsung menyukainya.
"Bersihkan rumahku sekarang.!" kata Bu Amalia kemudian.
"Baik, Bu..." jawab Zahra cepat.
"Di mesin cuci juga ada pakaian kotor. Silahkan kamu cuci sekalian." ucap wanita itu lagi.
Zahra kemudian mengangguk mengiyakan. Gadis itu sibuk mengendus sesuatu. Seperti bau bangkai....??!
"ini ada sedikit uang belanja untukmu..." kata Bu Amalia seraya menyodorkan beberapa lembar pecahan berwarna biru ke arah Zahra.
"Astaghfirullah, Bu... ini banyak sekali..!" seru Zahra kaget ketika melihat nominal uang yang di sodorkan oleh Bu Amalia.
Ada sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Maka itu berarti semuanya ada lima ratus ribu rupiah.
Semua itu hanya untuk upah jasa membersihkan rumah dan mencuci beberapa potong pakaian. Zahra sungguh - sungguh merasa heran.
"Ambil saja...!" ucap Bu Amalia sambil berlalu masuk ke dalam kamar dan kemudian mengunci pintu kamarnya dati dalam.
Zahra memandang uang yang kini berada di genggaman tangannya.
Dalam hati, gadis itu mengucap syukur atas rezeki yang Allah berikan melalui tangan Bu Amalia.
Tanpa membuang waktu lagi, Zahra segera mengambil sapu dan mulai membersihkan seluruh bagian rumah tanpa terkecuali.
Ada keanehan saat Zahra membersihkan rumah Bu Amalia. Rumah itu terlihat kotor sekali. Banyak sekali jejak lumpur dan daun - daunan yang dia temui di rumah beliau. Dan juga bau aneh itu.... Bau bangkai.
Zahra menduga, pasti ada tikus yang mati di plafon atau di salah satu kamar di rumah ini.
Tanpa banyak omongan, gadis itu dengan tekun membersihkan rumah tersebut. Mulai dari ruang tamu dan teras hingga sampai ke dapur. Alhasil, rumah Bu Amalia kini menjadi bersih kembali seperti sedia kala.
Seluruh ruangan di rumah ini sudah di bersihkan oleh Zahra kecuali kamar Bu Amalia. Sekarang waktunya mencuci pakaian.
Zahra beranjak mendekati mesin cuci yang terletak di kamar mandi dan membuka isinya.
"Astaghfirullah.... !!" Zahra memekik tertahan.
Alangkah terperanjatnya gadis itu saat melihat isi di dalam mesin cuci.
Tangan Zahra gemetar saat mengangkat baju yang berlumuran darah yang telah mengering keluar dari dalam mesin cuci.
"Darah....? Ini darah siapa..? " tanya Zahra dalam hati. Ini adalah baju Bu Amalia, terus mengapa baju itu penuh dengan noda darah, pikir Zahra.
"Apakah ibu Amalia terluka atau kah kecelakaan ..?" Zahra bertanya dalam hati.
Zahra mengamati noda darah yang melekat di baju Bu Amalia.
Noda darah itu sudah mengering. Itu berarti bahwa noda darah itu sudah ada sejak beberapa hari yang lalu.
Sedang asyik - asyiknya mengamati baju yang penuh dengan noda darah di mesin cuci. Zahra dikejutkan oleh suara bunyi benda terjatuh.
Bhammm.....
Bergegas Zahra keluar untuk mencari adalah suara tadi. Tidak ada siapapun di sana. Lalu suara tadi apa....?
"Bu... Bu Amalia...? Apakah ibu baik - baik saja....?" tanya Zahra cemas.
Tak ada jawaban yang keluar dari dalam kamar Bu Amalia.
Tiba-tiba saja, Zahra dikejutkan oleh suara seseorang di belakangnya.
"Zahra... " panggil orang itu...
Zahra menoleh ke belakang.
"Eh, Pak Bahar. Bapak sudah pulang..?" tanya Zahra kemudian.
Gadis itu melempar senyum kepada orang yang dia panggil dengan panggilan Pak Bahar tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini...?" tanya lelaki itu menatap Zahra dengan pandangan mata menyelidik.
"Saya di suruh ibu Amalia untuk membersihkan rumah dan juga mencuci pakaian, Pak... " jawab Zahra.
"APA...??! "
Suami Bu Amalia itu tampak sangat terkejut mendengar jawaban Zahra. Wajahnya pucat pasi bagai tak dialiri darah.
Dia menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Tidak, ..... itu tidak mungkin..!" kata Pak Bahar. Wajahnya kini menampakkan ketakutan dan kegelisahan.
"Kau jangan mengada - ada, Zahra..!" ucap Lelaki itu seraya berjalan mundur ke belakang.
"Apa maksud bapak berkata seperti itu. Saya memang disuruh Bu Amalia untuk membersihkan rumah ini sekaligus mencuci pakaian beliau." jawab Zahra.
"Bohong.... kamu bohong. Mana mungkin istri saya... " Pak Bahar tak meneruskan perkataannya. Matanya melotot menatap Zahra.
"Tapi itu benar, Pak Bahar. Bu Amalia sendiri yang menyuruh saya melakukan semua itu..." Kata Zahra lagi.
Bahar tak menanggapi perkataan Zahra. Akan tetapi matanya membelalak menatap lurus ke arah Zahra.
"Tidak.... tidak.... kau sudah mati. Kau sudah mati...!" bentak Bahar dengan gugup.
Tentu saja Zahra merasa heran. Apa sih, Pak Bahar. Dia masih hidup, kok di bilang sudah mati.
Rupanya Zahra masih tak menyadari bahwa di belakangnya berdiri sosok Bu Amalia dengan tampilan yang amat menyeramkan.
Laki - laki itu bergerak mundur perlahan - lahan ke belakang.
Tujuannya adalah lari meninggalkan tempat ini secepatnya. Dia tak ingin mati konyol di tangan arwah istrinya yang mati penasaran.
Akan tetapi, saat dia berbalik, sosok Bu Amalia sudah berdiri tepat di hadapan lelaki itu.
Baik Bahar maupun Zahra sama - sama terkejut bukan kepalang. Terlebih lagi Zahra. Gadis itu sama sekali tak menduga akan mengalami kejadian yang tak terduga seperti ini.
Di hadapan mereka berdiri sesosok perempuan dengan pakaian compang - camping dan penuh darah. Bukan itu saja, wajah wanita itu terlihat begitu mengerikan. Penuh dengan luka dan darah yang sudah mengering.
"Bu...Bu..Amalia...!" pekik Zahra sambil menutup mata. Gemetar gadis itu karena ketakutan saat melihat sosok Bu Amalia yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Kau pembunuh...!" Tuding Wanita itu kepada Bahar.