Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 138 Kecemburuan Zahra...


Sampai suatu ketika. Seseorang memanggil Pangeran Khalied. Pangeran Khalied heran mengapa di dunia manusia ini ada manusia yang mengenalnya selain Zahra dan ibunya.


"Kamu Pangeran Khalied, bukan..? Mengapa kau tak mengenaliku.." tanya seorang gadis cantik berwajah oriental.


"Mei Fang..!!" tanpa sadar Pangeran Khalied mengucapkan nama itu.


"Iya, namaku Mei Fang. Kau mengingatnya. Kau mengingat namaku, Pangeran.. " Mei Fang berseru gembira. Wajahnya yang cantik itu semakin cantik di pandang mata. Siapapun yang memandang wajah Mei Fang pasti mengakui bahwa gadis itu sangatlah cantik.


"Tentu saja, aku mengingatmu.Kita pernah bertemu di dimensi empat. Kau adalah ruh perawan suci itu. Apakah kau kembali atau terlahir kembali. " kata Pangeran Khalied lagi.


"Aku kembali lagi. Tapi bukan memilih jalan terlahir kembali. Karena aku berhasil menemukan tubuhku kembali. Rupanya aku hanya mengalami koma pada saat itu." kata Mei Fang.


"Syukurlahl, akhirnya kau bisa bertemu kembali dengan keluargamu. Aku yakin mereka pastinya merasa senang karena kau sudah kembali hadir di antara mereka.." ucap Pangeran Khalied.


Mei Fang tersenyum manis ketika mendengar ucapan Pangeran Khalied.


"Terima kasih sudah menyelamatkan aku saat itu. Aku berhutang budi padamu, Pangeran..!" kata Mei Fang.


"Sudahlah, Mei Fang. Tak perlu diungkit lagi. Itu hanya masa lalu di kehidupan kita yang lain. Tak perlu merasa sungkan. Hiduplah bahagia bersama dengan orang - orang yang mencintaimu, dan nikmati hari - harimu dengan mereka. Karena kau


tahu bagaimana rasanya terpisah dari mereka..!" kata Pangeran Khalied.


Mei Fang menganggukkan kepala. Tanda dia pun setuju dengan ucapan Pangeran Khalied itu. Hatinya benar-benar bahagia karena bisa bertemu dengan Pangeran Khalied.


Sangking gembiranya bertemu dengan Pangeran Khalied, hampir saja Mei Fang memeluk pangeran Khalied andai saja Zahra tak segera menyahut.


"Mei Fang..? Seperti aku pernah mendengar nama itu.. " kata Zahra. Dia mencoba untuk mengingat - ingat di mana dia pernah mendengar nama itu.


Mei Fang menoleh ke arah Zahra. Gadis itu menutup mulutnya tak percaya.


"Kau juga ada di sini..? Astaga... betapa sempitnya dunia ini." kata Mei Fang begitu gadis itu mengenali Zahra.


"Bukankah kau gadis yang bersama Pangeran Khalied waktu itu. Ya Tuhan, rupanya kau juga benar - benar ada di dunia ini." kata Mei Fang setengah tak percaya.


Dia sama sekali tak menduga bahwa ternyata gadis yang bersama Pangeran Khalied waktu itu ternyata berasal dari dunia yang sama dengannya. Padahal dia tahu dengan pasti, siapa Pangeran Khalied.


"Demi dirimu, pangeran Khalied sampai rela pergi ke neraka demi untuk mendapatkan kau kembali yang saat itu di bawa ke nereka oleh iblish Pohon." kata Mei Fang.


"Benarkah...?" tanya Zahra dengan ekspresi wajah yang sangat heran dan juga setengah tak percaya.


Tentu saja Zahra amat terkejut sekaligus merasa takjub mendengar cerita tentang dirinya dari Mei Fang.


Benarkah apa yang dia dengar tadi..? Pangeran Khalied rela pergi ke neraka demi hanya untuk menyelamatkan dirinya. Zahra sungguh tak menyangka sampai demikian besarnya pengorbanan Pangeran Khalied untuk dirinya.


"Kau sungguh beruntung di cintai oleh Pangeran Khalied. Aku saja sampai merasa iri pada keberuntunganmu." bisik Mei fang.


Zahra tersenyum mendengar bisikan Mei Fang. Benarkah dia seberuntung itu..? pikir Zahra.. Lalu apakah Mei Fang juga mencintai Pangeran Khalied..?


Mei Fang menggamit lengan Pangeran Khalied. "Pangeran, datanglah untuk melihat pertunjukan aku." kata Mei Fang dengan manjanya.


"Iya, nanti aku dan Zahra akan melihat pertunjukan kamu. Benarkan, Zahra..?" tanya Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied melirik ke arah Zahra yang mendadak berwajah masam ketika melihat Mei Fang bergayut manja di lengan Pangeran Khalied.


"Entahlah, aku merasa sedikit tak enak badan. Tadi aku terpaksa ikut karena Kak Khalied memaksa aku untuk ikut, makanya aku pergi. Tapi sepertinya aku semakin meriang. Aku ingin pulang saja sekarang. Terserah Kak Khalied saja jika dia masih ingin menonton pertunjukan kamu, dia bisa tinggal di sini. Aku bisa pulang sendiri, kok. Maaf ya, Mei Fang. Aku tidak bisa menonton pertunjukan kamu. Tapi lain kali aku janji aku akan menonton pertunjukan kamu. Permisi, assalamu'alaikum.." ucap Zahra sambil berlalu pergi meninggalkan pangeran Khalied dan Mei Fang.


Pangeran Khalied jadi serba salah dengan suasana ini. Di satu pihak dia meresa tidak enak jika menolak undangan Mei Fang. Namun dia tahu, Zahra memilih pulang karena merasa cemburu terhadap Mei Fang.


Gadisnya itu merasa minder dan tak percaya diri karena melihat kecantikan Mei Fang.


Dalam hati Pangeran Khalied menyayangkan sikap Zahra yang pergi begitu saja tanpa bertanya dulu padanya. Apakah dia akan tinggal di sini atau tidak..?


"Mei Fang...!" seru seorang pemuda memanggil gadis itu. Napasnya terengah-engah karena sepertinya habis berlari.


"Kakak, Lun..! Ada apa berlari - lari seperti itu..?" tanya Mei Fang.


"Iya, baiklah. Katakan pada babah Liem, Aku akan segera ke sana." kata Mei Fang lagi.


"Baiklah, tapi cepatlah. Karena sebentar lagi giliranmu..! kata Lun.


" Iya, kakak Lun.. " jawab Mei Fang lagi.


Pemuda yang bernama Lun itu segera kembali untuk melaporkan pada Babah Liem apa yang Mei Fang ucapkan.


"Bagaimana, apakah kakak mau menonton pertunjukan aku..?" kata Mei Fang.


"Maafkan aku, Mei Fang. Tapi aku harus mengantar Zahra pulang. Kasihan jika dia harus pulang sendiri. Lain kali saja, aku berjanji akan menonton pertunjukan kamu." kata Pangeran Khalied sambil melepaskan pelukan Mei Fang pada lengannya.


Mata Pangeran Khalied celingukan kesana kemari mencari sosok Zahra yang menghilang di tengah kerumunan orang - orang yang lalu lalang di pasar malam itu.


"Yah, mengapa tak jadi, Pangeran. Lagi pula Zahra sendiri sudah pulang. Kan, katanya dia bisa pulang sendiri. Nah, untuk apa lagi Pangeran mau mengantar Zahra pulang..?"


Ada kekecewaan yang terlihat dari tatapan mata Mei Fang. Padahal gadis cantik berkulit putih bak pualam itu sangat berharap pangeran Khalied bisa melihat pertunjukan dirinya di atas pentas malam ini.


"Sekali lagi, aku mohon maaf. Aku tidakl bisa membiarkan Zahra pulang sendiri. Karena tadi yang mengajaknya kemari adalah aku." jawab Pangeran Khalied.


Mei Fang menatap Pangeran Khalied dengan binar kekecewaan yang sangat terlihat nyata. Namun dia tak bisa memaksa pemuda tampan itu.


"Baiklah, tapi Pangeran janji, Pangeran akan menonton pertunjukan aku, janji Ya, Pangeran.." rengek Mei Fang dengan wajah memelas.


"Iya, aku janji. Aku akan menonton pertunjukan kamu. Sekarang aku pergi dulu. Selamat tinggal, Mei Fang.." ucap Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied bergerak cepat di antara kerumunan orang yang ramai berjubel untuk menonton pertunjukan teater yang sebentar lagi akan berlangsung.


Merasa tidak bisa menemukan Zahra di antara kerumunan manusia yang banyak seperti itu, akhirnya pangeran Khalied menghilang dan menjelma kembali ke wujud aslinya.


Dengan mudahnya dia melesat terbang untuk mencari kekasihnya yang sedang ngambek dan pulang sendiri.


Tak perlu waktu lama untuk mencari seorang gadis yang sedang ngambek. Dari atas ketinggian, Pangeran Khalied dapat melihat sosok Zahra yang berjalan sendiri di tengah kegelapan malam.


Pangeran Khalied kadang merasa heran. Kekasihnya itu penakut atau pemberani. Kadang dia melihat gadis itu berjalan di tengah malam di antara kegelapan malam tanpa rasa takut.


Namun saat melihat penampakan dirinya, gadis itu pingsan dan menangis kejar.


di lain hari, ketika berada di bukit Malaikat, dan melihat aneka makhluk seram penjaga pintu gerbang istana, dia tidak takut.


Sebenarnya, Zahra itu aslinya penakut atau tidak, sih..?


"Zahra, tunggu....!" seru Pangeran Khalied.


Namun gadis itu seolah - olah tak mendengar seruan Pangeran Khalied dan tetap meneruskan langkahnya.


Pangeran Khalied menjadi gemas melihat tingkah Zahra.


Maka Pangeran Khalied kemudian berdiri tepat di hadapan Zahra. Tentu saja Zahra kaget setengah mati.


"Kak Khalied..! Minggir.. jangan halangi jalan..!" kata Zahra ketus. Gadis itu berkelit dan berputar untuk mengambil jalan yang lain.


Kembali Pangeran Khalied muncul di hadapan Zahra. Namun kali ini Pangeran Khalied langsung menyambar tangan Zahra dan menarik tubuh gadis itu ke pelukannya. Lalu kemudian membawanya terbang ke angkasa.


"Turunkan aku, Kak. Aku mau pulang sendiri. ..... Mengapa kakak mengikutiku. Bukankah kakak mau menonton pertunjukan teater Mei Fang..?" kata Zahra sambil berusaha untuk melepaskan diri.


"Jangan banyak bergerak..! Apa kamu tidak takut jatuh..? Lagi pula, siapa yang mengatakan kalau aku akan menonton pertunjukan teater..? ucap Pangeran Khalied.


" Tapi kamu kan, suka dengan Mei Fang. Mei Fang juga gadis yang sangat cantik. Jadi aku pikir kau tentu akan suka menerima ajakannya.." kata Zahra.


Pangeran Khalied semakin gemas mendengar ucapan Zahra. Dia tahu saat ini, gadisnya itu sedang di bakar oleh rasa cemburu. Maka dari itu, tanpa bicara lagi, dia langsung mencium bibir Zahra dengan gemas.


"Gadis yang aku cintai bernama Zahra, bukan Mei Fang..." bisiknya.