Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 119 Kerasukan


"Bu..., Bu..Amalia...!" pekik Zahra sambil menutup mata. Gemetar gadis itu karena ketakutan saat melihat sosok Bu Amalia yang kini sedang berdiri di hadapannya.


"Kau pembunuh...!" Tuding Wanita itu kepada Bahar.


"Tidak.., Aku bukan pembunuh, itu hanya kecelakaan..! Kau sudah mati..! Kamu sudah mati..! Pergi...! Pergi..!" kata Bahar sambil berlari ke luar rumah.


"Hihihihi... ! Mau lari kemana kau, Bahar..?" kata Bu Amalia sambil tertawa cekikikan.


Sadar bahwa yang di hadapan mereka sekarang bukanlah ibu Amalia lagi, Zahra langsung berucap Istighfar dan lafal Taawuz.


"Astaghfirullah hal Adzim... Auzubillahi minas syaiton nirrazim."


Kata - kata itulah yang diucapkan Zahra karena saking takutnya melihat sosok di hadapannya yang merupakan sosok jelmaan iblish, tanpa sadar Zahra berucap kalimat istighfar dan taawuz . Lalu kemudian lanjut membaca Ayat Kursi.


Sosok perempuan yang menyerupai ibu Kamila tersebut menjadi marah ketika mendengar Zahra menyebutkan kedua kata tersebut. Apalagi kemudian berlanjut dengan ayat kursi.


Bahar berhasil keluar dari dalam rumah tersebut. Lelaki itu langsung kabur terbirit - birit meninggalkan tempat itu. Dia berpikir, untuk sementara waktu, lebih baik jangan dulu kembali ke rumah terkutuk itu.


Sementara itu, Zahra masih terkurung di dalam rumah. Gadis itu tak bisa bergerak dan hanya diam terpaku di tempatnya saking takutnya.


Dalam hati dia berdoa semoga saja Allah SWT mengirimkan pertolongannya.


"Tubuhmu sangat bagus untuk ditempati. Karena kau sudah menggagalkan rencana balas dendamku. Maka kau harus bertanggungjawab. Kau harus mau ku jadikan wadal untuk sukmaku." ucap Arwah penasaran Bu Amelia.


Arwah itu ingin menempati tubuh Zahra. Tidak, itu tidak boleh terjadi, kata Zahra dalam hati.


Keberanian Zahra tiba-tiba saja muncul.


"Tidak..., aku tidak mau. Kau bukan Ibu Amelia. Ibu Amalia orang baik. Kau adalah arwah penasaran. Pergi kau dari tubuh wanita ini..!" ucap Zahra lantang.


"Hi... Hi... Hi.., Zahra. Kau harus mau...!!" bentak Arwah penasaran Bu Amalia. Mata Bu Amalia merah semerah darah dan seperti hendak meloncat keluar dari dalam rongga matanya.


Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang hendak menguasai diri Zahra.


Zahra berusaha untuk melawan sekuat tenaga. Dia ingin lepas dan berlari ke luar rumah. Namun, seperti ada yang memegangi kakinya dan menahan tubuh Zahra sehingga dan tubuhnya bisa bergerak.


Arwah penasaran Bu Amalia bergerak perlahan-lahan hendak memasuki tubuh Zahra. Zahra yang merasa takut memejamkan mata sambil terus berdoa dalam hati.


Arwah penasaran ibu Amalia sudah memasuki tubuh Zahra. Akan tetapi, sebuah sinar berwarna putih kebiruan bergerak keluar dari tubuh Zahra. Sinar itu kemudian berubah wujud menjadi Pangeran Khalied dan menarik arwah Bu Amalia yang sudah masuk ke tubuh Zahra keluar secara paksa.


"Kak Khalied...!" seru Zahra dengan suara tertahan. Sejujurnya gadis itu merasa gembira atas kehadiran Pangeran Khalied. Dia tak menyangka, pemuda itulah yang kembali datang sebagai dewa penolongnya.


Pangeran Khalied mencengkram arwah penasaran Bu Amalia dengan geram.


"Zahra, tetaplah berdiri di belakangku." ucap Pangeran Khalied.


Zahra mengangguk dan segera berdiri di belakang Pangeran Khalied.


Dengan sekali gebrakan, tangan pangeran Khalied menghempaskan arwah penasaran tersebut ke tembok rumah dengan kasar.


Zahra menjerit sambil memegang ujung jubah Pangeran Khalied, ketika melihat wujud arwah Bu Amalia yang di lempar Pangeran Khalied ke tembok berlumuran darah yang berwarna kehitaman. Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan sekaligus juga amat miris untuk dilihat.


"Berani sekali kau hendak mengganggu dan menyakiti wanitaku. Kau jin kafir yang selalu menyesatkan umat manusia. Enyahlah kamu segera dari hadapanku atau aku akan mengirimmu ke neraka sekarang juga.!!" bentak Pangeran Khalied.


Arwah penasaran Bu Amalia bangkit kembali dengan tubuh yang semakin hancur. Menyeringai menatap Pangeran Khalied dan Zahra.


"Kak, aku takut..!" ucap Zahra sambil kembali menutup mata.


"Jangan dilihat, jika kamu merasa takut, Zahra..!" kata Pangeran Khalied.


"Hua... Ha.. ha....ha.. !" Arwah Bu Amalia tertawa terbahak - bahak. "Kita berasal dari unsur penciptaan yang sama. Mengapa harus mengusirku, Hai putra penguasa Bukit Malaikat..?" suara Arwah Bu Amalia kini terdengar seperti suara seorang laki-laki.


Suara tawa Arwah penasaran dari Bu Amalia kembali terdengar. Secara perlahan - lahan, dari perwujudan arwah penasaran Bu Amalia muncullah sosok lain dalam diri wanita itu. Kini, di hadapan Zahra, bukan hanya sosok arwah Bu Amalia, tetapi adalah sosok lelaki memakai pakaian serba putih dan berjubah dan memakai sorban.


"Keparat. Dasar jin kafir. Jangan menipu diriku dengan tampilan kamu yang seperti itu. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa ini bukanlah wujud aslimu..! " bentak Pangeran Khalied seraya mengeluarkan pedang Mata Malaikat miliknya.


"Sebenarnya kau adalah jin ifrid penunggu Pantai Karang Hawu. Berkedok dengan memakai surban dan jubah itu tak akan bisa menipu diriku. Manusia biasa, bisa kau bohongi. Tapi tidak denganku.!!" kata Pangeran Khalied


Untuk sesaat, Lelaki bersorban yang merupakan perwujudan dari jin kafir itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Dia melihat Pedang Mata Malaikat sudah terhunus di tangan Putra Penguasa Bukit Malaikat. Itu bukan pedang sembarangan. Pedang itu konon bisa mengirim raja iblis kembali ke neraka.


Nyali makhluk itu mungkin juga sedikit ciuit. Tapi kesombongannya urung membuatnya gentar. Dengan pongahnya, lelaki jelmaan jin ifrit itu berucap. "Aku tak takut oleh ancaman bocah kemarin sore yang hobinya main pedang - pedangan." ejeknya kepada Pangeran Khalied.


"Hah, baiklah. Cukup sudah kau meremehkan aku. Bocah yang kau bilang suka main pedang - pedangan ini akan membungkam kesombonganmu itu dengan pedangku." ucap Pangeran Khalied.


Selesai berucap demikian, Pangeran Khalied menyerang Lelaki itu dengan pedang Mata Malaikat miliknya.


Lelaki itu berkelit sambil mencari celah untuk melancarkan serangan balik. Target incarannya adalah Zahra karena dia membutuhkan tubuh gadis itu sebagai wadal untuk membantu arwah penasaran Bu Amalia membalaskan dendam kepada suaminya.


Akan tetapi, sulit sekali baginya untuk memasuki tubuh gadis itu karena dia dilindungi oleh Pangeran Khalied.


Hingga pada suatu ketika, Perhatian Pangeran Khalied sempat teralihkan oleh kedatangan kembali Bahar bersama seorang paranormal.


Rupanya, lelaki itu berubah pikiran dan pergi menemui seorang paranormal untuk mengusir arwah istrinya yang penasaran.


Lelaki yang merupakan jelmaan jin Ifrit masih lagi bertarung dengan pangeran Khalied. Di saat yang sama, arwah penasaran itu berhasil memasuki tubuh Zahra.


"Kak Khalied..!" pekik Zahra sebelum kemudian gadis itu jatuh dan tak sadarkan diri.


"Zahra....!" Pangeran Khalied terkejut bukan kepalang saat melihat Zahra terkulai jatuh ke lantai.


Namun dia segera paham, bahwa Zahra bukan pingsan karena kesakitan. Akan tetapi, gadis itu pingsan karena tubuhnya di masuki oleh arwah penasaran Bu Amalia.


Sementara itu, Bahar dan Embu Kanti, paranormal yang di bawa oleh Bahar, sudah memasuki rumah Ibu Amalia.


Dalam pandangan mata bathin paranormal wanita itu, dia melihat pertarungan antara dua sosok jin. Lalu ada arwah seorang wanita.


"Gadis yang Malang... " gumamnya lirih ketika melihat Zahra yang kini sudah mulai bangkit secara perlahan-lahan.


"Hihihi.... Kau kembali juga, Bahar..!" ucap Zahra tetapi suara yang keluar dari mulut gadis itu adalah suara Ibu Amalia.


"Zahra, kau...! "


Sadarlah Bahar, bahwa Zahra telah di masuki oleh Arwah penasaran istrinya.


"Embu, ssepertInya arwah Amalia ada di dalam tubuh gadis itu.. " bisik Bahar.


"Sepertinya, begitu. ..... sekarang, menyingkirlah dari sana, karena aku ingin meminta kepada Arwah Amalia agar segera keluar dari tubuh gadis itu..!." pinta Embu Kanti.


Bahar segera beringsut ke belakang untuk memberi ruang Embu Kanti agar bisa berkonsentrasi dan berdialog dengan Arwah Amalia.


"Wahai jiwa yang suci dari Amalia, aku perintahkan engkau untuk keluar dari tubuh gadis yang tak bersalah ini."kata Embu Kanti kemudian.


" Hihi.. hihihihi.... mengapa tidak kau saja yang keluar dari rumah ini. Tinggalkan rumah ini kalau ingin selamat. Atau kamu mau membantu lelaki pembunuh itu..!"


Zahra yang sedang berada dibawah kendali arwah penasaran Bu Amalia menyerang Embu Kanti dengan pukulan tenaga dalam sehingga keduanya terlihat bertarung dan adu tenaga dalam.


"Mampuss kau wanita penyihir....!" bentak Zahra sambil menyerang Embu Kanti.