
Pangeran Khalied berjalan mendekati tombak tersebut dan kemudian tangannya meraih tombak tersebut. Dia bermaksud untuk mencabut tombak tersebut.
"Tunggu, Paman. Sepertinya aku melihat sesuatu.. !" cegah Pangeran Arkana..
Pangeran Khalied tidak jadi mencabut tombak yang tertancap di kaki salah satu menhir tersebut. Karena kemudian Pangeran Arkana berjalan mendekatinya.
"Paman, coba paman lihat kemari.!" ucap Pangeran Arkana sambil menunjuk ke arah ujung tombak yang tertancap di sana.
Pandangan mata Pangeran Khalied mengikuti arah telunjuk Pangeran Arkana.
Tepat di ujung tombak yang tertancap itu terdapat sebuah prasasti yang nyaris tak terlihat karena tertutup tanah.
"Ini seperti sebuah prasasti.. " ucap Pangeran Arkana.
"Benar, ini adalah sebuah prasasti. Namun tulisannya berbeda dengan yang terdapat di dalam gua. Mungkin saja prasasti ini di buat oleh para nenek moyang suku Wedda." ucap Pangeran Khalied. "
"Bisa jadi, Paman..!" sahut Pangeran Arkana. "Zaddak, apakah kamu bisa membaca tulisan yang tertulis di prasasti ini.. ? tanya Pangeran Arkana kepada Zaddak.
" Bisa, Tuan.. " jawab Zaddak.
Zaddak segera mendekati Pangeran Khalied dan berjongkok untuk melihat prasasti tersebut.
"Ini adalah prasasti yang ditulis oleh suku Wedda." ucap Zaddak setelah melihat tulisan yang terdapat oada prasasti tersebut.
"Lalu apa isi prasasti tersebut, Zaddak?" tanya Pangeran Khalied penasaran.
"Saya akan mencoba membawakan isi prasasti tersebut, Tuanku." ucap Zaddak.
"Akan tiba saat bintang turun dari langit. Bintang pembawa tiga mata. Jika Mata di balas mata, Pintu langit pun akan terbuka"
Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana mendengarkan dengan seksama isi prasasti yang dibacakan oleh ketua klan manusia Harimau itu.
"Demikian kira - kira bunyi prasasti tersebut, Tuanku... " ucap Zaddak.
Ketua klan manusia Harimau itu kemudian berdiri di hadapan kedua Pangeran tersebut.
"Mata bertemu mata, pintu langit akan terbuka, apa maksudnya itu, Paman..?" tanya Pangeran Arkana.
"Entahlah, aku pun tak paham. Mata apa yang dimaksud dalam prasasti tersebut." jawab Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied lalu berjalan memeriksa kembali keadaan di tempat itu. Bersama - sama dengan Pangeran Khalied, Zamura dan Zaddak, mereka mengelilingi tempat tersebut. Memeriksa setiap inci tempat itu untuk mencari petunjuk.
Demikian juga dengan pangeran Khalied, satu demi satu, dia memeriksa ke lima buah batu besar yang berdiri menjulang tegak itu untuk menemukan informasi atau petunjuk lebih lanjut.
Zaddak memberanikan diri mendekati Pangeran muda putra Pangeran Hasyeem itu. Dia membungkukan badan seraya berucap.
"Ampun, Tuanku. Sepertinya tuankulah yang dimaksud bintang dalam tulisan pada prasasti itu." ucap Zaddak.
"Hamba rasa juga sepertinya itu, Tuanku." ucap Zamura.
Pangeran Arkana menatap Sang Paman dengan seksama. Lalu pemuda tampan itu teringat sesuatu. Dia kemudian tersenyum.
"Aku tahu, mungkin apa yang di katakan oleh Zaddak dan Zamura ada benarnya, Paman. Bisa jadi, yang mereka maksud bintang pembawa tiga mata ini adalah seseorang yang membawa tiga buah pusaka. Nah, paman sendiri adalah orang yang membawa tiga pusaka, yaitu Kristal arwah, tongkat elder dan pedang Mata Malaikat." kata Pangeran Arkana lebih lanjut.
"Mungkin memang benar seperti itu, namun aku masih tak mengerti pada bagian mata di balas mata" ucap Pangeran Khalied.
Pangeran yang tampan dan kharismatik itu kembali berjalan mengelilingi batu yang paling besar. Sekilas memandang sampai ke atas lalu kembali lagi ke bawah.
"Apa artinya Mata di Balas Mata...?" ucap Pangeran Khalied lagi.
Semuanya terdiam oleh pertanyaan Pangeran Khalied. Mereka tak mempunyai jawaban untuk pertanyaan Pangeran Khalied tersebut. Mata di balas Mata....
Mata apa yang dimaksud dalam prasasti itu. Apakah ada di tempat ini yang menunjukkan petunjuk tentang mata.
Tiba-tiba saja, Pangeran Khalied teringat akan perkataan Nyi Blorong. Ratu ular tersebut pernah mengatakan sebuah pesan. " Pangeran Khalied, Ingatlah selalu pesanku ini. Yang tiada itu ada, Yang mati itu hidup, maka berpikir bijaklah dalam mencari lawan cahayamu... "
"Apakah ini yang di maksud oleh Ibu Ratu Nyi Blorong, untuk menemukan cahayaku aku harus bijak. " mungkin maksudnya, aku harus pandai - pandai dalam mengambil keputusan." ucap Pangeran Khalied kemudian.
"Yang tiada itu ada, itu sama artinya dengan sesuatu yang asalnya tiada seperti ketiga pusaka itu, ternyata ada. Kristal Arwah, Tongkat elder dan yang utama adalah pedang Mata Malaikat. Kemudian, pesan Nyi Blorong yang kedua adalah Yang mati itu hidup. Maksud mereka adalah patung ini. Patung adalah benda mati. Namun patung ini bisa bicara. Buktinya prasasti Itu." ucap Pangeran Khalied.
Semuanya kini memperhatikan Pangeran Khalied dengan pandangan Seksama. Tampak bijaksana sekali pemikiran Pangeran yang satu ini. Kharisma dia nyata terlihat ketika Pamuda itu mengeluarkan kata - kata.
Pandangan mata Pangeran Khalied kini beralih ke seluruh pandangannya ke patung batu tersebut
Dia masih sibuk memikirkan tentang arti dari kalimat terakhir pengagalan pesan ratu ular Nyi Blorong itu " Bijaklah dalam menentukan lawan cahayamu..
"Apakah yang ke-tiga itu..? Berpikir Pangeran Khalied. Ayo berpikir! " ucap suara hati Pangeran Khalied.
Sedang asyik berpikir, tanpa sengaja Mata Pangeran Khalied tertuju pada batu - batu menhir yang tersusun sedemikian rupa.
"Ada yang aneh,...? guman Pangeran Khalied. "Mengapa batu - batu itu tidak saling beraturan hadapnya...?" tanya Pangeran Khalied.....
Nah, loh... mengapa, ya...???
Yuk temukan jawaban nya!