Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 21 Negeri di Negeri tak Bertuan


"Iya, semua makanan dan minuman di tempat ini di beli hanya dengan Surah - Surah itu, nak..? " kata Bapak itu seraya kembali melanjutkan perjalanan.


***


***


Kania melahap habis semua makanan yang terhidang di hadapannya dengan cepat. Perutnya sudah sangat lapar sekali karena sejak beberapa hari yang lalu, dia tak pernah menyentuh barang setetes air dan sepotong makanan pun.


Rasa dahaga dan juga rasa lapar membuat dirinya sejenak lupa diri hingga mampu menghabiskan semua makanan yang terhidang di hadapannya.


Sementara itu Pangeran Arkana hanya mengambil sepotong kue dan beberapa teguk air. Sisanya dia simpan untuk bekal dirinya dan Kania nanti. Dia takut gadis itu akan kelaparan dan kehausan kembali saat di perjalanan. Dia tak tahu seperti apa perjalanan mereka dan rintangan apa yang bakal mereka hadapi.


Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Pangeran Arkana memutuskan untuk meneruskan perjalanannya menuju ke Barat. Karena menurut guru mereka, Ki Anom, jika dia sudah berada di dimensi ke empat, maka dia harus melanjutkan perjalanan ke Barat. Menurutnya, berdasarkan tanda - tanda yang di dapatnya, sekarang ini dirinya dan Kania sedang berada di dimensi ke empat


Tanpa terasa, mereka sudah berjalan jauh meninggalkan desa tempat mereka tadi beristirahat serta melepas lapar dan dahaga tadi. Suasana sudah semakin gelap pertanda waktu akan memasuki malam. Langit yang tadi berwarna abu-abu kehitaman kini sudah sepenuhnya berwarna hitam. Kegelapan mulai menyapa meliputi daerah di sekeliling mereka.


"Arka, lihatlah di sana. Sepertinya ada beberapa titik cahaya yang sedang berjalan menuju kemari. Cahaya apakah itu...? " tanya Kania. Tangannya menunjuk ke suatu titik dimana ada beberapa cahaya yang mirip cahaya obor sedang mendekat ke arah mereka.


Semakin dekat semakin tampak jelas bahwa yang sedang bergerak mendekati mereka memang benar cahaya obor dari beberapa orang yang sedang berjalan ke arah mereka. Namun bukan hal itu yang membuat mulut Kania terbuka lebar dan mata terbelalak ngeri.


Obor - obor itu di bawa oleh sekelompok orang yang berjalan lewat melintasi mereka. Namun anehnya tak satupun dari orang - orang itu yang memiliki kepala. Semua orang yang memegang obor itu tanpa kepala...!!


Astaghfirullah....!!!


Kania berulang kali berucap istighfar sambil gadis itu bertakbir. Dirinya sungguh tak menyangka akan menyaksikan pemandangan yang demikian mengerikan.


"Arka, siapa mereka. Bagaimana mereka bisa berjalan dengan keadaan tanpa kepala seperti itu...? " bisik Kania pada Arka.


" Sttt, kecilkan suaramu. Mereka bisa tahu keberadaan kita hanya dari suara kita saja..." bisik Pangeran Arkana seraya menarik tangan Kania agar segera beranjak pergi menjauhi tempat itu.


Setelah agak jauh barulah pangeran muda itu melepas tangan Kania. Gadis itu menatap Pangeran Arkana dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Mereka adalah roh orang yang mati karena ditumbalkan..." jawab Pangeran Arkana. "Mereka berjalan mengikuti obor itu karena obor itu adalah penuntun jiwa mereka yang tidak bisa mencapai nirwana sebelum perjanjian antara orang yang menumbalkan dengan penguasa kegelapan selesai. Atau dengan kata lain mereka tak akan tenang sebelum orang yang telah menumbalkan mereka juga mati.. "


"Astaghfirullah, kasihan sekali nasib mereka semua. Lantas kenapa tadi kamu melarangku berbicara keras - keras karena takut mereka akan mendengar kita. Apa yang terjadi jika mereka mendengar kita, Arka..?"


Pangeran Arkana menatap Kania dengan seksama. Gadis di depannya ini cerewet sekali. Dia selalu bertanya tentang sesuatu yang dianggapnya aneh atau tidak masuk akal kepada dirinya.


"Apakah sungguh kamu ingin tahu...?" tanya Pangeran Arkana lagi.


"Iya, cepat katakan kepadaku, Arka. Jangan bikin aku penasaran."


"Baiklah, tapi informasi yang akan kuberikan nanti, tidaklah gratis." Jawab Pangeran Arkana.


" Baiklah, cepat katakan apa yang kamu inginkan..! " kata Kania dengan tidak sabar..


"Bolehkah aku minta sesuatu sebagai imbalan atas informasi yang telah ku sampaikan..? " tanya Pangeran Arka.


"Iya, aku siap. Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Tinggal Sebutkan saja..!" kata Kania pada Pangeran Arkana. .


"Jika mereka mendengarmu tadi, sudah barang tentu mereka akan segera menyadari bahwa ada makhluk bernyawa di sini dan segera mereka akan menukarnya dengan dirimu. " katanya pangeran Arkana. Ditatapnya lembut wajah Kania yang sangat cantik. Pangeran Muda itu hanya bisa mengagumi wajah cantik itu dalam hati karena tak berani mengutarakan perasaannya.


"Jadi mereka membutuhkan jiwa baru untuk menggantikan jiwa mereka yang tergadai" tanya Kania.


"Iya, begitulah kira - kira.. " jawab Pangeran Arkana.


"Hmm, mengerikan sekali. Aku baru mengetahui semua itu. Ternyata dunia penuh dengan hal - hal yang aneh. Termasuk dirimu, Arka. Oh ya, tadi kamu bilang kamu mau minta imbalan atas informasi yang kamu berikan. Katakan.... apa imbalan yang kamu mau.....! "


Pangeran Arkana terhenyak. Sejenak dia menatap mata bulat Kania yang berwarna hitam. Pangeran Itu menarik nafas panjang sebelum berucap. "Maukah kamu jadi pacarku.. " ucapnya seraya menunduk menatap tanah. Dirinya tak berani menatap wajah cantik yang telah hadir mengisi mimpi - mimpinya.