
Putri Humairah sebenarnya tak bermaksud untuk membentak pengawalnya itu. Namun dia tahu, Zyfhar tak akan sudi untuk menerima bantuan darinya. Karena dia tahu pasti seorang ksatria seperti Zyfhar, amatlah pantang menerima bantuan dari siapapun, terlebih lagi dari seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah tuannya.
Zyfhar langsung menundukkan kepala dan berlutut di hadapan putri Humairah.
"Ampun, Tuan Putri. Hamba tidak berani. Hanya saja.. " pemuda itu sejenak terlihat ragu.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, cepat berikan kepadaku salep itu." perintah Putri Humairah dengan tegas.
Zyfhar tak bisa lagi berkutik. Dia terpaksa menyerahkan salep obat itu ke tangan Putri Humairah.
"Berbaliklah.. !" perintah Putri Humairah lagi.
Pemuda itu kemudian berbalik sehingga terlihatlah kembali oleh Putri Humairah luka di punggungnya.
Dengan hati - hati, Putri Humairah membersihkan luka itu dengan kain yang dia robek dari ujung bajunya. Kemudian mengoleskan secara perlahan-lahan salep obat ramuan pada luka di punggung pemuda itu.
Jantung Zyfhar berdetak kencang ketika tangan lembut putri Humairah menyentuh kulit tubuhnya. Tubuhnya sampai bergetar kerena gugup. Dia hampir tak bisa bernafas merasakan getaran di hatinya.
Baru kali ini, tubuhnya disentuh oleh seorang wanita. Dan wanita itu adalah Putri Humairah. Wanita yang sangat dia hormati. Wanita yang dia junjung tinggi harkat dan martabatnya dan dia lindungi dengan segenap jiwa raga bahkan bila perlu dengan taruhan nyawa.
Selain itu, ada semacam rasa yang dia tidak tahu rasa apakah itu. Namun, dia dapat merasakan bahwa hatinya berbunga bunga saat ini. Perasaan itu sangat indah namun juga amat menakutkan baginya. Takut karena sebenarnya rasa itu terlarang dia miliki.
Pun Demikian juga halnya dengan putri Humairah. Ada yang aneh dengan dirinya.Mengapa jantungnya berdebar - debar saat dirinya menyentuh pemuda itu.
Padahal selama ini, dia sudah sering menyentuh tubuh seorang walaupun itu kebanyakan adalah wanita. Karena profesi dia yang sebagai seorang bidan.
Namun mengapa kali ini terasa berbeda..? Kalau di lihat lagi, tak ada yang aneh dengan tubuh pemuda itu selain dari kedua sayap di punggungnya dan juga warna mata yang merah menyala. Tubuh pemuda itu tak ada bedanya dengan manusia biasa.
Hanya saja, untuk kali ini, putri Humairah merasakan sensasi yang berbeda. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya dia bersentuhan langsung dengan Zyfhar, pengawalnya itu.
Meskipun, Zyfhar berasal golongan jin yang berbeda jenisnya dengan ayahnya, namun tetap saja, dia pun sama seperti bangsa jin dan manusia, memiliki rasa di cinta hati dan rasa sayang.
Sejatinya, makhluk jin memiliki hawa nafsu seperti umumnya manusia. Maka sebenarnya bukan hal yang mustahil jika Zyfhar memiliki rasa terhadap Putri Humairah. Namun, Zyfhar menyadari bahwa rasa itu terlarang untuk dirinya. Dia dan Putri Humairah berbeda. Terlebih, Putri Humairah adalah junjungannya. Tidaklah pantas bagi Zyfhar, untuk mencintai junjungannya itu.
"Sudah selesai." ucap Putri Humairah kemudian. Zyfhar pun tersadar dari lamunannya.
Putri Humairah mengamati luka di tubuh Zyfhar. Luka itu sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Dan yang terjadi kemudian adalah luka itu perlahan - lahan menutup kembali seperti sedia kala.
Kini yang tersisa hanyalah sisa darah di pakaian pemuda itu dan juga robekan di bekas sabetan senjata lawan.
"Terima kasih, tuan Putri Humairah. Hamba berhutang budi pada tuan Putri." ucap Pemuda itu seraya menghaturkan hormat kepada Putri Humairah.
"Mengapa harus berterima kasih..? Kamu seperti ini karena ingin melindungi diriku. Andai saja bukan dirimu yang datang menolongku. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku.. Mungkin aku akan tewas karena sabetan senjata para iblis itu.. " ucap putri Humairah.
"Adalah memang tugas hamba untuk melindungi tuan putri. Sekali pun nyawa hamba yang jadi taruhannya. Hamba rela melakukannya demi Tuan Putri." ucap Zyfhar dengan tulus.
Putri Humairah merasa sangat tersentuh oleh kata - kata Zyfhar. Sungguh pengawal yang sangat setia, pikir putri Humairah. Hatinya mendadak saja terasa hangat mendengar ucapan pemuda itu.
"Terima kasih, Zyfhar. Kesetiaanmu sungguh sangat menyentuh hati. Aku sangat menghargainya.. " ucap Putri Humairah.
"Sama-sama, tuan putri." jawab Zyfhar.
"Zyfhar, sekarang dapatkah engkau katakan, kita ada dimana? " tany Putri Humairah sambil melihat ke sekeliling.
Zyfhar pun juga melakukan hal yang sama. Dirinya kemudian berkeliling untuk memeriksa keadaan.
Putri Humairah melongo karena bingung dan Zyfhar terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
Mereka sedang ada di mana saat ini, itulah yang ada di dalam benak keduanya.
Zyfhar kemudian berpikir sejenak untuk mengambil keputusan. Dia mengingat kembali sesaat sebelum berada di tempat ini. Sebelumnya, dia membuka portal jalan menuju ke dunia jin untuk kabur dari kejaran tentara iblis.
Berarti sekarang ini mereka masih berada di dunia jin. Hanya saja, dia tak mengenal tempat ini. Karena tempat ini tidak pernah mereka lalui sebelumnya.
"Tuan Putri, Anda mau kemana..?" Zyfhar bertanya kepada Putri Humairah saat melihat junjungannya itu berjalan lurus ke depan menuju ke suatu tempat.
"Sepertinya, aku melihat pondok di sana. Ayo kita bertanya, barangkali saja pemilik tempat itu mengetahui kemana arah menuju ke Bukit Malaikat.
" Baiklah, Mari Tuan Putri.. " ajak Zyfhar. Pemuda itu melangkah di depan Putri Humairah.
Putri Humairah dan Zyfhar kini sudah berada di depan rumah yang tak berpintu itu. Umumnya, rumah jin tak memiliki pintu. Entahlah... namun hanya sedikit saja dari mereka yang masuk melewati pintu. Apa karena mereka tak pernah berjalan melainkan terbang bersama angin.?
Selain itu, ada beberapa jin yang menempati tempat - tempat tertentu. Seperti kamar mandi atau rumah - rumah tak berpenghuni. Konon, katanya, rumah yang dibiarkan kosong melebihi jangka waktu tiga hari akan menjadi tempat tinggal jin.
Bahkan tak sedikit jin yang menjadikan tubuh manusia sebagai tempat tinggal mereka. Na'uzubillahi minzalik. Semoga saja kita terhindar dari ganguan jin.
"Assalamu'alaikum, wahai yang empunya rumah. Bolehkah kami menumpang bertanya...?" tanya Zyfhar.
Sepi, tak ada sahutan dari dalam rumah. Zyfhar kembali lagi mengucap salam kepada pemilik rumah. Namun, sama seperti tadi, tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Apakah rumah itu tak ada pemiliknya..?" Putri Humairah bertanya pada Zyfhar.
Pemuda itu tak menjawab pertanyaan putri Humairah, matanya menangkap sebuah bayangan yang bergerak cepat di belakang tuan Putrinya.
Secepat kilat, Zyfhar bergerak ke arah Putri Humairah sambil menghunus pedangnya.
"Tuan Putri, awas..!! " serunya sambil menarik tangan putri Humairah dan mengayunkan pedangnya ke arah bayangan itu.
Crrrassss.... pedang Zyfhar menebas bayangan itu. Bayangan tadi bergerak menghindari sabetan pedang Zyfhar.
Suara tawa bergema memenuhi tempat itu.
"Hahahahha, cepat juga gerakanmu. Aku rasa ilmumu cukup tinggi untuk ukuran jin sebangsamu.." seru sebuah suara.
"Maafkan, jika kehadiran kami mengganggu ketenangan anda, tuan. Kami hanya sekedar ingin bertanya. Karena sepertinya, kami tersesat sampai di tempat ini.." ujar Zyfhar dengan santun. Matanya yang setajam pedangnya, melihat kembali bayangan yang tadi di lihatnya bergerak mendekati Putri Humairah.
Sadarlah dia, bahwa Putri Humairah tidak bisa melihat makhluk itu. Padahal, biasanya, tuan putrinya itu mampu untuk melihat keberadaan bangsa mereka dengan jelas.
Makhluk seperti apa yang sedang mereka hadapi saat ini, pikir Zyfhar.
"Tuan Putri, gunakan cermin ini untuk melihat ke sekitar anda." kata Zyfhar sambil mengeluarkan sebuah cermin dari balik bajunya. Pemuda itu siap sedia sambil terus menghunus pedang di tangan.
Putri Humairah menerima cermin itu dengan heran. Namun dia menggunakannya juga untuk melihat ke sekeliling tempat itu.
Benar saja, sesosok makhluk tampak berdiri tak jauh di belakangnya.
Makhluk apakah itu. Astaga.. Putri Humairah menutup mulutnya karena ngeri akan penampakan makhluk di belakangnya.
Negeri jin adalah negeri yang penuh dengan keanehan. Namun tak pernah dia merasa takut karena sudah terbiasa melihat aneka bentuk dan wujud mereka. Tapi sekarang dia benar-benar takut...!!!