
"Nah, katakan itu kepada tuanmu tentang hal itu. kepada pangeran Khalied, Tuanmu!! " ucap charon seraya pergi meninggalkan Zamura yang masih sibuk bertanya - tanya.
Zamura akhirnya tersenyum setelah mengerti maksud dan arah pembicaraan Charon. Charon bermaksud menolong Pangeran Khalied dengan memberitahukan secara tersirat tentang kelemahan Bluma.
"Terima kasih, nona Charon. Anda sungguh baik hati. " ucap Zamura tulus. Walaupun kedua tuannya itu menganggap Charon sebagai siluman yang jahat, namun tidak bagi Zamura. Pengawal Pangeran Khalied itu menganggap bahwa Charon adalah siluman yang baik. Sikapnya memang susah di tebak. Kadang kalau kita tak bisa memahami, sebenarnya ada maksud tersembunyi dari semua yang dia lakukan.
Sementara itu, Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana sedang sibuk menghadapi Bluma yang mengamuk setelah menyadari bahwa dia tidak bisa mempengaruhi kedua pangeran itu.
Bluma yang kalap bermaksud untuk menyerang Zahra namun di halangi oleh Pangeran Khalied. Semakin murkalah Bluma. Dia menyerang keduanya. Pangeran Arkana bermaksud turun tangan ingin membantu pamannya. Namun di cegah oleh Pangeran Khalied.
"Tidak perlu kau membantuku, Pangeran. Tolong jaga saja Zahra untukku. Biar aku menghadapi peri satu ini. Sepertinya dia sedang 'panas' denganku." titah Pangeran Khalied.
"Baik, Paman." jawab Pangeran Arkana.
Kembali Bluma menyerang Pangeran Khalied dengan ilmu sihirnya. Sekarang ada banyak ular - ular besar kecil menyerang Pangeran Khalied. Namun dengan mudah di halau oleh Pangeran Khalied dengan sapuan pedang halilintar miliknya.
Merasa gagal dengan usahanya, Bluma kembali menyerang Pangeran Khalied dengan ilmu sihir yang lebih tinggi lagi. Kali ini dia mengeluarkan sebuah tongkat kecil. Tongkat kecil itu kemudian berubah menjadi seekor Ular sebesar pohon kelapa. Ular ini lantas membelit tubuh Pangeran Khalied. Namun dengan mudahnya Pangeran Khalied meloloskan diri dari belitan ular tersebut dan berbalik menyerang ular tersebut dengan ilmu halilintar miliknya. Ular tersebut kini berubah kembali menjadi tongkat kecil seperti semula namun dalam keadaan hangus terbakar.
Bluma masih penasaran dengan pangeran Khalied. Sejauh mana ilmu kesaktian yang di miliki oleh pemuda itu.
Akhirnya Bluma kembali menjajal ilmu pemuda itu. Kali ini dengan ilmu kanuragan. Bluma mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan putra Pangeran Hasyeem tersebut.
Di lain pihak, Pangeran Khalied juga berusaha untuk mengimbangi serangan demi serangan yang di lancarkan oleh Bluma. Beberapa kali pedang Pangeran Khalied menggores atau melukai pwri cantik itu. Namun seperti yang di katakannya, pedang pangeran Khalied hanya mampu untuk melukai saja, tanpa bisa membunuhnya. Peri cantik itu tetap tak bergeming. Dia terus saja berusaha menyerang pangeran Khalied tak peduli seberapa banyak pangeran itu melukai dirinya. Karena luka itu tidaklah berarti baginya. Karena luka itu akan merapat kembali seperti semula.
Demikian juga halnya dengan Pangeran Khalied. Walaupun terluka, pemuda itu tak juga bergeming. Karena sama dengan Bluma, setiap luka di tubuh Pangeran putra Pangeran Hasyeem itu juga akan merapat seperti sedia kala.
Di tengah pertarungan itu, tiba - tiba datanglah Zamura. "Tuanku, gunakan petirmu untuk memanggil hujan." ujar Zamura tiba-tiba.
"Zamura, dari mana saja. Mengapa baru muncul...?" teriak Pangeran Khalied.
"Cepatlah,Tuan.Buatlah hujan sekarang juga." Ucap Zamura kembali mengulangi permintaannya.
Meskipun terasa aneh, namun Pangeran Khalied menuruti juga permintaan Zamura.
Segera saja dia mengarahkan pedangnya ke langit. Petir pun menyambar - nyambar di langit.
Pangeran Arkana tak mau ketinggalan. Dengan sigap, pangeran muda itu mengeluarkan juga jurus pedang halilintar miliknya. Dia membantu pamannya untuk segera menurunkan hujan.
Kini langit Eddena berubah warna. Langit yang semula berwarna biru dan bersinar cerah, kini berganti hitam dan di selimuti mendung.
Tak berapa lama kemudian, turunlah titik - titik air dari langit.
Bluma terkejut dengan adanya titik - titik air yang turun dari langit.Semakin lama, titik - titik air dari langit itu semakin banyak. Hingga semua yang ada di Eddena mulai basah. Hujan pun turun dengan derasnya.
Pertama kali di dimensi ke empat setelah beratus-ratus tahun lamanya tak pernah turun hujan
"Hujan.....? Air... Bah, aku benci air...!" serunya kesal. Karena kini, seluruh tubuhnya sudah basah oleh air.
"Hah, siapa yang berani menurunkan hujan di Eddena ini tanpa seizinku!!" teriak Bluma marah. Dia marah karena sekarang dia basah kuyup tersiram air hujan yang turun dari langit. Bukan itu saja, seluruh kulit tubuhnya melepuh terkena siraman air hujan.
Ternyata hujan yang dibenci oleh Bluma merupakan kelemahan dari Peri tersebut. Tubuhnya tak bisa terkena hujan. Karena bila hal itu terjadi, tubuhnya akan melepuh seperti di siram air panas. Kini tinggallah Bluma yang marah dan murka dengan orang yang telah menurunkan hujan. .
Bluma menatap nanar ke sekelilingnya. Dilihatnya, Pangeran Khalied tengah mengangkat pedang halilintarnya miliknya ke atas tinggi - tinggi.
Tahulah Bluma siapa yang telah bertanggung jawab atas turunnya hujan di Eddena ini.
Namun Pangeran Khalied tak menggubris teriakan Bluma. Dia terus menciptakan hujan dengan ilmu pedang halilintar miliknya.
Bluma menjadi semakin marah. Hujan itu kini telah merusak seluruh kulitnya. Penampilan wujud Bluma kini sudah sangat jauh berbeda. Bluma yang tadinya cantik memukau, kini berubah menjadi mengerikan.
"Keparat...! dasarr jin keparat. Berhenti membuat Hujan, kataku." bentak Bluma.
Bluma kembali menyerang Pangeran Khalied dengan membabi buta. Membuat Pangeran Khalied agak sedikit kerepotan dalam menghadapi serangan Bluma.
Sampai satu ketika, saat Bluma ingn kembali menyerang Pangeran Khalied dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya , ilmu itu justru berbalik mengenai dirinya sendiri.Karena Pangeran Khalied menggunakan cermin Dewi Kali pemberian Ki Anom gurunya, di saat - saat kritis tadi.
"Pangeran Khalied...!!! " seruan tertahan keluar dari mulut Bluma yang tidak bisa lagi bergerak.
Tubuh peri itu kini sudah separuh terbenam di bumi, sangking mengerikannya pukulan yang dilancarkan oleh Bluma kepada Pangeran Khalied. Namun pukulan itu berbalik ke arah kepada dirinya sendiri.
"Aduh,.... ampun. Aku mengakui kehebatanmu, Pangeran Khalied. Tolong, kasihanilah diriku. Berbalik hatilah. Tolong keluarkan aku dari sini...! " mohon Bluma.
Merasa kasihan, akhirnya Pangeran Khalied tergerak juga hatinya untuk menolong Bluma. Tangannya terulur untuk menolong peri itu.
"Mari aku bantu..." ucap pangeran Khalied. Walaupun Bluma itu musuhnya, dia tetap harus menolong peri wanita itu agar dapat keluar dari perut bumi Dimensi ke empat ini.
Dasar peri jahat. Bukannya berterima kasih, setelah di tolong. Bluma malah berniat untuk menyerang Pangeran Khalied dengan pukulan tenaga dalam yang tinggi.
Malang tak dapat di tolak, pukulan itu malah berbalik lagi menghantam dirinya karena Pangeran Khalied kembali menggunakan cermin Dewi Kali untuk kedua kalinya.
Tamatlah riwayat kesombongan dan kejahatan Bluma si peri jahat. Peri itu tewas akibat kejahatannya sendiri.
Hujan telah berhenti dan matahari kembali bersinar cerah di Eddena. Langit kembali berwarna biru dan awan pun tetap seperti semula, berwarna putih cerah.
Namun ada yang berubah. Bunga - bunga bermekaran di sana - sini seolah-olah tersenyum menyambut datangnya hari baru di Eddena.
Seorang peri kecil kemudian datang dan membisikkan sesuatu kepada Zahra.
Zahra kemudian mengangguk dan berkata kepada Pangeran Khalied.
"Kak, kata peri kecil ini, kakak memiliki kristal Arwah. Katanya Kristal arwah berjodoh dengan tongkat Bluma. Jadi mereka meminta kakak menyimpan tongkat Bluma ini.. " kata Zahra seraya menyerahkan tongkat kecil yang kini telah hangus terbakar ke tangan Pangeran Khalied.
Ajaib, saat berada di tangan Pangeran Khalied, tongkat itu bersinar - sinar dan mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan mata. Itulah tongkat Elder. Hanya saja, tongkat sihir yang sakti itu telah di salah gunakan oleh orang yang salah. Kini, tongkat elder menemukan tuannya yang baru yaitu Pangeran Khalied.
"Terima kasih.. " ucap pangeran Khalied kepada peri kecil yang telah memberikan Tongkat kecil itu.
Zahra, Kania, Zahra, dan Pangeran Arkana tersenyum lebar ketika menyaksikan dua pusaka sudah bertemu. Tinggal mencari pedang Mata Malaikat, pikir Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana dalam hati.
Pangeran Khalied tersenyum bahagia sambil memeluk kekasih hatinya. Siapa lagi kalau bukan Zahra.
Sementara Pangeran Arkana diam - diam meraih tangan Kania untuk dia genggam. Gadis itu tidak menolaknya. Bahkan Kania kemudian menggengam tangan Pangeran Arkana untuk yang pertama kalinya.
Sedang mereka tengah asyik menikmati masa - masa kebahagiaan itu, tanpa mereka sadari ada bahaya yang lebih besar sedang mengintai mereka semua.
Nah.... bahaya apakah itu....? Baca lagi ya kelanjutan ceritanya. Jangan lupa untuk like dan votenya 😏😏👍
salam manis dari Minaaida.