Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 73 Pintu Ke alam Dunia.


Sedang asyik berpikir, tanpa sengaja Mata Pangeran Khalied tertuju pada batu - batu menhir yang tersusun sedemikian rupa.


"Ada yang aneh,...? guman Pangeran Khalied. "Mengapa batu - batu itu tidak saling beraturan hadapnya...?" tanya Pangeran Khalied.....


Mendengar ucapan pangeran Khalied, semua mata kini tertuju pada ke lima batu besar yang berdiri tegak di sana.


Benar sekali...!!


Batu - batu itu tidak beraturan hadapnya. Ada yang menghadap ke arah Barat, ada yang ke timur dan ada yang ke Selatan, bahkan ada pula yang menghadap ke utara.


Hanya satu saja batu yang hadapnya sama, yaitu ke arah timur. Kedua batu itu juga memiliki tinggi dan ukuran yang hampir sama.


"Benar, batu - batu ini tidak beraturan hadapnya. Empat batu menghadap ke arah empat mata angin utama. Satu Batu sepertinya jadi pengikutnya Batu yang menghadap ke Timur." ucap Pangeran Arkana.


"Lagi pula, batu yang hadapnya sama itu memang hampir sama, baik bentuk maupun ukurannya, Tuan." ucap Zamura menimpali. "Apa jangan - jangan mereka memang sepasang...?"


Mata Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana melotot mendengar ucapan Zamura.


"Apa kamu pikir sebuah batu memiliki perasaan..?"


"Ampun, Tuanku. Maksudnya bukan itu maksud saya. Hamba rasa batu itu memang sengaja di buat sebagai pengingat bahwa manusia hidup berpasangan, bukan..? "


"Bisa jadi... " ucap Pangeran Khalied.


"Namun jika mereka berpasangan, bagaimana caranya agar mereka bisa sehadap." ucap Pangeran Khalied lagi seraya menatap ke arah Batu menhir tersebut.


Untuk sejenak Dia ragu, bagaimana caranya menentukan langkah selanjutnya. Dia mengukur - ukur kemampuan diri apakah sanggup untuk mengangkat batu seukuran itu.


Lagi pula dirinya masih belum faham


yang di maksud dengan Mata bertemu Mata.


"Apakah letak Batu itu memang harus sehadap. Sehingga mata bertemu Mata. Tapi apakah Batu itu memiliki Mata " tanya Pangeran Khalied dalam hati.


Tangannya bergerak untuk meraba kedua Batu menhir yang menghadap searah yaitu ke arah Timur.


"Batu ini sangatlah besar dan juga tinggi.. Bagaimana caranya aku memindahkan salah satu Batu itu agar letaknya menjadi berhadapan." pikir pangeran Khalied lagi.


Pangeran Khalied mencoba untuk mengangkat batu tersebut. Namun hal itu terasa amatlah sulit dia lakukan.


Bahkan Pangeran Arkana, Zamura dan Zaddak turut pula membantu mengangkat baru tersebut. Namun hasilnya nihil. Batu tersebut sama sekali tak bergerak sedikitpun. Batu itu seperti tertanam di pusat bumi dimensi ke empat.


Sementara itu, para wanita dan anak - anak yang berada dalam tempat perlindungan sudah mengetahui bahwa Wambella terbunuh dan suku Wedda berhasil di pukul mundur.


Mereka menyambut gembira kabar tersebut dan segera keluar dari tempat persembunyian mereka.


Pun tak ketinggalan Zahra dan Kania. Mereka juga ikut keluar bersama dengan para wanita dan anak-anak dari klan manusia Harimau dari tempat persembunyian mereka.


Mereka merasa gembira karena musuh telah berhasil di kalahkan. Mereka pun berhamburan keluar berlarian mencari kelurga dan kerabat masing-masing.


Zaddak bertemu kembali dengan istri dan anak-anaknya. Semua merasa senang karena musuh sudah dapat di kalahkan dan mereka bisa hidup dengan damai.


Begitu pun dengan Kania dan Zahra. Kedua gadis itu berlari menuju ke tempat Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana berada, yaitu di atas bukit.


Dengan rasa gembira dan hati yang tak sabar, Zahra mempercepat larinya agar cepat sampai di tempat Pangeran Khalied berada.


"Kak Khalied, ..!" Serunya sambil terus berlari menuju ke arah Pangeran Khalied.


Kania tersenyum saat melihat tingkah Zahra yang lucu dan kekanak-kanakan.


Namun dalam hati dia merasa iri terhadap pasangan tersebut. Pangeran Khalied dan Zahra benar - benar pasangan yang serasi.


Sikap Zahra yang manis dan manja berbanding terbalik dengan sikap Pangeran Khalied yang tegas dan berwibawa. Namun Pangeran Khalied merasa senang akan kemanjaan Zahra yang membuat hidupnya menjadi berwarna seperti warna pelangi.


Zahra begitu bebas untuk bermanja - manja terhadap Pangeran Khalied.


"Sayang, hati - hati.. !" seru Pangeran Khalied mengingatkan sang kekasih hati.


Zahra tersenyum mendengar ucapan penuh perhatian yang ditujukan Pangeran Khalied padanya. Hatinya penuh berbunga - bunga cinta.


Saking bahagianya, dia menjadi kurang berhati - hati dalam melangkah. Akibatnya kaki Zahra pun tersandung sebuah batu.


"ZAHRA. !" terdengar seruan tertahan dari Pangeran Khalied..


Tubuh Zahra terjerembab dan jatuh berguling - guling sampai ke jurang kecil yang terdapat di dekat tempat itu.


Secepat kilat Pangeran Khalied menyambar tubuh Zahra sebelum tubuh kekasihnya itu sampai ke dasar jurang. Zahra pun selamat dalam pelukan Pangeran Khalied.


Setelah itu, Pangeran Khalied kembali membawa Zahra ke pinggit tebing di atas bukit tempat batu - batu besar itu berada.


"Sudah kukatakan, agar berhati-hati, sayang.. " ucap Pangeran Khalied penuh kasih sayang.


Dia mengusap lembut pucuk kepala Zahra yang masih belum bisa berbicara karena terlalu kaget. Wajah gadis itu masih lagi pucat bagaikan tak dialiri darah.


Setelah sadar dari keterkejutannya, barulah keluar suara Zahra yang menangis. Pangeran Khalied segera memeluk kekasihnya kembali untuk menenangkan dirinya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Kamu kan sudah tidak apa - apa, sayang." bujuknya pada Zahra. Namun Zahra masih saja menangis sesegukan.


"Tuanku, lihatlah...! Tadi batu ini bergerak dan berpindah tempat dengan sendirinya..!!"seru Zamura.


Zahra sontak menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah arah Zamura. Bersamaan dengan Zahra, Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana juga menoleh ke arah yang sama.


Segera saja Pangeran Khalied mengajak Zahra mendatangi Zamura.


Semua mata menatap takjub ke arah batu besar yang ada di sana.


Batu - Batu tadi semuanya bergerak dan berpindah tempat hingga kini semuanya menghadap ke satu arah saja yaitu arah meja yang terdapat di tengah-tengah kumpulan batu tersebut.


Bukan itu saja, di atas sebuah meja meja batu yang seperti dolmen ( batu berundak) itu kini terdapat sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang tak lebih besar dari ukuran kotak sepatu.


"Kak, itu apa...?" tanya Zahra penuh rasa ingin tahu..


"Ini tiket kita untuk pulang, sayang..!" kata Pangeran Khalied sambil mengusap lembut pucuk kepala Zahra.


Zahra bingung apa yang di maksud oleh Pangeran Khalied. Namun dia ikut senang kerena pangeran Khalied sudah menemukan apa yang dicarinya selama ini.


"Kak, ayo kita pulang...!!? " kata Gadis itu kemudian.


"Sabar sayang. Aku masih berusaha untuk memecahkan teka-teki terakhir dari kepingan - kepingan mozaik bernyawa atas nama pedang mata Malaikat ini." kata Pangeran Khalied dengan sabar.


"Mengapa kakak tidak menggunakan pedang mata Malaikat itu saja....!!" tanya Kania menimpali.


"Benar juga, siapa tahu, ketiga pusaka milik kakak itu bisa berguna" kata Zahra.


"Baiklah,.. mari kita coba peruntungan kita...!" ucap Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied kemudian mengeluarkan ketiga pusaka yang dia dapatkan di dimensi ke empat itu.


Saat di buka, kedua pusaka itu yaitu kristal arwah dan tongkat elder seperti sahabat lama yang tak saling bertemu dengan kotak kecil di atas dolmen


Kedua pusaka itu bergerak masuk ke dalam kotak tersebut. Setelah itu dari dalam kotak menyembul sebuah lubang.


Pedang mata Malaikat bergerak melayang menuju lubang yang terdapat di tengah-tengah kotak tadi. Begitu pedang itu menancap dengan pas, terjadilah suatu keajaiban.


Tiba - tiba saja, salah satu dari ke-lima batu itu , yaitu batu paling besar yang menghadap ke utara bergerak. Lalu batu itu terbelah dan terbuka dengan sendirinya.


"Itu adalah sebuah pintu..!" ucap Pangeran Arkana..


Ternyata, pedang mata Malaikat merupakan sebuah kunci untuk membuka sebuah pintu menuju ke dunia.