Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 163 MP ( episode 2)


Tak beberapa lama kemudian Pangeran Khalied kembali lagi menusukkan pedang tumpul miliknya ke tubuh Zahra.Ternyata permainan ini belum berakhir.


Permainan ranjang itu terus berlanjut di ronde - ronde berikutnya dan semakin panas. Pangeran Khalied tak puas - puasnya mereguk surga dunia yang baginya baru untuk pertama kalinya dia rasakan.


Zahra hampir kewalahan melayani gairah Pangeran Khalied yang menggebu - gebu. Hingga hari menjelang subuh waktu setempat barulah Pangeran Khalied menyudahi aktivitas panasnya.


Tubuh mulus Zahra tergolek lemas tak berdaya di dalam pelukan Pangeran Khalied. Tubuh itu sudah penuh dengan jejak - jejak percintaan dan tanda kepemilikan dari Pangeran Khalied yang menandai kepemilikan dirinya atas tubuh Dara. Dia sudah menandai gadis itu. Zahra sekarang adalah miliknya.


Sementara itu, di rumah Zahra, terjadi kehebohan. Kedua pengantin tidak ada di dalam ruangannya.


"Loh, pintu kamarnya tidak dikunci. Apa jangan - jangan Zahra dan suami pergi keluar. Tapi kenapa nggak bilang ibu, ya..?" kata ibu Suryati keheranan.


"Mungkin ibu nggak dengar kali, ketika Zahra dan suaminya pergi. Mungkin mereka jalan - jalan, Bu. Ini kan masih pagi. Siapa tahu saja mereka berdua lagi jalan - jalan."


Ibu Suryati hanya bisa mengangkat bahunya. Dirinya tak ada ide untuk menjawab pertanyaan para tetangga yang penasaran kemana Zahra dan suaminya itu pergi.


Tak ada yang tahu pasti, kemana perginya kedua pengantin baru itu. Tak satupun orang di rumah itu yang melihat ke mana perginya kedua insan yang baru saja di resmikan sebagai suami istri tersebut.


Memang, tak seorang pun yang tahu atau melihat jika semalam Zahra telah dibawa pergi oleh suaminya yang sangat ganteng itu ke negeri jin. Ke istana di hutan Alas Amarta.


Pangeran Khalied sengaja membawa Zahra pergi ke istananya di hutan Alas Amarta agar dirinya dan Zahra merasa tenang menikmati malam pertama mereka, sekaligus juga berbulan madu di Istana tersebut.


Istana Barda yang menyeramkan itu sudah diubah oleh pangeran Khalied menjadi sebuah istana yang indah. Istana itu dikelilingi oleh sungai dan di di atasnya di bangun sebuah taman menggantung yang letaknya tepat di atas sungai.


Semua itu Pangeran Khalied lakukan demi Zahra. Agar pasangan hidupnya itu betah dan merasa nyaman untuk tinggal di istana tersebut.


Kita tinggalkan sejenak rumah Zahra yang lagi heboh karena pengantinnya lenyap dari kamar. Sekarang ini, kita mengintip dulu bagaimana indahnya malam pertama Pangeran khalied dan Zahra.


Zahra membuka matanya ketika merasakan cahaya mata hari menerpa hangat tubuhnya.


Saat mata Zahra terbuka, hal pertama yang dia temui adalah dirinya dan Khalied yang berada di tempat terbuka. Walaupun memang pada dasarnya, mereka berdua berada di atas tempat tidur, akan tetapi mereka tidur beratapkan langit.


Dan satu lagi yang membuat Zahra merasa sangat malu, adalah mereka tidur dalam keadaan tanpa busana alias bugil. Tubuh Zahra dan Khalied hanya terbungkus selimut.


"Kak Khalied, bangun. Kita kesiangan solat subuh." kata Zahra sambil bergegas bangun. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh mereka dan melilitkan ke tubuhnya. Tentu saja perbuatan Zahra itu berakibat pada tereksposnya tubuh kekar dan berotot milik pangeran Khalied yang tanpa busana.


Tubuh kekar dan perkasa itu terlihat jelas oleh mata telanjang Zahra sehingga membuat Zahra membelalakkan mata. Perasaan antara malu dan juga kagum jadi satu di dalam hatinya.


Zahra amat terpesona menatap tubuh suaminya itu. Sejenak dia terpana dan untuk kemudian, dia menutup mata karena malu.


"Maaf, Kak. Zahra tak sengaja...!" kata Zahra. Wajahnya sudah bersemu merah karena malu. Buru - buru Zahra memalingkan wajahnya.


"Kenapa, ...malu..? Hahahaha, tadi malam, bukankah kamu sudah melihat dan bahkan merasakan milikku..?" goda pangeran Khalied sambil bangkit dan menggendong Zahra menuju ke dalam istana.


"Kak Khalied, turunkan aku. Nanti dilihat orang. Kakak sedang tidak memakai selembar kain pun."


kata Zahra.


"Tidak apa. Tidak ada juga yang akan melihatnya selain dirimu. Karena di sini tak ada orang lain lagi selain kita, sayang." kata Pangeran Khalied.


"Benarkah, hanya kita, saja berdua..?"


tanya Zahra kurang yakin.


Zahra menganggukkan kepalanya lagi. "Kalau begitu, ayo kita mandi bersama."ajak pangeran Khalied. Dia lalu membawa Zahra menuju ke pemandian yang ada di salah satu bilik istana.


Pemandian itu berbentuk seperti kolam dengan mata air yang berbeda pada masing-masing kolam. Ada dua kolam di sana. Kolam dengan mata air hangat dan juga dengan mata air biasa.


"Mau mandi air hangat atau air dingin?" Tanya Pangeran Khalied.


"Aku ingin berendam di air yang hangat saja, Kak." Jawab Zahra.


Pangeran Khalied menurunkan tubuh Zahra di kolam. pemandian air hangat dan kemudian dirinya juga ikut berendam di kolam yang sama.


"Kemarilah, biar aku menggosok tubuhmu dengan sabun." kata Pangeran Khalied. Zahra beringsut mendekati Khalied dan membiarkan tangan Pangeran Khalied beraksi menggosok punggungnya.


"Zahra, Sayang. Aku boleh minta jatah sekali lagi, ya..? Aku ingin melakukannya di sini." bisik Pangeran Khalied serak dan nakal. Napasnya sudah mulai memburu karena gairahnya yang mulai memuncak.


Zahra tak bisa lagi menolak karena Pangeran Khalied sudah keburu mendudukkan Zahra tepat di atas senjata. miliknya yang sejak tadi sudah berdiri tegak.


kembali, keduanya mengulang permainan 'panas' mereka di dalam kolam pemandian air panas sampai terdengar suara pekikan keduanya saat mengalami *******. Zahra terkulai lemas dalam pelukan Pangeran Khalied yang nampak benar-benar perkasa.


"Kau lelah..?Ayo kita mandi dan sholat." ajak Pangeran Khalied. Dia kemudian menggendong tubuh Zahra naik setelah memandikan Zahra.


Memakaikan Zahra pakaian yang memang sudah tersedia di sana. Lantas kemudian memimpin sholat subuh berjamaah. Walaupun sholat subuhnya telat..


"Kau mai makan? tanya Pangeran Khalied.


Zahra baru ingat jika suaminya itu belum sarapan. Bergegas dia beranjak bangun untuk menyiapkan sarapan untuk Khalied.


Namun, gerakannya tertahan oleh cekalan tangan Khalied.


"Mau kemana..?" tanya Pangeran Khalied.


"Aku mau membuatkan sarapan untuk kita berdua..Dimana dapurnya..?" tanya Zahra.


"Aku tidak menyuruhmu untuk membuatkan aku sarapan. aku hanya bertanya apakah kamu ingin makan" kata Pangeran Khalied.


"Iya, aku ingin makan. Maka dari itu aku bertanya dimana dapurnya."


"Berbaringlah di atas tempat tidur dan aku akan membawakan makanan untukmu.. " kata Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied menghilang dari hadapan Zahra dan sejurus kemudian sudah muncul kembali di hadapan Zahra sambil memegang sebuah talam yang berisi aneka makanan.


"Kak, siapa yang menyiapkan semua ini." tanya Zahra keheranan.


"Tentu saja aku. Karena kau adalah istriku. Maka aku yang akan melayani segala keperluan kamu..?" kata Pangeran Khalied.


"Loh, tidak bisa begitu, Kak. Seharusnya Zahra yang melakukan itu semua." kata Zahra.


"Tugas kamu hanyalah melayani diriku di tempat tidur dan melahirkan anak - anakku. Selebihnya adalah tugas aku." kata Pangeran Khalied.


(Zahra be.like...}


Adalah memang semestinya kita tahu bahwa perempuan itu memang harusnya tak bekerja di dapur, menurut hadis, perempuan itu tugasnya hanya melayani di ranjang dan melahirkan anak - anak. Bagaimana, setuju..??