
"Biarkan aku bertanya dulu. Apakah kau sering bermimpi aneh di datangi oleh seorang lelaki."
"Benar sekali, bagaimana kamu bisa tahu, Arka. .?! Tanya Kania heran.
"Kalau begitu, berarti dugaanku benar. Genderuwo itu ternyata masih mengejar dirimu." kata Pangeran Arkana.
Mata Kania terbelalak karena shock mengetahui bahwa ternyata sosok makhluk astral sejenis genderuwo itu menjadikan fans terberatnya.
"Aduhhh, bagaimana ini, Arka..!" tanya Kania. Kania sudah mulai ketakutan karena sadar kini dirinya masih menjadi incaran genderuwo penghuni hutan Tarik.
"Dasar siluman licik. Awas saja, kali ini aku tak akan mengampuni dirimu, geram Pangeran Arkana dalam hati.
"Tenanglah, kamu tak perlu khawatir. Sekarang aku sudah tahu apa yang terjadi. Mari aku antar kau pulang.. Kata Pangeran Arkana kemudian.
Kania menganggukkan kepala seraya berkata.
"Iya, Arka. Tapi aku mau menyerahkan jadwal pasien hari ini ke mbak Mega dulu. Setelah itu baru kita pulang."
Pangeran Arkana mengangguk dan kemudian melesat terbang ke atas awan, sementara Kania pergi ke tempat dia bertugas tadi untuk menyerahkan jadwal tugas kepada perawat yang bertugas menggantikan dirinya.
Sementara malam sudah semakin larut. Banyak insan sudah memilih terlelap untuk beristirahat. Sebagian lagi masih tenggelam dalam aktivitas kehidupan malam.
Di bagian dunia lain, negeri yang tersembunyi, tampak sedikit kesibukan di istana Bukit Malaikat. Perbedaaan waktu antara dua dunia itu menghadirkan cara hidup dan pola aktivitas yang berbeda pula.
"Bunda Ratu, mencari ananda..?" Tanyaa Pangeran Alyan.
"Pangeran Alyan, sejak kemarin, adik kamu itu tak pulang - pulang." kata Asmi dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Bunda ratu tenang saja. Mungkin adikku itu sedang asyik bersama kekasih manusianya itu. Lagi pula bukankah selama ini Zamura selalu menjaga adikku itu.." kata pangeran Khalied.
"Tidak, Zamura sedang tidak bersama adikmu. Beberapa hari yang lalu, ayahandamu menugaskan Zamura untuk menemani Pangeran Fatan untuk mencari batu Giok Setan." kata Ratu Asmi.
"Batu Giok Setan..? kata Bunda batu Giok Setan. Untuk apa, ayahandaku menginginkan batu Giok Setan, Bunda Ratu..?" tanya Pangeran Alyan heran.
"Menurut pandangan Ki Anom, tak lama lagi, akan ada Prahara di hutan Alas Purwo. Pangeran Azzura membutuhkan Batu Giok setan untuk mengendalikan kekuatannya yang kadang di luar kendali. Agar tak terjadi prahara yang tak diinginkan.. " kata Asmi.
Pangeran Alyan merasa heran, prahara apa yang dilihat Ki Anom dalam pandangan mata bathinnya. Akan tetapi jika sampai ayahandanya memerintahkan Zamura dan Pangeran Fatan untuk mencari batu Giok tersebut, maka sudah dipastikan itu pastilah prahara besar yang akan terjadi.
Setahunya, Batu Giok Setan dahulunya adalah sebuah benda pusaka milik Putri Meizh. Putri ke tiga dari Raja Chay Rao Suraj. Raja jin Penguasa Pantai Ratu.
Akan tetapi putri Meizh mempunyai tabiat yang kurang baik. Dia adalah.
putri yang sangat sombong dan tinggi hati.
Pada suatu hari, ada seorang Pangeran jin yang datang untuk meminang sang putri. Pangeran itu menyamar sebagai pemuda biasa yang miskin dan berpenampilan sederhana, untuk mengetes kebaikan putri Meizh.
Akan tetapi , ternyata Putri Meizh menolak lamaran pemuda itu. Bukan itu saja, Putri Meizh bahkan menghina dan merendahkan pemuda itu.
"Dasar pemuda tak tahu diri. Harusnya kamu berkaca sebelum datang kemari. Apakah kita sederajat atau tidak. Mana mungkin aku menerima lamaran seorang pemuda miskin macam kamu..!" tunjuk Putri Meizh kepada Pemuda miskin itu.
Pangeran muda itu hanya tersenyum mendengar ucapan putri Meizh. Ternyata rumor yang beredar tentang Kesombongan putri Meizh benar adanya.
Perkataan Putri Meizh benar. - benar sangat melukai hati pangeran. Maka Pangeran kemudian membuka kedoknya di hadapan putri Meizh agar gadis itu menyadari kesalahannya.
Karena Kesombongannya itu, Putri Meizh akhirnya di kutuk pangeran itu menjadi seekor burung merak. Setelah itu Pangeran kembali ke negerinya. .
konon kabarnya, Batu Giok Setan lenyap bersama Putri Meizh yang berubah menjadi merak. Batu itu lenyap bak di telan bumi. menurut pandangan Ki Anom, Batu itu saat ini berada di pusat bumi, tepat di bawah Kerajaan Rantau Pulung, Berau.
Maka kesanalah saat ini Pangeran Fatan dan Zamura pergi.
***
Sementara itu, Pangeran Khalied sedang berada di rumah Zahra. Pangeran Khalied ingin menemui ibunya Zahra. Akan tetapi dis menunggu ibundanya yang saat ini sedang ke rumah uwa Ardi.
"Zahra, apakah kamu sudah menyampaikan pada ibumu perihal aku yang ingin melamar dirimu..?" tanya Pangeran Khalied.
"sudah, Kak. kata ibuku, kenapa kakak tidak bertanya tentang langsung kepadanya." kata Zahra.
"Apakah beliau menyetujuinya?" tanya Pangeran Khalied penasaran.
Zahra mengangguk tanda mengiyakan perkataan Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied tersenyum lebar melihat anggukan Zahra. Itu berarti, ibunya Zahra setuju jika dia meminang gadis itu sebagai calon istrinya.
Sekarang dirinya tinggal menunggu kedatangan ibunya dan juga Uwa Ardi ke rumah Zahra. Dan itu bagi Pangeran Khalied terasa lama sekali.
dia sudah tak sabar ingin cepat - cepat melamar Zahra.